
Terdengar dentuman musik yang begitu memekakkan telinga bagi sebagian orang yang tidak terbiasa mendengarkannya.
Berbeda dengan mereka yang biasa menghabiskan waktunya di club. Dan salah satunya adalah Zifran.
Saat ini Zifran sedang berada di salah satu club terkenal di Jakarta. Ditemani dengan seseorang yang menjadi partner kerjanya di kantor. Siapa lagi jika bukan Arlan, sekretarisnya.
walaupun keduanya baru saling mengenal setahun yang lalu saat Zifran diangkat menjadi CEO untuk menggantikan sang Papa. Dan Arlan dipilih langsung oleh Papa Arya, sebelum Papanya memutuskan untuk pensiun dari jabatannya sebagai CEO dan digantikan oleh Zifran.
Karena sikap humoris dan profesional dari Arlan lah yang membuat Zifran nyaman dan perlahan membuat tali persahabatan diantara keduanya .
"Fran, udah dong minumnya! Lo udah mabuk juga," ucap Arlan yang merampas gelas berisi wine dari tangan Zifran.
"Apaan sih. Balikin nggak!" Zifran yang sudah sempoyongan mencoba merebut kembali gelas yang berada di tangan Arlan.
" Lo kalau ada masalah cerita ke gue, bukannya kayak gini. Ini nggak akan menyelesaikan semuanya."
"Gue nggak suka di jodoh-jodohin, lo tau itu kan." ucap Zifran menghela nafas frustasi.
"Apa lagi untuk nikah," zifran tersenyum sinis,
"Gue ogah, gue nggak mau terlibat dengan status pernikahan yang bakal bikin gue pusing dan merepotkan dengan berbagai tuntutan ini dan itu. dan bla bla bla bla..." racau Zifran mengeluarkan segala unek-unek yang ada di dalam hatinya.
Arlan yang mendengar ungkapan hati Zifran hanya bisa terdiam dan menyimak semuanya.
"Gue lebih suka dan nyaman sama status gue sekarang." ucap Zifran kembali.
Dengan kesadaran yang hanya tersisa beberapa persen, Zifran kembali meneguk wine yang tersisa seperempat botol yang ada di hadapannya dengan sekali teguk.
Zifran bangkit dari tempat duduknya dengan susah payah agar tubuhnya tidak limbung. Sementara Arlan yang menyaksikan itu bergegas membantu Zifran, tetapi Zifran malah menolaknya dan memilih untuk berjalan sendiri.
Namun, sayangnya baru beberapa langkah Zifran melangkahkan kakinya ia sudah tak sadarkan diri. Dengan gerakan cepat dan sigap Arlan menangkap tubuh Zifran yang sudah terhuyung itu agar tidak menyentuh permukaan lantai.
Arlan sesegera mungkin membawa Zifran keluar dari tempat itu.
****
Kringggg!!
Kringggg!!
Suara alarm terdengar begitu nyaring di dalam sebuah kamar dengan nuansa biru muda yang terdapat beberapa poster boyband Korea kesukaannya terpajang rapih di dinding kamarnya.
Seorang gadis yang masih setia berada di bawah selimut yang tak terusik sama sekali dengan suara alarm yang begitu memekakkan telinga.
Kringggg...
Hingga suara itu kembali menyapanya. Dengan perasaan malas gadis itu bangun dari tidurnya dan mengambil jam Wacker yang ada di atas nakas, kemudian ia mematikan pengaturan alarm itu dan melanjutkan kembali tidurnya.
Namun, tidak berselang lama gadis itu kembali terbangun lagi dengan wajah seperti menahan amarahnya.
"Siapa sih, pagi-pagi buta udah nelepon? Ganggu orang lagi tidur aja." gerutu gadis itu.
Ternyata yang membangunkannya adalah suara dering dari ponsel miliknya.
Drettt drettt drettt.
Dengan mata yang masih terpejam gadis itu meraih ponsel yang berada di sampingnya.
