
"Lo cinta sama dia?" Arlan mulai penasaran. Ia ingin memastikan apakah benar jika orang yang dalam pengaruh alkohol semua itu adalah ungkapan dari hatinya yang terdalam.
"Cinta? Entah lah, gue terlalu nyaman sama tuh bocil. Setiap gue bareng sama dia, gue selalu terbuka itu yang gue rasain saat ini. Bagi gue Maisya itu candu, jadi gue nggak bakal ngelepasin apa yang gue suka!" Zifran menggelengkan kepalanya beberapa kali agar tetap tersadar. Ia menyalakan rokok yang sedari tadi ada diapitan jarinya.
****
Di taman kota.
"Makasih ya Yon, buat hadiahnya!" ucap Maisya.
"Lo suka sama hadiah yang gue kasih?!"
Maisya mengangguk. "Lo kok tau sih kalau gue pengen banget punya headband!"
"Apa sih yang nggak gue ketahui buat cewek yang gue sayang." Leon membenarkan posisinya agar menghadap sang pujaan dan menggenggam tangannya. "Sya, sampek kapan lo bakal nutup hati lo buat gue, gue cinta banget sama lo Sya!"
Maisya menatap lekat wajah Leon, tersirat jelas sebuah ketulusan di wajah pria itu. "Yon, makasih buat rasa lo sama gue. Gue juga sayang sama lo, tapi sayang gue ke elo cuma sebatas temen. Gue nggak mau rasa sayang lo ke gue berubah, begitupun sebaliknya kalau seandainya kita nggak berjodoh. Lo paham kan maksud gue?" jelasnya.
"Tapi gue cinta banget sama lo."
"Gue tau itu. Gue hargai cinta lo ke gue. Lo itu orang yang baik Yon, suatu saat lo pasti bakal nemuin yang lebih baik dari gue dari segi manapun." Jeda Maisya. " Asal lo berhenti mainin hati cewek!" gadis itu tersenyum setelah melihat raut wajah Leon yang cemberut.
"Jadi ceritanya gue di tolak nih?!"
"Maaf!"
"Huaaaa.... Mamaaa, anakmu di tolak!" Leon menangis dihadapan Maisya. Sedangkan gadis itu terkekeh melihat tingkah pria yang ada dihadapannya.
"Butuh pelukan?" tanya Maisya merentangkan kedua tangannya.
"Emang boleh?"
"Tentu saja!"
Leon bangkit dan langsung memeluk gadis cantik yang ada dihadapannya. Sebuah pelukan hangat yang ia rasakan membuatnya semakin terharu.
Tanpa keduanya sadari sepasang mata tengah menatap mereka dengan tatapan tak terbaca. Dari balik kemudi seorang pria dengan kesadaran minim terlihat meremas setir mobilnya dengan penuh kemarahan hingga buku-buku jarinya tampak memutih.
Dengan perasaan campur aduk pria itu melajukan mobilnya meninggalkan mereka yang tengah menikmati pelukannya.
"Yon, udah ah, gue engap tau nggak!"
"Ah iya, sorry!" Leon melepaskan pelukannya.
"Yuk, gue anterin pulang udah malem!" ajak Leon menggandeng tangan Maisya.
__ADS_1
****
Di kediaman keluarga Samudera.
suasana pagi begitu dingin terasa hingga pria dengan sejuta pesonanya masih setia bergulung di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
seorang wanita paruh baya sejak tadi berusaha membangunkan putranya namun sama sekali ia tak dihiraukan.
"Ayo dong sayang bangun ini udah siang, kasihan tuh Arlan nungguin kamu di bawah!" Mama Sarah menyibak selimut yang menutupi tubuh putranya. Namun secepat kilat Zifran meraih dan menutup tubuhnya kembali.
"Apaan sih Ma, ganggu orang tidur aja!!" dumel Zifran.
"Kamu kenapa, lagi berantem sama Maisya? Pekerjaan kantor nggak selesai, pulang-pulang mabuk. kalau ada apa-apa cerita sama Mama," ucap sang Mama.
Sementara Zifran yang berada di selimut memajukan bibirnya sambil menye-menye mendengar ucapan Mamanya.
"Dasar emak-emak rempong nggak bisa liat anaknya santai sedikit!" ucap Zifran sambil menyibak selimutnya dan bangkit dari tempat tidur.
