
Di dalam kamar hotel yang terlihat begitu indah dengan taburan bunga mawar berwarna merah dan putih di sepanjang pintu masuk hingga di atas ranjang membuat siapapun bisa menebak jika itu adalah kamar pengantin.
ruangan luas dengan lampu yang menyala redup menambang kesan romantis untuk mereka yang memadu kasih setelah acara selesai.
Namun, tidak dengan Zifran dan Maisya. Keduanya memilih berbaring di atas ranjang untuk beristirahat karena rasa lelah yang sungguh melelahkan hari ini. Bahkan tadi Maisya hampir saja pingsan karena seharian perutnya tidak terisi oleh makanan, selain susu tadi pagi.
Di dalam dekapan Zifran yang bersandar, Maisya tak henti-hentinya mengucap syukur dan berterimakasih pada takdir yang akhirnya mempersatukan mereka kembali.
"Maafin kakak ya yang udah bikin hubungan kita rumit," ucap Zifran yang mengusap rambut Maisya. Sementara Maisya memainkan jarinya di dada Zifran seperti membentuk sebuah pola.
"Aku yang seharusnya minta maaf sama kak Zi karena udah nggak percaya sama kakak. Coba aja kalau waktu itu aku dengerin semua penjelasan Kakak, mungkin kejadian itu nggak akan pernah terjadi."
"Udah nggak usah sedih gitu ih, jelek tau. Lagian ya, semua peristiwa pasti ada hikmahnya. Coba bayangin, kalau nggak ada kejadian kemarin, apa mungkin kita bisa bersama seperti ini? Belum tentu 'kan? Jadi semua itu ambil positifnya. Dan kakak itu bersyukur banget begitu tau kalau perasaan kamu nggak berubah ke kakak. Dan sekarang kita mulai kehidupan baru kita bersama-sama. Kamu mau 'kan hidup bersama pria tidak sempurna ini?"
Maisya pun mengangguk.
Zifran mencium pucuk kepala Maisya begitu lembut membuat Maisya tersenyum dalam dekapannya.
Ciuman itu tidak bertahan lama, sebab Maisya memanggil dirinya.
"Kak," panggil Maisya.
"Hem," jawab Zifran beralih memainkan rambut Maisya.
Maisya terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa, hem?" tanya Zifran yang tak mendapat jawaban.
"Aku masih nggak percaya loh? Semua ini berada kayak mimpi aja gitu. Aku udah nikah dan itu sama kamu. Coba kamu bayangin deh, setelah 3 tahun kita berjauhan, tapi tiba-tiba kita jadi suami-istri. Padahal waktu itu aku lagi ngambek loh sama kak Zi."
Kalau dipikir-pikir hal itu lucu. 3 tahun yang lalu mereka berpisah karena kesalahpahaman. Dan bertemu kembali beberapa hari lalu dan saat ini?
Ya ampun.... ingin rasanya Maisya tergelak mengingat semua yang terjadi diantara mereka.
"Hahahaha... . Iya juga sih. Tapi menurut kamu ini mimpi atau nggak?" Zifran mencubit hidung mancung Maisya membuatnya meringis kesakitan. Lebih tepatnya pura-pura sakit karena Zifran tidak sungguh-sungguh mencubitnya.
"Sakit tau kak. Kakak kira hidungku ini balon toet-toet apa?! Sakit tau!" keluhnya.
Maisya ngusap hidungnya beberapa kali sambil menirukan suara balon yang serit ia mainkan sewaktu kecil.
"Abisnya kamu itu lucu banget tau nggak. Jelas-jelas ini nyata kok dibilang mimpi. Kalau nggak percaya, apa perlu kakak buktiin sekarang? Hem?"
Zifran mengusap hidung Maisya sambil menaik-turunkan alisnya menatap Maisya. Maisya yang ditatap seperti itu langsung melepaskan pelukan mereka dan menjauh dari Zifran karena mengetahui kemana arah pembicaraan suami mesumnya itu.
Ya kemana lagi kalau tidak jauh-jauh dari slangkangan.
"Kak, jangan macem-macem ya? Aku capek loh."
"Lah... memangnya kenapa? Kan biar capek sekalian. Setelah itu kita baru tidur. Mau ya... ya... ya...," bujuk Zifran dengan tatapan nakalnya.
*
*
__ADS_1
*
Hari demi hari terus berganti. Begitupun dengan kehidupan Zifran dan Maisya setelah menikah. Baik Zifran maupun Maisya, keduanya tampak begitu bahagia dengan status mereka masing-masing.
