
"Sore,jadi jalan-jalan ' kan? Pokoknya harus jadi! Soalnya gue penasaran sama desa ini katanya disini banyak tempat yang lagi viral di medsos. Gue pengen banget ke sana," cerocos Maisya tak henti.
"Ya jadilah. Tapi kita tunggu si Arlan karena cuma dia doang yang tau seluk beluk kampung ini." Jeda. "Sya, pinjem ponsel kamu dong." Zifran menadahkan tangannya.
"Buat apa kak?"
"Buat foto. Mana sini ponselnya."
Maisya mengambil ponsel di Sling bag yang ia letakkan di samping.
"Nih. Ati-ati, jangan sampe nyebur. Kalau nyebur gue jorokin Lo di Empang biar buat empan ikan."
Di sini mereka saat ini. Di sebuah tambak ikan yang tak terlalu luas yang ada di belakang pekarangan rumah Arlan. Sedari tadi kedua berada di sana entah sudah berapa lama sampai rumput yang mereka duduki tidak mampu untuk bangun kembali alias mati mengenaskan.
"Kamu makin hari kok makin galak banget si Yang. Bikin makin cinta tau nggak." Zifran menggeser duduknya agar semakin dekat dengan Maisya.
"Gara-gara ke bentur otak Lo makin geser deh, kak. Kenapa omongan Lo makin alay. Nggak sepadan sama umur Lo," sindir gadis itu.
"Emang kenapa sama umur? Umur boleh aja tua, tapi tenaga masih oke. Buktinya bisa bikin kamu mendesah, iya 'kan?" bisik Zifran di akhir kalimat.
Antara senang dan malu, Maisya menutup wajah dengan telapak tangannya. Benar juga yang dikatakan kekasih. Dirinya selalu dibuat melayang oleh setiap sentuhan yang pria itu berikan. Tak ayal setelah kegiatan panas mereka, dirinya selalu tidur terlebih dahulu.
"Udah cepetan, katanya mau foto. Entar keburu datang para curut bisa repot semua," pungkas Maisya.
Zifran merapatkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Maisya, merangkul bahu kekasihnya lembut. Tak lupa, Zifran mengarahkan bibirnya ke pipi Maisya dengan tatapan fokus ke kamera. Pemandangan hijau sawah menjadi latar belakangnya.
Cekrek
Satu pose mereka dapatkan.
"Kok bibir kamu manyun sih Yang?" protes Zifran.
"Suruh siapa main nyosor nggak pake aba-aba."
__ADS_1
"Seharusnya kayak gini!" Maisya merebut ponsel dari tangan Zifran dan langsung mencium bibir pria itu secara dadakan.
Cekrek
Satu pose nyeleneh berhasil tertangkap kamera. Dengan segera Maisya menyudahinya.
"Kamu nafsuan banget Yang."
"Diem atau gue getok kepala Lo kak." Malu atas kenekatan dirinya.
Glondeng!
"Woy! Siang-siang jangan mesum. Di ketawain lele Lo berdua!" teriak Arlan tak jauh dari mereka yang barusan melempar atap seng.
"Emang dedemit Lo ya. Bikin kaget gue," kesal Zifran. "Ngapain Lo disini?" tanya Zifran dengan nada sewot.
"Kalian berdua niat jalan-jalan nggak sih. Udah jam berapa sekarang?!"
"Baru juga jam tiga'an," sahut Zifran bangkit dari duduknya.
"Iya, iya ini gue ke sana." Dengan nada kesal karena acara berduan dengan Maisya harus terganggu. "Ayo buruan bangun. Mau kakak tinggal atau kakak seret," canda Zifran yang tak serius dengan ucapannya.
Maisya mendengus kesal dan langsung bangkit dari duduknya.
"Ada ya cowok modelan kayak elo kak. Nggak ada romantis-romantisnya sedikitpun sama pacar.."
"Tadi romantis katanya kayak anak alay, gimana sih kamu," dengusnya berjalan beriringan.
Sesampainya di rumah Arlan, mereka langsung bersiap-siap untuk memulai petualangan baru di kampung Ciwidey.
Berhubung cuaca di sana sangat terik dan bersahabat, Maisya milih memakai celana jeans di atas lutut dengan kaos oblong oversize dan sweater untuk melengkapi penampilannya. Sementara Alya dan Andin memakai celana jeans panjang dengan kaos oblong oversize-nya
Di luar sana, ketiga pria sedari tadi mondar-mandir menunggu sembari mengeluarkan kata-kata mutiara karena lelah dalam menunggu. Apalagi kalau menunggu kepastian yang tidak pasti itu lebih menyakitkan.
__ADS_1
"Mereka di dalam pada ngapain sih lama amat. Pada niat pergi apa enggak," gerutu Zifran yang sejak tadi mengomel tidak jelas.
Arlan dan Leon yang mendengar gerutuannya pun sampai hapal dengan pria itu. Ketiganya berdiri menyandarkan tubuhnya di body samping mobil sembari memainkan ponsel. kini mereka tampak saling mengakrabkan diri masing-masing.
"Lama nunggunya ya?" tanya seseorang yang beru saja tiba dengan pakaian yang sungguh menguji iman para kaum pria. Terkhususnya Zifran saat saat ini.
Ketiganya saling memandang gadis itu dari atas sampai bawah. Tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Kamu-"
"Gue cantik nggak?" tanya Maisya tersenyum melihat Zifran dengan wajah bodohnya. Gadis itu memutar tubuh, memperlihatkan pada Zifran mengenai penampilannya.
Dengan gerakan cepat Zifran menutup mata kedua pria itu bersamaan.
"Kamu apa-apaan. Ganti celana sana!" perintah Zifran tanpa melepaskan tangannya. Mana mungkin ia membiarkan kedua manusia itu menikmati pemandangan gratis yang di kekasihnya.
"Kenapa? Kan cuacanya panas, makanya gue pake beginian."
Tanpa Maisya sadari, bukan saja cuacanya yang panas, namun Zifran juga merasa kepanasan akibat ulahnya.
Jika bukan di tempat tentu dengan senang hati Zifran menerima itu semua.
"Kalian lagi, udah temennya kayak gigi bukannya ditegur, ini malah dibiarin. Gimana sih kalian!" omel pria itu pada kedua sahabat Maisya yang sedari tadi berada di belakang gadis itu.
"Lah, kok kita kena juga sih, Pak." Alya tak terima.
"Udah cepetan ganti celana kamu, atau kita nggak jadi pergi," ucap Zifran dengan ancaman.
"Kok gitu sih, kak."
"Iya, atau nggak usah kemana-mana."
Para manusia yang menyaksikan Zifran yang terlalu posesif memutar bola matanya jengah. Diantara mereka berempat, Arlan berpikiran sejak kapan manusia seperti Zifran tak suka memandang wanita yang memakai pakaian seperti yang dikenakan Maisya.
__ADS_1
"Iya, iya, gue bakal ganti. Tapi jadi pergi ya? Pliss!" Maisya menatap Zifran memohon.
"Hem."