
"K.. kakak!" Panggil Asyafa berteriak.
"Pak Dadang tolong suamiku. Hik.. hik.. " Ucap Asyafa lirih bersimpuh di jalan aspal, seraya menangis.
"Iya, Non! Tapi mereka sudah pergi jauh, Non." Ucap Pak Dadang pasrah.
"T.. tapi, Pak Dadang! Kita bisa mengikuti mobil mereka. Hik.. hik.. " Usul Asyafa yakin, masih sesegukan.
"Iya, Nona lebih baik sekarang masuk ke dalam mobil." Pinta Pak Dadang, seraya membukakan pintu penumpang.
"Saya duduk di kursi depan saja Pak! Saya yang menyetir, supaya lebih mudah untuk mengintainya." Ucap Asyafa, seraya mencopot sepatu heels nya dan menghapus air matanya kasar.
Entah kekuatan dari mana, Asyafa tiba-tiba mempunyai keberanian untuk berbuat nekad.
"Baik, Nona!" Ucap Pak Dadang gusar.
Akhirnya mereka menaiki mobil, dan Asyafa melajukan dengan kencang untuk mengejar mobil yang sudah membawa Rayhan suaminya.
Ciiit... ngeeeng.... !
Ciiit.... ngeeeng.... !
"Hati-hati Nona! Jangan terlalu cepat." Pinta Pak Dadang yang sudah ketakutan.
"Tenang saja Pak Dadang! Kalau saya pelan, nanti tertinggal oleh mereka."
"Iya... Nona!" Ucap Pak Dadang, seraya memejamkan matanya karena takut.
"Berdoa saja Pak Dadang, supaya kita selamat dan bisa mengejar mereka."
"Iya, Nona!" Ucapnya tanpa membuka matanya.
Asyafapun masih mengejar mobil yang hampir menjauh dari jangkauannya. Namun dengan sekali tancap gas lebih cepat, akhirnya mobil itu tersusul karena Asyafa mengingat nomor Flat mobil tersebut.
"Itu Pak Dadang, kita hampir mendapatkannya." Ucap Asyafa, seraya sedikit mengurangi kecepatannya.
Drrt.. drrt... drrt... ! Tuan Bernad calling.
"Nona, Tuan Bernad menelepon?" Tanya Pak Dadang, seraya melirik ponselnya melihat siapa yang menghubunginya.
"Jawab saja Pak Dadang, pakai Loud Speaker aktipin, kalau bisa segera hubungi Polisi jika ada penculikan."
"Baik, Nona!"
Pak Dadangpun menjawab panggilan tersebut, dan mengatakan jika Rayhan di culik dan minta tolong hubungi Polisi sekarang juga. Ayah Bernad sangat panik, namun dia mulai tenang ketika anaknya berucap.
"Jangan panik Ayah."
"Iya, sayang! Kamu harus berhati-hati jangan bertindak sendiri. Ayah akan menghubungi Polisi secepatnya, kirimkan sharelock kalian nanti. Ucap Ayah Bernad, seraya berjalan menghampiri Tuan Beni untuk info perihal Rayhan.
"Baik, Ayah!"
__ADS_1
Asyafapun terus mengejar, dan membuntuti mobil yang membawa suaminya.
*******
Akhirnya, Tuan Bernad menemukan keberadaan Tuan Beni.
"Tuan Beni, saya mau bicara sebentar! Mengenai anak-anak kita." Ucap Tuan Bernad berbisik di telinganya, seraya berajak dari tempat keramaian.
Dengan sangat tergesah-gesah Tuan Bernad berjalan, lalu Tuan Beni mengekori besannya itu. Akhirnya mereka menemukan tempat yang cukup sepi untuk berbicara.
Melihat gelagat yang aneh dari suami dan sahabatnya, mengingat anak dan menantunya belum sampai dan acara sudah akan dimulai. Mama Jovanka langsung saja mengikuti dan menghampiri keduanya.
"E.. heeem... !" Mama Jovanka berdehem, lalu dia berdiri di tengah-tengah mereka.
"Mengapa, saya mencium bau-bau mencurigakan?" Tanya Mama Jovanka menyelidik.
"Uhuuk... uhuuk... ! Tuan Beni seketika terbatuk.
"Mengapa, sayang? Kamu terbatuk-batuk?"
"Tidak ada apa-apa, sayang!" Jawab suaminya menenangkan meski pikirannya sedang panik.
"Kamu yakin, sayang?" Mama Jovanka menggoda suaminya.
"Heeem... " Hanya mengulum senyum.
"Tuan Bernad, Mengapa Pengantin kita belum juga tiba? Padahal acara sudah akan di mulai."
"Uhuuk... uhuuk.... ! Tuan Bernadpun ikut terbatuk.
"P.. papa juga belum tahu permasalahannya, sayang." Jelas Tuan Beni.
