TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Perasaan Alya Mentari


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


"P.. perasaan? M.. maksud loe?" Tanya Alya gugup.


"Iya, perasaan loe sama gue?"


"Ndi.. sorry, engga usah dibahas."


"Jangan dipendam Al, ungkapin isi hati loe, gue engga mau loe sakit hati karena gue. Kita itu sahabat sudah lama, kenapa tiba-tiba gue dapat berita kayak gini, nyesek gue Al." Ujar Andi lirih, dengan mata yang sudah berembun.


"Loe tahu dari Asyafa?"


"Iya, gue tahu dari Asyafa, disaat loe sedang ada pertemuan keluarga calon suami loe."


"Kenapa loe engga telepon gue, saat loe tahu perasaan gue?"


"Gue saat itu belum paham isi WA Asyafa, tapi saat gue ulang baca lagi, sedikitnya gue ngerti arah maksud isi chatnya. Ini isi chat Asyafa masih gue simpen dua hari yang lalu." Ungkap Andi seraya menunjukkan isi chatnya di ponsel miliknya. Lalu Alyapun membaca isi chat Asyafa untuk Andi.


("Andi loe sudah ketemu sama Alya? Loe sudah mendengar curahan isi hati Alya? Kenapa loe menolaknya, hingga Alya memutuskan untuk menerima perjodohannya.") Chek bab 111 yah guys.


Alya menahan air mata yang sudah membendung dipelupuk matanya, hampir tumpah saat membaca isi chat tersebut. Andi yang melihat itu, kemudian langsung membawa Alya dalam pelukkannya. Alyapun tidak menolak, bahkan dia menerima pelukkan Andi dengan hangat.


Alya tidak pernah merasakan pelukkan laki-laki, selain Papanya selama ini. Saat di peluk laki-laki lain pertama kali, Alya merasa damai dan nyaman. Terlebih lagi ini di peluk oleh Andi, laki-laki yang selama 4 tahun ini dia cintai. Air mata Alyapun akhirnya tumpah tidak terbendung lagi.


"Hiikk.. hikkk.. hikkk." Alya menangis dalam pelukkan Andi sahabatnya, yang selama ini dia sangat sayangi dan cintai, namun dia pendam dan baru terungkap setelah dia mencurahkan isi hatinya kepada Asyafa sahabatnya.


"Maafin gue Al, kalau gara-gara gue, loe sampai menangis kayak gini." Ucap Andi, seraya mengelus rambut Alya lembut. Alya hanya menggeleng pelan, tanpa terucap sepatah katapun.


"Sekarang gue minta penjelasan loe Al? Sebenarnya gue bisa saja telepon loe atau datang kerumah loe, tapi gue engga mau merusak acara pertemuan keluarga loe malam itu Al. Jadi gue sengaja datang ke kampus, hanya untuk ketemu dengan loe langsung, untuk meminta penjelasan semua ini." Ujar Andi panjang lebar.


Alyapun akhirnya mengurai pelukkannya, namun Andi seperti enggan untuk melepaskan pelukkannya, seakan dia merasakan hal yang berbeda saat memeluk Alya.

__ADS_1


"Ndi.. lepasin, dada gue sesak iich." Omel Alya, seraya mendorong paksa tubuh Andi untuk menjauh darinya.


"Baru sebentar Al gue peluknya, loe sudah sesak saja, gimana kalau seumur hidup gue peluknya? He.. he.. he.." Canda Andi terkekeh, yang sukses membuat Alya tersenyum.


"Gitu dong senyum, jangan nangis lagi. Gue engga mau sahabat gue nangis kayak gini." Ujar Andi, seraya menghapus air mata Alya lembut.


Alyapun bersemu merah pipinya, saat Andi menghapus air matanya dengan lembut, dan menatapnya dengan intens. Hanya beberapa centi saja, jarak Andi dengan dirinya.


"Al.." Panggil Andi lirih.


"I.. iya Ndi." Sahut Alya gugup, seraya mengalihkan pandangannya kearah lain, menghindari tatapan Andi saat ini.


"Jangan membuang muka dihadapan gue Al." Omel Andi, seraya menangkup wajah Alya gemas. Sedang Alya menggeleng pelan, dengan menahan deru napasnya yang sudah tersenggal-senggal.


"Gue ulang lagi pertanyaannya, gue mau, loe jujur tentang perasaan loe sama gue. Kenapa loe engga pernah bilang perasaan loe selama ini ke gue, Al?" Tanya Andi lirih dengan penuh penasaran dan rasa kecewa.


"M.. maafin gue Ndi, m.. maafin gue." Hanya kata itu yang terucap dari bibir Alya.


"Untuk apa Al? Untuk apa loe minta maaf? Kalau akhirnya harus kayak gini." Tanya Andi tidak habis pikir, bisa-bisanya sahabatnya itu jatuh cinta kepadanya, tapi dia tidak peka sama sekalih.


