
"Silahkan masuk Tuan Putri!" Ketika Rayhan sudah membukakan pintu mobilnya.
"Aiish.. apaan sih Kak, sok manis 'deh! Ucapnya sebal.
"Emang manis! Hi.. hi... " Ucap Rayhan.
Kemudian Rayhan, masuk mobil dan duduk di bangku setir dan siap menyalakan mesin mobilnya. Tetapi ada yang mengganjal di hatinya, akhirnya dia jujur dengan gadis itu.
"Sayang, kamu semalam tidur jam berapa?" Tanya Rayhan gusar.
"Jam 12 mungkin, tapi engga tau pasti sih Kak, habisnya aku susah banget tidur semalam." Jawabnya jujur.
"Kenapa emang, Kak?" Tanya Asyafa heran.
"Sehabis menelepon kamu, Kakak langsung terbayang kamu. Jika Kakak tidur, selalu saja memimpikan kamu. Entah kenapa sudah dua hari ini, Kakak memimpikan kamu terus. Padahal baru tiga hari ini, Kakak bertemu dengan kamu? Tapi entah kenapa dengan perasaan ini? Sebelumnya, Kakak tidak pernah seperti ini, sayang." Ucapnya Rayhan jujur.
"Heeem.. !" Asyafa hanya tersenyum.
"Apa ini yang dinamakan jodoh, sayang?" Tanya Rayhan.
"Jangan bilang Kakak gombal? Tapi ini benar-benar jujur, Kakak sudah mengatakan isi hati Kakak. Jadi sudah tidak ada yang mengganjal lagi, sayang." Ucap Rayhan mantap, seraya meraih kedua tangan Asyafa dan menggenggamnya erat.
Asyafa terkesiap, ketika mendapati kedua tangannya sudah digenggam erat oleh Rayhan. Dia bergeming, hanya menatap sayu kearah Rayhan. Otaknya berkata jangan, tapi hatinya berkata iya, sungguh otak dan hati tidak singkron.
"Sayang, kamu mendengar apa yang barusan kakak katakan, bukan?" Tanya Rayhan.
"Heemm.... iya Kak." Jawabnya irit bicara.
"Kamu tidak mengalami hal yang sama dengan kakak?" Tanyanya lagi.
"Sebenarnya aku belum begitu Kak, aku masih bingung dengan diriku. Tapi aku cukup tersanjung akan kejujuran Kakak. Terima kasih atas kejujurannya, Kak." Ucap Asyafa senang.
"Kakak akan berusaha bersabar, mungkin bagimu ini terlalu cepat untuk menerima Kakak. Karena wanita butuh proses 'kan? Kakak hanya tidak ingin ada yang di tutup-tutupi. Terima kasih sudah hadir dalam hidup Kakak." Ucapnya Rayhan optimis.
"Maaf 'kan aku, Kak! Aku akan berusaha." Janji Asyafa mantap.
"Kakak menyukaimu Asyafa Dorman, izinkan Kakak memelukmu." Ucapnya, seraya tubuhnya langsung memeluk gadisnya itu erat dan mengecup keningnya lembut.
Deg..... !
Asyafa bergeming, dia membisu, tubuhnya membeku, lidahnya kelu, matanya sayu, aura panas menyeruak, jantungnya berdebar lebih kencang, tetapi ada kedamaian di hatinya. Karena ini baru pertama kali dia di peluk dan di cium keningnya oleh lelaki selain Ayahnya.
"M... maaf! Kakak tidak bisa mengontrol emosi, sayang." Sesal Rayhan, seraya mengusap pucuk rambut Asyafa lembut.
"I.. iya, Kak! Engga apa-apa." ucapnya nervous.
"Kenapa kamu sayang? Tangan kamu sampai dingin begini?" Tanya Rayhan, seraya menggesek-gesek tangannya supaya hangat.
"Ini karena kakak, genggam tangan aku sedari tadi." Ucapnya malu.
"Oooh... iya, Kakak sampai lupa melepasnya. Hi.. hi.." Ucap Rayhan terkekeh yang diikuti Asyafa, gelak tawa mengisi mobil itu.
Akhirnya Rayhan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, selama perjalanan mereka saling berbincang dan tertawa, tetapi tetap fokus menyetir. Satu jam sudah, akhirnya mereka sampai ditempat tujuan.
__ADS_1
"Ayo sayang, turun." Ajaknya, seraya membukakan pintu mobilnya dan memegang tangan Asyafa.
"Terima kasih, Kak!" Ucapnya Asyafa malu, hingga merona pipinya.
"Assalamua'alaikum, Pak, saya mau ambil mobil atas nama Rayhan Darma?" Tanya Rayhan.
"Waalaikumsalamtuan, mobilnya sudah beres. Sudah bisa dibawa pulang sekarang juga." Jawabnya tukang bengkel.
"Terima kasih yah Pak." Ucapnya Rayhan, seraya berjabat tangan.
"Sama-sama Tuan." Jawab tukang bengkel.
"Ayo sayang, kita pulang. Kamu mau bawa mobilnya sendiri, atau dibawa sama tukang bengkel?" Tanya Rayhan.
"Aku bawa sendiri saja, Kak." Jawab Asyafa.
"Ya sudah, aku akan ikutin kamu dari belakang yah!" Pinta Rayhan.
"Iya, Kakak sayang!" Ucapnya malu.
"Aiish.. tadi bilang apa? Kakak ingin mendengarnya lagi." Pinta Rayhan.
"Iya, kakak sayang." Ucapnya malu, seraya berbisik di telinga Rayhan.
