TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Hanya Mimpi


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


"Sayang.. sayang... sayang... " Panggil Damar dengan senyum yang menawan, terpancar cahaya putih diwajah Damar.


"Iya Bie, kamu kenapa senyum-senyum gitu?" Tanya Alya yang heran, dengan penampilan Damar yang cukup berbeda.


"Aku tidak ingin jauh-jauh dari kamu, sayang." Kata Damar, dengan tatapan mata yang begitu teduh, dan yang menggambarkan Damar seperti bukan dirinya.


"Aku juga tidak ingin jauh-jauh juga darimu, Bie." Ucap Alya, tanpa melepas tatapan matanya dari wajah Damar. Karena Damar begitu berbeda, dimatanya saat ini. Damar mengenakan pakaian serba putih, dan wajahnya yang bercahaya.


"Tapi, sayang.. aku akan pergi jauh sekarang." Ucap Damar dengan tersenyum, seraya menggenggam tangan Alya erat.


"Mau pergi jauh kemana Bie? Kamu tidak boleh pergi jauh-jauh." Cegah Alya dengan wajah sendu, seraya menggenggam tangan Damar erat.


"Tapi sekarang, sudah waktunya untuk saya pergi, sayang." Kata Damar, dengan senyuman menawannya.


"Engga.. engga.. kamu engga boleh pergi, Bie.. pokoknya kamu engga boleh pergi.. aku engga rela kalau kamu pergi jauh.. hikkz.. hikkz.. hikzz.." Kata Alya melarang Damar untuk pergi, seraya menangis sedih.


"Maafkan aku, sayang. Aku harus pergi." Ucap Damar yang akan melepaskan genggaman jari tangan alya, namun Alya tidak melepaskan genggaman tangannya sedikitpun.


"Engga boleh.. engga boleh.. kamu engga boleh pergi Bie, Kamu harus tetap disini. Pokoknya kamu engga boleh pergi.. engga boleh... enggak boleh... hikkz.. hikkz.. hikzz." Pekik Alya mengigau dalam mimpinya, saat Damar akan melepaskan jari tangannya dari genggaman Alya.


Seketika Alya terbangun dari tidurnya, diapun lega ternyata itu hanyalah mimpi buruk.


"Syukurlah, hanya mimpi buruk." Ucap Alya senang, karena perpisahan dirinya dengan Damar hanyalah sebuah mimpi buruk.

__ADS_1


Genggaman jari tangan Damar masih erat di jari tangan Alya, tidak terlepas sama sekali. Namun ada pergerakan jari tangan Damar meski pelan, namun Alya tidak merasakan pergerakan itu, karena terlalu lemah dan Alyapun baru terbangun dari mimpi buruknya.


Alya melirik jam yang melingkar indah ditangan kirinya, jam menunjukkan pukul 12 malam, dia langsung beranjak dari kursinya, kemudian melepaskan jari tanganya yang tidak terlepas dari tadi.


"Bie.. aku sholat malam dulu yah Bie, aku ingin mendoakan untuk kesembuhan dirimu yah Bie, aku berharap kamu bisa mendengar suaraku, meski matamu terpejam." Pamit Alya dengan wajah sedih.


Alyapun mengambil air wudhu dan menjalankan sholat tahajud dua raka'at dengan khusyuk.


Alya berdoa semoga mimpinya itu tidaklah menjadi kenyataan, karena dia tidaklah sanggup jika harus berpisah dengan Damar calon suaminya. Meskipun cintanya tergolong baru seumur jagung, tapi dia merasakan cinta itu begitu dalam.


Tiga bulan terakhir ini, Alya merawat Damar begitu telaten dan sabar. Meski kadang rasanya ingin pasrah dan menyerah saja, namun dia kembali bangkit lagi dan semangat lagi. Alya merasakan, begitu rapuh dirinya saat ini.


"Doa Alya ketika shalat malam"


..."Ya Allah, saya berdoa untuk kesembuhan calon suami saya. Tunjukkanlah semua Kuasa-Mu, dan berikanlah Mukjizat-Mu jika memang calon suami saya yang bernama Damar bisa sehat dan sembuh seperti sedia kala. Namun jika Damar sudah tidak bisa sembuh, maka jangan biarkan dirinya menahan sakit ini terlalu lama. Saya sudah ikhlas, menerima semua rencana-Mu ya Allah, Aamiin..."...