"Haah.. ? S.. selama itu loe pendam rasa sama gue Al? Tapi selama ini, gue engga pernah sadari itu, Al? Betapa bodohnya gue Al.. !" Tanya Andi penuh penyesalan, seraya meneteskan air mata yang dia tahan sedari tadi.


"M.. maaf untuk selama ini gue engga pernah jujur tentang perasaan gue sama loe. M.. maaf disaat gue akan menyatakan perasaan gue sama loe, bukan waktu yang tepat saat itu. M.. maaf kalau gue akhirnya harus menerima perjodohan gue, sama Damar saat ini. M.. maaf kalau gue harus mengubur dalam-dalam perasaan gue selama ini untuk loe." Jelas Alya panjang lebar.


"Maksud loe apa Al? Kenapa loe minta maaf untuk semua itu, dan kenapa Asyafa bilang gue nolak loe? Padahal gue engga tahu perasaan loe selama ini, bagaimana ceritanya tiba-tiba gue nolak loe? Gue minta penjelasan yang sejujurnya." Sarkas Andi dengan wajah kecewa.


"Eeemm.. satu hari sebelum gue terima perjodohan itu, gue memutuskan untuk kerumah loe Ndi, untuk menyatakan perasaan gue selama 4 tahun ini sama loe. T.. tapi saat gue sudah sampai di depan rumah loe, gue engga sengaja liat loe sedang ci.." Kata-katanya menggantung, saat Andi langsung memeluknya.


"Maafin gue Al.. maafin gue.. ! Kenapa baru sekarang cinta itu terungkap? Kenapa gue tanpa sengaja, sudah menyakiti hati perasaan sahabat gue? Kenapa cinta itu datang terlambat? Kenapa gue begitu bodoh, tidak memandang cinta yang begitu besar dari loe?" Hati Andi bertanya-tanya.


"Engga usah dilanjutkan kata-kata loe Al, kalau memang sangat menyakitkan. Gue tahu saat itu, apa yang sedang gue lakuin sama pacar gue. Maafin gue, sudah membuat hati loe sakit melihatnya, hingga loe mengambil keputusan untuk menerima perjodohan itu." Ucap Andi lirih, seraya membelai rambut Alya lembut.

__ADS_1


Tangis Alyapun kembali terdengar di pelukkan Andi. "Hikk.. hikk.. hikk.."


Sepasang mata elang menyorot tajam dari kejauhan, yang menyiratkan beribu pertanyaan dibenaknya.


*******


Hari ini Bari Darma dan Asisten Pribadinya Yoga, mengunjungi kediaman Beni Darma Kakak kandungnya. Mereka sengaja mendatangi rumah Beni Darma, untuk bertemu langsung dengan keluarga Kakaknya itu. Mereka tidak ingin bertemu di Perusahaan Beni karena tidak ingin terjadi keributan besar.


"Asisten Yoga, apa benar ini alamat rumah Kakakku Beni Darma?" Tanya Bari, saat berada di depan pagar rumah Beni Darma.


"Kalau menurut alamat yang saya dapat dari Tuan Martin, ini benar alamatnya Tuan." Sahut Asisten Yoga, seraya menunjukkan nama alamat yang tertera di pintu pagarnya beserta nomor rumahnya.


Asisten Yoga akhirnya turun, dan meminta security membukakan pintu pagar untuk mereka. Dengan penjelasan yang cukup, Securitypun membukakan pintu pagar otomatisnya.


Setelah memarkirkan mobil mereka didepan halaman rumah Beni Darma, Bari turun dengan perasaan yang campur aduk. Rasa takut, rasa penyesalan, rasa rindu, rasa bersalah, dan rasa malu menyelimuti hati Bari saat ini.


"Ting.. tong... ting... tong..." Bunyi bel rumah di tekan.


ART Tuan Beni membukakan pintu rumahnya, lalu dia menyambut mereka dengan ramah. ART itu mempersilahkan mereka untuk duduk terlebih dahulu, dan menunggu yang punya rumah keluar.


"Maaf Tuan, Nyonya, Nona, dan Aden, ada yang ingin bertemu, mereka menunggu di ruang tamu." Ujar ART itu sopan.


"Iya Mba Sumi, terima kasih." Sahut Mama Jovanka ramah.


"Ayo Pap kita lihat, siapa tamu yang datang kerumah kita?" Ajak Jovanka antusias.


"Ayo sayang." Sahut Beni, seraya menggandeng istrinya ke ruang tamu. Rayhan dan Asyafapun ikut mengekori mereka.


Bari terpaku saat melihat Kakak, dan istrinya berdiri tepat dihadapannya. Bari mengenal betul wajah Kakaknya, meski sudah tidak muda lagi. Tanpa sadar bibirnya bergetar, saat menyebut nama Kakaknya itu.


"K.. kak B.. beni..."

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih......


__ADS_2