TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Curhatan Alya


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Asyafa memeluk erat sahabat terbaiknya itu dengan penuh kerinduan, hampir tiga minggu mereka tidak berjumpa, sampai banyak sekali cerita yang akan dibahas oleh kedua wanita ini.


"Ya sudah kalian kangen-kangenan dulu, Kakak mau ke ruang Dosen yah, cinta. Sampai jumpa Alya." Pamitnya Rayhan pada istri dan sahabatnya.


"Okey sayang, nanti kabari kalau sudah selesai urusannya." Sahut Asyafa, sedang Alya hanya mengangguk kecil.


"Siap My wife."


Alya terkagum melihat pasangan ini yang semakin bucin tingkat tinggi. Hingga diapun ikut merasakan kebahagiaan sahabatnya itu.


Alya tersenyum menatap Asyafa, seakan gatal ingin mengulik cerita sahabatnya ini.


"Bagaimana acara honeymoon kamu dengan Pak Dosen, Sya? Lancar jaya sepertinya! Kalau begini bisa cepat datang Rayhan junior, atau Asyafa junior nih, he.. he.. he.." Tanya Alya seraya meledeknya lalu terkekeh.


"Ha.. ha.. ha.. bisa saja loe Al, lancar lah, gue 'kan sekarang sudah bisa nerima Kak Rayhan untuk jadi suami gue. Kak Rayhan juga engga ngelarang buat ngejar S2 gue, dia benar-benar suami yang baik, Al." Ujarnya.


"Beruntungnya jadi loe, Sya. Kalau gue sedang galau, Sya."


"Alhamdullilah.. " Ucapnya.


"Loe galau kenapa, Al?" Tanya Asyafa, menatap sekilas wajah Alya yang tampak murung.


"Gue di jodohin, sama anak teman Bokap gue." Sahutnya.


"Sejak kapan, Al?" Tanya Asyafa penasaran.


"Baru satu minggu yang lalu." Sahutnya.


"Loe sudah ketemu sama orangnya, Al?" Tanyanya lagi.


"Belum, baru sabtu ini mereka akan datang kerumah gue." Sahutnya seraya menggelengkan kepalanya pelan.


"Loe tahu engga siapa namanya, dan orang tuanya?" Tanya Asyafa semakin jauh.

__ADS_1


"Bokap gue belum kasih tahu nama temannya itu, katanya suprise buat gue." Sahutnya lalu menghebuskan napasnya kasar. "Uuhhh."


"Kenapa bisa begitu, Al?" Tanyanya heran.


"Katanya gue sudah kenal sama mereka, sedang gue emang banyak tahu sih tentang kolega bisnis bokap gue. Wajar dong gue 'kan anak mereka satu-satunya, jadi gue kadang suka belajar dikit-dikit soal bisnis bokap gue." Jelas Alya memberikan alasannya.


"Loe tanya dong sama nyokap loe, siapa tahu saja nyokap loe buka suara." Saran Asyafa mencoba cari tahu.


"Sudah Sya, nyokap gue sudah kompak sama bokap gue." Sahut Alya pasrah.


"Tapi menurut gue, engga ada salahnya sih di coba. Buktinya gue, awalnya nolak, dan engga mau menikah, tapi sekarang loe lihat sendiri, gue sudah jadi istrinya Dosen Rayhan Darma." Ujarnya bijak.


"Yah gue sih mau nyoba kenal dekat dulu, lagian mereka baru mau menjodohkan, tapi mereka berharap perjodohan kami itu akan berakhir di pelaminan, Sya." Ungkap Alya yang sebenarnya.


"Ya bagus dong kalau begitu, jadi ada waktu perkenalan dulu, sebelum kalian menjalin kehuhungan yang lebih serius, yaitu pernikahan." Ucapnya serius.


"Insya Allah, Sya. Tapi gue sudah suka sama seseorang." Ungkap Alya jujur.


Asyafa bergeming menatap Alya sahabatnya, temannya benar-benar dalam masalah besar.


"What? Loe sudah suka sama seseorang? Tapi loe mau di jodohin pula. Terus hati loe bagaimana, Al?" Tanya Asyafa sekarang yang jadi bingung.


"Kalau boleh gue tahu, siapa orangnya, Al? Gue kenal engga sama dia?" Tanya Asyafa jadi bertambah penasaran.


"Loe kenal banget Sya, dia sahabat satu geng kita." Sahutnya jujur.


