
"Makan Pak?" Tawar Asyafa, yang sudah stay di meja makan, dan mengisi piringnya terlebih dahulu.
"Ini juga, baru mau makan yah Nak Rayhan." Ibunya yang menyahut, sambil melepaskan gandengan tangannya dari Rayhan, seraya menarik bangku untuk duduk.
"Nak Rayhan, silahkan duduk sebelah Asyafa, supaya lebih akrab." Titah Nyonya Nurlaila, seraya tersenyum manis.
"Ya tante, terima kasih." Ucap Rayhan, sambil menarik kursi disebelah Asyafa.
"Panggil saja saya Ibu! Jangan sungkan, sebentar lagi Nak Rayhan jadi mantu Ibu." Ucap Ibu Nurlaila, yang kemudian menyuruh anak gadisnya untuk mengambilkan nasi dipiring Rayhan.
Asyafa memutar matanya jengah, tidak percaya Ibunya mudah sekalih akrab dengan Dosen itu, padahal baru saja bertemu.
Rayhan hanya tersenyum tipis, dan mengangguk kearah Ibu Nurlaila. Kemudian dia melirik kesamping Asyafa dan tersenyum miring, seakan mengisyaratkan dia menang 1 - 0 bathinya.
"Nak Rayhan, makan yang banyak jangan malu-malu, anggap saja rumah sendiri yah." Perintah Ibu Nurlaila.
"Ya, Bu.. terimakasih, masakannya enak sekali Bu." Puji Rayhan.
"Ini nama masakannya apa yah bu? Saya baru kali ini makan. Karena selama saya di Belanda, Mama saya engga pernah masak ini."
"Ini namanya soto Betawi Nak Rayhan." Jawab Ibu Nurlaila.
"Kalau Nak Rayhan suka, tambah lagi makannya yang banyak." Pinta Ibu Nurlaila.
"Terima kasih Bu, ini benar-benar enak. Dagingnya lembut dan kuahnya gurih. Ibu pandai sekali mengolah makanan seenak ini." Ujar Rayhan memuji.
"Nak Rayhan, bisa saja kalau memuji. Masa iya seenak itu masakan Ibu." Ibu Nurlaila tersipu malu.
"Benar-benar lezatos.. ! Ha... ha.... !" Rayhan tertawa.
"Lebay... !" Ledek Asyafa, seraya menjulurkan lidah, gadis itu beranjak bangun dari kursinya.
"Aku sudah kenyang Bu. Aku ke kamar dulu yah."
"Saya permisi yah Pak." Pamit Asyafa.
"Eeeh.... Kenapa kamu masih panggil Nak Rayhan Bapak sih? Ini di rumah Nak, bukan di kampus. Jadi kamu panggil Nak Rayhan itu Mas, atau Kakak atau boleh juga Sayang gitu." Perintah Ibunya.
"Aiish... apa sih Ibu." Asyafa berlalu sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
__ADS_1
Rayhan dan Ibu Nurlaila tertawa puas, sudah membuat Asyafa kesal.
Seusai makan siang, Rayhan dan Ibu Nurlaila berbincang-bincang di ruang keluarga. Ibu Nurlaila bertanya kepada Rayhan, bagaimana kabar orang tuanya, tentang masa kecilnya di Belanda, kesehariannya, dan apa yang disukai dan tidak disukai disana, dan banyak hal lainnya lagi." Sampai tidak berasa satu jam sudah mereka bebincang.
"Nak Rayhan, bagaimana menurut kamu tentang anak Ibu?" Tanyanya penuh selidik.
"Asyafa, sejauh ini baik Bu! Saya belum terlalu dekat dengannya Bu, Asyafa hanya sedikit garang." Rayhan terkekeh, seraya membayangkan wajah Asyafa kalau sedang marah dan kesal.
"Oooh... ! Memang kurang lebih dia seperti itu Nak." Membenarkan pendapat Rayhan. "Tapi dia itu sangat cantik bukan? " Ucapnya bangga.
"Ya, Bu! Asyafa sangat cantik." Rayhan mengakuinya dengan tersenyum manis.
"Sebentar Nak Rayhan, Ibu panggilkan Asyafa dulu yah!" Pamit Ibu Nurlaila, sambil merutuki anak gadisnya yang sedari tadi di kamar, bukan menemani calon suaminya.
Tok... tok... tok... !" Nak, kamu kenapa di kamar terus? Sana, temani calon suamimu itu, Nak!" Suara Ibunya dari luar kamar, dan tidak ada jawaban setelah beberapa kali di panggil. Ibunya memutuskan untuk membuka pintu kamarnya, yang ternyata tidak di kunci.
"Astagfirullohalazim..... Asyafa, kenapa kamu malah tidur?" Mengguncang tubuh Asyafa pelan.
"Bangun Nak... ! Anak ini, benar-benar yah, minta di jewer rupanya." Omel Ibu Nurlaila.
Sambil menyeringai, mengerjapkan matanya, Asyafa mulai terbangun dari tidurnya. "Masya Allah aku ketiduran Bu!" Sesalnya.
"Ya.. Bu." Ucap Asyafa parau.
