TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Penolong


__ADS_3

"Kamu, tidak apa-apa, sayang? Dia tidak menyakitimu 'kan?" Tanya Rayhan, yang langsung menarik Asyafa dalam pelukannya.


"T.. tidak Kak." Jawabnya dengan gemetar dan menangis, seraya mengeratkan pelukannya di dada bidang Rayhan.


"Jangan pergi sendiri, sudah diwanti-wanti, dari awal datang tadi." Pinta Rayhan memperingati, seraya tangannya mengusap lembut kepala Asyafa.


"Iya, Kak! " Jawabnya lirih.


"Terima kasih, Kakak sudah jadi penolongku." Ucapnya sendu.


"Iya sayang, jangan pernah pergi sendiri lagi. Ini sudah menjadi tanggung jawab Kakak untuk menjagamu." Pinta Rayhan, yang langsung diangguki gadisnya.


Rayhan langsung memanggil sekurity, untuk mengamankan pria mabuk tadi yang sudah tergeletak dilantai tak berdaya, dan membawanya ke kantor Polisi, dengan tuduhan pelecehan terhadap wanita, tegasnya. Lalu Sekurity pun langsung sigap menangani.


"Ayo sayang, lebih baik kita pulang!" Ajak Rayhan seraya menggandeng tangan Asyafa ke mobil.


Di sepanjang perjalanan Asyafa masih shok, dengan apa yang terjadi pada dirinya malam ini, dia sangat terpukul oleh perlakuan Pria mabuk tadi, hampir tidak ada suara yang keluar dari mulut gadis itu. Sesekali, Rayhan melirik gadis itu, dan membelai rambutnya lembut dengan tangan kirinya, tatapannya tetap pokus ke arah jalan.


"Sayang, kenapa kamu diam saja?" Tanya Rayhan, seraya menepikan mobilnya dipinggir bahu jalan.


Sunyi tidak ada jawaban yang ke luar dari mulut Asyafa.


"Sayang, kamu dengar Kakak engga?" Mengguncang bahu gadis itu pelan dan tak ada reaksi.


"Jangan begini, sayang! Maaf tadi kakak salah, hampir saja kamu ternodai... kalau sampai Kakak terlambat sedikit saja." Sesal Rayhan, dan merutuki dirinya.


"T.. tidak Kak, kakak tidak bersalah, hik.. hik.. hik.. " Tangis Asyafa pecah dipelukan Rayhan.


"Maafin kakak, sayang!" Ucapnya seraya mengeratkan pelukannya.


"Kakak, berjanji tidak akan meninggalkan dirimu seperti tadi." Janji Rayhan seraya mengecup lembut kening Asyafa.


"Sekarang kamu sudah merasa lebih tenang belum?" Tanya Rayhan.


"Sudah mendingan, Kak! " Jawab Asyafa seraya mengendorkan pelukannya.


"Alhamdullilah, kalau kamu sudah agak tenang!" Ucap Rayhan bersyukur.


"Apa kita sudah bisa melanjutkan perjalanan, sayang?" Tanya Rayhan.


"Iya.. Kak!" Jawabnya dengan anggukan


"Baiklah kalau begitu! " Ucap Rayhan yang langsung menjalankan mobilnya kembali.


Sesampainya dirumah kediaman Asyafa, Rayhan langsung mengantarnya sampai dalam rumah, dan menemui kedua orang tuanya, lalu menjelaskan perihal keterlambatan pulangnya mereka. Kedua orang tua Asyafa, sangat terkejut mendengarnya dan mengumpat makian Pria mabuk itu. Rayhanpun meminta maaf, dan menyesali kejadian tersebut


*******


Alya kesal menatap layar ponselnya sedari tadi, tidak ada balasan masage dari sahabatnya itu, dia mencoba menghubungi lewat ponselnya, masih tidak ada jawaban. Entah sudah ke berapa kali dia mencoba, teleponnya tetap tidak ada jawaban.


"Asyafa.... loe kenapa tidak balas chat gue, dan bahkan telpon gue juga engga loe angkat." Gumamnya kesal.


"Tapi ponselnya aktif, apakah dia tidak membawa ponselnya?" Terka Alya dalam pikirannya. Alya terus merutuki sahabatnya itu.


*******


Rayhan akhirnya pamit kepada orang tua Asyafa, untuk pulang setelah mengclearkan keadaan yang terjadi terhadap mereka tadi.

__ADS_1


"Maaf Ayah dan Ibu sekali lagi, kalau Rayhan kecolongan." Sesalnya memelas, seraya mencium punggung tangan Ibu dan Ayah gadisnya.


"Iya sudahlah, Nak! Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Kedepannya kita harus lebih berhati-hati dan waspada." Nasehat Ibu Nurlaila, seraya menepuk punggung tangan Rayhan pelan.


"Iya nak Rayhan." Ayah Bernad menimpali.


"Sayang, Kakak pulang dulu yah, nanti kalau sudah sampai rumah, Kakak telepon kamu." Pamit Rayhan.


"Iya, Kak! Hati-hati di jalan, Kak." Doa Asyafa.


Akhirnya Rayhanpun meninggalkan kediaman rumah Tuan Bernad Dorman.


*******


"Nak, kemarilah sayang!" Panggil Ibunya.


"Iya Bu!" Asyafa menghampiri Ibunya.


"Yang sabar yah Nak, semua sudah baik-baik saja, semoga dengan kejadian ini, kamu bisa menjadikan pelajaran berharga dimasa depan. Ibu percaya kamu akan baik-baik saja, apalagi Nak Rayhan akan selalu menjagamu." Nasehat Ibunya seraya memeluk anak gadisnya.


