
Keesokan paginya.
"Kamu beneran mau kuliah hari ini? nanti kalau kamu kecapean gimana? Kakak nggak mau loh kalau kamu kenapa-napa? Mending nggak usah masuk aja dulu, libur sehari 'kan nggak masalah, Yang?"
Zifran terus membujuk Maisya agar mengurungkan niatnya untuk pergi ke kampus hari ini.
"Nggak bisa gitu dong, kak. Aku ada mata kuliah yang Dosennya itu killer-nya minta ampun. Aku kapok hampir kena hukum sama tuh Dosen. Belum lagi dua curut yang bakal ngamok kalau aku nggak masuk lagi karena makalah tugas kelompok ada di aku. Aku nggak mau jadi sasaran amukan mereka," jelas Maisya.
Maisya dan kedua sahabatnya itu kuliah di jurusan yang sama yaitu Fashion Desainer. Dan tugas mereka kali ini adalah merancang beberapa gaun yang diminta oleh Dosen mereka. Dan itu seharusnya diberikan kemarin, namun karena Maisya tidak hadir, maka hari ini batas akhir pengembalian tugas.
"Tapi, Yang-"
"Cepetan jalan, kak. Ini udah siang loh!" Maisya menepuk bahu Zifran yang menatapnya.
Pria itu menghembuskan nafas dalam-dalam. Ternyata istrinya itu keras kepala.
"Oke. Dasar bumil bawel."
Mobil yang di tumpangi Maisya dan Zifran keluar dari pagar besi yang bercat coklat yang menjulang tinggi tersebut. Melaju dengan kecepatan sedang menembus jalanan ibu kota yang biasa selaku dipadati oleh pengguna jalan.
Sesampainya di kampus, Maisya langsung turun dari mobil kare sudah hampir terlambat. Namun, sebelum itu ia mendekatkan wajahnya ke wajah Zifran terlebih dahulu.
Cup!
Satu kecupan singkat mendarat di bibir suaminya, dan sedikit memberinya lumatann.
"Aku masuk dulu ya, kak. Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya." Maisya langsung menutup pintu mobil.
Sementara, Zifran masih termangu di tempat sambil meraba bibirnya yang di kecup Maisya.
"Istri gue semakin agresif. Hihihi..."
Zifran cekikikan mengetahui bahwa istrinya begitu agresif akhir-akhir ini. Apakah itu merupakan efek hormon kehamilan atau apa?
Entahlah. Yang terpenting sekarang dia sangat menikmati semuanya.
Setelah memastikan Maisya masuk kedalam gedung, Zifran melanjutkan kembali perjalanannya menuju kantor ZA grup.
*
*
*
"Aaaaaaa!!! Serius Lo, Sya! Lo nggak becanda 'kan? Al, bentar lagi kita jadi Aunty muda. Aaaaa... selamat ya, Maisya sayang."
Dengan bahagianya, Andin menekuk erat Maisya yang baru saja menceritakan kehamilannya pada kedua sahabatnya itu. Sambutan hangat dari kedua sahabatnya begitu Maisya rasakan. Apalagi dengan sikap keduanya yang sebelumnya marah-marah berubah 180°.
"Jadi ini alasan Lo nggak kemarin nggak masuk? Lo tega banget sih nggak kasih tau kita. Kalau Lo bilang pasti gue sama Andin bakal nemenin Lo. Ya nggak Din?"
Andin mengangguk membenarkan ucapan Alya.
Setelah keluar dari ruangan Dosen, ketiganya memilih untuk beristirahat di sebuah taman yang ada di area kampus. Di bawah pohon rindang, Maisya duduk di tenga, bersisian dengan kedua sahabatnya itu.
"Hehehehe... ya maaf, soalnya sangking senengnya gue sampai lupa."
*
*
*
Kini kehamilan Maisya sudah memasuki trimester ketiga. Itu artinya usia kandungan Maisya sudah menginjak 9 bulan. Di masa kehamilan yang Maisya jalani tampak biasa-biasa saja. Tidak ada kata mual, ataupun ngidam seperti kebanyakan Ibu hamil pada umumnya.
Aneh? Namun itu yang terjadi padanya.
__ADS_1
Namun, tidak bagi Zifran. Pria itu malah justru yang merasakan itu semua. Mulai dari morning sickness, ngidam, bahkan perubahan mood pun terjadi padanya.
Semua itu berubah sekitar seminggu setelah mengetahui bahwa Maisya tengah mengandung buah cinta mereka. Dan kini, semua perubahan itu terasa begitu menyiksa bagi Zifran. Seperti sekarang ini.
Hueek!
Hueek!
Hueek!