"Aku sekalian mandi saja deh, sudah sore juga." Gumamnya selesai mandi, Asyafa langsung mengenakan baju rumahan, kaos pink lengan pendek, dengan celana panjang selutut. Sehingga membuat gadis itu, masih terlihat seperti anak ABG. Dia berias ala kadarnya, hanya memoleskan bedak tipis diwajahnya, dan memberi sentuhan lipstik tipis berwarna pink.
Sambil memandangi dirinya di depan cermin, Asyafa senyum-senyum sendiri. dia merasa sekarang ini, bukan dirinya yang biasanya.
"kenapa dengan diriku hah.. ? Berdandan untuk Dosen rese itu, menyedihkan sekali aku ini." Bathinya merutuki dirinya.
Asyafa keluar kamar, kemudian menemui Dosen itu masih duduk santai di ruang keluarga, jemarinya sesekali memainkan ponselnya. Dia menatapi Dosen Rayhan dari kejauhan, dan tersenyum miring lalu menghampirinya.
"Heem... ! Masih betah Pak di sini? Belum pulang?" sindirnya gadis itu.
"Sudah sore tahu Pak! Emang engga di cariin orang tua Bapak?" Tanyanya menyindir seraya tersenyum menyeringai.
Dosen itu, sontak kaget mendengar celotehan gadis itu, dia tertegun sejenak, mengagumi kecantikan gadis itu, yang natural dengan polesan bedak tipis, dengan bibirnya yang di beri lipstik berwarna pink senada dengan warna kaos yang dikenakan, dengan kulitnya yang putih mulus. Memakai celana pendek selutut, yang sangat pas di tubuhnya. Terlihat kakinya yang jenjang putih mulus, semakin menambah keanggunan gadis itu.
Matanya masih terus memandangi gadis itu, menatap lekat dan bergeming. Lamunannya melimbung di otaknya yang entah mengapa bisa-bisanya dia berpikir yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Aiish... di tanya malah bengong!" Ucap gadis itu ketus.
"K.. kamu, cantik sekali." Ucapnya meluncur keluar begitu saja dari mulut Rayhan.
Gadis itu membulatkan matanya, kaget dengan ucapan Dosen itu.
"Bapak kenapa? Salah makan Pak? Dari dulu memang saya sudah cantik... ! Kemana saja Bapak? Baru sadar saya cantik? Ha.. ha.. ha.." Ujarnya sombong, percaya diri sambil tertawa puas.
Rayhan tersenyum miring, nampak ragu dia berucap kepada gadis itu. "Kamu itu seperti anak kecil, yang baru beranjak gede. Kalo jaman sekarang itu kayak anak ABG/ anak SMA." Ucapnya sekenanya, karena lain dimulut, lain dihati bathinya menutupi kegugupannya.
"Biarkan saja, memang kenapa kalo anak ABG? Memang aku masih kayak anak-anak. Makanya engga usah ajak aku nikah, cari saja sana gadis dewasa untuk bapak nikahin." Balasnya emosi, seraya cemberut.
"Idih... begitu saja marah, sayang. He.. he.. he.. " Rayhan terkekeh, seraya tanganya mengacak rambut gadis itu pelan.
"Apaan sih pak! Sayang... sayang... ! Aku engga suka." Ucapnya kesal, hatinya malu mengakuinya, gadis itu nervous.
Rayhan mendekatinya, berbisik ditelinga gadis itu.
"Aku menyukaimu Asyafa Dorman." Ucapnya pelan, lalu mengecup pipinya lembut. Sontak Asyafa bergeming, pipinya memerah, tubuhnya terasa beku, lidahnya kelu dan matanya berbinar sayu.
"Engga usah di jawab sekarang, besok malam aku dan ke dua orang tuaku akan ke sini datang melamarmu, sayang."
"Apa yang barusan Dosen itu katakan? Bisa-bisanya aku terbuai kata manisnya, membisu seperti ini, sungguh bukan diriku." Gadis itu merutuki dirinya dalam hati.
"Bodoh, bodoh! Kenapa aku diam saja, ketika dia mengecup pipiku." Sesal gadis itu dalam hati.
"Sayang, aku pulang dulu yah! Sepertinya aku bisa gila, lama-lama berdekatan denganmu. Ingin cepat-cepat menghalalkanmu. He.. he.. he.." Rayhan terkekeh geli, dengan ucapannya sendiri.
"Idih, Bapak saja otaknya mesum." Ucap gadis itu kesal.
"Iya... sudah, kalau mau pulang dari tadi dong... ! Kenapa baru sekarang. Hihi... hi.. " Sindir Asyafa, seraya tertawa terkikik.
"Kenapa kamu gitu sih, sayang?" Tanya Rayhan merajuk.
Kaki Rayhan maju mendekati gadis itu semakin dekat, mencoba lebih dekat, tetapi Asyafa memundurkan kakinya, dia terhenti ketika punggungnya menyentuh dinding. Gadis itu terhimpit tak bisa bergerak, wajahnya merona merah, matanya sayu, gadis itu seketika memejamkan matanya... !
Happy Reading
--BERSAMBUNG--
__ADS_1