Alya duduk dikursi samping Damar, kemudian dia memandangi wajah Damar yang begitu tenang dan damai. Alya menyentuh Jari tangan Damar dengan lembut, kemudian dia bawa kedalam dadanya, dan dia kecup singkat lalu dia genggam erat.


Alya kembali mengajak Damar bercerita, tentang mimpinya yang baru saja terjadi. Alya menceritakan bagaimana dirinya didalam mimpinya, sangat tampan dengan mengenakan pakaian serba putih. Namun Alya menangis saat Menceritakan Damar akan meninggalkannya.


"Aku tidak mau kamu meninggalkanku Bie! Kamu jangan buat aku menunggu lama. Kalau memang kamu mendengar ucapanku, bangun dan sehatlah seperti sedia kala." Alya terus mengajak bicara Damar, meski tidak pernah ada jawaban darinya.


Disaat Alya mengatakan dirinya sudah ikhlas, jika memang ini yang terbaik untuk semuanya, kalau memang Damar akan pergi untuk selamanya. Tanpa diduga Alya melihat air mata Damar menetes, dari pelupuk matanya, lalu membasahi pipinya.


"H.. hubby.. benarkah ini? B.. benarkah kamu menangis? B.. benarkah kamu merespon dan mendengar ucapanku?" Tanya Alya gugup, seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.

__ADS_1


"Aku ingin kamu tunjukkan yang lainnya Bie, kamu suka 'kan jika aku panggil dengan nama panggilan hubby. Kalau memang kamu sudah mendengar ucapanku, coba gerakkan jari-jarimu Bie, biar aku bisa merasakannya."


Alya terus bermonolog tanpa hentinya, lalu beberapa saat kemudian, kedua jari tangan Damar dirasakan oleh Alya bergerak meski pelan.


"Apa benar ini, jarimu bergerak Bie? Apa hanya perasaanku saja, Bie?" Alya terus bertanya, dengan perasaan campur aduk saat ini. Diapun memperhatikan jari tangan kiri Damar, apakah ada pergerakkan atau tidak? Namun setelah diperhatikan cukup lama, tidak ada pergerakkan sama sekalih.


Tapi dia benar-benar merasakan, ada pergerakkan jari tangan kanan Damar tadi saat dia menggenggamnya dan dibawa kedalam dadanya. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Alyapun akan mengatakan semua yang terjadi kepada suster jaga.


Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi, meski demikian Alya langsung menghampiri Suster jaga. Alyapun mengatakan kalau Pasien diruang ICU, sudah bisa merespon dan mendengar ucapannya. Pasien juga bisa menggerakkan jari tangannya meski sangat lemah.


Suster itupun langsung bergegas menghampiri Pasien, dan mengechek kondisi Pasien diruang ICU. Suster itu tersenyum lalu berkata. "Alhamdullilah, sepertinya ada kabar baik Nona, Pasien memang sudah bisa mendengar dan merespont ucapan kita. Namun kita lihat perkembangan besok yah, tunggu Dokter yang menangani Pasien datang memeriksa kondisinya."


"Iya Suster." Ucap Alya senang.


Alyapun langsung mengecup jari tangan Damar dan menghujani pipi Damar dengan ciuman sayang, meski agak kesulitan karena terhalang oleh alat-alat medis yang menopang kehidupannya selama 3 bulan ini.


Alya langsung mengabari Mama Ningsih, dan Mama Mentari mengenai kabar bahagia ini. Meski masih terbilang sangat pagi sekalih, namun mereka langsung bergegas datang ke Rumah Sakit, untuk melihat keadaan Damar yang sudah ada perkembangan.


Kedua keluarga sudah berkumpul didepan ruangan ICU, mereka bergantian masuk satu-persatu untuk mengetahui perkembangan terbaru kondisi Damar saat ini.


Mama Ningsih tidak kuasa menahan tangis haru, selama tiga bulan ini usaha dan doa dari semua keluarga ternyata tidak sia-sia. Mama Ningsih terus berusaha mengajak Damar untuk berbicara, air mata menetes dari sudut mata Damar. Mama Ningsihpun menyaksikan air mata itu, lalu mengusapnya dengan perlahan.


"Sayang.. cepatlah sembuh seperti sedia kala, kami menantimu.." Ucap Mama Ningsih lirih.


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2