"Satu geng? Tio, Andi, Fazri, sandi atau Fazar?" Tanyanya bingung, masalahnya ada lima laki-laki di dalam geng mereka.


"Tebak dong, menurut loe gue suka sama siapa?" Tanya Alya membuat Asyafa geram.


"Aiiish.. loe Al, bisa banget bikin orang penasaran, masa harus tebak-tebakan kayak gitu sih." Omel Asyafa kesal, sama sahabatnya yang satu ini.


"Ha.. ha.. ha.. biarin saja, loe pasti kepo 'kan?" Alya tertawa puas, lalu meledek sahabatnya.


"Heeem.." Asyafa bergumam lalu merajuk melipat kedua tangan di dadanya.

__ADS_1


"Yah dia ngambek, iya.. iya.. deh, aku kasih tahu namanya. Jangan ngambek lagi.. !" Ucap Alya merayu. Seketika saja, wajah Asyafa langsung riang.


"Siapa namanya?" Tanya Asyafa kembali dengan mode riangnya.


"A.. andi." Sahutnya gugup.


"A.. apa? A.. andi? Loe suka sama Andi? Sejak kapan?" Tanyanya terkejut saat nama Andi yang di sebut.


"i.. tu saat pertama gue gabung dengan anak-anak PALAGRI." Sahutnya gugup dan malu.


"Masya Allah, itu sih sudah lama banget Al, berarti dari semester satu dong? Kenapa loe engga bilang sama gue Al, kalau gitu 'kan bisa gue comblangin." Slorohnya tanpa perasaan.


"Loe pikir gampang, Sya. Andi sukanya sama loe dari awal, dia sering banget nembak loe 'kan? Tapi loe tolak terus, alasannya engga mau pacaran dulu, mau fokus kuliah ngejar S2 loe." Ujar Alya jujur.


"Iya sih, gue sering curhat sama loe, padahal loe suka sama dia. Maafin gue ya Al, gue engga peka banget sama perasaan sahabat gue sendiri." Ucapnya menyesal lalu berhambur memeluk Alya yang langsung menangis, karena sudah menahan tangis sedari tadi.


"Iya engga apa-apa, Sya. Sekarang gue pasrah dengan jalan di jodohkan saja." Ucapnya menyerah.


Asyafa mengurai pelukkan sahabatnya itu, lalu menatapnya intens, dengan memegang kedua bahu Alya. "Jangan menyerah begitu saja, loe belum pernah mencoba mengungkapkan perasaan loe kepada Andi, bukan? Kalau mau, nanti gue bantu." Saran Asyafa serius.


"E.. engga Sya, Andi sudah punya pacar, semenjak dia tahu loe mau nikah sama Pak Dosen Rayhan." Tolak Alya gugup dengan saran Asyafa.


"Loe serius Al, engga mau coba ngomong sama Andi tentang perasaan loe selama ini. Loe engga mau tahu reaksi dia apa, saat dia tahu loe suka sama dia selama 4 tahun ini. Loe jangan sampai menyesal Al, di kemudian hari. Gue tahu Andi nungguin gue, cinta gue, tapi gue sama dia bukan jodoh Al. Memang gue akui pesona Andi selama ini berkesan di mata gue, tapi gue hanya anggap dia sahabat engga lebih. Loe tahu bukan setiap curhatan gue, dengan dia selama ini." Jelas Asyafa panjang lebar.


"Hikk.. hikkk.. hikkk." Tangis Alya semakin menjadi.


"Sudah.. sudah.. Al, malu iich dilihati orang banyak, nanti di kirain gue yang bikin loe nangis gini." Ucap Asyafa menenangkan Alya agar berhenti menangis, seraya mengusap punggungnya lembut.


"Eemmm.. gue mau coba ngomong sama dia sebelum perjodohan gue besok sabtu, Sya." Ucap Alya seraya menghapus air matanya pelan, lalu Asyafapun ikut mengusap air mata Alya yang menetes di pipinya.


"Nah begitu dong, jika sudah jujur sama Andi, selanjutnya loe bisa nentuin deh mau kemana arahnya. Sebagai sahabat loe, gue selalu dukung keputusan loe. Jangan galau lagi yah." Ujarnya bahagia.


"Iya... Sya, terima kasih yah. Berkat loe gue engga galau lagi." Ucapnya tulus.


"Sama-sama Alya."

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


...Kasih Like, favorite, Vote juga Komentarnya yah! Terima Kasih........


__ADS_2