
"Ada kecelakaan... ada kecelakaan... !" Teriak warga yang melihat sebuah mobil pengantin menabrak pohon besar.
Tidak butuh waktu lama banyak warga yang berdatangan, ada yang hanya sekedar melihat dan menonton, dan ada pula yang membantu mengeluarkan penumpang dan supir yang ada di dalam mobil
"Bagaimana keadaan mereka?"Tanya salah satu warga yang menolong.
"Keduanya masih hidup, sepertinya hanya pingsan saja! Cuma supir mengalami luka serius, sepertinya terbentur bundaran setir cukup keras." Jawab salah satu orang yang sedang memeriksanya.
Kemudian mereka membawa Rayhan dan supirnya tersebut ke Rumah Sakit terdekat.
*******
Di kediaman Asyafa, sudah banyak tamu satu persatu memenuhi ruangan yang sudah di sediakan. Asyafa, sudah di dandani cantik bak Putri Dongeng dari Khayangan. Gaun yang elegant berwarna putih semakin membuat wajahnya bersinar dan cantik mempesona.
Alya sahabatnya dibuat kagum dengan kecantikan Asyafa. Lalu diapun menghampiri sahabatnya itu selesai didandani.
"Waah... loe cantik sekali Sya! Seperti Bidadari dari khayangan." Ucapnya Alya kagum.
"Aaiish... lebay! Hi... hi.. " Asyafa tertawa kecil.
"Penampilan gue, gimana Sya? Ok engga?" Tanya Alya seraya memamerkan baju dan wajahnya.
"Lumayan, cantik dong!" Ucap Asyafa datar.
"Aiish.. bilang cantik, tapi muka loe datar gitu!" Alya merengut bibirnya sebal.
"Ha... ha... dasar loe Al, baper banget! Cantiklah... temen gue, gitu!." Ledek Asyafa tertawa puas.
"Heem.... " Alya merajuk.
"Iya.. maaf Al! Jelek tahu... kalau loe ngambek gitu! "Rayu Asyafa menunjukkan ekspresi imut.
"Iya... Sya! Gue engga ngambek, cuma sebal! Hi... hi... !"
"Al.. tolong ambilin air minum dong, gue haus banget." Pinta Asyafa seraya menyentuh tenggorokannya.
"Iya.. !" Alya berjalan mengambilkan air minum di diatas nakas.
"Ini air minumnya Sya!" Alya menyodorkan gelas yang berisi air minum itu.
Praank...
Gelas yang berisi air minum itupun terjatuh ke lantai, sebelum tangan Asyafa menyentuh seutuhnya gelas itu.
"M.. maaf Sya! Gue engga sengaja." Sesal Alya, seraya mengambil pecahan gelas keramik tersebut.
"E.. engga Al, itu tangan gue licin!" Ujar Asyafa, seraya hendak membantu namun ditepis oleh Alya.
"Jangan sentuh gelas itu Sya! Biar gue saja yang bersihin. Loe duduk saja disitu! Baju loe saja susah gitu buat gerak." Tolak Alya yang hendak di bantu Asyafa.
"Al..." Panggil Asyafa.
"Kenapa, Sya?
"Kenapa hati gue gelisah gini yah?"
"Mungkin loe masih nervouse kali, Sya!"
"E.. engga, Al! Ini beda.. ! Gue, engga nervouse tapi gue kepikiran Rayhan tiba-tiba, Al!
"Sudah Sya, jangan berpikir yang aneh-aneh. Tenangin diri loe, Sya! Istigfar."
__ADS_1
"Astagfirullohalazim.. 3x."
"Sudah Al, gue merasa lebih tenang."
"Oke.. !
Ibu Nurlaila menyembul dari pintu kamar, sudah tampil cantik ala-ala ibu keraton dengan baju kebaya dengan sanggul kondenya.
"Sayang, ayo kita bersiap-siap. Keluarga besan sudah datang!"
"Iya, Bu! Tapi aku kerepotan dengan gaun ini, sulit untuk berjalan."
Lalu Ibu membantu Asyafa untuk memakaikan sepatu heels nya, dan Alya memegangi belakang gaun pengantinnya.
Merekapun berjalan keluar kamar menuju ruang tamu, menyambut para tamu yang sudah memenuhi ruangan untuk acara Akad Nikah.
Banyak ekpresi para tamu yang antusias, dan kagum melihat calon pengantin yang sangat cantik dan elegant. Dengan gaun berwarna putih berbahan sutra berbalut renda yang menjuntai ke lantai.
Asyafa terduduk dengan anggunnya, ditemani Alya dan Ibu serta Ayah Bernad di sofa.
Keluarga besan disambut dengan bahagia dan meriah oleh Bapak RT, selaku yang bertanggung jawab sebagai wali dari Tuan Bernad Dorman. Bapak RT, memberikan sepatah dua patah kata sambutan selamat datang untuk besan yang telah hadir.
Mama Jovanka tampak gelisah, karena mobil yang dinaiki Rayhan belum juga sampai. Padahal pikirnya, Rayhan sudah melajukan mobilnya terlebih dahulu ketimbang mereka. Namun mengapa mereka yang sudah sampai lebih dulu, sedangkan Rayhan belum. Hatinya mulai cemas dan berpikir yang tidak-tidak.