"Emang dasar anak durhaka kamu! Mau Mama kutuk masuk ke dalam rahim Mama lagi, huh!" sentak Mama Sarah.
"Coba aja kalau bis-"
Brukk!
Belum sempat Zifran menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja tubuhnya limbung menatap nakas yang tepat di samping tempat tidur, karena rasa pusing akibat efek alkohol yang ia minum.
"Yes, I'm okay!" jawab Zifran sambil memegangi kepalanya pusing. Ia berjalan menuju ke arah kamar mandi dengan langkah sempoyongan.
Di depan sebuah cermin besar yang berada didalam kamar, Zifran memperhatikan penampilannya mulai dari atas hingga bawah. Tak lupa pula ia membenarkan letak dasinya , yang sedikit kesamping.
"Perfect!" ucapnya tersenyum narsis.
Tap!
Tap!
Tap!
Zifran berjalan menuruni tangga sambil sembari merapikan jasnya kembali.
"Kamu anak laki kalau dandan lama banget melebihi anak perempuan!" ucap Papa Arya melihat putranya. Zifran yang mendengar ucapan sang Papa tak ambil pusing terus berjalan kearah sekretarisnya.
"Ck, Papa ini kalau ngomong selalu aja jatuhin anak sendiri," ucap Mama Sarah berdecak kesal dengan ucapan suaminya.
"Pfffftttt...!" sementara Arlan yang berada di samping sang boss tengah menahan tawanya.
__ADS_1
Zifran melirik sekretaris luknutnya itu, "Nggak usah ketawa nggak ada yang lucu. Gue potong gaji lo mau!" ucapnya santai namun terdengar serius.
Arlan langsung mengulum bibirnya untuk menghentikan aksi tersebut
"Apa jadwal gue hari ini?" tanya Zifran sembari memainkan ponselnya.
"Jadwal lo hari ini, jam sembilan ada pertemuan dengan orang kita dari perusahaan yang berada di Singapore. Terus dilanjutkan dengan kunjungan ke yayasan SMA Bunga Darma."
"Oke!"
Setelah mengetahui jadwalnya hari ini, Zifran dan Arlan melangkah pergi. Namun sebelum itu terlebih dahulu keduanya berpamitan kepada pasangan paruh baya yang tengah asik menikmati hari tua mereka bersama.
****
Di perusahaan ZA group.
Brakk!
sebuah meja bergetar dan berbunyi nyaring akibat gebrakan dari sang CEO yang merasa kesal setelah mendengar penuturan dari salah satu pegawainya.
Beberapa orang yang berada diruang meeting tersebut menundukkan wajah mereka, termasuk Arlan. Tidak ada satupun dari mereka yang berani menatapnya.
"KALIAN INI GIMANA, KERJA KALIAN NGGAK ADA YANG BECUS! APA YANG KALIAN KERJAKAN SAMPAI-SAMPAI MASALAH SEBESAR INI KALIAN BARU MEMBERI TAU SAYA. KALIAN INGIN MEMBUAT SAYA RUGI!" teriaknya lantang.
"M-maaf Pak, kami pikir kami dapat menyelesaikan masalah ini sendiri tanpa merepotkan Bapak," ucap salah satu pegawainya dengan gugup.
"Terus, apa masalahnya teratasi?!" saut Zifran dengan nada tinggi.
"Maaf Pak, kami salah!" ucap ketiga pegawainya bersamaan.
"Maaf kalian nggak guna."
"Kembalilah kalian ke Singapore, saya akan menyusul secepatnya." Zifran memelankan suaranya sembari menunduk memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.
Tanpa banyak bicara tiga pria itu membungkuk untuk berpamitan kepada Zifran, setelah itu mereka langsung bergegas meninggalkan ruang tersebut.
"Jadi kapan lo berangkat ke Singapore?" tanya Arlan.
"Nanti malam. Lo siapin aja semua keperluan gue. Dan satu lagi, cariin gue orang yang bisa bantuin gue di sana sementara lo disini."
"Oke! Gue pamit."
"Hem."
Setelah kepergian Arlan, Zifran menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Ia merogoh ponsel yang berada di saku jas miliknya dan melihat siapa orang yang menelponnya di jam kantor seperti ini.
__ADS_1
Setelah mengetahui nama Casandra yang tertera di ponselnya, Zifran langsung meletakkan ponsel itu di atas meja.