
"Maaf, Mbak nggak pa-pa 'kan?" tanya orang itu memegang tangan Maisya agar tak terjerembab.
"Kak... Zi?"
Zifran menyerngit heran dengan panggilan yang baru saja ia dengar.
"Kamu kenal sama saya?" tanya Zifran bingung.
Namun belum sempat Maisya menjawab rekan bisnis Zifran terlebih dahulu bersuara.
"Ayo, pak kita sudah ditunggu yang lain."
"Hem." Setelah itu beralih ke arah Maisya lagi. "Maaf, saya buru-buru." Setelah itu meninggalkan Maisya yang mematung menatap kepergiannya.
Maisya terus memandang kearah Zifran yang pergi begitu saja tanpa mengenal dirinya lagi. Kenapa pertemuan ini sungguh memilukan untuk dirinya. Setetes air mata tanpa diminta jatuh begitu saja dari pelupuk mata Maisya saat menyadari ada perubahan dari mantan kekasihnya itu. Tubuh yang dulu tampak tegap berotot kini sedikit terlihat kurus. Dan yang paling membuat hati Maisya terenyuh adalah dari cara jalan Zifran yang sangat jauh berbeda dari pertemuan mereka beberapa tahun lalu. Sedikit tertatih pada kaki sebelah kanannya.
'Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu, kak? Kenapa kamu seolah nggak kenal aku di saat keadaanmu seperti ini? Apa kamu sekarang benar-benar telah bahagia dengan keluarga kecilmu?' batin Maisya di saat pandangannya terus memperhatikan setiap langkah kaki Zifran hingga suara seseorang menyapanya.
"Sya, ini beneran kamu? Apa kabar?" tanya Arlan tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Kak Arlan?!" Setelah menoleh, Maisya langsung memeluk Arlan begitu saja dan mengabaikan mereka yang melihat.
"Aku baik-baik aja, kak. kakak sendiri gimana? Maaf, aku pergi nggak ngabarin kalian. Maafin aku ya, kak?" Sadar diri, Maisya buru-buru melepaskan pelukan mereka.
"Ar, cepetan! Sebentar lagi meeting bakal di mulai!" teriak Zifran dari ujung sana.
"Iya, sebentar, Pak!" balas Arlan setengah berteriak.
"Kakak nggak bisa lama-lama karena boss kakak yang sekarang galaknya minta ampun kayak singa. Lain waktu kita ngobrol lebih banyak lagi ya? Pasti kamu punya banyak pertanyaan kan?"
Tanpa menjawab, Maisya hanya mengangguk sambil mengusap air matanya saat Arlan menyusul atasannya yang masuk kedalam ruang VIP yang tak jauh dari tempat Maisya berdiri.
"Kamu kenapa, Sya? Kok tiba-tiba sedih gitu mukanya?" tanya Leon menyelipkan rambut ke telinga Maisya.
"Nggak ada. Tadi gue nggak sengaja ketemu kak Arlan sama bos-nya," jawab Maisya jujur.
"Kak Arlan ada di sini?" Gantian Alya yang bertanya dan Maisya pun mengangguk.
"Lo ketemu..." Maisya kembali mengangguk saat ucapan Andin menggantung di udara setelah tau jawaban yang diberikan oleh Maisya. Gadis itu menghela napas berat dengan situasi seperti ini.
"Tapi dia kayak nggak kenal gue dan pergi gitu aja. Dan yang bikin lama tadi itu karena gue ngobrol bentar sama kak Arlan. Maaf ya udah bikin kalian lama nunggunya," ucap Maisya tak enak hati. Bagaimanapun dia memberi pengertian agar tak ada salah paham diantara dirinya dan juga Leon.
"Udah nggak pa-pa. Tapi kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Leon memastikan.
__ADS_1
"Hem."
*
*
*
Di teras belakang rumah, Maisya dan Arlan duduk saling berhadapan. Mereka saling berbincang untuk melepaskan kerinduan yang karena telah lama tidak bertemu dan saling bertatap muka baik langsung maupun hanya sekedar dari sambungan telepon.
Dan saat ini, setelah pulang kantor, Arlan menyempatkan diri berkunjung untuk menemui Maisya.
"Diminum dulu tehnya kak," pinta Maisya mempersilahkan Arlan.
"Terimakasih. Oiya, udah lama kamu balik ke Jakarta, Sya?" tanya Arlan setelah itu menyeruput teh yang telah di sajikan.
"Belum. Baru kemarin, kak, soalnya seminggu lagi aku mau nikah sama Leon. Kak Arlan dateng ya?"
"Ukhuk... ukhuk... ukhuk..." Arlan langsung meletakkan cangkir yang ia pegang di atas meja. "Ja-jadi selama ini kamu menjalin hubungan sama tuh bocah?" tanya Arlan mengusap dadanya yang tersedak.
Maisya mengangguk.
Kemudian Arlan menghela napasnya berat.
"Apa kamu masih benci sama Zifran, Sya? Maaf kalau kakak lancang, tapi perlu kamu ketahui kalau Zifran begitu mencintai kamu. Kakak harap kamu mau memaafkan semua kesalahpahaman diantara kalian. Jujur, kakak nggak tega liat dia yang sekarang. Bahkan untuk diri kakak sendiripun rasanya kakak gagal untuk ngembaliin kamu ke dia."