"Lalu, Tuan Bernad. Ada apa sebenarnya yang terjadi?" Tanya Mama Jovanka.
"Sebenarnya, terjadi sesuatu dengan mereka sewaktu berangkat kesini. Rayhan di culik, sekarang kita harus menghubungi Polisi secepatnya." Jelas Tuan Bernad.
"What..?" Ucap Mama Jovanka dan Papa Beni terkejut mendengar berita itu. Hampir saja Mama Jovanka tergulai lemas kalau tidak di pegangi suaminya.
"S.. sayang, kamu jangan pingsan."
"Tidak, Mama hanya shok mendengar berita ini Pah."
"Papa juga sayang, sama terkejut mendengar berita ini."
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Tuan Bernad.
"Tidak apa-apa, Tuan." Jawab kedua pasangan suami istri itu.
"Syukurlah." Ucap Tuan Bernad.
"Kalau begitu kita harus bertindak cepat, jangan sampai terlambat. Papa dan Tuan Bernad akan hubungi Polisi, Mama ajak Nyonya Nurlaila berjaga disini dan menjelaskan perihal yang terjadi sebenarnya kepada para tamu undangan." Perintah Tuan Beni.
__ADS_1
"Oke, sayang!" Jawab Mama Jovanka.
Akhirnya Tuan Bernad menghubungi Polisi setempat, dan Tuan Beni menghubungi Asisten Martin untuk membantu mereka dalam misi penyelamatan Rayhan. Setelah itu mereka menyusul ke lokasi yang sudah di kirim oleh Pak Dadang.
Sedangkan Mama Jovanka mengajak Ibu Nurlaila, untuk menjelaskan kepada para tamu bahwa acara Resepsi Pernikahan hari ini dibubarkan, karena ada satu masalah yang harus di atasi. Mama Jovanka dan Ibu Nurlaila naik ke atas panggung, lalu meminjam mixrofon dari MC Pernikahan.
"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh, selamat malam semua para Tamu Undangan, para Kolega Bisnis dan para Pejabat setempat dan semua yang terlibat disini.
"Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh, selamat malam." Jawab para Tamu Undangan.
"Saya Jovanka, selaku dari istri Tuan Beni Darma dan Ibu dari Rayhan Darma, hendak menyampaikan bahwa Resepsi ini akan di batalkan dikarenakan ada suatu hal yang tidak bisa saya jelaskan disini. Jadi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk masalah ini, dan saya ucapkan banyak terima kasih atas pengertiannya.
Para tamu akhirnya mengerti dengan penjelasan dari Nyonya Jovanka. Semuanya bubar secara teratur dan terarah oleh panitia pernikahan.
*******
"Nona, kira-kira si Aden hendak di bawa kemana yah?" Tanya Pak Dadang.
"Saya juga tidak tahu, Pak. Ini seperti sebuah gudang, apa mungkin suamiku akan disekap di gudang ini?" Tanya Asyafa menerka-nerka.
"Bisa jadi, Nona."
"Pak Dadang sudah mengirim lokasi sama Ayah dan Papa?
"Sudah, Nona."
"Ya sudah, sekarang kita tunggu di sini saja."
"N.. nona, i.. itu Aden Rayhan di bawa masuk oleh mereka ke dalam gudang itu!" Ujar Pak Dadang.
"Iya, Pak! Saya sudah melihatnya. Kita tunggu Ayah dan Papa datang serta Polisi yang akan meringkus mereka.
*******
Rayhan dibawa masuk kedalam sebuah gudang kosong yang sudah tidak terpakai. Mereka mengikat tangan dan kaki Rayhan disebuah kursi, lalu mereka menutup kedua matanya menggunakan kain.
Byuur... !
Setelah disiram sebanyak satu ember, akhirnya Rayhan sadar dari pingsannya. Perlahan dia ingin membuka matanya namun terasa gelap, ketika ingin menggerakkan tangan dan kakinya terasa terikat. Lalu diapun mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
"Aku dimana? Kenapa kaki dan tanganku serta mataku terikat?" Tanya Rayhan berteriak.
"Siapa kalian? Mau apa kalian? Buka ikatan tali ini." Tanyanya lagi berteriak.
Akhirnya, salah satu anak buahnya membukakan tali penutup mata Rayhan, setelah diberi perintah oleh Boss nya itu.
Rayhan membuka matanya perlahan. dia melihat beberapa orang berdiri di depannya dan satu orang Pria duduk di kursi membelakangi dirinya.
"Siapa sebenarnya kalian? Mengapa kalian melakukan ini kepadaku?" Apa salahku hah... ?" Tanya Rayhan, memandang benci terhadap mereka.
"Diam!" Ucap Boss itu berteriak.
__ADS_1
Happy Reading
--BERSAMBUNG--