
Di bandara internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.
Leon baru saja memarkirkan mobilnya di area parkir bandara. Ia pun langsung bergegas masuk kedalam bandara untuk menjemput kakaknya yang baru saja tiba di tanah air. Sambil clingukan, Leon berjalan cepat, berharap kakaknya tidak mengomel atas keterlambatan dirinya.
Sementara di tempat yang sama, seorang wanita berpakaian sexy, tubuh tinggi bak gitar spanyol berjalan kesana-kemari mencari seseorang yang telah salah salah mengambil kopernya. Cukup lama ia menyusuri area dalam bandara demi menemukan yang ia cari.
Untuk sesaat wanita itu berhenti sekedar menetralkan degup jantungnya yang berpacu lebih cepat akibat dirinya yang kelelahan. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sosok yang ia yakini sebagai dalang yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini.
Bergegas ia menghampiri orang tersebut dengan wajah kesalnya. "Hei, Pak, tunggu!" ucap wanita itu meneriaki sambil menggeret kopernya.
Merasa ada yang berteriak, pria itu berhenti, lalu menoleh kebelakang melihat siapa gerangan yang berteriak didalam bandara.
"Kamu panggil saya?" Pria itu melihat tatapan kekesalan yang mengarah padanya.
"Balikin koper saya!"
Pria itu kebingungan. "Maksudnya? Saya tidak membawa koper kamu."
"Coba anda perhatikan baik-baik koper itu. Itu punya saya," ucap wanita itu menunjuk kearah gagang koper yang terdapat saputangan yang terikat.
Pria itu menunduk, memastikan bahwa koper yang ia pegang adalah miliknya. Namun sayang, setelah ia melihat, ternyata koper itu berbeda dengan koper yang ia punya. Hanya warnanya saja yang sama, yaitu abu-abu.
Kemudian ia memberikan koper itu kembali ke pemiliknya sambil berkata, "maafkan atas kelalaian saya."
***
Zifran terkejut langsung membuang benda yang ada ditangannya ke sembarang arah. Ia tidak menyadari kehadiran Maisya karena terlalu fokus membicarakan tentang pekerjaan bersama Arlan. Alhasil, beginilah jadinya.
"Sya," panggil Zifran menyadari kesalahannya.
Kemudian melirik Arlan , memberi kode pria itu untuk keluar dari kamarnya. Sementara Mama Sarah, ia sudah pergi lebih dulu dari kamar putranya, membiarkan Zifran terkena Omelan dari kekasihnya. Sudah capek ia memperingatkan, namun tidak pernah didengar oleh putranya itu.
Maisya menatap tajam ke arah Zifran. "Masih mau?"
"Apanya?" tanya Zifran balik. Ada rasa was-was dalam hatinya di situasi seperti saat ini.
"Mana rokok Lo, kasih ke gue!" Maisya menadahkan tangannya ke Zifran.
"Buat apa? Jangan aneh-aneh, Sya."
"Mau gue buang! Gue nggak suka liat elo jadi perokok."
__ADS_1
Bukan hanya kali ini Maisya melarang Zifran. Ketika masih di Bandung pun Maisya sempat melarang pria itu. Ia menyuruh Arlan untuk membelikan rokok untuknya saat mereka berada di taman yang tak jauh dari rumah sakit sebelum Maisya kembali ke Jakarta. Namun sial, rokok tak dapat, malah omelan dari kekasih yang didapatnya.
"Tapi, Sya-"
"Kasih ke gue, atau gue balik!" tegas Maisya.
Zifran membuka nakas , lalu memberikan satu kotak rokok yang baru beberapa batang ia hisap kepada Maisya. "Nih!"
"Anak pintar," ucap Maisya tersenyum menerima pemberian Zifran, memasukannya kedalam tas yang ia bawa. "Awas kalau kakak ketauan lagi. Katanya pengen cepet sembuh. Ini bukannya bikin cepet sembuh malah bikin Lo cepet mati kak."
"Ck, doanya jelek banget sih. Pacar sendiri didoain cepet mati. Duduk sini!" Sambil menarik Maisya agar duduk disampingnya.
