Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Prahara cinta Maisya


__ADS_3

Namun, ketika wanita itu merubah posisinya yang kini duduk mengapit tubuh Zifran dengan kedua pahanya, tiba-tiba saja a terdengar suara...


Brakk!


Buggh!


Arlan yang baru datang langsung membuka pintu, namun ia terkejut dengan pemandangan yang baru saja ia lihat di ruangan CEO nya.


'Oh my God, mata suci ku ternodai!' batin nya.


Arlan langsung berbalik badan dan meninggalkan CEO nya yang sedang menikmati a seeksi pencabulan nya di pagi hari.


Sementara di sisi lain. Zifran mendengar suara pintu yang membentur dinding, lalu ia menatap kearah sumber suara dan betapa terkejutnya ia yang menyadari bahwa sekretarisnya sudah berdiri diambang pintu.


Bugh!


Karena tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya, naas, tanpa persiapan Zifran jatuh terjungkal kebelakang bersama wanita yang ada di pangkuannya.


"Ban*gsat! umpat Zifran.


Dengan rasa panik yang mendera, wanita itu buru-buru merapikan pakaiannya yang sudah sangat berantakan dan langsung ngacir begitu saja meninggalkan ruangan Ceo cabulnya.


Zifran segera merapikan jasnya yang sudah terlihat berantakan. "Keruangan gue sekarang!" perintah Zifran melalui sambungan telepon.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya aliran pun datang dengan membawa beberapa lembar map yang berisikan dokumen yang Zifran butuhkan.


"Ngapain Lo pagi-pagi udah main nyelonong masuk ke ruangan gue? Ganggu aja!" ucap Zifran sewot.


"Dasar tukang cabul, mesum nggak tau tempat." Gerutunya lirih.


"Apa lo bilang? Emang bang*sat lo, Arlanjing!"


Zifran yang tak terima langsung melayangkan sepatunya kepada Arlan, begitu sebaliknya.


Terjadilah peperangan di ruangan kerja Zifran dan mereka saling memaki satu sama lainnya dan tidak ada yang mau mengalah diantara keduanya hingga ruangan yang semulanya rapi kini bak kapal tenggelam. Berserakan sana-sini.


Mari kita tinggalkan saja CEO dan sekretarisnya yang tidak bermutu itu dan kita beralih kesisi lainnya.


Maisya baru saja membuka matanya, ia meraba kesana-kemari mencari ponselnya yang seingatnya ia letakkan di atas ranjang kesayangannya. Sampai saatnya ia menemukan ponselnya berada di bawah bantal yang ia gunakan.


Maisya membuka kode password dan mencari nama seseorang yang akan ia hubungi.


...Group Ciwi-ciwi...


...PemesπŸ’–...


^^^Me^^^


^^^Kasih tau sama ketua kelas kalau hari ini gue nggak masuk.^^^


Andin


Kenapa? Lo sakit Sya?


Alya


Sakit apa?


^^^Me^^^


^^^Gue sehat, gue cuma lagi mager aja dan Lo berdua nggak usah ikut-ikutan. awas lo!😠^^^


Alya


gue nggak janji😝


Ya nggak Din?


^^^Me^^^


^^^😠😠😠^^^


Andin


Bener banget.✌️


^^^Me^^^


^^^πŸ™„πŸ™„πŸ™„^^^


^^^Tapi izinin gue dulu. Gue nggak mau ada alpa berjejer di absen gue.^^^


Alya

__ADS_1


πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ


Andin


Oke.


^^^Read^^^


Selesai mengirim pesan dengan kedua sahabatnya, Maisya mencoba untuk menghubungi kembali nomor sang kekasih yang sejak kemarin tidak merespon panggilan telepon darinya. Terlebih lagi jika Maisya mengirim pesan chat kepadanya dan itu hanya di read doang.


Nyesek nggak tuh?


Tuuuttt, tuuuttt, tuuuttt.


Terdengar suara sambungan telepon masuk, namun tetap saja kekasihnya itu tak mau menjawabnya.


"Isssh! kemana sih kak Dion, susah banget dihubunginya?"


Merasa diabaikan, akhirnya Maisya mengirim pesan kembali kepada Dion.


^^^Me^^^


^^^Kakak lagi sibuk ya?^^^


^^^Me^^^


^^^Kok telepon aku nggak kakak angkat?^^^


^^^Me^^^


^^^Kak, jalan yuk! Hari ini gue libur,^^^


Read


My Loplop


Maaf Sya, hari ini kakak sibuk banget. Sekali lagi maaf kakak nggak bisa nemenin kamu, kamu bisa pergi tanpa kakak kan?


