Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Tragedi di perpustakaan (Leon dan Andin)


__ADS_3

"Din, tolong ambilin buku yang di atas itu dong, gue lagi mager nih!" pinta Maisya kepada Andin yang berdiri didepan rak buku.


Saat ini Maisya, Alya dan Andin sedang berada di perpustakaan sekolah. Entah apa yang sedang merasuki ketiga siswi itu sehingga mereka berada di tempat yang amat jarang mereka kunjungi.


Bahkan bisa dikatakan hampir tidak pernah. Itulah sebabnya jika nilai mereka selalu rendah dalam setiap mata pelajaran terkhusus dalam bidang perhitungan dan dan perumusan.


"Aissshh, Lo nyusahin gue aja. Mana gue nyampe Sya," Andin mendongakkan wajahnya melihat buku yang letaknya lumayan tinggi. Lebih tinggi dari tubuhnya. Dasar temen tega'an.


"Lo punya otak kan?" ucap Alya


"Punya lah!"


"Tuh ada kursi bisa buat Lo manjat o*on!"


"Ah iya, gue lupa!" Andin menepuk jidatnya.


"Ck, ck, ck." Maisya dan Alya menggelengkan kepalanya menatap wajah polos sahabatnya yang satu itu.


Andin mengambil kursi kayu yang tak jauh dari tempat ia berdiri, kemudian gadis itupun memanjat untuk mengambil buku. Dengan sangat hati-hati ia menaiki kursi dengan tangan standby memegang rak buku yang berdiri Kokok dihadapannya.


"Ini demi lo Maemunah, kalau bukan karena lo, gue ogah," gerutunya melihat kedua sahabatnya tengah bersantai ria dibawah sana sambil mendengarkan musik.


"Alah, sekali-kali bantuin gue," Maisya menjawab sambil membolak-balikkan buku pelajaran Fisika yang sedari tadi hanya menjadi pajangan.


"Tau nih! Baru sekali doang udah ngeluh lo," sambung Alya tanpa menatap sahabatnya yang sedang kesusahan.


Tanpa ketiganya sadari, seorang pemuda bertubuh tinggi menghampiri mereka.


"Hai, boleh ikutan gabung?" tanya pemuda yang baru saja tiba bersama temannya.


"Hai para ladies!" sapa temannya yang memakai headband di pergelangan tangan. Maisya dan Alya sontak menoleh kearah sumber suara.


Begitupun dengan Andin yang tengah mengambil buku. Namun karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya, tiba-tiba saja kursi yang di gunakan Andin bergoyang.


"Aaaaaaaaaaa," teriak Andin sambil memejamkan mata ketika tubuhnya limbung kebelakang.


"Andinnn!" teriak Maisya dan Alya bersamaan saat menyadari apa yang terjadi. Untuk sesaat jantung mereka terhenti melihat kejadian itu.


Namun setelah itu Maisya dan Alya tersenyum melihat pemandangan langka yang tengah mereka saksikan.

__ADS_1


Bugh!


Tubuhnya terjatuh di atas tubuh seseorang yang membungkuk dibawahnya.


"Kok empuk ya?" gumamnya lirih. Untuk sesaat ia merasakan ada yang berbeda.


'Tidak sakit.' Batinnya. Hingga suara seseorang menyapa Indra pendengarannya.


"Woy, cepetan bangun, pegel nih badan gue, Lo kira badan lo enteng apa!" ucap pemuda yang membungkuk sebagai penyangga tubuh gadis itu. Untung saja posisinya saat itu tidak terlalu jauh. Jika iya, maka akan dipastikan ada seseorang yang akan menangis tersedu-sedu.


"Cieeee, ada yang berpindah hati nih!" goda Onad, pemuda yang mengenakan headband kepada sahabatnya Leon.


"Woy! Cepetan. Buruan!" Ucap Leon kesal karena gadis itu tidak bergerak sama sekali. Iapun tak menanggapi ucapan dari sahabatnya yang terus menggoda.


Andin menggeleng, mengembalikan kesadarannya. "Ah, iya bentar," gadis itu berusaha untuk bangkit namun na'as, baru saja menggerakkan tubuhnya, tiba-tiba kursi itu oleng kembali dan membuatnya terjatuh.


Hup!


Dengan sigap Leon menangkap tubuh Andin yang hampir menyentuh lantai.


Tatapan mereka terkunci. Andin menatap wajah Leon begitu dekat dan begitu lekat. Begitupun dengan Leon, hingga suara seseorang menghentikan aksi mereka.


