TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Hukuman


__ADS_3

"Loe tau dari mana Al, kalau Dosen Rayhan menjadi Dosen Pembimbing gue?" Tanya Asyafa penasaran, seraya mengguncang tubuh Alya agar membuka matanya.


"Aaiish.. loe yah, ganggu orang tidur saja." Ucap Alya sambil mengucek matanya agar melek.


"Yah nebak saja, secara loe 'kan mau nikah sama Pak Dosen, biar cepat kelar pastinya dia berusaha dong." Ucap Alya yakin.


"Kalau Dosen pembimbing yang lain, nanti bisa-bisa lama engga kelar-kelar, belum lagi repisi judul materi skripsi dan bla.. bla.. bla, masih banyak yang lainnya." Jelas Alya panjang lebar pendapatnya.


"Sok tahu loe Al, gue saja engga kepikiran kalau dia nanti jadi Dosen Pembimbing gue." Ucap Asyafa yang sedikit ragu.


"Emang sih gue minta cariin ma dia Al, tapi bukan 'kah dia masih sakit, pasti sekarang dia engga datang ke kampus." Ucapnya yakin.


"Loe yakin, dia engga datang hari ini?" Tanya Alya tersenyum meledek, seraya mengedip-ngedipkan matanya.


"Yakin dong... ! Secara kemarin Bapak Dosen habis berkelahi, pasti badannya masih pada sakit dong." Ucap Asyafa yakin.


"Ituuu... siapa di depan pintu, Sya? " Tanya Alya, seraya jari telunjuknya ke arah pintu masuk.


"Bapak Dosen Rayhan Al... loe benar, dia masuk pakai masker gitu." Ucap Asyafa yang shok melihat Dosen Rayhan ada di hadapannya, sedang berbicara dengan Keysa teman sekelasnya.


"Asyafa... loe di cariin Pak Dosen Rayhan, katanya di suruh keruangannya nanti jam istirahat." Ucap teman sekelasnya Keysa yang merasa tidak suka, kalau Asyafa bisa dekat dengan Dosen tampan itu.


"Loe kenapa bisa dekat dengan Dosen tampan itu, Sya? Emang loe ada hubungan apa sama Pak Dosen tampan itu? Secara ingin ketemu loe, di luar jam pelajaran." Tanya Keysa, kepo tingkat dewa dengan wajah masam.


"Okay... makasih yah Keysa, infonya. Gue sama Pak Dosen engga ada hubungan, cuma sebatas Dosen dengan Mahasiswa." Dustanya Asyafa seraya tersenyum iblis.


Mendengar jawaban seperti itu, Keysa pun langsung pergi. Sebenarnya keysa sedikit tidak puas dengan jawaban Asyafa.


"Aiish.. pinter banget loe Sya... bohongnya." Ucap Alya berbisik ditelinga Asyafa.


"Ha.. ha.. ha.. " Asyafa 'pun tergelak.


"Kalau gue jujur, bisa-bisa gue di keroyok anak cewek satu kelas, bahkan bisa jadi seantero kampus ini. Gue pasti di buli habis-habisan, engga kebayang 'kan loe." Curhatnya dengan pikiran Asyafa yang sudah bertraveling.


"Iya.. deh, yang calon istrinya Dosen ganteng, emang susah hidup loe." Ledek Alya terkekeh.


"Kalau orang lain pasti bangga, punya calon suami kayak Dosen Rayhan. Tapi loe? Eeem.." Ucapan Alya terhenti, ketika mulutnya di sumpel tangan Asyafa.


"Huuus... berisik.. ! Loe mau semua tahu Al, hubungan gue sama dia? Sudah, jangan ngomongin Pak Dosen lagi." Ancam Asyafa yang sedikit terusik oleh sahabatnya itu, seraya menurunkan jari tangannya dari mulut Alya.

__ADS_1


"Ups.. keceplosan, Sya. Sorry yah, peace." Ucap Alya menyesal, seraya mengacungkan jarinya membentuk huruf V lalu tersenyum lebar...


Driiing... driiing... driiing... !


Pekikan bell sudah berbunyi, tanda siswa-siswi sudah berada di dalam kelas. Semua Guru dan Mahasiswa memulai aktifitas belajar mengajar. Sama halnya dengan Dosen Rayhan, hari ini dia tidak ada jadwal mengajar sebagai Dosen Pengganti, tetapi dia ada jadwal masuk kelas untuk mata pelajaran S2 nya.


90 menit sudah, Asyafa mengikuti aktifitas kelasnya, perutnya berbunyi nyaring tanda ingin segera di isi. Dia menarik Alya sahabatnya tanpa ba-bi-bu, langsung saja kekantin, keduanya memesan bakso dan langsung tandas tak bersisa.


"Alhamdullilah, akhirnya perut aku kenyang juga." Ucap Asyafa, seraya mengelus perutnya yang ramping.


"Gue juga kenyang banget, Sya." Ucap Alya, yang juga merasa kenyang, lalu teringat sesuatu.


"Sya, bukannya loe disuruh nemuin Dosen Rayhan jam istirahat?" Tanya Alya yakin.


"Whaat.. mampus gue, kenapa loe engga ingetin gue, Al? Mana sekarang sudah mau masuk lagi, makul Pak Aris engga bisa ditinggal lagi." Gumamnya seraya merutuki dirinya sendiri.


"Lagian, loe sih tadi langsung narik gue ke kantin, he... he.." Ucap Alya terkekeh.


"Panggilan alam Al, he... he..." Ucap Asyafa terkekeh.