"Hallo, siapa ini pagi-pagi buta udah bangunin orang kayak nggak ada kerjaan?" cerocos nya yang tak mau membuka matanya.
"OMG MAISYA! JAM SEGINI LO MASIH TEBAHAN. WAH, DAEBAK SYA!" ucap seseorang dengan nada cemprengnya.
Maisya yang mendengar teriakkan dari seseorang yang amat ia kenal seketika membuka matanya selebar-lebarnya dan menatap ke arah jam yang ada di nakas.
Dengan gerakan cepat, secepat 'Super Sonic' Maisya bangkit dari tidurnya dan berlari ke arah kamar mandi. Tanpa sepatah katapun Maisya meninggalkannya ponsel bersama seseorang yang terabaikan di balik sambungan telepon.
"Si*lan. Perasaan gue udah bener setting alarmnya, tapi kenapa kok bisa berubah ya?" gerutu Maisya di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Sementara itu, seseorang yang berada di sebrang sana tengah mengomel kepada sahabatnya yang sejak tadi mereka tunggu, tetapi belum juga menampakkan batang hidungnya.
****
"Hosh...hosh...hosh" Suara nafas ngos-ngosan dari Maisya.
"Lo dari mana aja Mae, kok nafas Lo kayak abis di kejer guguk gitu?" ucap salah satu siswa yang berdiri didepan pintu.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu sontak melihat ke arah pintu masuk. Termasuk kedua sahabat Maisya, yaitu Alya dan juga Andin.
"Diem lo! Nggak tau orang lagi capek apa?" ucap Maisya dengan sesekali mengatur pernafasannya.
"Aelah, gitu aja sensian amat. Lagi PMS ya?"
"Ba*cot lo, anjir! Bisa diem nggak sih!" sentak Maisya.
Maisya berjalan ke arah tempat duduknya sambil menenteng tas yang sudah menjuntai ke bawah.
"Lo dari mana aja sih Sya? Kok jam segini baru nyampe?" tanya Andin sambil melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 07:58 wib.
"Padahal kan gue bangunin lo jam tujuh, jadi kemana aja lo, kok baru nongol?" sambung Alya Dengan omelan nya.
Maisya yang melihat kedua sahabatnya seperti itu merasa biasa saja. Karena bagi Maisya omelan mereka adalah sebagai bentuk kasih sayang dan peduli mereka kepada dirinya.
"Mau gue kasih tau nggak, kenapa gue bisa telat? Hem!" ucap Maisya dengan santainya.
"Apa?" balas Alya dengan tingkat ke kepoannya.
"Cepetan Sya!" sambung Andin.
Melihat antusiasme kedua sahabatnya, Maisya yang duduk berseberangan dengan mereka memutuskan untuk berpindah tempat agar lebih leluasa untuk bercerita.
"Dengerin nih baik-baik!."
"Buruan!" ucap keduanya bersamaan.
Flashback on
Maisya yang bangun kesiangan memutuskan untuk memakai motornya. Namun kesialan menimpa dirinya, bukan kunci motor yang ia bawa melainkan kunci mobil lah yang ia genggam.
Dari pada ia telat, mau tak mau ia harus memakai mobil yang baru saja di antar kemarin sore.
Dengan kecepata sedikit lebih kencang Maisya mengemudi membela jalan yang terlihat sedikit lebih senggang, tetapi itu tidak berlangsung lama.
Tinnn! tinnn!.
Maisya membunyikan klakson mobilnya saat sebuah motor tiba-tiba saja menyalipnya dengan kecepatan tinggi.
"Sh*itt" umpatnya kasar dan seketika Maisya mengerem mobilnya.
Cittttttt.
Suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal terdengar jelas di telinga Maisya.
Brakkk!
Sangking paniknya, Maisya tanpa sadar menginjak rem mobil dengan begitu kuatnya, hingga mobil yang di kemudikan oleh dirinya berhenti secara mendadak. Dan mengakibatkan sebuah tabrakan yang tak dapat dihindarkan.
Dengan rasa penasaran, Maisya memutuskan untuk turun guna memastikan apakah mobilnya rusak parah atau tidak.
