
"Kenapa? Kalian kenapa menampilkan ekspresi wajah seperti itu? Aku sungguh-sungguh, dengan ucapanku." Tanya Willian heran, dengan ekspresi wajah mereka yang seperti shok mendengar ucapannya, terutama wajah Rayhan.
"Are you grazy Will? Memangnya istriku punya kembaran? Mengapa kau memintaku mencarikan wanita yang seperti istriku?" Tanya balik Rayhan, tidak terima dengan pertanyaan sepupunya itu.
"Ray.. Ray.. kau belum paham juga maksudku ya, Iissh.. iissh..." Ucap Willian seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku itu ingin menikah dengan wanita yang mirip Asyafa, bukan berarti wajahnya harus sama. Aku ingin punya istri yang sifatnya mirip dengannya, lucu, cantik, manis, baik, ceria, jutek, galak, polos, dan pengertian. Kalau wajahnya engga harus mirip juga lah, setidaknya sifatnya yang mirip." Jelas Willian mengutarakan keinginannya.
Semua sontak kaget dengan penjelasan William, seketika semua mentertawakannya.
"Ha... ha... ha.."
"Aaiish.. Wil.. Will.. belum lama kamu bertemu dengan istriku, mengapa kamu seakan tahu sifatnya?" Tanya Rayhan heran, seraya tersenyum mengejek.
"Tahulah, bahkan aku lebih kenal Asyafa dari pada kamu, Ray." Ucap William enteng tanpa dosa, seketika mereka terkejut dengan apa yang di dengarnya.
"Apa yang kau katakan, Will?" Tanya Momie dan Dadie keheranan, begitu pula dengan Rayhan. Terlebih lagi Asyafa tidak menyangka William bisa mengatakan hal itu, hingga membuat hati Asyafa bertanya-tanya.
"Aku kenal..." Ucapan William terhenti, karena kedatangan para Pelayan Restoran yang datang menaruh berbagai macam menu makanan mewah, dan nikmat untuk mereka santap pagi ini.
"Silahkan di nikmati breakfast anda, semoga anda suka, dan puas, dengan hidangan yang kami suguhkan, terima kasih." Ucap salah satu Pelayan Restoran tersebut, seraya undur diri meninggalkan mereka.
"Terima kasih." Ucap mereka sopan, secara bersamaan.
Mereka menikmati hidangan mewah itu dengan santai dan obrolan hangat menyertainya.
"Will, kamu masih hutang jawaban pertanyaan kami tadi!" Seru Dadie Jonathan, mengingatkan putra kesayangannya itu.
"Sudahlah, Dad. Jika aku mengatakan hal sebenarnya, memangnya kalian akan percaya?"
"Kalau jawabanmu masuk akal, kami percaya dong." Jawab Jonathan yakin.
"Sepertinya makanan ini kalah nikmat yah, di banding dengan kata-kataku, he.. he.. he.. " Ucap William narsis, seraya terkekeh.
Sontak saja semua berdecak kesal dengan ucapan William, yang seolah-olah mempermainkan mereka.
"Will, kau jangan membuat kami salah faham terhadapmu." Omel Momie Stepani, pada anak kesayangannya itu.
__ADS_1
"Well I'm sorry guys, aku lanjutkan ceritaku yah. Aku mengenal Asyafa ketika aku duduk di bangku Sekolah Dasar, usia aku dan Asyafa tidak jauh berbeda." Jelas William seraya tersenyum hangat.
"Really, Will?" Tanya Asyafa shok.
"Heeem.. waktu SD kamu sekolah di Holands School Amsterdam, bukan?" Tanya William dengan tatapan serius, namun tampak ragu takut-takut salah tebak.
"Iya." Jawab Asyafa singkat.
"Yes.. benar tebakkanku." Ucap William dalam hati
"Apakah kamu ingat dengan Maurin?" Tanya William lagi.
Asyafa mengingat-ingat nama Maurin dan wajahnya sewaktu SD, dia hampir lupa dengan nama teman-temanya masa itu.
"Lupa, Will.. itu sudah sangat lama, bahkan aku hampir tidak mengingat wajahnya." Ucap Asyafa jujur.
"Sebentar." Ucap William, seraya membuka ponselnya untuk mencari foto Maurin bersama temannya saat kecil di Sosmednya.
"Ini.. foto Maurin kecil, dan sekarang aku sudah lama tidak berjumpa dengannya, hanya bisa melihat Maurin di Sosmed saja." Ujar William menunjuk wajah Maurin kecil.
"Iya.. aku kenal wajah ini, ini foto ketika aku akan berpamitan untuk meninggalkan negara ini." Ucapnya sendu, seraya matanya sudah berkaca-kaca menahan haru.
