Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Kekesalan


__ADS_3

Beberapa hari ini, sejak putusnya hubungan Maisya dengan mantan kekasihnya mencuat seantero sekolah SMA Bunga Darma, Maisya selalu dibuat kewalahan dengan tingkah para siswa baik yang satu angkatan dengannya, atau yang menjadi juniornya kini mereka berbondong-bondong menyatakan cintanya kepada Maisya secara terang-terangan atau bahkan hanya bisa mengaguminya dalam diam seperti biasanya.


Maisya yang baru saja tiba dikelasnya begitu terkejut melihat berbagai macam hadiah yang menumpuk di meja tempat duduknya. Begitupun dengan ekspresi kedua sahabatnya yang tak jauh berbeda dengan dirinya.


"Wah, Gila ini mah!! Banyak banget fans lo Sya!" seru Andin yang membolak-balik hadiah milik Maisya.


"Ho'o. Lo bangga dong Sya, ibarat kata, mati satu tumbuh seribu. Bener nggak Ndin?" sambung Alya.


Andin mengangguk, "Bener tuh Sya, bisa lah bagi-bagi. Cie... mati satu tumbuh seribu!" goda Andin.


"Apaan sih kalian. Gaje banget tau nggak!" Ucap Maisya.


Maisya menatap satu persatu hadiah yang berbeda diatasi mejanya, mulai dari bunga mawar, coklat, sampai gantungan kunci dengan bentuk wajah menyerupai oppa Korea yang menjadi idola sang pujaan hati dan masih banyak lagi jenisnya, bahkan minuman Boba kesukaannya pun ada dihadapannya kini.


Namun, pandangan Maisya malah tertuju pada sebuket bunga mawar yang bertuliskan 'Turut berduka dan bahagia atas putusnya hubungan Maisya dengan Dion', dengan nama pengirim hanya bertuliskan inisial 'LP'.


Maisya meraih buket itu sambil menggelengkan kepalanya tersenyum tipis menatap bunga mawar putih yang ada di genggaman tangannya. Ia tahu siapa pemilik nama di balik inisial 'LP' tersebut.


"Leon Pramuja," gumamnya lirih.


Ia tidak menyangka jika laki-laki itu akan seantusias itu dengan kabar tentang kandasnya hubungannya dengan sang mantan.


****


Drap drap drap drap!


Terdengar suara langkah kaki seseorang yang sedang tergesa-gesa berlari sendirian disepanjang koridor rumah sakit tempat dimana Mamanya dirawat.


Ceklek!


Pria itu langsung masuk kedalam ruang perawatan sang mama dengan menampilkan raut wajah tak terbacanya, "Bagaimana kondisi Mama Pa? Apa Mama baik-baik aja?" Pria itu langsung menghampiri papanya yang berbeda di samping mamanya.


"Kamu liat sendiri kan Fran, Mamamu belum mau membuka matanya," jawab Papa Arya lirih.


"Terus, apa kata Dokter setelah memeriksa Mama?" Kini ia semakin khawatir dengan kondisi Mamanya yang ia ketahui memiliki penyakit riwayat jantung.


Apakah kini Mamanya terkena serangan jantung? Apakah ini semua karena ia yang sudah beberapa hari mengabaikan Mamanya? Itulah yang saat ini sedang berlalu-lalang dalam otaknya kini.


"Kita tunggu saja sebentar lagi Dokter akan datang untuk memeriksa kembali Mamamu."


Tak berselang lama Mama Sarah perlahan membuka matanya, mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan serba putih dan berbau berbagai macam obat-obatan yang ia yakini sebagai rumah sakit.


"Kok Mama ada disini Pa? Bukannya tadi Mama ada di rumah ya?" ucap Mama Sarah dengan suara lirihnya.


"Mama tadi pingsan, makanya Papa bawa Mama kesini," jawab Papa Arya.


Mendengar suara sang Mama Zifran langsung menggenggam tangan Mamanya lembut, sesekali ia mendaratkan bibirnya di punggung tangan wanita yang berstatus sebagai Mamanya itu.

__ADS_1


"Ada yang sakit Ma?" Mama Sarah menggelengkan kepalanya lirih.


"Apa perlu aku panggilkan Dokter?" tanya nya lagi.


Bertepatan dengan itu, seorang Dokter yang tadi memeriksa Mamanya muncul dari balik pintu ruangan yang sedikit terbuka.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok? Kenapa dia bisa pingsan," tanya papa Arya tidak sabar setelah Dokter itu baru selesai memeriksa istrinya.


Dokter itu hanya tersenyum tipis melirik kearah ranjang pasien, "Setelah saya cek semua baik-baik saja Tuan, anda tidak perlu khawatir karena Nyonya Sarah hanya mengalami pingsan biasa. Mungkin belakangan ini Nyonya terlalu banyak pikiran hingga menyebabkan ia sampai stres dan itu berdampak pada kerja jantungnya. Jadi, saya sarankan agar Nyonya Sarah beristirahat yang cukup dan tolong hindarkan dari hal-hal yang membuatnya stres." papar pria yang memakai jas berwarna putih itu.


