
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Dua hari sudah Bari Darma di rawat di Rumah Sakit, istrinya Hilda selalu setia menemani, dan merawatnya dengan baik selama Bari sakit. Anak gadisnya, Wina kadang juga datang menjenguk, membawakan baju ganti untuk Mama dan Papanya. Lalu dia akan pulang, jika waktu sudah menjelang sore.
Hilda selalu mengingtkan Wina, agar jangan keluar malam, dan makan teratur jangan sampai terlewat makan. Wina yang sering telat makan, selalu jadi bahan omelan Hilda.
"Mam, Pap, Wina pulang dulu yah, cepet sehat yah Pap, biar bisa ajak Wina jalan-jalan lagi. Wina kangen sudah lama, engga pernah jalan sama Papa." Pamit Wina mencium kedua punggung tangan kedua orang tuanya dengan hormat, seraya mendoakan kesehatan Papanya.
"Iya sayang, terima kasih doanya anak Papa." Sahut Bari tersenyum miris dan haru, mendengar permintaan anaknya itu. Sekarang kondisi Bari sudah agak membaik, lebih terlihat segar dari sebelumnya.
"Assalamu'alaikum, Mam, Pap." Salam Wina meninggalkan mereka.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati sayang." Sahut salam dari keduanya bersamaan.
"Iya.. Pap, Mam."
"Wina anak gadis Papa, maafkan Papa yah selama ini Papa sering tidak perduli kepada kamu, jarang ada waktu untuk kamu, dan Papa selalu sibuk bekerja, dan bekerja. Tapi disaat Papa sakit begini, kamu begitu perduli dengan Papa." Ucap Bari dalam hati.
Tanpa di sadari, Bari meneteskan air matanya. Kondisi itupun tidak lepas dari netra istrinya, hingga Hildapun menatap heran.
"Sayang, apakah kamu menangis? Kenapa?" Tanya Hilda penuh keanehan.
"Aku sedih dan menyesal sayang, selama ini aku kurang perhatian sama Wina, aku menjadi Papa yang gagal untuk anakku satu-satunya." Ucapnya lirih.
"Baru sadar setelah jatuh sakit dan jatuh bangkrut, dari kemarin kemana saja sayang?Selain menjadi Papa yang gagal sama anakmu, kamu juga sudah menjadi anak yang gagal untuk Papamu! Coba kamu tanya pada hatimu? Sudah berapa lama kamu tidak mengunjungi Papamu?" Sindir Hilda langsung tembak tanpa berkutik, Baripun seketika menangis sejadi-jadinya.
"Untuk apa kamu menangis sayang? Tidak ada gunanya kamu menangis, harusnya kamu bertobat mohon ampun atas dosa-dosamu kepada Papa. Setelah pulang dari sini dan kondisi sudah sehat, sebaiknya kamu temui Papa di Yogyakarta." Sarkas Hilda mengemukakan keinginan suaminya untuk sadar, jika selama ini dia ada di jalan yang salah. Saat suaminya terjatuhlah, kesempatan Hilda untuk memperbaiki hubungan suaminya dengan keluarganya, terutama Papa Jaya Darma.
Bari sudah tidak bisa berkata-kata lagi, semua yang dikatakan istrinya benar adanya. Saat ini dia sedang jatuh di titik terendah, Perusahaannya terancam akan disegel karena disita pihak Bank, jika tidak bisa melunasi hutang-hutang Perusahaan. Lalu aset-aset Perusahaan terpaksa harus dijual, untuk membayar gaji dan pesangon para Karyawan.
__ADS_1
Asisten Yoga berkunjung ke Rumah Sakit utuk menjenguk Bossnya Bari Darma, dengan wajah sendu dia memasuki ruang rawat Tuan Bari Darma.
"Selamat sore Tuan dan Nyonya, bagaimana kondisi Tuan sekarang?" Salam Yoga seraya menanyakan kondisi atasannya itu.
"Sore Asisten Yoga, seperti yang kamu lihat, berkat istrikulah kondisiku berangsur baik." Salam balik Bari, seraya memuji istrinya.
"Syukurlah kalau begitu, semoga ada keajaiban yang akan membantu Perusahaan kita, Tuan." Ucap Yoga bersyukur, seraya berdoa untuk kelangsungan Perusahaan Bossnya itu.
"Aamiin..." Ucap Hilda dan Bari bersamaan.
"Tuan Bari, tiga hari yang lalu saya dan anak buah saya berangkat ke Jakarta, untuk menemui Hans di Perusahaan PT DARMA PERKASA. Lalu kami tidak bisa menemuinya, karena Hans sedang tidak ada disana." Ujar Asisten Yoga.
