TEMAN ATAU SUAMI

TEMAN ATAU SUAMI
Menjenguk Damar


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Dua hari kemudian, setelah Dokter memeriksa keadaan Damar yang mengalami perkembangan yang semakin meningkat. Dokter sudah melepas alat-alat medis yang menopang hidup Damar selama ini. Damarpun sudah dipindahkan keruang rawat Pasien biasa, tidak di ICU lagi.


Damar sudah bisa membuka matanya dengan perlahan, dan menggerakkan jari-jemarinya lebih banyak. Namun Damar belum bisa berbicara, dan menggerakkan seluruh tubuhnya. Damarpun hanya merespon dengan mengedipkan matanya dan tersenyum saja.


Tubuh Damar seperti kaku semuanya, karena efek dari koma yang cukup mamakan waktu lama yaitu tiga bulan lamanya. Jadi Damar butuh belajar menggerakkan tubuhnya secara perlahan.


Papa Ardi mendatangkan Dokter Fisiotherapi, untuk pemulihan Damar setelah bangun dari komanya. Perlahan tapi pasti setelah satu minggu, Damarpun bisa mulai bergerak hampir seperti orang normal, dan berbicara sudah lebih banyak. Namun dia belum bisa pulang kerumah, karena masih dalam tahap pemulihan.


Mama Ningsih dan Kak Siska menemani Damar saat ini, mereka dengan sigap membantu Damar agar cepat pulih. Mama Ningsih selalu mengingatkan Damar, untuk makan dan minum obat tepat waktu. Namun Mama Ningsih seperti melihat Damar, yang seperti dulu dengan sikap arogantnya.


Hari ini Alya baru saja kembali ke kota Depok, kota kelahirannya. Dia baru saja pulang dari luar kota, bersama sahabatnya Alya dan Andi. Mereka baru selesai melakukan kegiatan praktek Akademisnya, bersama Mahasiswa lainnya yang satu jurusan dengan dirinya.


Berhubung Alya, Asyafa dan Andi melewati Rumah Sakit tempat Damar dirawat, merekapun akhirnya mampir untuk menjenguk Damar sebentar. Terlebih lagi Alya, sudah sangat merindukan calon suaminya itu.


Alya, Asyafa dan Andi langsung masuk ke dalam Rumah Sakit untuk menjenguk keadaan Damar saat ini. Saking rindunya Alya kepada Damar, dia sangat bersemangat hingga kedua temannyapun harus berjalan cepat, mengikuti langkahnya.


"Al.. loe bisa pelan-pelan engga sih jalannya?Haaaaaahh.... sumpah gue cape banget, Al." Omel Asyafa sebal, seraya mengambil napas dalam dan menghembuskannya. Sedang Andipun hanya terkekeh melihat Asyafa yang kecapean.


"Kalau Rayhan ngijinin gue gendong loe, pasti loe sudah gue gendong, Sya. He.. he.. he.." Ledek Andi menggoda Asyafa sahabatnya.


"He.. he.. he.. apa loe bilang, Ndi? Loe mau pulang tinggal nama hah..?" Gurau Asyafa terkekeh.


Sontak saja Alya dan Andi ikut terkekeh, dengan candaan Asyafa. "He.. he.. he.."


"Loe lagi Al, engga tahu apa ini lorong Rumah Sakit panjang banget, baru saja sampai sini, sudah diajak olah raga saja sama loe." Omel Asyafa seraya merengut sebal.


"Iya.. iya.. sorry besty, gue terlalu bersemangat, sampai lupa kalau loe lagi hamil muda." Sesal Alya atas dirinya yang lupa, padahal dia sudah tahu Asyafa sedang hamil dua bulan saat ini.


"Apa? Loe beneran lagi hamil, Sya?" Tanya Andi penasaran.

__ADS_1


"Iya Ndi, itu juga baru tahu pas dua hari kemarin di Bandung." Sahut Asyafa.


"Kenapa bisa, loe tahu hamil padahal kita lagi disana?" Tanya Andi merasa heran.


"Bisa dong, pikir gue sakit usus buntunya kambuh lagi, pas gue mual-mual terus dan kadang sering muntah. Tapi anehnya gue engga suka pakai minyak wangi yang biasa gue pakai, jadi gue mual kalau nyium bau minyak wangi gue sendiri. Terus Alya nganter gue ke Rumah Sakit, dan ternyata gue hamil." Ujar Asyafa panjang lebar.