"Ayo kita cus masuk kelas, gue engga mau telat, nanti kena omel Dosen Aris." Ucap Asyafa, seraya berjalan ke ruang kelas.


Asyafa mulai membuka ponselnya, ternyata banyak misscall dan masage dari Rayhan. Sedari tadi ponselnya di simpan di dalam tas dengan mode silent, sampai dia lupa chek ponselnya. Lalu dia mulai membalas masage Rayhan, tapi hanya dibaca dan tidak di balas. Akhirnya, dia meneleponnya dan ternyata tidak diangkat juga.


"Kenapa, Sya? Loe ngomel-ngomel sendiri? " Tanya Alya yang heran liat sahabatnya kesal sedari tadi.


"Masage dan telpon gue engga ada respont, alias di cuekin." Jelas Asyafa, seraya menunjukan ponselnya.


"Ha.. ha.. ha.. ! Emang enak di cuekin!" Seru Alya tertawa puas.


"Aiish.. rese banget loe Al, bukannya bantuin gue cari solusi, malah ngeledekin doang bisanya. Huuh... sebal." Omel Asyafa, seraya menarik hidung Alya gemas.


"Sakit tahu, hidung gue." Ucap Alya meringis. seraya memegangi hidungnya yang merah ulah Asyafa.


"Rasain... he.. he.." Ledek Asyafa puas.


Mata pelajaran Dosen Aris sudah di mulai, siswa-siswi sudah mulai mengikuti materi pelajaran yang berjalan. Semua pembahasan di selesaikan dengan baik, soal quis yang diberikan tidak terlalu sulit. Asyafa sudah paham tentang skripsi yang harus segera dibuat dan di selesaikan, karena Dosen Aris yang bertanggung jawab menjadi Dosen Penguji ketika nanti sidang skripsi di mulai. Dosen Aris menjadwalkan kelompok Dosen Pembimbing bagi siswa-siswinya yang ingin lulus tahun ini. Semuanya boleh bebas, mencari Dosen Pembimbing yang di inginkan.


"Al, gimana ini? Gue engga bawa bahan materi skripsi, dan gue juga belum buat judulnya." Tanya Asyafa bingung seraya memijat keningnya sendiri.

__ADS_1


"Ya... loe jujur saja, kalau Pak Aris tanya, bilang saja sudah ada judul dan bahan materinya, tapi tertinggal dirumah gitu." Usul Alya.


"Tapi yakin, Dosen Aris engga marah, Al?" Tanya Asyafa ragu.


"Engga yakin sih, tapi coba dulu, bismillah." Ucap Alya menenangkan.


"Okay, bismillah." Ucap Asyafa tersenyum ragu.


Pak Dosen Aris mulai memanggil siswa-siswinya satu-satu untuk menghadapnya, dan membawa bahan materi skripsinya. Termasuk Asyafa juga menghadap Dosen Aris, dia berkata jujur apa adanya. Dosen Arispun tidak marah kepadanya, dan memakluminya dengan catatan harus bisa selesai secepatnya.


"Terima kasih Pak Dosen, kedepannya saya tidak akan mengulanginya lagi, berusaha yang terbaik." Janji Asyafa menyesali kelalaiannya, seraya diangguki oleh Dosen Aris.


120 menit sudah, mata pelajaran Dosen Aris berakhir. Semua siswa-siswi bersiap-siap untuk pulang. Lain hal dengan Asyafa, masih betah di kelas menatapi layar ponselnya.


"Sya, gue mau cabut sama anak-anak genk ke bescame, loe mau ikut engga?" Ajak Alya, seraya berdiri dari tempat duduknya.


"Engga Al, gue mau ketemu Dosen Rayhan dulu. Salam saja gue sama anak-anak yah. Lain kali gue ikut ngumpul." Ucap Asyafa.


*Emang engga nemuin Dosen Pembimbing loe, Al?" Tanya Asyafa.


"Nanti saja Sya, habis ngumpul sama anak - anak genk, baru gue ketemu Dosen Pembimbing gue." Jelas Alya.


"Lagian Dosen Pembimbing gue, Ibu Dosen Maya. Dia, siang ini kayaknya ada jadwal mengajar, jadi nanti gue menemui Dosen Maya setelah jam mengajarnya selesai." Ucap Alya panjang lebar, seraya meninggalkan Asyafa sendirian.


"Okay lah kalau begitu!" Seru Asyafa cepat.


Asyafa memutuskan untuk mendatangi ruangan pribadi Dosen Rayhan, meski dia sedikit gugup, tapi dia mencoba berpura-pura tegar.


Tok.. tok... tok.."


"Assalamu'alaikum, Pak!" Ucap Asyafa memberi salam.


"Wa'alaikumsalam, masuklah." Jawab Rayhan, seraya meminta tolong menutup pintu kembali, kemudian diangguki Ayafa.


"Hallo..Kak.. ! M.. maaf, tadi aku lupa jam istirahat menemui Kakak." Ucapnya gugup, seraya tersenyum lebar menunjukan gigi putihnya yang rata.


"Kalau begitu, hukuman apa yang harus kakak berikan?" Tanya Rayhan, seraya berjalan mendekatinya, dengan muka dinginnya.


"M.. maksud Kakak apa? Hukuman apa? Aku salah apa?" Tanya Asyafa engga mengerti, seraya mengerutkan dahinya, mendapati calon suaminya itu semakin menghimpitnya ke dinding.

__ADS_1


Happy reading


---BERSAMBUNG--


__ADS_2