"PT DARMA PERKASA? Siapa pemilik Perusahan itu Yoga?" Tanya Bari terkejut, mendengar nama Perusahaan tersebut. Pasalnya, nama itu sama persis dengan nama Perusahaan Papa Jaya dulu, saat dia masih remaja.
"Perusahaan itu baru berdiri sekitar 6 bulan yang lalu Tuan, namun Perusahaan itu langsung berkembang begitu cepat. Karena Perusahaan itu cabang dari Perusahaan yang ada di Belanda, hanya itu yang saya tahu Tuan." Jelas Asisten Yoga.
"Coba kamu cari informasi lewat sosial media, dan berita-berita di internet nama Pemilik PT DARMA PERKASA." Pinta Bari penasaran, siapa Pemilik PT tersebut yang sama dengan Perusahaan Papa Jaya dulu.
Asisten Yoga membuka jaringan sosmed di internet, kemudian membaca satu persatu profil kepemilikan PT DARMA PERKASA. Asisten Yoga terperangah, saat membaca profil kepemilikan Perusahaan tersebut.
Bari yang melihat raut wajah Asisten Pribadinya itu, seperti sangat terkejut dengan apa yang di bacanya, sontak membuat Bari mengerutkan dahinya heran. Rasa penasaran langsung terlintas di pikirannya.
"Apa yang kau baca Yoga? Kenapa dengan raut wajahmu itu? Kau menemukan sesuatu yang aneh atau apa?" Bari memberondong pertanyaan.
"Tuan jangan terkejut yah, Pemilik Perusahaan itu ternyata Beni Darma putra sulung dari Jaya Darma." Ujar Yoga.
"What...? B.. beni D.. darma?" Tanya Bari gugup yang benar-benar shock.
"Iya Tuan, bukankah Jaya Darma itu Ayah Tuan Bari? Berarti Beni Darma itu, Kakak kandung Tuan Bari, bukan begitu?" Tanya Yoga memastikan.
__ADS_1
"Sayang, apa benar yang dikatakan Asisten Yoga, kalau kamu punya seorang Kakak kandung yang bernama Beni Darma?" Tanya Hilda penasaran.
"I.. iya sayang." Sahut Bari gugup.
"Haah.. setahu aku, kamu tidak pernah mempunyai Kakak, aku kira kamu hanya dua bersaudara, dengan adik kandungmu yang bernama Dewi Darma." Ujar Hilda terkejut.
"Beni Darma adalah Kakakku yang menikah dengan gadis Belanda kekasihnya, selama ini mereka tinggal di Belanda. Dia menentang perjodohan yang dilakukan oleh Papa Jaya, hingga Kak Beni meninggalkan kami semua." Jelas Bari, tentang status Kakak Beni Darma.
"Ooh.. jadi seperti itu ceritanya! Pantas saja aku tidak mengenal Kak Beni, saat aku pertama mengenalmu, tenyata dia sudah tidak ada di Indonesia." Ucap Hilda.
"Iya, sayang." Sahut Bari.
"Kalau aku boleh usul, bagaimana kalau kamu temui Kakak kamu sayang ke Jakarta? Sesudah itu, kamu temui Papa Jaya di Yogyakarta." Ucap Hilda memberi solusi.
"Benar juga kata Nyonya Hilda, Tuan. Siapa tahu Kakak Tuan bisa membantu Perusahaan Tuan, agar bisa bangkit kembali dari kehancuran yang sudah di depan mata. Waktu kita hanya tinggal satu minggu dari sekarang, Tuan." Ucap Yoga membenarkan usulan Nyonya Hilda.
"T.. tapi, jika Kak Beni tahu yang sebenarnya masalah yang telah aku perbuat, apa dia akan membantuku?" Ujar Bari bingung.
"Apa maksudmu, sayang? Aku tidak mengerti." Tanya Hilda heran dengan ucapan suaminya.
"Maksudku sebenarnya, Perusahaan yang kita pegang ini bukanlah 100% punya aku, melainkan ada hak Beni dan Papa disini." Ujar Bari jujur.
"Apa yang kau katakan, sayang? Jadi selama ini, kamu menjalankan bisnis Perusahaan bukan milikmu yang sebenarnya? Kamu tidak pernah jujur kepadaku, maka rasakan sekarang karma atas keserakahanmu itu." Hardik Hilda, tersulut emosi yang membuncah, hingga meneteskan air mata.
"Maafkan suamimu ini, sayang." Ucap Bari tulus dan lirih, seraya berkaca-kaca atas kekesalan istrinya saat dia mengetahui fakta yang terjadi.
"Cukup.. kamu lebih baik meminta maaflah pada Kakakmu dan Papamu, hik.. hikk... hikk..." Ucap Hilda seraya menangis tersedu-sedu.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan komentar yah. Terima kasih......