^^^Me^^^


^^^Kemana aja sih kak, kok baru bales chat gue?^^^


^^^Lo nggak lagi aneh-aneh kan?^^^


My Loplop


Ya nggak lah! Nanti kalau kakak udah nggak terlalu sibuk pasti kakak hubungi Kamu balik, oke!


^^^Me^^^


^^^😊😊😊^^^


Read


Maisya yang baru selesai membersihkan tubuhnya berjalan menuruni anak tangga dengan mengenakan celana jeans hitam yang robek di bagian lututnya, serta baju kaos biru muda berlogo merek terkenal double G, serta tak ketinggalan Sling bag dengan merek yang sama sebagai pelengkap OOTD nya hari ini.


"Mau kemana Non?" Sapa Bi Nana yang masih beberes rumah.


"Mau keluar Bi, jalan-jalan nyari angin."


"Jalan-jalan kok nyari angin, kalau mau nyari angin jangan di jalan Non, tapi di tukang tambal ban, pasti di sana banyak angin. jadi, Non nggak perlu susah-susah buat cari angin di jalanan."


Maisya menepuk jidatnya sesaat setelah mendengar ucapan dari Bik Nana. Ia baru ingat kalau bibiknya itu Jaka sembung, alias nggak nyambung.


"Maksudnya, Sasa itu mau jalan-jalan ngilangin suntuk bik Na," ucapnya lembut.


"Oh, kirain Non Sasa mau nyari angin beneran."


"Isssh, Bi Na bisa aja. Ya udah Bi, Sasa pergi dulu, bye!" Maisya melambaikan tangannya.


Sementara bik Nana hanya menggelengkan kepalanya lirih saat melihat tingkah Maisya yang ternyata sudah beranjak remaja.


****


Maisya yang baru saja turun memarkirkan motornya di sebuah cafe yang selalu ia kunjungi bersama sahabatnya saat mereka sedang hangout bareng.


Maisya duduk disalah satu kursi yang ada di bagian sudut cafe dan memesan minuman Boba kesukaannya dan beberapa menu dessert sebagai pelengkapnya.


Sambil menunggu pesanannya datang Maisya memainkan ponselnya membalas pesan chat dari dua cecunguk yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi.


Telinga Maisya yang tajam setajam gergaji tanpa sengaja mendengar perdebatan kecil dari sepasang kekasih yang duduknya tak terlalu jauh dari dirinya.


"Sekarang lo pilih gue atau dia!" ucap wanita itu memberikan pilihan kepada kekasihnya.

__ADS_1


"Jawab!" bentak nya.


"Oke, kalau lo nggak bisa jawab pilihan yang itu." Jeda wanita itu menatap tajam lawan bicaranya. "Pilih anak yang ada didalam kandungan gue, atau pilih dia."


"Pliss! kasih gue waktu Tar, gue belum siap mutusin dia, dan gue pasti bakal nikahin lo," ucap pria itu penuh kebimbangan.


"Sampai kapan. Huh! sampai kapan lo bersembunyi dari dia dan sampai kapan gue nyembunyiin kehamilan gue yang semakin lama semakin besar, Lo jangan egois dong Yon."


"pliss,Tar, kasih gue waktu."


"Percuma, sekarang lo pilih gue dan anak lo, atau Lo pilih Maisya tapi kehilangan anak lo?"


Maisya yang mendengar namanya di sebut langsung menoleh kebelakang memandang seorang wanita yang barusan menyebut namanya, dan 'Deg' betapa terkejutnya Maisya saat matanya tertuju ke arah seseorang yang sejak kemarin telah mengabaikannya.


langkah Maisya perlahan mendekati kedua orang itu yang tak kalah terkejutnya dari Maisya.


Mata Maisya tak pernah lepas memandang penghianat yang tak lain adalah kekasihnya Dion. Rasa sesak yang ia rasakan kini hampir menumpahkan air mata yang sudah siap untuk terjun dari tempatnya.


Ya, Maisya mendengarkan semua pembicaraan yang mereka bicarakan sejak ia berada di cafe tersebut. Awalnya ia tidak terlalu memperdulikan apa yang mereka bahas, namun ketika wanita yang bersama kekasihnya itu menyebutkan nama 'Maisya' sontak saja ia berbalik melihat siapa orang yang memanggil namanya itu.


Disinilah Maisya saat ini. Dihadapan sang kekasih yang tega mengkhianati cinta dan kepercayaannya. Kekasih yang sudah mengabaikannya sejak kemarin hingga rencana yang sudah ia susun ternyata berakhir dengan kegagalan. Tubuhnya mulai bergetar menahan tangisnya yang kini mulai menghimpit dadanya.


