
Maisya duduk di kursi yang ada balkon sambil menatap langit kelam tanpa ada bulan dan bintang yang menghiasi seperti hari-hari sebelumnya, sama seperti dirinya saat ini. Duduk hanya bertemakan angin yang berhembus, menerbangkan setiap helai rambut panjangnya yang tergerai bebas.
Dalam lamunannya, masih teringat jelas tentang peristiwa tadi. Di mana dirinya harus menerima kenyataan pahit bahwa orang yang paling ia cintai justru membuat luka di hatinya. Meratapi kembali kisah percintaannya dengan Zifran yang hampir setahun lamanya. Semua seakan menguap begitu saja setelah semua yang ia lakukan untuk Zifran harus terbalas dengan pengkhianatan kembali.
Rasa penyesalan datang menghampiri Maisy saat mengingat di mana dengan mudahnya ia menyerahkan kehidupannya untuk seseorang yang begitu breng*sek di mata dunia. Namun sayang, semua itu hanya penyesalan yang hadir diakhir cerita.
Berulang kali Maisya menghapus air mata yang terus menetes, nyatanya tak mampu meringankan beban hati yang harus ia rasakan. Bahkan rasa sesak di dada pun tidak dapat berkurang walau hanya sesaat. Matanya pun menjadi sembab akibat tangisannya tidak berhenti.
'Amel sedang mengandung anak Zifran, dan sebentar lagi Zifran akan menjadi seorang Papa.'
Itulah kalimat yang Maisya ingat dan selalu terngiang dalam benaknya bagaimana dirinya tak mampu berkata-kata. Seakan menutup telinga, meski berulang kali pria itu menjelaskan padanya, bagi Maisya itu percuma dan tidak akan mengubah apapun yang telah Zifran perbuat.
Perlahan rasa cintanya pun menguap seiring dengan rasa sakit yang telah tercipta kembali. Dan bahkan jauh lebih sakit yang diberikan mantan kekasihnya dulu membuat Maisya kembali menutup mata ketika Zifran dihajar oleh Leon tanpa niat untuk memisahkan mereka berdua. Begitu cepat rasa cintanya kini berubah menjadi kebencian mendalam.
Dalam sedihnya, Maisya menutup mata agar rasa sakit dihatinya segera berlalu. Namun nihil, nyatanya rasanya itupun semakin menghimpit dadanya hingga membuatnya kesulitan bernapas.
Pagi harinya gadis itu bangun dengan mata sedikit sembab karena semalaman ia menangisi pria pecundang seperti Zifran. Suara ponsel yang bunyi nyaring di atas nakas, Maisya abaikan karena tahu siapa yang menghubungkannya sejak kemarin. Ia terus bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap ke sekolah setelah melihat jam yang bertengger di samping ponsel telah menunjukkan pukul 06:45 WIB.
Setelah selesai mengenakan seragam berwarna coklat, Maisya segera turun menemui Papanya yang sudah menunggu di meja makan.
"Kenapa kok lemes begitu, biasa semangat empat lima?" tanya Papa Bram yang melihat Maisya menyeret tas punggung di lantai.
"Masih ngantuk, Pa."
"Loh, bukannya tadi malam kamu tidur cepat ya? Kok masih ngantuk?" tanya Papa Bram penuh selidik.
Maisya menggaruk tengkuknya tidak gatal. "Em... tadi malam aku begadang, soalnya ada PR yang belum aku kerjain, jadinya ngantuk lagi deh. Hehehehe." Kali ini Maisya berbohong pada Papanya perihal sebenarnya. Masih bisa tersenyum meskipun hatinya tidak baik-baik saja.
"Mau berangkat bareng Papa atau sama si Ucup?" Papa Bram meletakkan sendok di atas piring.
__ADS_1
"Sama Ucup aja, soalnya aku ada latihan basket dan mungkin pulangnya agak telat. Nggak pa-pa 'kan kalau Maisya berangkat bareng Ucup?" tolak Maisya dan ia memastikan jika Papanya tidak keberatan.
"Ya sudah, kalau begitu Papa berangkat dulu ya? Muach." Papa Bram mencium kening putrinya, setelah itu berlalu.
"Loh, Non, makanannya kok di biarin?" tanya Bi Nana yang sejak tadi memperhatikan Maisya tidak menyentuh makanannya sama sekali.
"Lagi nggak nafsu, Bi." Tanpa berpamitan, Maisya menyusul Papanya yang pergi terlebih dahulu.
"Buruan berangkat, Cup!" ketus Maisya langsung masuk ke mobil. Tak banyak pertanyaan, Ucup mengikuti perintah Maisya.
'Kayaknya Non Maisya lagi PMS, dingin banget auranya," gumam Ucup di dalam hati. Setelah itu melajukan mobil dan membawa Maisya menuju ke sekolahnya.
Trettt... trettt...
Suara bel istirahat sudah berkumandang. Seluruh siswa dan siswi SMA Bunga Darma keluar berhamburan dari kelasnya masing-masing, sama seperti dua gadis yang tengah menarik tangan Maisya untuk mengajaknya ke kantin.