Ya. Sekarang apa yang bisa Arlan perbuat setelah mengetahui bahwa Maisya kini telah memiliki kehidupannya sendiri bersama orang yang selalu mencintainya.
"Apa maksud kak Arlan?"
"Zifran amnesia, Sya. Dia kehilangan semua ingatannya." Maisya menutup mulutnya tak percaya. "Setelah kepergian, selang beberapa bulan, Zifran mengalami kecelakaan karena nabrak truk tangki. Mungkin dia frustasi karena terus nyariin kamu tapi nggak pernah ketemu. Ah... kalau aja kamu liat keadaan dia waktu itu, kamu nggak akan sanggup, Sya. Kakak aja yang liat dia langsung aja nggak percaya kalau itu mantan kamu."
Maisya yang mendengar itu langsung mengingat kembali mimpinya beberapa tahun lalu yang masih ia ingat sampai sekarang. Dan ternyata itu bukanlah suatu mimpi, melainkan kejadian nyata. Apakah mereka saling terikat?
Entah perasaan apa yang kini bersarang dalam benak Maisya. Sebuah rasa yang saat ini ia sendiri tidak tahu dan tidak dapat mengartikannya, hanya berharap perasaannya takkan pernah berubah dan selalu akan tetap sama untuk pria yang telah menghiasi hari-hari indah bersamanya.
Setelah cukup lama mereka bercerita berbagi berita satu sama lain. Melihat malam menjelang, Arlan berpamitan pada Maisya untuk kembali ke apartemennya.
"Kakak pamit ya? Yang kakak ceritain semua ke kamu itu nggak usah terlalu dipikirkan. Kakak cuma pengen kamu tau aja keadaan dia yang sekarang, kenapa tadi dia kayak gitu sama kamu. Dah ya, kakak balik dulu udah malem juga."
Maisya mengangguk tanpa menjawab ucapan dari Arlan.
*
__ADS_1
*
'Dasar bocil, di putusin gitu aja udah mewek, malah minta yang enggak, enggak lagi.'
'Enak aja di putusin, asal om tau yang mutusin itu gue bukan dia!'
**
'Kakak dari mana aja sih, jam segini baru jemput!'
'Jangan deket-deket, aku lagi kesel tau nggak sama kak Zi.'
Zifran langsung membuka mata saat sekilas bayangan itu kembali muncul dalam ingatannya. Samar-samar dan tidak jelas siapa pria dan wanita tersebut. Mungkinkah itu dirinya, lalu wanita itu siapa? Apakah ada sangkut paut dengan masa lalunya?
"Awwwssh."
Zifran berdesis dan memegangi kepalanya yang terasa berdenyut sambil memejamkan matanya untuk menetralkan rasa sakit yang dirasakan saat ini.
"Anda tidak apa-apa, Pak?" tanya Arlan khawatir melihat keadaan Zifran yang mengeluarkan keringat dingin karena menahan rasa sakit.
Kemudian bangkit dan menghampiri Zifran di meja kerjanya.
"Bapak baik-baik aja 'kan? Apa perlu saya panggilkan Dokter untuk memeriksa anda?"
"Enggak usah. Kepala saya cuma sakit biasa kok, nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Lagian saya cuma berusaha mengingat siapa diri saya dan wanita yang selalu hadir setiap kali saya memejamkan mata. Apakah wanita itu ada hubungannya dengan masa lalu saya atau tidak," jelas Zifran yang masih memejamkan matanya.
"Saya harap Bapak tidak terlalu memaksakannya. Biarkan semua kembali dengan sendirinya. Saya yakin cepat atau lambat Bapak akan sehat dan kembali mengingat semuanya," ucap Arlan memberikan air minum kepada Zifran.
"Terimakasih. Oiya, waktu di restoran, kamu kenal sama perempuan yang nabrak saya?" Tiba-tiba Zifran bertanya seperti itu setelah rasa sakitnya sedikit berkurang.
Arlan yang ditanya berusaha bersikap setenang mungkin untuk tidak membahayakan kesehatan sahabatnya yang beberapa tahun terakhir hanya menganggapnya sebagai seorang sekretaris saja dan selalu bersikap seperti orang asing.
"Oh itu... em... dia itu temen pacar saya Pak. Ya... bisa dibilang dia sudah saya anggap seperti adik saya sendiri. Memangnya ada apa Pak?"
"Oh, tidak ada. Rasa-rasanya saya sepertinya pernah bertemu dengan dia, tapi dimana saya nggak inget. Apa cuma perasaan saya aja kali ya?" ucap Zifran sedikit meragu.
"Setelah jam makan siang, apa jadwal saya selanjutnya?"
"Tunggu sebentar, Pak, saya akan mengeceknya terlebih dahulu." Arlan kembali kemeja yang tadi ia tempati untuk mengambil tablet Android yang untuk melihat jadwal CEO-nya hari ini.
"Setelah ini kita ada kunjungan ke salah satu mall milik keluarga Bapak karena yang saya dengar dari staf di sana ada sedikit kendala dan ada beberapa file yang harus Bapak tandatangani. Selebihnya tidak ada, Pak."
"Ya sudah, siapkan semua yang saya butuhkan untuk ke sana," ucap Zifran memberi perintah kepada Arlan. Setelah itu dia langsing pergi keluar dari ruangannya.
__ADS_1