"Yah.. aku ingat, kamu William teman sekelasku. Kamu yang setiap hari di sekolahan menjahiliku, namun aku tidak pernah mundur dan gentar untuk melawanmu. Maurin selalu saja melerai kita berdua, jika sedang bertengkar, bukan? Ha... ha.. ha.. Kenapa dunia ini begitu sempit yah, Will?" Ujar Asyafa tertawa dan bertanya dengan tidak pernah menyangka.
"He.. he.. he... sekarang kalian sudah faham, bukan? Jadi jangan curiga lagi sama aku yah, apa lagi kamu Ray, aku engga bakalan ambil Asyafa darimu. Jadi stop, untuk cemburu padaku, kecuali kau menyia-nyiakan sahabat kecilku, maka aku akan merebut istrimu dengan terang-terangan." Ucap Willian terkekeh, seraya memberi ancaman kepada Rayhan sepupu kesayangannya itu.
"Oooh.. jadi begitu ceritanya Will, pantas saja matamu hampir copot jika sedang menatap istriku. Suami mana yang tidak cemburu, jika istrinya di tatap oleh Pria tampan sepertimu. He.. he.. he.. " Sarkas Rayhan terkekeh.
Akhirnya mereka mengerti dengan penjelasan William, Momie dan Dadienya juga sudah tidak resah lagi dengan kelakuan anaknya.
Akhirnya, merekapun melanjutkan breakfast tanpa berbicara lagi. Lalu menghabiskan makanan yang tersaji di depannya.
"Setelah ini, kalian akan jalan-jalan kemana?" Tanya William penuh selidik.
"Aiish.. kenapa Will? Kamu mau ganggu bulan madu kami?" Tanya Rayhan mencebik tidak suka.
"Wooow.. masih cemburu saja kau, Ray!" Seru William, seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Belum tahu Will, aku terserah Kak Rayhan saja mau ajak aku kemana." Ucap Asyafa pasrah.
__ADS_1
"Kalau boleh usul, kita jalan-jalan melihat kincir angin dan tempat hiburan, menurut kalian bagaimana?" Tanya William antusias.
"Boleh." Jawab Asyafa cepat.
"Tidak." Jawab Rayhan sebal.
"Kenapa tidak kompak? Ya sudah terserah kalian, aku hanya usul saja." Ucap William pasrah, dengan senyum di paksakan.
"Momie, Dadie, nanti siang aku akan chekout dari Hotel, ingin pulang ke Mension. Ray, Sya.. aku duluan yah, see you." Ujar William seraya pergi meninggalkan mereka.
"Oke.. Will." Jawab mereka berbarengan.
"Uncle, Aunty, kami juga pamit yah, mau siap-siap untuk jalan-jalan. Apakah kalian mau ikut dengan kami?" Ajak Rayhan seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Boleh, kalau tidak mengganggu." Ucap Uncle Jonathan, tidak enak.
"Tidak mengganggu dong Uncle, kita 'kan sama-sama bulan madu, he.. he... he..." Ucap Rayhan terkekeh, kemudian Asyafa mencubit pinggang suaminya, merasa tidak enak hati dengan ucapannya.
"Ha.. ha.. ha.." Jonathan dan Stepani tertawa lepas mendengar sindiran Rayhan keponakannya itu.
"Lama-lama kamu seperti William Ray, sudah bisa menyindir Unclemu ini." Ucap Jonathan sedikit malu.
"He.. he.. he.. tidak apa Uncle, usia boleh tua, tapi jiwa selalu muda. Apa lagi wajah kalian berdua masih terlihat awet muda, cantik dan tampan." Ujar Rayhan terkekeh.
Akhirnya mereka meninggalkan Restoran itu, kembali ke kamarnya masing-masing untuk bersiap-siap pergi berjalan-jalan.
Rayhan sudah nampak cool dengan baju casualnya dan Asyafa tampak cantik dengan baju casualnya juga, yang couplean sama suaminya. Aunty Stepani dan Uncle Jonathanpun demikian, tampak cantik dan tampan dengan pakaian santai yang mereka kenakan.
"Waah.. kalian hendak pergi barengan nih? Aku engga di ajak? Teganya kalian." Tanya William yang baru saja keluar dari kamarnya, tanpa sengaja bertemu mereka di depan pintu kamarnya.
"Katanya, kamu mau chekout Will, siang ini?" Tanya Momie Stepani.
"Engga jadi, kalau kalian ajak aku, he.. he.. he..."
"Dasar.. anak ini." Ucap Stepani gemas.
Happy Reading
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........