Kehidupan rumah tangga mereka pun selalu penuh warna dengan aksi jail dan mesum yang dimiliki oleh Zifran yang selaku membuat Maisya merasa kesal dan selalu berujung dengan pertengkaran kecil yang semakin mengeratkan keduanya.
Ternyata, bukan hanya sifat usil dan mesum yang membuat Maisya kesal, tapi sifat manja Zifran di pagi hari yang membuat wanita itu mengelus dada melihat tingkah suaminya seperti anak kecil. Bahkan mengalahkan sifat manja Zean padanya.
Seper ini saat ini. Di dalam kamar yang begitu luas berwarna biru tosca, Maisya duduk di samping Zifran yang masih setia memeluknya dan mendarat ciuman hangat yang selaku menjadi rutinitas mereka setiap hari.
Ya. Setelah menikah, sikap Zifran berubah 180° dari sebelumnya. Di mana setiap pagi, sebelum dirinya turun dari tempat tidur, Maisya harus berada di samping agar dia bisa memeluk dan mencium istrinya setelah membuka mata.
Anggap saja jika Zifran itu lebay. Tapi, memang begitulah kenyataannya.
"Sudah 'kan? Sekarang kakak bangun dan mandi. Ini sudah siang loh?"
Maisya mengurai pelukannya.
"Limat menit lagi, oke?" Zifran menahan tubuh Maisya agar tidak menjauh.
"Tapi ini udah siang kak. Nanti kalau kakak telat, terus diliatin sama karyawannya, terus mereka bilang gini...Liat deh tuh pak Zifran. Enak banget ya jadi bos yang bisa pergi sesuka hatinya. Apalagi setelah menikah, jadi semaunya. Beda sama Papanya yang selalu on time," cerocos Maisya yang menirukan ucapan para karyawan di kantor.
"Nah... kalau gitu siapa yang malu coba? 'Kan aku kak. Sekarang kakak bangun terus mandi. Aku mau siapin baju kakak dulu. Ayo bangun," lanjut Maisya yang hendak beranjak dari tempatnya.
Namun, dia urungkan karena ucapan suami mesumnya.
"Iya-iya, kakak bakal bangun, asal... satu ronde lagi ya?" Zifran tersenyum mengedipkan matanya.
Bagaimana tidak, perasaan baru tadi malam mereka melakukannya sampai dua ronde. Masak iya di pagi hari juga? Rasa capeknya saja belum hilang. Begitu pikir Maisya.
"Mau ya... ya... ya...! liat nih dia on dari tadi. Masak kamu tega sih sama adek kakak yang paling paling imut ini."
Zifran membuka selimut yang menutupi bagian bawahnya yang dalam tegangan maksimal.
Tak Maisya pungkiri jika iapun menginginkan. Apa lagi setelah melihat rupa si dedek seperti ular kadut yang berubah menjadi king kobra membuat gairah se*ks di pagi hari meningkat.
Merasa tidak tega, Maisya tersenyum mengangguk tanda dirinya menyetujui.
Melihat itu, Zifran membalas senyuman Maisya dan langsung membuka kaos yang dikenakannya. Terpampang lah dua gundukan kenyal yang masih berbalut bra berwarna hitam, kontras dengan kulit putih Maisya membuat libido Zifran semakin menguasai otaknya.
Tangannya mulai mengelus, meraba, sampai mengusap di bagian bawah sana. Sementara mulutnya sibuk menjelajah dan mencecap bibir Maisya yang membuatnya begitu candu.
Ciuman itu perlahan turun ke leher, memberikan sedikit lumatann bahkan sampai meninggalkan jejak kepemilikannya di sana. Setelah puas bermain di area leher, ciuman Zifran semakin turun, dan terus turun tepat di atas dua benda kenyal yang selalu membuatnya terangsang. Lidahnya mulai berputar-putar membuat Maisya mendesahh nikmat dengan tangan Zifran yang semakin agresif di lembah yang terasa basah dan juga becek akibat permainan tangan nakal suaminya itu.
"Ah.... ah... kak... ," desahh Maisya memegangi tangan Zifran, berharap berhenti setelah sesuatu baru saja keluar dari lembah kenikmatannya.
Zifran menyingkirkan tangan Maisya, kemudian membaringkan tubuhnya istrinya di ranjang dan melepaskan hot pants yang Maisya pakai dan membuangnya ke sembarang arah.