Zifran kembali menyiram wastafel, dan membasuh wajah berulang kali. Entah sudah berapa kali ia mengeluarkan isi perutnya yang sejak pagi tadi bergejolak ingin dimuntahkan.
"Gini amat penyiksaan anak gue. Belum juga lahir udah bikin gue semaput aja," keluhnya, lalu mengusap mulut dengan tissue.
Sudah hampir 15 menit Zifran berada di dalam kamar mandi. Tidak ada tanda-tanda pria itu ingin beranjak dari sana.
*
*
*
"Masih mual?" Zifran mengangguk. "Mending nggak usah berangkat ke kantor dulu, kak. Itu muka kakak mana pucet lagi. Mending kita ke rumah sakit ya?" Seraya menyelimuti Zifran yang berbaring di atas ranjang.
Maisya yang awalnya ingin membangunkan Zifran karena sudah hampir jam 07 lewat. Namun, dirinya justru mendapatkan Zifran berjongkok, menyandarkan tubuhnya di samping pintu kamar mandi. Wajahnya yang pucat membuat Maisya begitu khawatir padanya. Apalagi selama hampir tiga bulan suaminya itu selalu mual dan berkurang nafsu makannya membuat tubuh Zifran tampak sedikit kurusan.
Berbeda dengan tubuh Maisya yang semakin berisi dan terlihat begitu sexy dengan perut yang membuncit serta buah dada yang semakin padat berisi.
"Kamu jangan khawatir gitu, kakak nggak pa-pa kok. Paling sebentar lagi juga bakal reda rasa mualnya."
Maisya mengangguk. "Ya udah kalau gitu kakak makan dulu ya? Aku udah buatin nasi goreng pedas level 10 kesukaan, Kakak."
Mengambil nampan yang ada di atas meja yang tadi ia bawa. Dengan sangat telaten menyuapi Zifran. Wanita itu tampak menikmati perannya sebagai seorang istri apalagi di masa kehamilan seperti ini. Dan setelah ia cuti kuliah, Maisya memanfaatkan waktunya sebaik mungkin dalam melayani Zifran dan juga banyak belajar tentang bagaimana cara merawat bayi mereka kelak.
Setelah Zifran selesai dengan setelan jas kantor, pria itu menghampiri Maisya yang ada di tan belakang yang sedang menyiram tanaman yang sekian lama ditanam, namun belum ada tanda-tanda kehidupan di sana.
Terkadang heran, bumil satu itu tidak ada rasa capek-capeknya. Ada saka yang dilakukan. Mulai dari menyiapkan sarapan mereka, membersikan kamar, bahkan sampai menyiram bunga pun ia lakukan.
Padahal ada pembantu sama tukang kebun yang iya bayar. Tapi tetap saja Maisya ngotot melakukannya.
"Nggak pa-pa kak. Ini malah bagus tau buat ibu hamil. Kata Mama, orang hamil itu jangan kebanyakan duduk ataupun rebahan. Semakin banyak kita bergerak, bayi kita juga sehat. Apalagi aku mau lahiran secara normal, jadi harus banyak gerak biar punya tenaga yang cukup. Gitu kata Mama," jelas Maisya. Ia meletakkan selang, lalu mematikannya.
"Ya sudah kalau itu mau kamu. Tapi ingat, jangan terlalu dipaksakan, kalau capek istirahat ya? Aku pergi dulu."
Cup!
Muuaach!
Setelah mencium pipi dan bibir Maisya, Zifran melangkah pergi dari area taman. Maisya tersenyum memandang kepergian Zifran.
Sikap pria itu tak pernah berubah padanya. Inilah alasan mengapa dia semakin mencintai lelakinya itu.
*
*
*
Di ruangan CEO, Zifran baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang di bantu oleh Arlan, karena beberapa hari ke depan kemungkinan ia harus bekerja sendiri sambil mencari sekretaris pengganti Arlan. Karena setelah menikah, Arlan akan mengurus perusahaan Papa mertuanya.
"Gimana sama persiapan pernikahan, lo? Udah beres?" tanya Zifran membuka kotak rokok, kemudian menyelipkan ke sela jarinya.
"Belum. Gue pusing mikirin hal begituan. Mana Ambu dan Abah ribet banget orangnya. Belum lagi si Alya minta undangannya di perbanyak lagi. Pusing kepala gue, Fran. Lo juga malah diem aja, bukannya bantuin gue kek, apa kek. Dasar nggak berguna banget Lo jadi temen."
Zifran menghembuskan asap rokok ke wajah Arlan. "Lo inget 'kan pernikahan gue yang dadakan karena si kutu kupret itu? Hal beginian mana gue ngerti, ******!" makinya.