"Lo nggak papa Din?" tanya Alya tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Menyadari tatapan bara manusia yang ada di hadapan mereka, Andin langsung bangkit dari posisinya. Begitu juga dengan Leon. mereka saling memandang, setalah itu membuang muka secara bersamaan seakan-akan tidak terjadi apa-apa diantara mereka.


Tampak seperti direncanakan bukan!


Sontak saja akibat kelakuan konyol mereka suasana yang semula sepikini menjadi riuh gelak tawa dan candaan yang mereka tujukan untuk sepasang makhluk yang saling membenci meski tidak ada masalah serius yang harus di perdebatkan namun keduanya akan tetap berselisih paham.


Sementara itu Andin dan Leon, mereka tampak biasa saja dan merasa masa bodo dengan tragedi sesaat yang membuat mereka berada dalam posisi sekarang.


Cukup lama mereka dalam mode kebisingan, hingga suara dering ponsel dari saku Maisya menghentikan tawa mereka. Gadis itu merogoh sakunya melihat siapa yang meneleponnya.


"Kak Zi," gumamnya lirih.


"Siapa Sya?" tanya Leon.


"Kak Zifran. Tunggu ya gue mau angkat telepon dia dulu!" Maisya berjalan menjauh dari teman dan sahabatnya.

__ADS_1


"Eh, Al, si Mae ada hubungan apa sih sama anaknya pak Arya?" tanya Onad yang merasa penasaran dan ingin memastikan apakah benar dengan berita yang beredar disekolah mereka.


"Mana gue tau!"


"Lah elo kan temennya," Andin dan Leon hanya diam dan menyimak.


"Tanya aja sama orangnya, karena setau gue mereka cuma temen."


'Bukan hanya teman, tapi lebih dari sekedar itu' batin Leon. Ia kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu di rooftop sekolah.


Sampai detik ini kejadian itu masih berputar dalam otaknya. Bahkan membuatnya sempat mengabaikan gadis itu untuk beberapa hari.


"Gitu ya!" Onad menimbang perkataan Alya barusan. "Tapi kalau bener yang di bilang sama anak-anak kayaknya mereka cocok. Sorry, Yon, bukannya gue nggak dukung Lo, tapi kayaknya mustahil kalau Lo bersaing sama anaknya pak Arya. Jelas Lo kalah telak."


Emang sahabat sia*lan yang jatuhin sahabatnya sendiri didepan orang. Begitulah pikiran Leon saat ini.


"Sahabat Kepa*rat lo Nad. Bukannya prihatin sama gue, ini malah jatuhin gue. Sia*lan lo!"


"Yaelah, dia baperan," sambung Andin memperkeruh suasana.


"Kalian pada ngomongin apaan sih! Kedengaran tau nyampe sana, entar ketahuan petugas perpus abis kita." Ucap Maisya yang baru menyelesaikan panggilnya.


"Tau nih bocah. Ada masalah apa?" tanya Alya penasaran.


"Biasa. Yau udah yuk balik, percuma kita disini nggak bakal konsen juga belajarnya. Din, mana buku yang Lo ambil?" Maisya mengulurkan tangannya meminta buku itu.


"Nih. Gara-gara ini gue harus mandi kembang tujuh rupa. Ah, sial!" Andin memberikan yang buku yang Maisya inginkan.


"Emang apa hubungannya sama nih buku?! Eh Yon, ngapain Lo ada di perpus? Tumben banget?" tanya Maisya sambil membuka buku cetak kimia yang diberikan oleh Andin.


"Mau nyari buku fisika buat ulangan besok. Eh, nggak taunya ada kalian disini. Ya udah sekalian aja." Andin, Alya dan Onad tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing meninggalkan mereka berdua. Masih banyak tugas yang harus mereka selesaikan sebelum ujian semester ganjil tiba.


Maisya berjalan menyusuri rak buku untuk mencari buku yang ia inginkan. Jika ia meminta bantuan kepada kedua sahabatnya sudah pasti dibantuin kagak, kena omel iya. Begitulah mereka.


"Belum selesai?" tanya Leon mengikuti gadis itu dibelakangnya.


"Bentar lagi, kenapa?"


"Nggak ada. Anak-anak pada kemana?" Leon menelisik kesana-kemari mencari keberadaan teman-temannya.

__ADS_1


"Biarin aja, entar juga nongol. Yuk balik, gue udah dapet nih. Lo mau ikut atau mau tetep disini jagain nih perpus?"


Maisya berjalan terlebih dahulu meninggalkan Leon yang masih terdiam terpaku menatap kepergiannya. gadis itu menuju ke meja petugas perpustakaan untuk memberitahukan bahwa ia meminjam buku tersebut.


__ADS_2