'Masuk bengkel lagi nih.' batin Maisya frustasi.
Di lain sisi.
Zifran yang sedang mengemudi mobilnya sambil mendengarkan musik, dan sesekali ia juga menyanyikan penggalan lirik lagu favoritnya harus menelan pahitnya kesialan yang kini menimpa dirinya.
Bagaimana tidak? Saat dirinya hendak memutar lagu yang ia inginkan, tiba-tiba saja sebuah mobil tepat di depannya berhenti secara mendadak.
__ADS_1
Zifran yang terkejut tidak dapat menghindar, saat jarak antara keduanya cukup dekat, dan semakin dekat. Hingga...
Brakkk.
Sebuah tabrakan yang tak bisa terelakkan terjadi begitu cepat. Zifran yang berada di dalam mobil hanya bisa merenungi nasib mobil yang baru beberapa hari ia beli.
'ASTAGA MOBIL BARU GUE!!' batinnya histeris.
Dari dalam mobil, Zifran melihat seseorang yang menjadi pengacau nya baru saja keluar dari balik kemudi. Zifran sangat hafal siapa orang yang tengah mondar-mandir melihat mobil kesayangannya yang sudah ringsek di bagian bamper belakang.
Perlahan tapi pasti Zifran membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar dengan tampang songongnya.
"Lo nggak bisa bawa mobil ya? Kalau nggak bisa nggak usah di bawa, bikin celaka orang aja!" ucap Zifran menyindir.
Maisya yang tengah menatap malang mobilnya itu seketika menoleh kebelakang saat mendengar suara dari Zifran.
"Aishhh, om lagi! Kenapa di mana-mana ada om sih? Om ini demit ya?" Maisya sungguh tak menyangka jika ia harus berurusan dengan Zifran kembali.
"Jaga tuh mulut, Mana ada setan yang gantengnya kayak gue. Tanggung jawab!" sarkas Zifran.
Maisya mengernyitkan dahinya, "Om nggak liat mobil gue juga ancur tuh gara-gara Om?" tunjuk Maisya ke arah mobil miliknya.
"Gue nggak mau tau. Tanggung jawab atau gue laporin ke polisi,"
"Tapi ini nggak adil."
"Mau atau nggak?"
"Ya nggak bisa gitu dong Om, gue juga korban."
"Tanggung jawab atau gue--"
"Iya, iya. Gue tanggung jawab. Puas!" ucap Maisya dengan nada tinggi.
"Santai dong, nggak usah ngegas gitu," sambung Zifran.
Akhirnya dengan sangat terpaksa Maisya menelpon bengkel langganannya untuk memperbaiki mobil mereka berdua.
"Tuh udah kan!" ucap Maisya.
"Hem."
Setelah selesai dengan semuanya Zifran pergi meninggalkan Maisya. Namun sebelum itu,
"Eh, mau kemana Om?" tanya Maisya.
Zifmran menoleh kesamping, "Nyari taksi,"
Zifran menyerngitkan dahinya saat melihat Maisya menengadahkan tangannya kearah Zifran.
"Mau ngapain kamu?"
"Minta ongkos buat taksi."
Mendengar ucapan Maisya, Zifran memutar bola matanya malas. Akan tetapi Zifran tidak menolak permintaan dari Maisya. Zifran mengeluarkan dompetnya dan mengambil tiga lembar uang berwarna merah dan ia berikan kepada Maisya.
Tentu dengan senang hati Maisya menerimanya. "Makasih om!"
Zifran pun segera menaiki taksi yang sudah ia berhentikan. Namun tiba-tiba ia terkejut saat Maisya mendorong tubuhnya.
"Mau ngapain kamu?"
"Numpang Om, saya udah telat."
"Aishhh. Nyusahin aja."
Akhirnya Zifran dan Maisya menaiki taksi yang sama dengan tujuan yang berbeda. Dan tolong ingatkan kepada Zifran untuk membayar tagihannya double.
__ADS_1
Flashback off.