
Berkali-kali Maisya menepis tangan Zifran, merasa kesal dan sakit hati dengan ucapan kasar pria itu barusan. sebenarnya, bukan tanpa sebab Maisya berkata demikian. Jika mengingat kembali kebelakang, betapa malunya Maisya yang dipergoki tengah menindih tubuh kekar Zifran.
Saat itu dalam benak Maisya pasti Mama Sarah beranggapan yang tidak-tidak terhadap dirinya. Terlebih lagi di saat dirinya hanya sendiri berada di ruang keluarga bersama kedua orang tua Zifran, tanpa Zifran disampingnya. Seolah ia adalah tersangka yang sedang di interogasi, namun itu semua hanya pemikirannya saja.
Toh malah kebalikannya, kedua orang itu malah biasa-biasa saja padanya, bercerita layaknya tak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Tapi tetap saja, ada rasa yang masih membelenggu dalam hati Maisya. Rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kesal plus malu yang tak berujung hingga Maisya bawa sampai saat ini.
"Kamu kenapa? Hadap sini dong!" Zifran memalingkan wajah Maisya langsung ditepis sang empunya. Maisya diam tak menanggapi perkataan Zifran.
"Kamu itu sebenarnya kenapa sih, Sya? Tadi baik-baik aja. Kenapa kamu jadi kayak gini?" tanya Zifran lagi. Zifran masih tak mengerti dengan perubahan sikap Maisya itu karena dirinya.
Maisya mengusap air matanya yang membasahi pipi dengan berucap, "gue benci Lo, kak!" tegasnya.
"Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Emang kakak salah apa?"
Entah karena pengaruh hormon menstruasi, atau memang perkataan Zifran membuat Maisya jadi sebaper ini. Membalikkan tubuhnya memunggungi Zifran.
"Pokoknya gue benci sama Lo."
Zifran terheran-heran dengan sikap Maisya yang menjauhinya. Cukup lama mereka dalam situasi seperti ini. Zifran memanggil tak pernah menyahut. Zifran bertanya tak pernah dijawab. Zifran tak tau salahnya dimana.
Apalagi Zifran tak berpengalaman tentang masalah percintaan yang menyangkut perasaan. Terlebih lagi masalah seperti ini, jauh dari benaknya.
Akhirnya Zifran mulai kesal dengan keadaan ini. "Sebenarnya kita kesini tuh mau liburan atau ngambek-ngambekan?" jeda, "kalau cuma mau diem-dieman mending kita pulang aja." Tanpa Zifran sadari ucapannya kembali menambah kekesalan hati Maisya.
"Ya udah kita pulang!" sentak Maisya tak terima. Berharap di bujuk, eh ... boro-boro, yang ada malah ngajak balik. Dasar cowok nggak peka.
Kejadian itu tak luput dari tatapan orang-orang sekitar. Keduanya masa bodo dengan mereka yang memandang.
Perasaan kesal bercampur emosi membuat Maisya meninggalkan Zifran ditempatnya, menuju mobil yang terparkir tak jauh dari danau tersebut.
__ADS_1
Maisya terus berjalan. Tak menghiraukan panggilan Zifran yang terus memanggil hantu. Sesekali ia menghapus air mata yang keluar tanpa diminta.
Dari arah belakang, Zifran mengacak rambutnya frustasi karena diabaikan oleh Maisya. Zifran berlari menyusul Maisya yang mulai menjauh, meski rasa sakit di bagian lutut terasa begitu menyiksa.
Untuk sesaat, Zifran berhenti kala suara ponsel menyapa langkahnya. Zifran mengambil ponsel yang berada di saku celana, kemudian melihat siapa yang menggangu dirinya.
Terdengar helaan nafas panjang sebelum pria itu mengangkat panggilannya.
"Ada apa?!" Tanpa basa-basi Zifran langsung menanyakan intinya.
"Santai, bro. Jangan ngegas gitu dong!" seru Arlan dari seberang sana. Pria itu sangat paham dengan suara sahabatnya jika dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Ba*cot, Lo! Buruan ngomong sekarang, atau gue matiin!"
Merasakan aura mencekam, Arlan mengambil jalur aman saja. Tak ingin menjadi sasaran empuk sahabatnya itu.
"Gue dapet informasi dari polisi kalau pelaku yang hampir nabrak cewek Lo udah ketemu. Dan mereka nyuruh elo untuk ke Bandung hari ini," jelas Arlan.
