
Akhirnya mereka menyelesaikan sesi mandi yang sesungguhnya. Waktu hampir menunjukkan pukul 4.30 pagi, hampir satu jam tadi mereka mandi bersama.
"Tok.. tok.. tok.. !" Pintu di ketuk.
"Sayang, apakah kalian sudah bangun? Sudah azan subuh, kalian harus segera berangkat, bukan?" Tanya Ibu Nurlaila, membangunkan anak dan menantunya yang belum keluar kamar, padahal waktu sudah hampir telat.
Asyafa berjalan gontai, membukakan pintu kamarnya.
"Jeglek." Suara pintu terbuka.
"Kita sudah bangun Bu, nanti kita berangkat jam 5.30 saja. Engga ke rumah Mama, langsung ke Bandara saja." Ujar Asyafa menjelaskan.
"Semua barang-barang kamu sudah di packing? Surat-surat penting, seperti Pasport dan Visa sudah di siapkan?" Tanya Ibu Nurlaila cemas, takut mereka melupakan perihal kecil yang bisa membatalkan mereka pergi berbulan madu.
"Sudah, Bu." Jawab Asyafa singkat dan hanya tersenyum gaje.
"Oke, kalau begitu. Tapi wajah kamu kenapa senyum gaje gitu, dari tadi Ibu perhatikan? Habis keramas pagi-pagi, memangnya engga dingin?" Tanya Ibu Nurlaila, menggoda anaknya yang tingkahnya sedikit aneh menurutnya, sedang Asyafa hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Pagi Bu..." Sapa Rayhan, menghampiri Ibu mertuanya seraya mencium punggung tangan Ibunya takzim.
"Pagi, menantu kesayangan Ibu. Ya sudah kalau kalian sudah bangun, kirain kalian kesiangan belum bangun. Sekarang Ibu tinggal dulu, mau siapkan bekal sarapan nanti di jalan." Jawab Ibu Nurlaila seraya menerima uluran tangan menantunya dan pamit meninggalkan mereka berdua.
"Cinta, sholat shubuh dulu." Ajak Rayhan menunaikan kewajiban seorang muslim.
"Oke, sayang." Ucap Asyafa, seraya menutup pintu kamarnya, lalu menyambar mukena di dalam lemarinya.
Setelah mereka menunaikah sholat dua raka'at tersebut, Asyafa mencium punggung tangan suaminya takzim. Rayhan menerima dengan senang, lalu mengecup kening istrinya, dan mendoakan kebaikan untuk mereka.
"Aamiin." Jawab Asyafa, yang mendengar doa baik dari suaminya untuk mereka.
Rayhan tersenyum, lalu menatap istrinya penuh dengan cinta dan sayang.
"I Love You, my wife." Bisik Rayhan di telinga istrinya, seraya memeluk istrinya erat.
"I Love You too, my husband." Balas Asyafa juga, seraya tersenyum hangat menerima pelukan suaminya.
"Semoga kita akan bahagia terus seperti ini, sampai ada calon anak kita di perut ini, cinta." Ucap Rayhan, seraya menyentuh perut istrinya yang masih rata.
"Aamiin." Jawab Asyafa kembali.
Setelah itu mereka merapihkan perlengkapan sholatnya, dan memulai persiapan menuju Bandara.
"Cinta, rambut kamu masih basah. Mari, Kakak bantu untuk mengeringkannya." Tawar suaminya dengan suka rela, dan disambut hangat oleh istrinya. Asyafa duduk menghadap cermin besar di kamarnya, menatap suaminya yang sudah siap dengan aksinya.
Rayhan mengeringkan rambut istrinya dengan hair dryer, menyisir rambut istrinya dengan penuh kelembutan dan rapi. Membalas tatapan istrinya dari cermin dan tersenyum manis sekali.
__ADS_1
"Sudah kering, cinta. Rambut kamu lembut, tebal, lurus namun bawahnya ikal, panjang, huuueeem... harum sekali." Puji Rayhan seraya mengendus rambut istrinya.
"Makasih, sayang... atas pujiannya." Ucap Asyafa tersipu malu, dengan tingkah dan perkataan suaminya yang romantis menurut dia.
Rayhan tersenyum dari pantulan cermin, dia memeluk istrinya gemas dari belakang punggungnya lalu berbisik.
"Iya.. cinta, sama-sama."
"Sekarang gantian, Kakak yang aku keringkan rambutnya yah." Pinta Asyafa, yang langsung merubah posisi mereka sebelumnya.
Sehabis mereka mengeringkan rambut, mereka berdandan ala kadarnya. Mereka menyemprotkan parfum ketubuhnya dengan aroma wangi yang biasa mereka pakai.
Akhirnya mereka selesai juga dengan semua barang-barangnya, waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 pagi, Mereka berpamitan dengan Mbo Ijah, dan suaminya yang betnama Mang Udin, serta Pak Satpam Kodir.
"Hati-hati di jalan yah Non, Aden, selamat sampai Belanda, dan pulang lagi ke sini yah." Ucap Mbo Ijah sudah menangis seraya memeluk amak majikannya itu, yang di ikuti oleh suaminya dan Pak Satpam Kodir dengan menganggukkan kepalanya kecil dan tersenyum.
