TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Jatuh Cinta


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Andi dan Alyapun akhirnya datang beiringan, namun mereka menjaga jarak agar tidak menaruh cemburu kepada pasangannya masing-masing.


Entah mengapa semenjak Andi curhat masalah hubungannya dengan Naura, hati Andi mendadang bimbang. Pasalnya dia merasa lebih nyaman bersama sahabatnya sendiri, ketimbang pacarnya.


Damar yang melihat Andi dan Alya datang mendekat, Damar langsung saja menarik Alya kesampingnya. Sedangkan Andi mendekati Naura kekasihnya, dan langsung mengajaknya kedalam bioskop.


Sayang mylove kesini, kamu kenapa engga bilang tadi kalau mau ke toilet?" Tanya Damar sedikit gusar, pasalnya dia cemburu jika melihat Alya bersama Andi berdekatan.


"Alya, Damar, kita masuk duluan yah." Pamit Andi ramah, dan Naura yang hanya tersenyum canggung, seraya meninggalkan mereka berdua.


"Iya." Sahut Alya cepat, sedangkan Damar hanya terfokus dengan wajah Alya terus.


Alya mengambil napas perlahan, lalu menghembuskannya dengan kasar. "Haah."


Damar yang melihat Alya membuang napas kasar, nampak raut wajah Alya yang berbeda. Airmuka Alya terlihat sedikit jutek dan dingin, tidak ada senyum yang nampak dari wajahnya. Bibir Alya sedikit pucat, dan mata Alya sedikit bengkak, seperti habis menangis.


"S.. sayang, apakah kamu habis menangis?" Tanya Damar dengan hati-hati.


"Menurut kamu?" Alya balik bertanya.


"Bukan itu jawaban yang ingin saya dengar, sayang. Kamu kenapa mendadak berubah dingin dan jutek, sayang?" Damar kembali bertanya dengan lebih hati-hati, tapi dengan pertanyaan tentang sikap Alya yang berbeda kepadanya.


"Kalau aku menangis, terus aku dingin dan jutek sama kamu, harusnya kamu menyadari kesalahan apa yang sudah kamu perbuat?" Ucap Alya, yang langsung menusuk hati Damar, pelan namun terasa nyelekit.


Damar seketika bergeming, mendengar ucapan Alya yang langsung membuatnya merasa bersalah, saat tadi Alya pergi meninggalkannya.


"Sebaiknya aku tidak jadi menonton filmnya, aku mau pulang saja." Kata Alya, yang langsung mengambil tasnya dari kursi tempatnya dia duduk tadi.

__ADS_1


Damar langsung tersadar dari lamunanya, saat Alya akan beranjak pergi.


"Kamu mau kemana, sayang?" Tanya Damar, seraya menarik lengan Alya cepat.


"Pulanglah." Sahut Alya ketus.


"Kenapa? Memangnya kamu engga jadi nonton, sayang?" Tanya Damar lembut.


"Iiishhh... tadi 'kan aku sudah bilang, aku engga jadi nonton film, aku mau pulang saja. Kamu malah nanya lagi, apa kamu sudah tuli tidak mendengar ucapanku hah..? Alya berkata ketus, dan jutek serta berdecak kesal.


"Sayang, aku minta maaf jika aku salah sama kamu tadi, aku menyadari kesalahanku." Ucap Damar tulus meminta maaf, namun Alya masih jutek.


"Heemm.." Hanya gumaman Alya yang terdengar.


"Sayang, kalau kita pulang sekarang, Mama dan Papa pasti merasa aneh, kenapa secepat ini kita pulang? Nanti pasti pikiran mereka macam-macam, aku tidak mau hal itu terjadi, dan aku tidak mau mengecewakan mereka yang sudah mendekatkan kita. Aku akui sayang, aku masih belum ada rasa cinta untuk kamu, tapi beri waktu agar kita bisa saling mencintai sama-sama. Jujur aku cemburu sayang, saat kamu berdekatan dengan Andi." Ujar Damar panjang lebar.


"Apa? Apa kamu bilang? Kamu juga cemburu? Kamu cemburu sama Naura, sayang?" Tanya Damar dengan tersenyum merekah, dipandangnya wanitanya itu dengan intens, hanya beberapa centi saja jarak wajah Damar dan Alya.