"Sya, tunggu!" Zifran semakin mempercepat langkahnya. Maisya tak perduli, dan terus berjalan.
"Lepas!" Maisya menyentak tangan Zifran secara kasar.
"Kamu kenapa sih? Jangan kayak anak kecil gini dong, Sya!"
Apa!! Anak kecil? Nggak salah. Maisya menatap Zifran nanar. Matanya kembali berkaca-kaca. Sesak, sakit, berbaur menjadi satu. Namun Maisya sebisa mungkin menahannya.
Maisya heran, kenapa sejak mengenal Zifran, ia jadi mudah baperan dan sedikit cengeng. Seperti saat ini.
"Gue emang kekanak-kanakan. Lo mau apa?!" Seluruh pasang mata kini tengah memperhatikan keduanya. Terlihat sebagian dari mereka ada yang ingin mengabadikan momen itu, namun diurungkan mengingat siapa yang akan mereka hadapi.
__ADS_1
"Bisa nggak jangan kayak gini, malu tau diliatin orang."
"Bodo amat, gue nggak peduli! Hati gue terlanjur sakit karena Lo."
"Emang kakak ngelakuin apa, Sya?" Zifran menghadang langkah Maisya.
Maisya berhenti, menatap sengit Zifran. "Gue nggak suka dibentak, dan Lo ngelakuin itu. Sakit hati gue Lo gituin." Maisya menyingkirkan tubuh Zifran dari hadapannya. Lalu Maisya membuka pintu mobil. "Jalan Cup!" perintahnya pada Ucup.
"Tapi, Non, itu Pak Zifran masih di luar." ucap melihat Zifran mengetuk kaca jendela.
"Lo diem. Atau Lo turun!" Mau tak mau, Ucup pun menjalankan mobilnya meninggalkan Zifran yang terus berteriak memanggil nama Maisya.
Pria berparas tampan itu meninju udara, meluapkan emosi dan kekesalan saat cintanya pergi tanpa memberitahu kesalahan apa yang sudah ia lakukan.
Zifran menatap ponsel yang masih berada di tangan, kemudian membuka password untuk menghubungi seseorang.
Suara sambung telepon yang sengaja dimatikan membuat Zifran berdecak kesal. Mencoba menghubungi kembali nomor tersebut hingga beberapa kali, namun tetap saja tak ada jawaban yang Zifran dapatkan. Melainkan suara operator lah yang menyapanya.
Sementara di sisi lain. Maisya menatap sesal ke arah ponsel yang digenggam. Merasa bersalah karena memutuskan panggilan dari Zifran secara sengaja. Sesungguhnya dalam hati Maisya, ia tak tega melakukan itu terhadap kekasihnya. Namun rasa sakit lebih mendominasi.
Padahal, jika di telaah kembali, ini merupakan hal sepele yang biasa terjadi. Tapi kenapa ia terlalu berlebihan menyalahkan orang yang dicintainya.
Setelah lama bergelut dengan pikirannya, Maisya memerintahkan Ucup untuk kembali ke danau itu. Berharap sang pujaan masih berada di sana. Karena jaraknya tidak begitu jauh, hanya membutuhkan waktu beberapa menit akhirnya mobil yang ditumpangi Maisya berhenti tak jauh dari tempat parkir sebelumnya.
Maisya membuka pintu, lalu turun dari mobil untuk menemui Zifran dan ingin meminta maaf kepada pria itu karena sikap egoisnya. Namun, sepertinya situasi sedang tidak berpihak pada Maisya. Tubuh gadis itu menegang kala matanya menangkap sosok yang begitu ia cintai sedang berduaan dengan wanita yang amat sangat ia kenal.
Rasa sakit yang semula menguar, kini terkumpul kembali menjadi rasa sakit yang teramat sakit dari sebelumnya, melihat pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat dan saksikan.
Dengan tubuh yang bergetar menahan tangis, serta rasa sesak mulai menghimpit dada, Maisya berjalan menghampiri keduanya yang tengah asyik dengan kegiatan mereka tanpa menyadari kehadiran dirinya yang berdiri tak jauh dari tempat mereka.
__ADS_1
"Gue kecewa sama lo, kak!" Maisya berbalik. Bergegas meninggalkan pria dan wanita yang terkejut akan kehadirannya.