"Iya... Mbo, Mang Udin, Pak Kodir, terima kasih doanya." Ucap Asyafa dan suaminya, seraya mengurai pelukkan Mbo Ijah.
Pak supir Dadang menjalankan mobil dengan kecepatan sedang, Ibu dan Ayah ikut mengantar mereka ke Bandara, sepanjang perjalanan mereka berbincang-bincang dengan penuh tawa dan bahagia. Kadang Rayhan terlihat gemas dengan tingkah istrinya yang kadang jutek, dan garang namun terlihat imut, dan manis menurutnya.
Rayhan menghubungi Mama Jovanka, untuk memastikan apakah mereka sudah jalan atau belum. Ternyata mereka sudah sampai, sedangkan Rayhan dan istrinya masih di perjalanan.
"Mom, kita masih di jalan kejebak macet."
"Ya sudah, tidak apa-apa, yang penting kalian selamat sampai Bandara. Hati-hati di jalan, bilang Pak Supir jangan ngebut. Waktunya masih lama ini, kami sengaja datang lebih awal karena tidak ingin terjebak macet."
"Lupa, atau sengaja lupa? Bilang saja sudah bangun, tapi masih pingin pelukan sama istri kamu. Jadi telat deh berangkatnya, hi.. hi... hi.."
"Waah... Mom, Kenapa bisa tahu? Mom, intip kamar di rumah istriku yah?
Asyafa mengernyitkan dahi, ingin tahu apa yang di ucapkan mertuanya itu, karena suaminya membawa-bawa kamar segala.
"Sayang, loudspeaker dong ponselnya biar kita bisa dengar suara Mama." Usul Asyafa, seraya menghentikan suaminya bicara.
"Sebentar, cinta." Ucap Rayhan, menjauhkan ponsel dari telinganya.
Rayhan langsung menyentuh tanda speaker di ponselnya, seraya menaruh ponselnya di paha Rayhan.
"Hallo Mom, ini Asyafa, sekarang Mom sudah sampai mana?"
"Iya.. sayang, sudah sampai Bandara dari jam 6 sayang."
"Cepat sekali Mom."
"Iya, tadi berangkat pagi, takut macet."
__ADS_1
"Iya Mom, tadi juga pinginnya berangkat pagi Mom, tapi... !"
"Tapi... di ganggu sama suami kamu yang bucin, bukan?"
"Mom... Rayhan malu iich, engga usah di bahas."
"He.. he... he.. Mama senang saja ledekin kalian."
"Mom, sudah dulu, sepertinya sudah mau sampai."
"Iya sayang, hati-hati semuanya... Assalamu'alaikum."
"Iya Mom, Wa'alaikumsalam."
Rayhan langsung mematikan saluran teleponnya, karena mobil yang di naikinya hampir sampai.
Akhirnya mereka sudah sampai di Bandara Soekarno Hatta, mereka menaiki pesawat Garuda lepas landas pada pukul 07.00 WIB jika tidak ada pesawat delay.
Pak Dadang membantu membawakan koper dorong Rayhan, dan Asyafa berjalan mengikutinya di belakang.
"Terima kasih Pak Dadang, sudah saya repotin." Ucap Rayhan, yang merasa tidak enak membawakan kopernya.
"Tidak apa Aden, ini sudah kewajiban saya, tidak usah sungkan. Hati-hati di jalan Aden Rayhan, dan Non Asyafa, semoga selamat sampai tujuan." Ucap Pak Dadang, seraya berkaca-kaca dengan kepergian mereka.
"Iya Pak Dadang, kenapa sampai menangis? Orang cuma bulan madu saja, dan kita hanya seminggu di sana, Pak." Ucap Asyafa terharu dengan Supir Pribadinya, yang dia kenal semenjak kedatangannya ke Indonesia.
"He.. he.. he.. " Pak Dadang terkekeh malu.
"Pagi Mom, Pap, Uncle, Aunty, Brother..." Sapa Rayhan yang di ikuti oleh Asyafa lalu mencium punggung tangan mereka.
"Pagi." Jawab mereka bergantian, seraya menerima uluran tangan Asyafa dan Rayhan.
"Selamat pagi, besan." Salam Ibu Nurlaila, dan Ayah Bernad bergantian, seraya berjabat tangan.
"Selamat pagi juga, besan." Salam balik juga, Mama Jovanka dan Papa Beni bergantian seraya menerima jabatan tangan mereka.
Akhirnya para Orang Tua, melepaskan mereka untuk pergi berbulan madu karena pesawat akan segera lepas landas.
"Selamat tinggal Adikku, anak dan menantuku juga keponakanku, hati-hati di jalan, semoga kalian selalu selamat sampai tujuan, Aamiin." Ucap Mama Jovanka penuh dengan tangis haru biru dan lambaian tangannya. Lalu yang lainpun ikut mendoakan dan melambaikan tangannya.
Asyafa dan suaminya juga keluarga Uncle Jonathan melakukan chekin Pesawat terlebih dahulu, baru mereka masuk ke dalam pesawat ruang VIP. Tidak menunggu lama akhirnya pesawatpun lepas landas tujuan Amsterdam kurang lebih mereka akan menempuh perjalanan 14.5 jam tanpa henti.
Happy Reading
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Kasih Like dan Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........