__ADS_1
"Pokoknya mulai hari ini, Lo harus fokus sama acara pernikahan kalian. Gue juga udah bilang sama Bokap tentang hal ini dan dia udah ngasih keputusan yang bisa gue bantah. Jadi, Lo harus menikmati pekerjaan Lo untuk kedepannya. Hahahaha..."
Puas sekali rasanya Zifran menertawakan Arlan yang tampak frustasi dengan pekerjaan baru yang menantinya. Meskipun sudah menolak, tetap saja ia tak bisa berbuat apa-apa jika berhadapan dengan Alya.
"Sialan, Lo Fran!" Pria itu melempar kotak rokok kepada Zifran, namun langsung Zifran tangkap.
"Dah lah gue mau cabut, udah sore. Kasian nanti bumil kelamaan nunggunya. Selamat ya untuk pekerjaan baru Lo. Semoga nggak botak itu kepala atas. Kan nggak lucu kalau kepala Lo botak dua-duanya. Hahahaha... ," ledek Zifran tertawa dengan pikiran mesumnya.
Saat Zifran keluar dari ruangannya, langkahnya terhenti saat dering ponsel terdengar sayup dari saku jas.
Zifran menyerngit keheranan. "Papa Bram? Tumben telfon," gumamnya sambil berjalan ke arah luar.
"Halo, Pa." Zifran meletakkan ponselnya di telinga.
"Kamu masih di kantor?"
"Iya. Ini baru aja keluar dari ruangan aku. Ada apa, pa?"
"Nggak ada apa-apa. Kamu sama Maisya kan udah lama nggak nggak main tempat, Papa. Jadi, Papa undang kalian untuk acara makan malam di rumah, gimana kalian bisa nggak?"
"Ya bisa sih, Pa. Tapu malam ini?"
"Ya iyalah. Masak nunggu Maisya lahiran. Aneh kamu."
"Hehehe.... ya udah kalau gitu, aku jemput Maisya dulu."
"Hem."
Setelah panggilan berakhir, Zifran langsung melajukan mobilnya keluar dari basemen. Suasana sore yang sedikit mendung membuat udara terasa dingin. Zifran mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena jalanan tampak begitu lenggang oleh para pengendara.
Tak lupa ia berhenti di swalayan sebentar untuk membeli susu hamil untuk istrinya. Karena ia tau bahwa stok di rumah sudah hampir habis. Setelah memilih, Zifran langsung membayar belanjanya di kasir.
Lalu melanjutkan kembali perjalanannya.
Hanya berjarak 2 km dari swalayan, mobil Zifran masuk ke pekarangan rumah yang terlihat begitu sepi. Menenteng belanjaan dan menghampiri istrinya yang berdiri di depan pintu untuk menyambut kepulangannya.
"Hai anak, Papa? Kalian nggak rewel 'kan di perut Mama?" Pria itu membungkuk, mengusap, kemudian mencium perut Maisya bergantian.
"Nggak dong, Pa. Aku 'kan anak baik Mama dan Papa," jawab Maisya menirukan suara anak kecil.
"Oiya, Yang. Tadi Papa telfon, kita di suruh ke rumah Papa sekarang," ucap Zifran memberi tahu Maisya.
"Kok Papa nggak kasih tau aku sih? Jam berapa papa teleponnya?"
"Tadi sebelum aku pulang. Ya udah siap-siap gih, aku takut keburu malam loh."
*
*
*
"Jadi serius Papa mau menikah lagi?" tanya Maisya memastikan.
Papa Bram mengangguk cepat. "Ya serius dong, Aya. Masa papa bohong sih sama kamu? Terus gimana? Kamu setuju atau tidak kalau Papa menikah lagi?"
"Ya... aku sih setuju-setuju aja. Asal Papa bahagia, aku juga bahagia. Iya nggak, kak." Zifran pun mengangguk.
"Kami sebagai anak, hanya ingin melihat Papa bahagia. Apapun pilihan Papa, aku dan Maisya pasti akan mendukungnya."
Ketiganya sama-sama memasukkan sendok kedalam mulut mereka.
"Memangnya wanita mana yang membuat Papa berubah pikiran untuk menikah lagi?"
"Adalah. Tadinya mau Papa kenalin sama kalian berdua, tapi berhubung dia masih ada pekerjaan di luar negeri, jadi Papa urungkan. Tapi secepatnya akan Papa kenalin sama kamu, Sya. Yang pasti dia orangnya cantik, tinggi, dan kamu pun susah mengenalnya," jelas Papa Bram panjang lebar.
__ADS_1
Dari cerita Papa Bram, Zifran dan Maisya menautkan kedua alisnya saat mendengar kalimat terakhir.
'Kita mengenalnya?' batin keduanya melirik satu sama lain.