Mendengar penjelasan yang diberikan oleh Dokter yang usianya tidak terlalu jauh dari sang putra, papa Arya merasa lega dan amat sangat bersyukur setelah mengetahui keadaan sang istri baik-baik saja.


Sementara Zifran, pria itu menatap sendu wajah sang Mama tercinta dengan rasa bersalahnya. 'Apa gue terlalu egois,' batinnya.


****


Maisya yang baru saya selesai bermain basket mendudukkan tubuhnya dilantai sambil menyeka keringatnya sesekali.


"Capek Sya? Nih!" Leon yang baru datang memberikan botol air mineral untuk Maisya.


Maisya menerima pemberian dari Leon, "Thanks ya," ucapnya sambil mengangkat botol mineral itu keudara.


"Sendirian aja lo Sya? Temen Lo pada kemana?" Leon mengedarkan pandangannya mencari kedua sahabat Maisya.


"Pada beli minuman tadi. Lo tumben nggak bareng sama sih Onad?" tanya Maisya.


Leon menggeleng mengingat ia juga terkena hukuman dan saat ini ia sedang melarikan diri.


"Lah, elo ngapain kesini? Bukannya ini masih di jam pelajaran ya? Atau jangan-jangan lo--"


"Gue tadi izin ke UKS buat ambil obat terus gue liat anak kelas Lo keluar dari sini, gue yakin pasti Lo ada di dalam, ternyata bener kan?" ucapnya berbohong.


"Oh, gue kira lo lagi bolos."


****


Di ruangan serba putih Zifran duduk di sofa yang terdapat di ruangan itu sambil mengutak-atik ponselnya dengan raut wajahnya yang serius.


"Kamu kalau lagi sibuk mending balik aja ke kantor Nak?"


Zifran mendongakkan wajahnya, "Nggak kok Pa, ini cuma ngecek e-mail yang baru aja di kirim sama Arlan."


"Bagaimana meeting tadi? tanya papa Arya yang tidak mengetahui.


Seketika ia teringat kembali dengan meeting yang ia tinggal begitu saja. "Belum ada keputusan resmi dan Arlan tidak berani memberikan keputusan sepihak tanpa ada persetujuan dari aku, dan meeting di tunda sampai besok."


Zifran memberikan penjelasan kepada Papanya sesuai informasi yang ia dapat dari sekretarisnya itu. Mendengar itu, Papa Arya hanya mengangguk paham.

__ADS_1


"Zifran," panggil Mama Sarah lirih. Zifran langsung menoleh ketika sang Mama memanggil namanya.


Perlahan Zifran melangkahkan kakinya menuju pembaringan sang Mama, "Apa ada yang sakit Ma? Atau Mama butuh sesuatu?" tanya Zifran penuh kelembutan.


"Ada yang mau Mama omongin ke kamu Nak, tapi apa kamu mau mewujudkannya?" pinta Mama Sarah.


'Perasaan gue mulai nggak enak ini.' batin Zifran


****


"Sya, sepulang sekolah jalan bareng yuk!" bisik Andin kepada Maisya.


"Woi! Jangan main bisik-bisik tetangga dong, gue juga mau dengar!" sambung Alya ngegas.


Seketika seluruh pasang mata menatap kearah tiga cewek pemes yang duduk nya ditengah-tengah mereka.


Begitupun dengan guru yang sedang menerangkan materinya. "Hei, kalian bertiga! Maju ke depan dan kerjakan soal yang ada dipapan tulis dan jelaskan cara pengerjaannya.


"What!!" ucap mereka kompak.


Sungguh, bagai mimpi buruk disiang bolong!


Dengan otak mereka yang pas-pasan, mereka di suruh mengerjakan beberapa soal Matematika? Ah, yang benar saja!


"Cepat maju dan kerjakan yang bapak perintahkan!" titah guru yang berdiri di depan meja mereka.


Mau tidak mau akhirnya mereka bertiga Maju dan berdiri di depan soal mereka masing-masing.


Sementara di tempat lain.


"Ada yang mau Mama omongin ke kamu Nak, tapi apa kamu mau mewujudkannya?" pinta Mama Sarah.


"Apapun, tapi jangan yang aneh-aneh. Jangan minta aku untuk tunangan Sama perempuan pilihan Mama, karena aku nggak mau." ucap Zifran jujur.


Mama Sarah menggelengkan kepalanya, "Tidak Nak, bukan itu?"


seketika raut wajah Zifran cerah benderang dan menghela nafasnya lega hingga menampilkan senyum menawan yang menghiasi bibirnya saat mengetahui Mamanya tidak memintanya untuk bertunangan dengan wanita pilihan mereka.


Namun tiba-tiba....


"Mama minta sama kamu menikahlah bulan ini, apa kamu mau?" Mama Sarah memandang wajah putranya dengan raut wajah memohon nya.


Jeder!!


Bagai tersambar gledek di panas terik. seketika Zifran mengepalkan tangannya erat-erat sampai semua buku-buku jarinya memutih. Senyum yang tadi terpatri indah di wajahnya kini memudar digantikan rasa kesal dan amarah yang tertahankan.


"Baiklah, aku setuju. Tapi dengan satu syarat," ucap Zifran menyeringai, "Biarkan aku mengenalkan calon ku sendiri, bagaimana?"

__ADS_1


__ADS_2