"Masih sakit?" Maisya menyentuh kepala Zifran yang di perban.
"Sedikit. Tapi kalau dicium sama kamu, mungkin nggak sakit lagi."
"Itu sih mau Lo, kak."
Maisya mendekatkan wajahnya ke Zifran.
Cup.
Zifran membelai rambut panjangnya, menghirup, menikmati aroma shampo yang gadis itu gunakan. Meskipun hari semakin terik, namu aroma itu tak pudar dari rambut Maisya.
"Apa kamu begitu merindukan kakak, Sya?"
"Banget. Gue kangen banget sama lo." Maisya pun sama, ia juga menikmati aroma tubuh Zifran yang begitu candu baginya, membuat ia selalu merindukan dan selalu ingin bersama pria itu setiap saat.
"Kakak jauh lebih kangen sama kamu."
Cup.
Zifran mengecup kening Maisya disela-sela kerinduan mereka.
"Oiya, kok kakak bisa balik ke Jakarta, sejak kapan?" Maisya melepaskan pelukannya, menatap pria itu lekat, seperti meminta jawaban darinya.
"Sejak tadi pagi. Kalau kamu tanya kenapa kakak bisa pulang, jawabannya mau tau aja, atau mau tau banget?" tanyanya tersenyum, menaikkan alisnya naik-turun seolah memberi isyarat agar gadis itu mau memilih.
"Mau tau aja," pilih Maisya.
"Karena kamu!" jawab Zifran.
__ADS_1
"Kok gitu?"
"Ya emang karena kamu!"
"Ya udah deh, mau tau banget," Pilihan kedua yang Maisya pilih.
"Karena kamu Maisya sayang," jawab sama. Mendengar kata 'Sayang' membuat bibir Maisya mengembang sempurna. Tak hanya itu, pipi gadis itu pun ikut merona karenanya.
"Kok sama?" tanya Maisya tidak paham.
"Ya emang sama. Karena emang cuma kamu alasan kakak untuk cepet-cepet balik ke Jakarta. Kakak itu bukan Dilan yang sanggup menahan rindu, karena rindu itu berat," sanggahnya.
"Ck, Dasar nyebelin!"
****
Suara perdebatan terdengar dari dalam yang tengah ditumpangi oleh dua orang yang berstatus kakak beradik. Mulai dari bandara hingga dalam perjalanan pulang pun keduanya masih sempat-sempatnya bertikai di dalam mobil. Dak ada pertemuan kerinduan dari keduanya, yang ada malah saling menyalakan satu sama lain.
"Sebenernya lo ngapain aja di bandara? Gue capek tau nggak nungguin lo!" omel leon pada kakaknya. Pandangannya sesekali melirik tajam ke arah wanita berpakaian minim bahan.
"Suka-suka gue. Gue nyuruh lo jemput bukan marah-marahin gue."
"Kalau tau gini gue ogah jemput lo, mending gue nyantai di rumah, belajar bareng sama temen gue." Rasa sesal yang kini ada di dalam hatinya. Di bela-belain jemput, eh... nggak taunya yang di jemput entah pergi kemana. Alhasil dirinya hampir dua jam menunggu kakaknya di dalam bandara.
"Hello, sejak kapan lo jadi kutu buku, huh!"
"Sejak gue jatuh cinta sama seseorang," jawab leon.
'Meskipun cinta gue bertepuk sebelah tangan.'
"Ha ha ha ha," tawa kakaknya. "sejak kapan cowok kayak lo jatuh cinta? Nih ya, gue saranin ke elo, mending nggak usah jatuh cinta kalau ujung-ujungnya tersakiti."
"Ba*cot lo ngomong kayak udah pernah aja lo ngalamin."
Leon menatap miris dirinya. benar apa yang dikatakan kakaknya. Sampai sekarang pun ia masih memendam rasa itu.
"Gini amat... nasib gue!" lirihnya.
"Ha' lo ngomong apa?" tanya wanita itu mendengar suara pelan adiknya.
"Nggak ada!" jawab leon cepat.
__ADS_1