TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Soto Betawi


__ADS_3

Asyafa berjalan santai, menuju area parkir. Dia dikejutkan, oleh temannya yang bernama Andi.


"Hei..., kemana saja loe? Kayaknya sudah jarang ngumpul?"


"Eeh.., elo Ndi." Asyafa tersenyum. "Gue sibuk Ndi, belakangan ini." Kilahnya.


"Masa... !" Andi menelisik."Loe, yakin." Tanya Andi.


"Yakin.., !" Ucap Asyafa mantap. "Kenapa, memangnya Ndi? Kayaknya loe, engga puas dengan jawaban gue."


"Sibuk apaan?" Tanya Andi lagi.


"Eem... itu... skripsi gue belum beres." Jawab Asyafa terjeda.


"Ooh.. soal skripsi?" Ujar Andi.


"Iya.. soal itu." Pungkasnya.


"Kalau soal Dosen Rayhan.., bagaimana? Tanya Andi.


Deg....


"Andi tahu dari mana, soal Dosen Rayhan?" Gumam bathin Asyafa.


Memang Andi teman satu genk, yang paling care dan dekat sama Asyafa. Dia sudah menyimpan perasaan suka, semenjak mereka bergabung dalam Club PALAGRI. (Pecinta Alam Negeri) Yang notabennya, suka berpetualang di alam bebas. Sudah sering kali, dia menyatakan cinta, namun selalu dijawab dengan tidak ingin berpacaran dulu. Andipun menerima dan bersabar menunggu.


"Sya.. " Panggil Andi seraya melambaikan tangannya, di depan muka Asyafa. Seketika, Asyafa tersadar dari lamunannya.


"Eeh... Iya."


"Loe, ngelamun Sya?" Tanya Andi heran.


"Engga.. Ndi." Ujar Asyafa. "Loe, tahu dari siapa soal Dosen Rayhan?" Tanya Asyafa balik, seraya menutupi kegugupannya.


"Kenapa, loe gugup Sya? Bukannya jawab pertanyaan gue, loe malah balik tanya!." Protes Andi seraya menyeringai.


"Dosen Rayhan, jadi Dosen pembimbing gue ndi." Ujar Asyafa seraya menundukan kepalanya.


"Sebatas itu Sya?" Tanya Andi. "Atau lebih Sya?" Tanya Andi lagi lebih yakin.


"Kenapa sih loe, Ndi? Engga usah berpikir macem - macem." Pungkas Asyafa, seraya berjalan meninggalkan Andi.


"Tunggu Sya.. !" Cegah Andi, seraya mencekal lengan Asyafa yang hendak berjalan ke arah mobilnya.


"Kenapa lagi Ndi? Tanya Asyafa lirih.


"Maaf.. ! Gue engga bermaksud kepo! Tapi gue engga suka, kalau loe terlalu dekat sama Dosen Rayhan." Ujar Andi jujur, seraya mengurai cekalan tangannya.

__ADS_1


"Iya Ndi." Ucap Asyafa singkat. "Gue permisi dulu yah, gue langsung balik Ndi. Salam buat anak yang lain." Ujar Asyafa, seraya masuk kedalam mobilnya. Andi hanya menganggukan kepalanya kecil.


Asyafa mulai meninggalkan area parkir. Dia menjalankan mobilnya, dengan kecepatan sedang. Enam puluh menit, akhirnya dia sampai di kediamannya. Memarkirkan mobilnya, lalu mencari keberadaan ibunya.


"Mbo... ibu dimana?"


"Di balkon non'.. !"


"Ooh.. begitu, trimakasih mbo."


Asyafa menyusul ibunya ke balkon. Menemukan ibunya, sedang menyulam kain. Asyafapun langsung menghambur memeluknya. Lalu Ibu Nurlaila menyambut pelukannya.


"Ibu..., tadi kakak Rayhan bilang, mau kesini." Ujar Asyafa seraya mengurai pelukannya.


"Iya sudah, nanti ibu masakkan kesukaan nak' Rayhan." Ucap Ibu Nurlaila.


"Soto Betawi." Tebak Asyafa seraya tersenyum.


"Iya..., kamu pintar." Puji Ibu Nurlaila seraya mengacungkan kedua jempol tangannya di udara.


Mereka menuruni anak tangga, hendak ke lantai satu menuju dapur. Ibu Nurlaila mencari bahan - bahan untuk membuat Soto Betawi di kulkas, apakah ada yang kurang atau tidak. Mbo Ijah menawarkan bantuan, namun ditolak sama Asyafa, katanya dia ingin belajar membuat makanan itu sekarang.


"Ibu, apakah ada bahan yang kurang?" Tanya Asyafa, seraya menelisik bahan - bahan yang ada di depannya.


"Sepertinya, sudah lengkap nak'." Jawab Ibu Nurlaila.


Asyafapun mulai mengerjakan bagian tugas, yang di berikan oleh ibunya. Seperti merebus daging sapi, dan mengupas kentang lalu dipotong dadu. Sedang ibunya, membuat bumbu utama Soto Betawi. Namun tetap mengajari Asyafa, bumbu apa saja yang dimasukkan kedalam resep soto tersebut.


"Ibu.. sepertinya dagingnya sudah mulai empuk!." Sarkas Asyafa, seraya menekan daging itu dengan garpu.


"Matikan dulu kompornya nak' , lalu rebus air lagi yang baru, setelah mendidih baru masukan dagingnya kedalam air mendidih itu. Setelah itu tuangkan susu cair putih, lalu aduk rata."


"Baik ibu..., saya laksanakan ! hihi... hihi... " Ucap Asyafa terkikik senang.


Lalu merekapun menyelesaikan masakan tersebut, dengan sempurna. Tingkat kematangan cukup, dan rasa luar biasa. Ibu Nurlaila memberikan penilaian, terhadap masakan anaknya. Seraya berkata "Perpect."