"Pah, coba hubungi ponsel Rayhan! Perasaan Mama tidak enak."
"Iya, sayang! Papa sedang mencoba menghubungi Rayhan. Papah mencari tempat yang tidak begitu ramai ya mah."
"Iya, Pah!"
Tuut... tuut.... tuut... ! Papa Beni calling.
"Maaf, saya Suster Rumah Sakit Assalam Ibu dan Anak Pak."
Wajah Papa Beni mulai panik, hatinya mulai gelisah ketika mendengar suara Suster bukan suara anaknya.
"Ooh.. ! Lalu anak saya dimana Suster? Mengapa ponsel anak saya ada sama Suster?"
"Anak Bapak hanya pingsan, sekarang sudah siuman namun masih di UGD bersama Dokter Umum."
"Memangnya, apa yang terjadi dengan anak saya Sus?"
"Anak Bapak tadi mengalami kecelakaan di Jalan Dermaga, mereka menabrak pohon besar. Sepertinya mobilnya bloong, jadi mereka mencari jalan keluar untuk menabrakan diri kepohon agar tidak mencelakai kendaraan yang lain."
"Jadi seperti itu kronologinya sus?"
"Iya, Pak! Sepertinya informasi yang saya terima seperti itu."
"Iya, suster! Terima kasih atas informasinya."
"Sama-sama Pak!"
Tuuut.....! Ponsel dimatikan.
Tuan Beni meminta Asisten Martin untuk menjemput Rayhan di Rumah Sakit Assalam Ibu dan Anak, agar secepatnya bisa menghadiri Pernikahannya. Asisten Martinpun mengangguk kecil tanda dia mengerti.
Lalu Tuan Beni kembali duduk disamping istrinya dengan wajah kembali seperti biasa, agar tidak membuat istrinya panik ataupun gusar.
"Pah, Bagaiman anak kita sudah hampir jam 9 belum sampai juga?"
"Tenang Mah, Rayhan sebentar lagi sampai."
__ADS_1
"Memang ada masalah Pah? Kenapa bisa sangat terlambat!"
"Iya Mah, tapi sudah bisa diatasi."
"Masalah apa, Pah?"
"Sudahlah sayang, bukan masalah apa-apa! Sekarang kita fokus saja dengan sambutan itu dari Tuan rumah." Ujar Papa Beni, seraya menggenggam tangan istrinya erat agar lebih tenang.
Mama Jovanka mengangguk kecil, namun hatinya sedikit kecewa dengan jawaban suaminya itu yang membuatnya gusar.
Setelah Bapak RT selesai memberikan sambutan ramah tamah, kemudian dilanjutkan dengan perwakilan dari Tuan Beni selaku besan. Bapak RT dari pihak Tuan Beni memberikan sambutan atas penerimaan selaku besan oleh Tuan rumah.
*******
"Lapor Boss!" Asisten Romi berjalan tergesah-gesah dan nampak gusar.
"Ada apa Asisten Romi?" Tanya Damar yang merasa heran dengan Asistennya itu.
"Maaf Boss! Sepertinya rencana kita gagal!"
"What.. dasar engga becus kau! Tidak bisa di andalkan!" Maki Damar, seraya melempar gelas yang ada ditangannya.
Praank.... !
"Maaf Boss! Awalnya kami sudah berhasil membuat rem mobil Rayhan bloong, Namun entah bagaimana caranya dia bisa selamat dalam kecelakaan itu."
"Pergi... kau sia"an!"
"Baik Boss!"
*******
Akhirnya, Rayhan datang bersama Asisten Martin dengan menaiki mobil Papa Beni. Rayhan turun dari mobil bersama Asisten Martin, Rayhan berjalan gontai mendekati para tamu undangan yang sedang mendengarkan kata sambutan.
Seketika mereka terkejut dan riuh mendapati Rayhan yang baru saja datang dengan pelipis yang di perban. Banyak yang bertanya-tanya apa yang telah terjadi namun mereka hanya bergumam pelan.
Melihat anaknya datang, Mama Jovanka langsung menghampiri dan memeluk Rayhan. Lalu dia membrondong pertanyaan, karena mendapati anaknya yang terluka, seraya menelisik luka yang di perban.
"Son, Apa yang terjadi? Mengapa pelipismu di perban Son? Apakah ini yang menyebabkan kamu terlambat?"
"Mom, kalau bertanya itu satu-satu. He... he... !" Protes Rayhan terkekeh, seraya mengurai pelukan Mamanya.
"Son... dalam keadaan seperti ini kamu masih bisa tenang? Mama benar-benar heran!" Ujar Mama Jovanka, seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Iya, Mom! Tadi itu ada kecelakaan sedikit dijalan namun sudah diatasi, dan sekarang aku sudah berkumpul dengan Mama, bukan!" Jelas Rayhan dengan santai, seraya duduk disebelah Mama Jovanka.
"Lalu, Bapak supir bagaimana keadaanya?"
"Masih di Rumah Sakit, mungkin besok baru boleh pulang."
"Memangnya parah Son?"
"Sedikit Mom!"
"Syukurlah, kamu masih selamat Son!"
"Alhamdulillah, Mom!"
Happy Reading
--BERSAMBUNG--
__ADS_1