"Iya bu, aku akan baik-baik saja." Ucap Asyafa merasa nyaman dipelukan Ibunya, dan Ayahnya hanya menepuk punggung anaknya pelan.


"Ibu, Ayah, aku mau bersih-bersih dulu yah." Pamit Asyafa.


"Iya Nak! " Jawab Ibu dan Ayah.


Asyafa masuk kamarnya dan langsung membersihkan dirinya, berendam di bathtup dengan air hangat, setelah badannya merasa segar, ia merampungkan aktivitas mandinya. Setelah itu dia berganti pakaian tidur dan hendak mengistirahatkan tubuhnya, ponselnya pun memekik.


Drrt.. drrt.. drrt...


"Hallo Alya! Kena.... " Kata-katanya menggantung mendengar teriakan Alya.


"Heeeei.. kamu kemana saja?" Teriak Alya kencang memekik telinga.


"Dari tadi aku telpon engga diangkat-angkat dan pesanku engga di balas-balas. Apakah kamu baik - baik saja?" Tanya Alya penasaran.


"Iya.. gue baik-baik saja Al! gw tadi tidak membawa ponsel." jawab asyafa.


"Tadi, sewaktu loe ke toilet, Pak Dosen Rayhan mencari loe dengan panik, dia nanya sama gue kemana loe pergi, setelah gue bilang ke toilet sebentar, dia langsung nyusulin loe dan setelah itu loe tidak kembali dari toilet. Loe dan Pak Dosen pergi kemana?" Tanya Alya panjang lebar.


"Gue dan Pak Dosen langsung pulang." Ucap Asyafa singkat.


"Oooh.. pantas saja tadi pas ada keributan di depan toilet, loe dan Pak Dosen tidak ada. Gue khawatir sama loe Sya, karena ada pria mabuk yang tergeletak dilantai sudah babak belur. Lalu di amankan oleh sekurity." Ucap Alya menjelaskan.


"Tapi kenapa loe pulang sama Pak Dosen? Kenapa tidak sama Ibu dan Ayah loe Sya? Dan tidak menemui gue dulu sebelum pulang?" Tanya Alya penasaran.


"G.. gue, ada urusan penting." Jawabnya Asyafa gugup.


"Kenapa loe gugup? Loe bohong yah?" Tuduh Alya tepat sasaran.


"T.. tidak!" Jawab Asyafa menutupi.


"Gue curiga loe dan Pak Dosen, ada sesuatu yang disembunyikan." Alya menerka-nerka.


"Tidak ada Al." Jawab Asyafa gugup.


"Ya sudah, kalau loe belum mau jujur!" Alya merengut meski tak terlihat Asyafa.

__ADS_1


"Mungkin gue bukan sahabat loe yang baik, sehingga gue tidak dianggap." Ucap alya lirih.


"B.. bukan gitu Alya, loe sahabat gue yang terbaik. Tapi.. sebenarnya."


"Sebenarnya apa, Sya.... ?" Desak Alya.


"Sebenarnya... gue di jodohkan dengan Dosen Rayhan." Ucap Asyafa tersipu malu.


"Tapi jangan ada yang boleh tahu yah Al, di kampus." Pintanya memohon.


"Whaat.. !" Alya terkejut.


"Gue engga salah dengar ini, Sya? Serius 'kah?" Membulatkan matanya meski tak terlihat.


"Iya, gue serius! " Jawabnya Asyafa jujur.


"Pantas saja, kalian tadi bersama naik keatas Podium, dan disaat pak Dosen berdansa dengan gadis yang bernama Naura, loe seperti gusar engga rela gitu, dan sewaktu loe ke toilet, Pak Dosen panik mencari loe." Celoteh Alya panjang lebar, baru menyadari hal ganjal itu.


"Maafin gue, baru bisa jujur soal ini, Al. " Sesal Asyafa.


"Ya sudah, engga papa Sya, kalau loe bukan sahabat gue, mana mau gue perduli urusan loe. He.. he..." Ucap Alya terkekeh.


"Terima kasih Alya, loe memang the besty." Ucap Asyafa bahagia.


"Sama-sama friend. selamat tidur, ditunggu undangannya, okay!! by..." Ledek Alya seraya menutup obrolan mereka.


"By..." Balas Asyafa seraya mematikan sambungan teleponnya.


"Tuuuut... " Sambungan telepon terputus.


Asyafa menutup ponselnya, dan menaruh diatas nakas, waktu menunjukan pukul 12 malam, dia belum bisa tidur, dia hendak menghubungi Rayhan, tetapi di urungkan niatnya, ketika hendak merebahkan tubuhnya, pekikan ponselnya berbunyi.


Ding....


Dilihatnya layar ponsel itu, tertera satu pesan lalu diusapnya layar ponsel itu.


Calon Suami : "Sayang, maaf ganggu, tadi Kakak hubungi kamu, teleponnya sibuk terus."


Calon Istri : "Iya Kak! Tadi Alya telepon aku, tanya soal hubungan kita berdua."


Calon Suami : "Terus, kamu jawab apa?"


Calon Istri : "Aku jujur apa adanya tentang kita." (Emot senyum malu) "Habisnya Alya itu pemaksa." (Emot marah)


Calon Suami : "Akhirnya kamu mau jujur dan menerima kakak sayang, terima kasih."


Calon Istri : "Maaf yah Kak, aku baru bisa jujur sekarang."


Calon Suami : "Enggak pa-pa sayang, aku sabar menunggu. I love you Asyafa Dorman." (Emot hati)


Calon Istri : "I love you too Rayhan Darma." (Emot senyum)


Calon Suami :"Minggu depan, Kakak akan melamarmu." (Emot hati banyak)


Happy Reading


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


__ADS_2