Hidangan Soto Betawi telah tersaji di meja makan, tinggal menu pelengkap seperti kerupuk dan bawang goreng. Tidak lupa menambahkan sambal tomat, biar menambah kenikmatannya.


"Ibu... aku mandi dulu yah, badanku sudah bau daging semua ini, hi.. hi... !" Ujar Asyafa seraya terkikih mencium baunya sendiri.


"Iya nak'." Ucap ibunya.


Asyafapun bergegas ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya cukup dua puluh menit saja. Diapun melakukan rutinitas setelah mandi, seperti biasanya. Memakai pakaian santai, lalu mulai membuka laptopnya, dan mengerjakan bab yang masih harus di revisi sebelumnya.


"Aduh pusing, aku ngantuk banget rasanya." Asyafa mengeluh sendiri, tanpa di sadari dia tertidur pulas di meja belajarnya.


Rayhan, bertandang kerumah calon istrinya Asyafa, pada pukul empat sore. Janjinya jam tiga, namun dia telat karena tadi dia ketiduran. Meski telat, dia tetap memenuhi janjinya, untuk mengobati rasa rindunya.

__ADS_1


Rayhan sudah memarkirkan mobilnya rapih, di garasi rumah Asyafa. Kemudian Rayhan, menenteng buah tangan dari Yogyakarta. Mulai menyapa pelayan rumah, Mbo Ijah dan dipersilahkan masuk duduk diruang tamu.


"Mbo Ijah ini sekedar buah tangan, tolong di bawa kedalam." Ujar Rayhan, seraya menyerahkan paper bag ke tangan Mbo Ijah.


"Iya.. Den Rayhan, terima kasih." Ucap Mbo Ijah, seraya menerima paper bag itu.


"Tunggu sebentar yah Aden Rayhan, saya panggilkan nona Asyafanya dulu." Pamit Mbo Ijah seraya mencari Asyafa di kamarnya.


"Iya.. Mbo." Jawab Rayhan singkat.


Mbo Ijah mulai mencari Asyafa di kamarnya, ketika sampai di kamarnya, ternyata pintu kamar Asyafa tidak di kunci. Sedikit terbuka, namun terlihat jelas, kalau yang mpunya kamar sedang tertidur. Mbo Ijah ragu, untuk membangunkannya. Akhirnya Mbo Ijah mencari Nyonya Nurlaila, yang sedang berada di ruang keluarga.


"Maaf nyonya, ada tamu Den Rayhan di depan." Ujar Mbo Ijah.


"Ooh... iya mbo, tadi siang Asyafa sudah bilang. Tolong panggilkan anak itu mbo." Titahnya Ibu Nurlaila.


"Maaf nyonya, tadi saya sudah ke kamar non Asyafa. Namun sepertinya, nona tertidur di meja belajarnya. Mungkin kecapean, tadi habis masak nyonya." Ujar Mbo Ijah, seraya undur diri.


"Iya sudah kalau begitu, terima kasih mbo." Ucap Ibu Nurlaila.


Ibu Nurlaila, akhirnya menemui Rayhan di ruang tamu. "Hallo.. Nak Rayhan, apa kabar? Bagimana rasanya pergi ke Yogyakarta?" Tanya Ibu Nurlaila.


"Alhamdulillah sehat ibu, dan sangat senang. Saya bisa bertemu kakek, bulek, juga saudara papa disana." Ujarnya Rayhan tersenyum senang.


"Nak' Rayhan sepertinya Asyafa tertidur, di meja belajarnya. Mungkin tadi kecapean, saking semangatnya belajar masak bersama ibu. Untuk makanan kesukaan Nak' Rayhan, Soto Betawi. Ujar Ibu Nurlaila, seraya menjelaskan.


"Asyafa, memasak buat saya ibu?" Ujar Rayhan terkejut.


"Iya nak'."


"Saya bahagia ibu, terima kasih." Ucap Rayhan. "Ibu biarkan saja Asyafa tertidur, jangan di bangunkan." Pinta Rayhan.


"Tapi nak' Rayhan, kalau tidak di bangunkan, nanti punggungya akan sakit, karena tidur sambil duduk." Ujar Ibu Nurlaila.


"Iya sudah, saya mohon izin, untuk pindahkan Asyafa ke kasur." Pinta Rayhan.


"Baiklah Nak' Rayhan, kalau begitu." Ujar Ibu Nurlaila.


Akhirnya, Rayhanpun bergegas masuk, ke dalam kamar asyafa. Ini pertama kali Rayhan memberanikan diri untuk masuk ke kamar calon istrinya. Didalam kamar Asyafa, dia langsung mencium, aroma wangi semerbak lavender. Rayhan mengedarkan pandangannya, keseluruh isi kamar. Tertata rapi dan bersih juga wangi.


Tanpa sadar, Rayhan menyunggingkan senyumannya. "Gadis cantikku ini, ternyata pintar merawat diri dan kamarnya." Gumamnya dalam hati. Lalu dia menatap Asyafa, yang sedang tertidur pulas di kursi belajarnya. Lengannya jadi bantalan kepalanya, mungkin disaat terbangun akan terasa pegal sedikit.


"Gadis ini, ketika tertidur sangatlah cantik, imut, dan damai rasanya. Tidak terlihat jutek dan galak, he.. he.. he.. !" Gumam Rayhan seraya terkekeh.


Rayhan tanpa ragu hendak mengangkat Asyafa, dengan gaya bridge stile. Namun setelah posisi Asyafa sudah digendongannya, Asyafa menggeliat dan mengerjapkan matanya, membulat sempurna. Aachh....


Happy Reading

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


__ADS_2