Sontak saja, bibir Alya terasa berat untuk menjawab pertanyaan Damar, Seketika suasana panas menyeruak disekujur tubuh Alya dan Damar, keduanya saling memandang intens, seakan waktu berhenti berputar saat Damar mencium bibir Alya, namun tidak ada balasan dari Alya. Damar langsung melepaskan pangutannya, dengan lembut.


"Maaf.. sayang, aku tidak bermaksud untuk melakukan hal tadi." Kata Damar menyesal dengan perbuatannya.


Alya masih shock, dengan apa yang barusan dia terima. Ini adalah ciuman pertamanya dari seorang pria, bahkan dia sedang merasa marah dan cemburu kepada Damar, namun dengan seenaknya Damar sudah mencuri ciuman itu darinya.


Melihat Alya yang sepertinya masih shock dengan perbuatannya, seketika dia langsung menarik Alya masuk kedalam pelukkannya. Damar semakin erat memeluk Alya, hingga akhirnya Alya terasa sesak dadanya, karena tubuh kecilnya yang dikungkung oleh tubuh Damar yang tinggi.


"Lepasin iich.. aku sesak ini, badan kamu 'kan tinggi, aku seperti kurcaci yang sedang dipeluk raksasa, he.. he... he..he.." Kata Alya terkekeh.


"Aiish... sayangku, sudah bisa tertawa lagi, bahagianya aku. Ha.. ha.. ha.." Kata Damar tertawa bahagia, lalu Damarpun mengurai pelukkannya dari tubuh Alya, meski dia masih ingin berlama-lama dalam pelukkannya. Entah mengapa pelukkan Alya terasa hangat, dan jantungnya berdebar-debar, saat ini yang sedang dia rasakan.

__ADS_1


"Apa aku sudah jatuh cinta sekarang? Mengapa hatiku terasa berdebar? Pelukkannya begitu hangat, dan bibir milik Alya begitu manis. Tapi Alya tidak membalas ciumanku, apa karena dia belum pernah berpacaran? Dia pernah mengatakannya tadi siang, jika dia belum pernah berpacaran. Berarti itu ciuman pertamanya? Beruntung sekali aku mendapatkan ciuman pertamanya." Bathin Damar bermonolog.


Alya sudah terbebas dari rasa sesak didadanya, dalam ungkapan bukan sesungguhnya, nanun sesak dalam tanda kutip yaitu, debaran jantungnya yang begitu kencang hingga dirinya merasa sesak.


"Eeeheem." Deheman Alya, mengejutkan Damar yang sedang melamun.


"Kenapa, sayang? Kamu sudah memaafkan aku sekarang?" Tanya Damar dengan senyuman manis terukir di bibirnya.


"Belumlah... !" Kata Alya ketus.


"Eeehh.. kirain sudah maafin, sayang!" Kata Damar dengan percaya diri.


"Kamu itu tadi melamun, makanya aku dehemin biar engga melamun terus. Nanti kayak ayam tetangga, kebanyakan melamun besoknya mati, he.. he.. he.. di potong sama yang punya." Selorohnya Alya terkekeh geli, melihat ekspresi wajah Damar yang nampak serius menanggapinya.


"Aiish.. kirain kamu serius sayang, ternyata hanya gurauan. Sepertinya, kamu harus aku cium lagi biar diam kayak tadi. He.. he.. he.." Decak Damar kesal dibohongi wanitanya. Namun dia senang Alya tidak jutek dan ketus lagi kepadanya. Damarpun ikut terkekeh bersama wanitanya itu.


"Kamu melamuni apa tadi? Jangan bilang, kamu melamuni hal-hal yang tidak-tidak!" Kata Alya dengan menghardik pikiran Damar.


"Iissh.. enggalah, sepertinya kamu yang sudah berpikiran yang tidak-tidak tentang aku. Buktinya kamu menanyakan aku melamuni apa?" Ledek Damar memutarbalikkan kata.


"Aiish.. kamu kenapa nyebelin banget sih? Sudah Ach.. sekarang aku mau pulang saja." Alya merajuk lagi mendengar ledekan Damar, lalu mengerucutkan bibirnya sebal.


"Ha.. ha.. ha... iya sayangku, maafin aku, tadi aku melamuni kamu. Sepertinya aku sudah jatuh cinta sungguhan padamu, buktinya aku ingin sekali mencium bibirmu tadi. Sekarang jangan ngambek lagi dong, nanti aku bungkam lagi bibirnya, biar engga manyun gitu." Tawa Damar pecah, hingga dia berkata jujur tentang isi hatinya.


"Haaah..? Secepat itu?"


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2