"Bisa lo jelasin semuanya kak?" tanya Maisya mencoba untuk tegar.


"Jadi bener apa yang gue liat di bioskop itu beneran Lo kak?!" Dion hanya mengangguk.


"Dan lo," tunjuk nya kepada wanita yang ada dihadapannya. "Gue tau elo kan yang bales chat gue?" sambungnya.


"Maafin kakak Sya," hanya itu yang bisa ia ucapkan.


"Hahaha, maaf lo bilang? Setelah apa yang lo lakuin di belakang gue, Semudah itu Lo minta maaf."


Maisya hanya bisa tertawa sinis mendengar perkataan maaf dari orang yang selama ini ia sayang.


"Dan Lo," tunjuk nya ke arah wanita itu.


"Lo nggak perlu takut kalau gue bakalan ngambil baji*ngan ini dari lo. karena gue udah nggak Sudi berhubungan sama penghianat kaya dia."


Maisya kini bergantian menatap wajah yang sudah membuatnya terluka sampai sedalam ini.


"Sebelum Lo minta putus, gue bakal mutusin Lo duluan. Hari ini, detik ini juga lo, gue, end."


"Kakak nggak mau Sya, Kakak masih sayang sama kamu, kakak nggak bisa kehilangan kamu."


Mendengar perkataan Dion seperti itu wanita yang bernama Tari pun meradang.


"Bren*gsek lo. Kalau bukan karena elo yang ngajak gue duluan, gue ogah main sama lo dan lo inget bukannya lo pernah bilang kalau lo nggak pernah puas sama Maisya yang nggak bisa lo apa-apain bahkan lo rayu sekalipun. Jadi, lo nggak bisa ngelakuin ini sama gue Yon!" ucap Tari dengan nada tinggi.


"Tapi gue cinta sama Maisya!"


Plakk!!


Tanpa rasa kasihan Maisya menampar pipi Dion sekuat tenaganya sampai Dion menolehkan wajahnya kesamping. Sungguh sakit hatinya kala mendengar penuturan yang di ucapkan oleh Tari barusan. Ia tidak menyangka jika orang yang ia sayang Setega itu.


"Selain baji*ngan ternyata lo itu brengsek juga tau nggak!" teriak Maisya.


Untungnya suasana cafe itu tidak terlalu ramai hanya beberapa orang yang menyaksikan mereka.


"Lo nggak usah khawatir, gue bakal mundur dan menjauh dari dia! Dan untuk anak lo, gue pastiin dia akan mempunyai seorang ayah." ucap Maisya tegas.


Maisya mengambil minuman yang berada di meja sebelahnya tanpa permisi, dan seorang wanita paruh baya pemilik minuman yang di ambil oleh Maisya pun berkata,


"Mbak kalau minumannya kurang buat nyiram si Mas nya ini masih ada lagi kok, Mbak!" wanita itu menyerahkan segelas yang diambil dari temannya.


Maisya pun menoleh kembali ke arah wanita itu.


"Maaf buk, saya haus. ya kali minuman seger gini mau di buang, Mubajir buk," ucap Maisya meminum minumannya.


Setelah melepas rasa dahaganya dan mengurai rasa amarahnya kini Maisya melanjutkan aksinya yang sempat tertunda sesaat.


"Buat Lo kak, jaga baik-baik calon anak dan calon istri lo, gue rela ngelepas lo. jangan pernah hubungi gue lagi dan terimakasih atas cinta dan waktu Lo selama dua tahun bersama gue. Gue mundur dari hidup lo. Semoga Lo bahagia kak. Dan lo...,"


Maisya menatap Tari dan menjabat tangannya.


"Selamat atas kehamilannya, dan selamat karena lo bakal nikah sama kak Dion."


"Please Sya dengerin penjelasan gue dulu," Dion mencekal tangan Maisya. Menyadari itu Maisya langsung menepis tangan Dion dengan kasar. "Nggak perlu. Semuanya telah usai."


Maisya melangkahkan kakinya kembali ke meja tempatnya semula dan membayar pesanan yang sudah ia pesan dan membiarkannya teronggok di meja.


Perlahan tapi pasti, Maisya pergi meninggalkan cafe tersebut dan mengendarai kuda besinya menyusuri jalan ibukota.


Sementara di dalam cafe, Dion harus menerima keputusan Maisya yang memutuskan hubungan dengannya.

__ADS_1


Dengan segala penyesalan yang ia rasakan, dalam waktu dekat ini ia akan menikahi Tari dan mulai terbiasa tanpa adanya Maisya.


__ADS_2