Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Merasa terabaikan (Casandra)


__ADS_3

Pagi hari sinar sang Surya mulai menyapa dunia dengan keindahannya. Sinarnya yang memberikan kehangatan bagi mereka yang merasakannya. Membangunkan setiap insan untuk segera melakukan aktivitas mereka di pagi hari.


Namun itu tidak berlaku bagi kedua insan yang saat ini masih tertidur pulas di bawah selimut yang menutupi tubuh mereka yang tanpa busana.


Entah sudah berapa ronde mereka melakukannya hingga sudah jam delapan mereka masih setia dengan mimpinya.


Hingga tiba-tiba sebuah panggilan telepon dari seseorang membangunkan gadis cantik yang masih memejamkan matanya menikmati hangatnya dekapan dari seseorang yang menghabiskan malam bersamanya.


"Emmmm, siapa sih pagi-pagi udah main ganggu aja," gerutunya. Matanya menyipit menyesuaikan dengan cahaya matahari yang masuk kedalam kamar itu.


Tubuhnya bergerak kesana-kemari mencari ponselnya yang entah dimana keberadaannya. Namun ia menghentikan pergerakannya saat sebuah tangan yang kekar memeluk tubuhnya dengan begitu eratnya.


"Jangan kemana-mana, disini aja!" ucap seorang pria dengan mata terpejam. Pria yang tidak lain adalah Zifran.


"Kak, lepasin dulu ih, ponsel gue bunyi terus tuh."


"Biarin. Jangan gerak terus Sya, entar kamu nggak bisa jalan," ucap Zifran berusaha menahan pergerakan Maisya yang mana membuat sesuatu yang dibawah sudah dalam mode on.


Glekk!


Maisya menelan salivanya dengan susah payah saat ia merasakan sesuatu yang keras berdiri menempel ditubuhnya.


"Kak, jangan bercanda lo ini udah jam berapa gue mau mandi, mau balik."


"Makanya jangan gerak. Kakak mau kayak gini dulu, sebentar lagi oke!" ucap Zifran manja.


Cup!


"Morning kiss.." Zifran memberikan ciuman di bibir Maisya. Bukan hanya sekedar ciuman, melainkan juga luma*tan.


Maisya yang mendapat serangan dari Zifran hanya terdiam sambil memejamkan mata menikmati sensasi yang pria itu berikan.

__ADS_1


Setelah itu Maisya bangkit dari tempat tidur menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Namun ketika hendak melangkah tiba-tiba,


"Awwsshh." Maisya menghentikan langkahnya saat ia merasakan sakit dan perih diarea sensitifnya.


Zifran yang menyadari itupun langsung bangkit dari tempatnya menghampiri Maisya. Tanpa banyak bicara ia membungkus tubuh Maisya dengan selimut dan langsung menggendong gadis itu ala bridal style yang mana membuat Maisya terpekik kaget karena pergerakan Zifran yang secara tiba-tiba.


"Nanti kalau udah selesai panggil kakak." Zifran menurunkan Maisya didalam kamar mandi.


"Ya udah buruan kakak keluar!" usir gadis itu.


"Demi mempersingkat waktu gimana kalau kita mandi bareng?" celetuk Zifran.


"Ogah! Udah sana." Maisya mendorong tubuh Zifran dan langsung menutup pintu kamar mandi.


Sementara diluar Zifran terkekeh melihat kelakuan gadis yang membuatnya mabuk kepayang. Ia berjalan menuju lemari untuk mengambil handuk setelah ia menyadari bahwa dirinya tidak mengenakan apapun.


Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan wajah gadis cantik kulit putih namun tak semulus biasanya. Banyak jejak kepemilikan yang Zifran tinggalkan di sana.


Zifran mematikan sisa rokoknya saat menyadari kehadiran Maisya. "Kenapa nggak manggil kakak, hem!" ia bangun dari tempatnya.


"Nggak ah, malu."


"Apanya yang malu? Kakak udah liat semua yang ada di tubuh kamu, termasuk ini dan yang ini." Zifran menyentuh dua buah gunung kembar Maisya dan beralih ke area sensitifnya.


Blush!


Seketika pipinya terasa memanas mendengar ucapan pria itu barusan. Maisya melepaskan tangan Zifran dari tubuhnya dan langsung memakai pakaiannya yang berada di atas tempat tidur Zifran.


****


"Tadi malam lo kemana aja sih Sya? Gue sama kak Arlan nungguin kalian kayak orang ilang tau nggak! Tiga jam gue keliling mall lo bayangin tuh gimana jadi gue sama kak Arlan!" omel Alya. Saat ini keduanya duduk di taman belakang kediaman Maisya.

__ADS_1


Sudah sejak tadi pagi kekesalan itu ia tahan, ingin meluapkan namun yang menjadi objeknya nya tidak masuk sekolah alhasil setelah pulang sekolah ia bertekad untuk menemui sahabatnya yang tak berakhlak itu.


"Sorry, Al, tadi malem waktu gue lagi jalan sama kak Zifran tiba-tiba kaki gue sakit dan gue nggak bisa jalan, kak Zifran panik dan langsung bawa gue pulang. Sorry banget ya!" sangkalnya berbohong.


Tidak mungkin kan ia menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya, bisa geger dunia persekolahan, terkhusus bagi SMA Bunga Darma.


"Ya seenggaknya lo angkat kek telepon gue,"


"Ya maaf, gue ketiduran."


"Emang setan lo, udah bikin gue terlantar malah enak-enakan lo tidur! Nggak ada akhlak emang. Nih seragam sama tas lo gue bawain. Nyusahin aja lo!" ucap Alya ngedumel.


"Hehehe, thanks ya!" Maisya menerima pemberian Alya.


****


Disebuah restoran terkenal di Jakarta. Zifran baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi berhadapan dengan seorang wanita berparas cantik dan juga sexy tentunya.


Zifran yang berupa pulang dari kantor menyempatkan dirinya untuk datang menemui wanita itu. Dan disinilah mereka saat ini.


"Langsung aja. Ada apa lo nyuruh gue kesini!?" tanya Zifran to the point.


"Lo kenapa sih Fran belakangan ini ngejauh dari gue, lo nggak kangen sama gue, Hem?" wanita berdiri di belakang Zifran sambil membelai wajahnya, bahkan belaian itu kini turun merambah kebagian dada pria itu.


"Lepasin Casa, malu diliat orang." Zifran menyingkirkan tangan wanita itu dari tubuhnya.


"Nggak bakal ada yang liat kita Fran, kamu lupa kalau ini ruang VIP. Kamu kenapa sih kok kayak nggak suka gitu ketemu sama gue?" Casandra kembali melancarkan aksinya.


"Gue capek Casa, hari ini gue banyak kerjaan."


"Mau gue bantuin ngilangin rasa capek lo? Gue kangen banget sama lo," bisik Casandra begitu sensual.

__ADS_1


Pria itu hanya terdiam sambil menyesap kopi kesukaannya.


__ADS_2