
Bernad dan keluarga kecilnya sudah menempati rumah barunya, meski nampak jauh sederhana di banding tempat tinggalnya yang dulu, namun mereka lebih bahagia. Tidak ada kesedihan, kekecewaan, dan kehampaan di dalamnya.
Bernad sudah ikhlas, dan menerima dengan surat wasiat Papa yang telah dia terima. Meski dia hanya mendapatkan 20% dari semua Aset peninggalan Papa Thomas, dia merasa bersyukur dan itu lebih dari cukup untuk keluarga kecilnya. Bernad sudah merasa tenang, orang yang telah membuat Papanya meninggal sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal.
Setiap hari Bernad berangkat bekerja giat seperti hari-hari biasanya. Di kantor, dia melakukan kewajibannya sebagai wakil CEO dengan baik. Bahkan dia selalu mengikuti perintah CEO yang merupakan Kakaknya itu, dengan patuh dan tanggap. Tidak jarang dia selalu menggantikan CEO meeting dengan klien, karena CEO sering mangkir dari pekerjaannya.
Setiap yang di lakukan Bernad, selalu salah di mata Charles, padahal banyak tender besar yang di menangkan oleh Bernad jika dia yang maju untuk bersaing dengan pesaing yang lain. Charles hanya menilai rendah Adiknya itu, bahkan tidak jarang dia menindasnya. Charles seakan belum puas melakukan itu, padahal Adiknya itu sangat penurut dan penyayang. Entah apa yang ada di dalam otak dan hatinya, selalu benci dan marah terhadap Adik kandungnya sendiri.
*******
Semenjak Mama Merry kembali tinggal di rumah suaminya, sudah beberapa bulan ini dia merasa sepi tinggal sendiri. Hanya pelayan yang selalu menemaninya, dan mengurus semua kebutuhannya. Dia merindukan sosok anak dan menantunya, bahkan cucunya yaitu Asyafa yang cantik, lucu, dan menggemaskan.
"Bernad, Nurlaila, Asyafa... aku merindukan kalian, hik.. hik.. hik.. " Gumam Mama Merry dalam tangisnya, dia sangat rindu mereka namun gengsinya terlalu tinggi untuk mengakuinya.
Sofia dan Billy kadang berkunjung seminggu sekali, namun mereka tidak menginap disana hanya menemani Mama merry saat weekend. Sedangkan Charles jarang sekali berkunjung, dia lebih senang menghabiskan waktunya dengan mabuk dan bermain wanita.
Sebenarnya Bernad sering kali berkunjung ke rumah Mama Merry, namun dia hanya menanyakan kabar Mamanya kepada satpam rumah, kadang penjaga rumah Mama Merry jika bertemu. Bernad kadang membawakan makanan kesukaan Mama Merry, dan menitip salam saja tanpa masuk ke dalam rumahnya. Bukan Bernad tidak ingin menemuinya, namun dia tidak ingin jika mereka bertemu akan bertengkar seperti hari-hari sebelumnya.
Mama Merry masih menatapi photo keluarga yang dia pegang sedari tadi, photo yang dia rindukan terutama suaminya.
"Pap, seandainya kamu masih hidup, mungkin Mama tidak akan melakukan dosa ini. Dosa yang sudah mengganti isi surat wasiatmu, maafkan Mama yah Papa." Gumamnya lirih, seraya tangisan mengiringi penyesalannya.
*******
Keluarga kecil Bernad selalu bahagia, mereka menghabiskan weekend dengan makan bersama di restoran yang terbilang biasa saja untuk ukuran seorang wakil CEO. Namun Bernad tidak mempemasalahkan masalah itu, selama makanannya enak dan tempatnya nyaman, mereka tidak malu untuk datang ke tempat itu. Nurlaila dan Asyafa tidak pernah mengeluhkan masalah itu, mereka senang asalkan hari libur mereka habiskan bersama.