"Woow banget dong loe, Sya. Untung saja prakteknya sudah selesai yah, Sya." Kata Andi kagum.


"Alhamdulillah, Ndi. Bayi dalam kandungan gue kuat banget." Ucap Syukur Asyafa.


"Sekarang kita jalan pelan saja, okay!" Seru Alya seraya menggandeng Asyafa pelan.


"Loe Al, jangan lebay deh. Emang gue lagi sakit sampai di pegangin kayak gini? He.. he.. he.." Protes Asyafa terkekeh.


"Aduh.. temen gue yang satu ini, serba salah yah? Jalan cepat katanya cape, jalan pelan gue pegangin katanya emang gue sakit? Perasaan salah melulu, Ibu hamil satu ini. He.. he.. he.." Ujar Alya heran Seraya terkekeh.


Andi yang melihat kedua sahabatnya itu sedang berselisih paham, langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu diapun ikut mengomentari kedua sahabatnya itu. "Namanya juga Ibu hamil, Al. Biasanya sih yang gue pernah dengar, emang kayak gitu rata-rata Ibu hamil mah. He.. he.. he.."


Alya langsung mengetuk pintu, yang memang agak terbuka sedikit.


"Assalamu'alaikum.. " Salam Alya yang diikuti oleh kedua sahabatnya, seraya mencium punggung tangan Mama Ningsih Takzim. lalu bersalaman dengan Siska.


"Wa'alikumsalam.. " Jawab salam Mama Ningsih, dan Siskapun mengikuti, seraya menerima uluran tangan mereka.


"Sayang, calon mantu Mama, peluk sini Mama rindu." Ucap Mama Ningsih tulus, seraya memeluk Alya erat.


"Iya Mama, Alya juga rindu sama Mama." Ucap Alya jujur, seraya menyambut pelukkan calon mertuanya.


"Ini Nak Asyafa apa kabar? Dan ini siapa namanya?" Tanya Mama Ningsih ramah.


"Alhamdullilah kabar Asyafa baik, dan sehat Tante." Sahut Asyafa ramah.

__ADS_1


"Nama saya Andi Tante, teman kuliah Asyafa dan Alya." Ucap Andi jujur.


"Terima kasih yah, kalian sudah jenguk anak Tante." Ucap Mama Ningsih tulus.


"Sama-sama Tante," Sahut Asyafa dan Andi bersamaan.


Alya berjalan mendekati Damar, lalu dia duduk dikursi yang ada disamping Damar. Setelah itu Alya menatap Damar dengan wajah bahagia, kemudian dia menyentuh tangan Damar dengan penuh kelembutan.


"H.. hubby.. maaf, aku baru bisa datang kesini lagi. Kemarin selama 6 hari, aku tidak bisa datang menjenguk. Dikampus ada kegiatan Praktek Akademis dikota Bandung." Jelas Alya dengan rasa sesal.


"Loe siapa? Loe kenal sama gue?" Tanya Damar dengan raut wajah bingung, seraya mengerutkan dahinya heran dan melepaskan pegangan tangan Alya.


Sontak saja semua orang diruangan itu, menoleh kearah Damar dan Alya berada.


"Apa? Kamu tidak mengenalku, Bie?" Tanya Alya shock, dengan pertanyaan Damar yang seakan tidak pernah mengenalnya.


"Tidak! Memangnya loe siapa? Kenapa loe panggil gue dengan sebutan hubby? Naura bisa marah, kalau loe panggil nama gue seperti itu." Tanya Damar tidak bersahabat sama sekalih.


Mama Ningsih shock, dengan sikap Damar yang tidak biasa, dan sangat dingin terhadap Alya. "Sayang, ini Alya calon istri kamu. Kenapa kamu bilang tidak mengenalnya?" Ujar Mama Ningsih heran dengan sikap Damar.


Damar menggelengkan kepalanya pelan, lalu berkata. "Aku memang tidak mengenalnya, Mam."


"T.. tapi, kamu itu calon suaminya." Kata Mama Ningsih memberikan penjelasan.


"Aku tid.. aaawwwhhh... sakit..." Ucap Damar terhenti saat dia berteriak sakit, seraya memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


Seketika mereka langsung terkejut, melihat keadaan Damar yang sepertinya sedang menahan sakit yang teramat sangat. Alyapun mencoba menyentuh Damar, namun Damar menghindarinya.


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2