Maisya yang memejamkan mata pun tak mau kalah. Ia mulai menggerayangi tubuh polos suaminya. Mengelus dada bidang Zifran dan sesekali memberi kecupan yang disertai lumatann kecil.
Tangan Maisya semakin bergerak aktif menyusuri tubuh atletis itu sampai tangannya menyentuh si ular kadut yang sudah dalam posisi siap tempur. Tanpa rasa ragu, Maisya menggenggam ular tersebut, memberikannya remasan-remasan lembut.
Mata Zifran turut terpejam merasakan nikmatnya permainan tangan sang istri yang bergerak maju-mundur syantik di bawah sana.
__ADS_1
Merasa tak tahan dengan permainan itu, Zifran bangkit dari atas tubuh Maisya, mengisyaratkan bahwa ia sudah tidak tahan lagi.
Maisya mengangguk seolah paham dengan tatapan mata suaminya. Tanpa di pinta, Maisya langsung membuka kedua pahanya agar memudahkan Zifran menuju tempatnya.
Maisya terus meracau ketika Zifran mulai menggoyang pinggulnya maju-mundur yang mana hal itu membuat Maisya mendesahh tak tertahan.
"Ah... ah... ah... . Terus kak. Iya terus. oo...uh..."
"Enak, sayang?" tanya Zifran yang terus memompa tubuh istrinya.
"Banget. Lebih ce-ce... pet, kak," pinta Maisya dengan napas terengah-engah.
Zifran pun menuruti permintaan Maisya dan mempercepat gerakannya. Napasnya pun tak kalah terengah-engah saat rasa kenikmatan itu sudah berada di ujung. Dengan sekali sentakan keras, ular kadut itu langsung memuntahkan bisanya di rahim Maisya.
Zifran yang merasa kelelahan setelah mengeluarkan miliknya dari milik Maisya langsung merebahkan diri di samping sang istri yang terlihat juga kelelahan.
"Terimakasih, sayang." Setelah itu mengecup kening, lalu turun ke bibir Maisya.
"Hem."
*
*
*
Zifran baru saja keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya berjalan menghampiri ranjang di mana Maisya meletakkan pakaian kantornya sambil melirik jam yang ada di dinding yang ada di sana.
"Lumayanlah," gumamnya.
Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 08:02, yang artinya permainan mereka cukup singkat yaitu sekitar setengah jam, kurang lebih.
Setelah selesai dengan setelah jas rapi, Zifran keluar dari kamarnya menuju dapur sambil menenteng dasi dan tas kantor. Bahkan sepatu pantofel miliknya pun ikut di tenteng.
Sementara di dapur, Maisya tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk suami tercinta dengan menu nasi goreng spesial. Kali ini jangan diragukan tentang masakan Maisya karena wanita itu sudah pandai memanjakan lidah suaminya. Meskipun belum terlalu pandai, tapi Zifran sangat menyukainya masakan istri kecilnya.
Maisya mengedarkan pandangannya melihat Zifran yang susah payah dengan barang bawaannya, laku menghampirinya.
"Sini, aku bawain tasnya."
"Makasih, sayang." Ketika Maisya mengambil alih tasnya.
"Oiya, aku lupa kak. Nanti aku mau ke rumah Mama. Tadi Mama telepon minta aku ke rumah buat jagain Zean karena Mama sama Papa mau pergi menghadiri pesta pernikahan anak rekan bisnis Papa. Nanti pulang kerja langsung ke rumah Papa aja ya, soalnya mereka pulangnya malem jadi aku nggak berani di sana cuma berdua sama Zean," ucap Maisya.
Setelah menikah, Zifran memutuskan untuk pindah dan membeli rumah sendiri dengan alasan ingin mandiri katanya. Awalnya Mama Sarah dan Papa Arya tidak mengijinkan mereka untuk membeli rumah, karena rumah utama itu adalah milik Zifran. Namun setelah di berikan pengertian, keduanya setuju. Dan sangat mendukung sekaligus bahagia karena putra mereka cukup bertanggung jawab.
Kemudian menyerahkan sepiring nasi goreng kepada Zifran.
"Memangnya Bibi sama si mamang kemana?" Zifran mulai menyendok nasi goreng kedalam mulutnya.
"Kata Mama cuti, pulang kampung."
Zifran mengangguk dan kembali menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya.
__ADS_1