"Sayang..." Panggil Bernad kepada istrinya.
"Heem.. Ada apa?" Tanya Nurlaila, menatap suaminya sekilas seraya menyendokan nasi ke atas piring untuk suaminya.
"Ayah sudah tidak kuat lagi untuk bertahan di Perusahaan Kak Charles, sepertinya Ayah ingin mendirikan Perusahaan sendiri dengan modal warisan dari Papa Thomas. Kalau perlu, Ayah membangun Perusahaan di bidang elektronik seperti Papa Thomas di luar Negeri. Menurut kamu gimana sayang? " Keluh Bernad mengutarakan keinginannya.
Seketika Nurlaila bergeming, menatap heran suaminya. Hingga sendok di tangannya, terjatuh ke lantai.
"Kenapa, sayang? Kamu tidak apa-apa, bukan?" Tanya Bernad yang kebingungan, melihat istrinya begitu shok dengan keluhannya, seraya terbangun dari tempat duduknya dan Asyafa kecilpun menatap heran.
"T.. tidak apa-apa sayang." Ucap Nurlaila kikuk.
__ADS_1
"Ooh.. kirain, kamu kenapa-napa." Ucap Bernad seraya duduk kembali.
"Apakah Ayah benar-benar serius ingin keluar dari Perusahaan Kakak Charles?" Tanya Nurlaila lagi.
"Iya.. Ayah serius." Ucapnya mantap.
"Yakin?" Tanya Nurlaila sekali lagi.
"Yakin." Bernad membeo ucapan istrinya.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita pulang ke Negara Ibu? Negara Indonesia, tempat kelahiran Ibu. Kita membangun Perusahaan kecil dahulu, jika sudah berkembang pasti akan maju dan besar." Ujar Ibu Nurlaila bersemangat.
"Memangnya, Ibu di sana masih ada Famili? Bukankah, orang tua Ibu sudah tiada?" Tanya Bernad dengan wajah serius.
"Ada, mereka Paman dan Bibi Ibu, juga keponakan Ibu." Jawab Nurlaila pasti.
"Baiklah, mari kita hijrah ke Indonesia... sayang." Ucap Bernad yakin.
"Okay, sayang." Jawab Nurlaila dengan senyum mengembang.
"Kamu akan banyak teman di Indonesia, anak Ibu dan Ayah sayang. Besok Ayah urus kepindahan sekolah kamu, Asyafa." Ujar Ayah Bernad dan Ibu Nurlaila seraya tercipta keharmonisan mereka.
"Bagus.. ! Sekarang Ayah bahagia, memiliki kalian sebagai keluarga kecil Ayah. Terima kasih istriku, dan anakku sayang, cup.. cup.." Ucap Ayah Bernad seraya mengecup pipi istri dan anaknya bergantian.
Akhirnya mereka kembali ke rumah menjelang sore, setelah menghabiskan weekend dengan berjalan-jalan santai dan makan di restoran sederhana namun berkesan.
"Ayah, setelah urusan surat pindah sekolah Asyafa, kartu passport, kartu Visa, surat kepindahan kewarganegaraan, dan surat mendirikan Perusahaan di luar Negeri selesai, kita sempatkan berpamitan ke rumah Mama dulu. Lalu Ayah jangan lupa mengajukan surat resign dari Perusahaan Kak Charles." Ucap Nurlaila mengingatkan secara jelas dan detail.
"Okay sayang, don't worry." Ucap Bernad pasti, seraya mengacungkan jempol tangannya ke udara.
Dua minggu kemudian, semua surat-surat penting sudah di urus dan siap untuk meninggalkan tanah air Belanda. Bernad dan keluarga kecilnya, mendatangi kediaman Mama Merry untuk berpamitan sebelum besok hari keberangkatannya ke Indonesia.
"Selamat siang Mom, maaf Mom, Bernad baru bisa berkunjung ke sini sekarang." Sapa Bernad, seraya mencium punggung tangan Mama Merry takzim, lalu di ikuti oleh istri dan anaknya.