"Lo berdua aja yang pergi. Gue di sini jagain kelas. Gue nggak mood kemanapun," ucap Maisya menyembunyikan wajah dibalik lipatan kedua tangan.
"Coba kalau ada Leon, kita bisa minta tolong buat nemenin si Mae. Pake acara nggak masuk segala tuh anak," gerutu Andin menatap Alya dan Maisya bergantian.
"Udah, mending kalian buruan pergi sebelum bel masuk, gue nggak pa-pa kaki di sini sendirian. Lagian ada anak-anak yang nggak ke kantin." Tanpa mengubah posisinya.
"Kita pergi dulu, baik-baik Lo di sini," ucap Alya sebelum pergi.
"Hem."
Cukup lama Maisya menunggu kedua sahabatnya yang tak kunjung datang. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi kelantai dasar sekedar menghirup udara segar dan hitung-hitung untuk menyegarkan pikiran yang terlalu melelahkan untuknya seharian di ini.
Berjalan sendirian menyusuri taman belakang sekolah, memperhatikan sekitarnya ternya banyak siswi seangkatan dengannya tengah asik berpacaran di tempat sepi. Ada yang di belakang sekolah, di pojokan dan ada juga di bawah pohon membuatnya tampak iri untuk sesaat. Namun, semua itu segera ia tepis karena suatu hal.
__ADS_1
Dari pada menjadi obat nyamuk, Maisya berjalan ke arah bangku kosong di bawah pohon untuk menyendiri sejenak dari peliknya kisah percintaan ia dan juga Zifran. Baru beberapa langkah, tiba-tiba saja tangannya dicekal dari belakang oleh seseorang yang sangat ia hafal dari aroma parfum yang digunakan.
Tubuh Maisya berbalik, menatap pria itu dengan tatapan nanar. "Lepas," pinta Maisya lirih, menarik tangannya yang dicekal Zifran.
Pria itu tidak menggubris , langsung menarik tangan Maisya kembali, membawa tubuh Maisya masuk kedalam dekapannya.
"Kamu nggak bisa gini'in kakak, Sya. kakak sayang kamu. Kakak tau itu salah, tapi kakak di dan kakak bisa buktikan semua itu sama kamu."
"Berhenti untuk membuktikan apapun sama gue. Lepasin!" Maisya melepaskan pelukan Zifran dari tubuhnya. "Bagi gue hubungan kita udah selesai saat itu juga. Jadi lo nggak perlu susah-susah buat jelasin semuanya!"
"Kamu nggak serius 'kan sama ucapan kamu tadi, Sya? Kakak nggak mau kamu ninggalin Kakak. Tolong pertahankan hubungan ini," ucap Zifran memohon. Terlihat jelas dari sorot matanya sendu.
Mereka berdiri saling berhadapan, menatap satu sama lain dengan tatapan yang sulit diartikan. Maisya sedikit mendongak karena tubuh Zifran lebih tinggi darinya.
"Apa yang harus gue pertahankan dari hubungan ini, kak?! Cinta gue ke Lo?! Sayang gue ke elo?! Atau elo yang egois. Hem! Lo minta gue bertahan sedangkan yang gue pertahanin nggak mungkin gue gapai!" Maisya berjongkok menutupi tangisnya yang pecah.
"Lo udah nyiptain dinding diantara kita yang gue mungkin gue tembus. Dan Lo inget, disaat itu elo orang pertama yang bikin gue tersenyum setelah Dion ngecewain gue. Dan kali ini, elo lah yang jadi penyebabnya. Jadi, biarin gue mundur dari hidup lo sama seperti yang gue lakuin ke Dion. Gue anggap kisah kita selesai sampai di sini."
Suaranya lirih membuat hati Zifran tersayat belati menggores tepat di uluh hati. Iapun berjongkok memeluk tubuh Maisya erat seakan tak ingin melepasnya.
"Maafkan kebodohan kakak, Sya. Tapi semua itu diluar kesadaran Kakak. Kakak di jebak. Jadi tolong jangan tinggalkan kakak dengan kesalahan yang kakak sendiri meragukannya. Plisss, tetap di sampingku, Sya."
Secepat mungkin Maisya kembali melepaskan pelukan mereka.
"Percuma Lo berkilah, kalau semua terbukti Lo udah ngelakuin itu sama dia. Hati gue terlanjur sakit dan nggak bisa ngelanjutin hubungan ini lagi. Dan ini, gue balikin kalung yang pernah Lo kasih. Makasih untuk waktu Lo selama ini. Gue rela, gue ikhlas ngelepasin elo buat Amel. Sekarang kita putus dan nggak ada hubungan apa-apa lagi. Gue pamit."
Maisya pergi meninggalkan Zifran setelah mengembalikan kalung pemberian Zifran dulu. Berlari membawa air mata yang tidak mungkin sanggup ia bendung lagi.
Di tempatnya, Zifran terdiam menggenggam kalung berinisial 'M' dengan erat bahkan mengabaikan jika kuku itu melukai telapak tangannya sendiri.
__ADS_1
"Kakak nggak akan biarin dia hancurin hubungan kita, Sya. Kakak akan ngelakuin apapun asal bisa membawa cintamu kembali ke tempatnya semula. Itu janji kakak buat kamu."