TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Baby Big


__ADS_3

Drrt.. kriing... Drrt... kriiing.... ! Bunyi telpon memekik.


Asyafa dan Rayhan seketika melepaskan pagutan mereka yang semakin panas dan bergairah.


"Shh.." Suara Rayhan berdesis mendengar bunyi pekikan ponsel istrinya.


Asyafa tertawa, melihat Rayhan yang kesal hanya karena harus melepaskan ciumannya itu.


"Sudah iich, gitu saja kesal. Aku angkat teleponnya dulu." Pinta Asyafa seraya melirik layar ponselnya yang menelepon.


"Alya menelepon." Bathin Asyafa.


"Hallo.. Al, ada apa?"


"Hallo.. ada apa lagi? Malah nanya lagi hah..? Loe tuh benar-benar yah! Dari semalam gue hubungi ponsel loe engga aktip. Ini sekarang baru nyambung. Kemana saja loe? Kenapa Resepsi loe di batalin? Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Ha... ha... ! Maafin gue Al. Ponsel gue baru di charger. Gue lagi ada masalah, sekarang lagi di Rumah Sakit."


"Loe sakit, Sya?"


"Bukan gue Al, tapi suami gue."


"Sakit apa? Perasaan pas Akad Nikah Pak Dosen baik-baik saja."


"Ceritanya panjang, Al."


"Ooh.. ya sudah, Rumah Sakitnya dimana? Nanti gue tengokin ke sana."


"Iya, nanti gue sharelock."


"Oke."


"By.. tuut... !"


Asyafa menutup panggilan teleponnya kemudian dia mengirimkan sharelock Rumah Sakit tempat suaminya di rawat.


"Sayang, sudah teleponnya?" Tanya suaminya tesenyum


"Sudah, Kak." Jawab Asyafa singkat.


"Lanjut boleh?" Tanyanya lagi.


"Kakak, makan dulu." Tolak Asyafa halus.


"Iya.. iya.. " Jawab suaminya keki.


"Engga usah ngambek. Ayo makan, aku sudah lapar dari semalam perut aku belum di isi, Kak." Celoteh Asyafa mengulum senyum.

__ADS_1


"Kakak engga ngambek, cuma nanggung. He.. he.. !" Kilah Rayhan menyangkal.


"Aiish.. Kakak mesum." Ledek Asyafa mencibir.


"Kakak makan pakai soto saja yah?" Tanya Asyafa, seraya menunjukan soto di mangkuk.


"Iya sayang, tapi disuapin yah?" Pinta Rayhan manja.


"Iya, Baby big. He.. he.. he.. !" Ledek Asyafa terkekeh.


Akhirnya Rayhanpun disuapi oleh istrinya, dan Asyafapun ikut makan juga sampai tandas tidak tersisa. Setelah sesi makan sudah selesai, Asyafa merapikan kembali sisa makanan dan bekas wadahnya di atas nakas, lalu mencucinya dengan bersih dan kinclong.


"Tok.. tok.. !"


"Permisi saya mau periksa keadaan saudara Rayhan." Ucap Dokter meminta izin.


"Iya, Dokter! Silahkan." Jawab Asyafa mempersilahkan.


"Terima kasih Nona." Ucap Dokter itu.


Akhirnya Dokter itu memeriksa Rayhan dengan teliti dan mengechek tensi dan juga suhu tubuh Rayhan.


"Luka-luka memar masih belum memudar namun kondisi suhu dan tensi normal. Besok saudara Rayhan sudah bisa pulang, dan melanjutkan rawat jalan jika masih ada keluhan." Ujar Dokter menjelaskan


"Terima kasih, Dokter." Ucap Rayhan yang di ikuti oleh istrinya.


"Sama-sama, baiklah saya akan periksa pasien yang lain. Saya permisi, terima kasih." Ujar Dokter seraya meninggalkan ruangan rawat itu.


Setelah Dokter meninggalkan ruangan Rayhan, mereka tinggal berdua saja. Rayhan mulai menggoda istrinya lagi, namun Asyafa pura-pura acuh saja dengan menyibukkan diri bermain sosmed di ponselnya. Rayhan sedikit merengut karena di acuhkan istrinya.