Rayhan tergelak lalu tertawa lepas.
"Kakak suka, kalau kamu panggil sayang, sama Kakak." Ucapnya, seraya mengacak pucuk rambut gadis itu pelan.
"Aiis.. Kakak ini kebiasaan deh! Rambut ku." Gerutul Asyafa, seraya merapihkan rambutnya dengan tangan.
"Mbo Ijah, dimana Ibu dan Ayah? Kenapa aku engga melihat mereka?" Tanya Asyafa.
"Tuan dan nyonya ada di balkon non!" Jawab Mbo Ijah.
"Ooh.. gitu Mbo, terima kasih Mbo!" Ucapnya.
"Iya, Non."
"Ayo Kak, kita ke balkon!" Ajak Asyafa, seraya menarik tangan Rayhan.
Mereka menaiki anak tangga, menuju lantai dua. Dan akhirnya menemukan Ibu dan Ayahnya disana, yang sedang bersantai sambil membaca koran dan menyulam.
"Asslamu'alaikum, Ayah dan Ibu aku pulang!" Ucap Asyafa, seraya mencium tangan Ayah dan Ibunya yang diikuti oleh Rayhan.
"Kalian sudah pulang Nak? Mobilnya sudah beres?" Tanya Ayahnya.
"Sudah Ayah, Kak Rayhan yang bayar semuanya." Jawab Asyafa.
"Ooh.. gitu Nak! Terima kasih Jak Rayhan." Ucap Ayah.
"Iya, Ayah!" Jawab Rayhan.
"Kalian belum makan, bukan?" Tanya Ibunya.
__ADS_1
"Belum, Bu." Jawab anaknya seraya diikuti oleh Rayhan.
"Ayo kita makan siang, pasti kalian lapar 'kan?" Ajak Ibunya, seraya menggandeng suaminya ikut.
Merekapun berempat menikmati makan siangnya, dengan berbincang-bincan. Gelak tawa mengisi disela makan siang mereka, suasana akrab sudah terjalin dan akhirnya mereka pun merampungkan makannya.
"Gimana masakan Ibu Kak Rayhan?" Tanya Ibu Nurlaila.
"Ini makanan sama enaknya seperti kemarin bu! lezatos." Ucap Rayhan terkekeh, seraya diikuti oleh Ayah dan Asyafa.
"Makasih Nak Rayhan pujiannya!" Ucapnya Ibu Nurlaila tersipu malu.
Setelah itu Asyafa dengan Rayhan menonton TV diruang keluarga, berbincang-bincang sambil bercanda dan diselangi gelak tawa mereka. Rayhanpun membahas masalah Pembukaan Perusahaan Papanya nanti malam, sedangkan Ibu dan Ayah beristirahat di kamarnya.
Sepertinya hari sudah sore sayang, sudah pukul 4 sore, Kakak pulang dulu yah." Izinnya Rayhan seraya mengecup punggung lengan Asyafa lembut.
"Titip salam buat Ibu dan Ayah saja, Kakak engga mau ganggu mereka berdua, sayang." Matanya mengerling nakal.
"Aiiss.. Kakak!" Memukul bahunya rayhan.
"Iya, Kak! Nanti aku sampaikan salamnya sama Ayah dan Ibu." Ucap Asyafa.
"Titip salam juga untuk Mama dan Papa Kakak yah!" Ucapnya malu.
"Iya, sayang, nanti Kakak sampaikan juga salamnya! Jangan lupa dandan yang cantik, nanti malam Kakak jemput jam 7 yah." Pinta Rayhan.
"Iya, Kak! Hati-hati di jalan." Doa Asyafa.
"Assalamu'alaikum, sayang.. by.. !"Pamit Rayhan.
"Waalaikumsalam, by juga." Asyafa melepas kepergian Rayhan, seraya melambaikan tangannya yang dibalas juga oleh Rayhan.
*********
Rayhan sudah rapi, dengan setelan kemeja putih dan jass hitam dengan dasi berwarna hitam. Senada dengan celana dan sepatu mahal Rayhan, yang berwarna hitam pula. Wajahnya yang tampan dam berkharisma, serta tubuh tegap dan atletis, menambah kerupawanan seorang Rayhan Darma. Siapapun yang melihat, pasti akan terbius oleh pesonanya.
"Mom... Pap... ! Rayhan duluan yah!. Hendak menjemput calon istri dulu, baru kita bertemu di sana." Pamit Rayhan.
"Okay son! hati-hati dude." Ucap Papa dan Mama.
Dalam perjalanan tak butuh waktu lama, 40 menit sampai di kediaman Tuan Bernad. Rayhan sudah parkirkan mobilnya didepan rumah gadis itu pukul 18.50 wib.
"Tepat waktu, Alhamdulillah!" Gumam Rayhan.
Kemudian dia memencet bell pintu, muncul pelayan rumah Mbo Ijah, mempersilahkan dirinya untuk menunggu diruang tamu.
Rayhan menunggu gadisnya dengan tenang, santai duduk di bangku tamu. Tidak butuh waktu lama, akhirnya gadis itu keluar dari kamarnya.
Dengan mengenakan gaun cantik berwarna putih, elegan menjuntai ke bawah. Bak Putri Salju di dunia nyata. Rambutnya yang sebahu dibuat bergelombang spiral, dengan polesan make up diwajahnya tipis. Dengan polesan lipstik tipis di bibir nya, menambah kecantikannya.
Deeg... !
"Haaa... Sayang, apakah itu kamu?" Rayhan terkejut.
__ADS_1
Happy Reading
--BERSAMBUNG--