"Selamat siang juga anak Mama, iya.. tidak apa-apa, Mama tahu kamu sibuk. Tapi Mama bersyukur, kamu masih mau datang kemari, meski hanya titip salam dan makanan sama Pak Satpam dan Penjaga rumah. Hik.. hik.. hik.." Ucap Mama Merry, seraya menerima uluran tangan mereka dan menangis haru, sontak saja Bernad dan Nurlailapun ikut menangis, lalu mereka memeluk Mama Merry bergantian.
"Mom.. jangan seperti ini, kami merasa bersalah dan semakin bersedih jika Mom seperti ini." Ucap Bernad, seraya mengusap air mata Mamanya.
__ADS_1
"Mama tahu kalian akan pergi jauh, bukan? Kamu sudah resign dari kantor Kakakmu satu minggu yang lalu." Tanya Mama Merry.
"Iya.. Mom, maafkan kami tidak memberi tahu Mom sebelumnya." Jawab Bernad seraya menyesal.
"Ya sudah, pergi saja kalian... Mama sudah tidak bisa mencegah kalian juga, bukan?" Ucap Mama Merry ketus.
"M.. maaf Mom, perpisahan ini harus terjadi" Ucap Nurlaila lirih, seraya bersimpuh di kaki Mama mertuanya itu, lalu di ikuti oleh suaminya.
"Sudah-sudah, bangunlah kalian." Ucap Mama Merry seraya menyetuh punggung mereka lembut.
Tidak berselang lama Charles dan istri juga anaknya berkunjung ke rumah Mama Merry, mata Charles dan Bernad saling bersirobak tersirat dendam di hati Charles.
"Ciiieeh.. sok berbakti, sok patuh, sok hormat, padahal busuk. Coba Mama pikir, Adik tega-teganya akan meninggalkan Mama pergi ke Negara istrinya yang pembawa sial itu hah..!" Maki Charles kepada Bernad dan istrinya.
Bernad dan istrinya hanya bergeming, mereka tidak menanggapi ocehan Charles sama sekali, meski hatinya begitu sakit dengan perkataannya.
"Charles, cukup... ! Mama tidak ingin mendengar dan melihat pertengkaran kalian." Pinta Mama Merry memohon kepada Charles untuk diam dan tidak memulai pertengkaran.
"Mom.. kami tidak bisa lama-lama di sini, masih banyak keperluan yang harus di siapkan untuk keberangkatan kami." Pamit Bernad yang di ikuti oleh istrinya.
"Kak Sofia, Adik pamit dulu yah. Mohon maaf jika Adik banyak salah." Ucap Bernad seraya berjabat tangan dan di ikuti oleh istri dan anaknya.
"Iya.. Adik, Kak Sofia doakan kalian selamat sampai sana, dan berbahagia selalu." Doa tulus dari Sofia seraya menyambut jabatan tangan mereka.
"Billy sayang, jaga Mama Sofia yah. Kamu adalah super hero Mama Sofia." Pesan Nurlaila kepada keponakannya itu.
"Iya.. Aunty, Billy akan selalu menjaga Mama." Janji Billy yang dianggukan oleh Nurlaila dan suaminya. Seketika, Sofia dan Mama Merry tersenyum bahagia dengan ucapan Billy.
"Kak.. Adik mohon maaf jika sudah membuat Kakak kecewa, karena Adik sudah resign mendadak dari Perusahaan. Adik hanya meminta, tolong jaga Mama dengan baik. Kami izin untuk pamit, terima kasih." Ucap Bernad lirih.
Charles bergeming, tidak ada suara sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Lantas Mereka meninggalkan rumah Mama Merry, dengan perasaan yang bercampur aduk. Rasa sedih, haru, bahagia dan kesal semua mereka rasakan.
Flash Back Off
Happy Reading
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........