"Kakak, gitu saja ngambek." Seru Asyafa meledek suaminya seraya menghampiri suaminya di tepi ranjang.


"Habisnya, dari tadi Kakak di acuhin. Sepertinya ponsel itu lebih penting dari pada Kakak?" Hardik Rayhan, seraya mengerucutkan bibirnya.


"Aiish.. Kakak ini gemesin, ya sudah, Kakak mau apa coba? Sini aku cium saja, bibir Kakak sudah manyun terus gitu. He.. he... !" Ledek Asyafa menggoda.


"Ha.. ha..! Mau kalau di cium." Jawab Rayhan seraya mendekap tubuh istrinya posesif.


Baru saja Rayhan mau beraksi, Ibu Nurlaila datang dengan membawa buah-buahan dan minuman air mineral di tangannya. Sontak saja keduanya terkesiap menahan malu. Untung belum sampai kepergok Ibu Nurlaila.


"Kenapa kalian? Sepertinya Ibu datang di waktu yang tidak tepat?" Tanya Ibu Nurlaila melihat anak dan menantunya salah tingkah.


"Engga Ibu." Jawab Asyafa yang sudah merah merona seperti tomat. Namun Ibu Nurlaila hanya mengulum senyum.


"Sayang, suami kamu sudah makan?" Tanya Ibu Nurlaila.


"Sudah Ibu." Jawab Asyafa.

__ADS_1


"Kamu sendiri sudah makan?" Tanyanya lagi.


"Sudah Ibu, tadi bareng sama Kakak Rayhan." Jawab Asyafa cepat.


"Sayang, kamu kasih ini buah apel dan jeruk buat suami kamu. Biar lebih segar dan fresh." Tawar Ibu Nurlaila seraya menyerahkan buah yang sudah di cuci.


"Terima kasih Ibu." Ucap Asyafa, seraya menerima buah ditangannya.


"Iya, sayang." Jawab Ibu seraya memasukkan buah-buahan dan minuman kedalam kulkas.


"Kakak mau makan jeruk atau apel?" Tanya Asyafa menimbang buah ditangannya.


"Jeruk saja, sayang." Jawab Rayhan cepat.


"Baiklah, aku kupas dulu jeruknya yah." Ucap Asyafa.


"Tok.. tok.. !" Pintu di ketok.


"Permisi, Sya ini Alya datang." Ucap Alya memanggil sahabatnya.


"Iya Al, masuk saja tidak di kunci." Titah Asyafa.


"Jeglek." Bunyi pintu terbuka.


"Assalamu'alaikum. Ibu, Sya, Pak Dosen." Salam Alya seraya mencium punggung Ibu Nurlaila dan merangkul Asyafa dan bersalaman dengan Rayhan.


"Wa'alaikumsalam, Alya."Jawab Asyafa dan dikuti oleh Ibu dan Rayhan.


"Silahkan duduk Al," Ajak Asyafa seraya berjalan ke arah sofa tunggu.


"Iya, Sya." Alya mengikuti Asyafa.


"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Bapak Dosen pada memar gitu wajahnya?" Tanya Alya penasaran.


Akhirnya Asyafa menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Alya soal semalam tadi. Betapa terkejutnya Alya, ketika mengetahui jika Damar yang merupakan dalang di balik penculikan Rayhan.


*******


Papa Beni, Mama Jovanka dan Ayah Bernad sudah berada di kantor Polisi untuk menindak lanjuti kasus yang sudah termasuk kedalam tindak kriminal yaitu penculikan, penyekapan dan penyiksaan.


Mereka meyakinkan pihak Kepolisian untuk menjadi saksi dalam kasus itu dan tidak ada pembebasan dengan mudah untuk Damar.


"Terima kasih Bapak Polisi atas kerja samanya dan bantuannya." Ucap Tuan Beni dan Nyonya Jovanka serta Tuan Bernad, seraya berjabat tangan.


"Sama-sama Tuan dan Nyonya." Jawab Bapak Polisi seraya menerima jabatan tangan mereka.


Akhirnya merekapun kembali pulang ke rumah dengan perasaan senang dan bersyukur.

__ADS_1


Happy Reading


--BERSAMBUNG--


__ADS_2