Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Aku,kau Dan perasaanku


__ADS_3

"Kak, Stop, ngikutin gue!" ucap seorang gadis paras cantik kepada seseorang yang terus mengikuti dirinya.


"Nggak! Sebelum kamu mau maafin kakak." Pria itu terus berjalan mengikuti gadis tersebut.


Pemandangan di SMA Bunga Darma pagi ini terlihat begitu riuh setelah kehadiran siswi cantik yang menjadi idola di sekolahnya. Namun pandangan mereka bukan lah tertuju kepadanya, melainkan pada sosok yang berjalan mengekor dibelakangnya.


Merasa bodo amat karena di perhatikan, gadis itu terus berjalan tanpa memperdulikan mereka semua. Termasuk seseorang yang sedari tadi mengekor dan terus merengek kepadanya.


Jika mengingat kejadian tadi malam, sungguh, ingin rasanya Maisya melempar Zifran dari atas balkon kamarnya karena telah membuat dirinya sport jantung.


Akibat dari perbuatan mesum pria tersebut, hampir saja mereka ketahuan oleh sang Papa. Tentu saja itu akan berdampak fatal untuk dirinya. Tak ingin ambil resiko, Maisya mendorong tubuh Zifran membawanya keluar jendela lalu menutupnya.


Berbeda dengan Maisya. Sementara Zifran diluar sana ia terkekeh geli melihat raut wajah kekesalan dari wanita yang telah membuat hari dan hatinya kacau belakangan ini. Entah mengapa, setelah melihat wajah gadis itu tiba-tiba saja moodnya kini telah membaik. Terlebih lagi ia dapat melepas rindu walau hanya beberapa saat, dan itu mampu untuk mengobatinya rindunya.


Kembali ke inti.


Maisya terus berjalan melirik kesana-kemari mencari keberadaan kedua sahabatnya yang tak kunjung datang. Ia berharap agar segera terlepas dari pria yang menguntit dirinya


Srepp!


Maisya menghentikan langkahnya, menatap pria itu tajam. "Gue bilang berhenti ngikutin gue! Lo nggak malu dari tadi jadi pusat perhatian apa!" jengkel, kesal, itulah yang dirasakan oleh Maisya terhadap pria mesum super akut level kronis yang sejak tadi pagi mengganggu harinya.


"Kakak nggak bakal pergi sebelum kamu mau maafin kakak," ucap Zifran.


"Cie, ciee... ada yang lagi marahan nih sama pacar," goda beberapa siswa yang melintas di samping mereka.


"Aduh pak, patah hati saya," sambung siswi yang sedang menyaksikan.


Selain mereka, banyak pasang mata yang menyaksikan adegan keduanya.Tak jarang dari mereka saling beropini tentang hubungan yang terjalin diantara mereka.


"Wah hebat lo Sya! Kayaknya hari ini bakal jadi hari patah hati berjamaah nih!" celetuk pemuda tadi.


"Kenapa kalian pada ngumpul disini. Pergi sana! Gangguin acara orang aja." usir Zifran kepada siswa-siswi barusan.


"Yeee, si Bapak emosian. Calm down pak!" balas Siswa tadi.


"Da ah, gue mau cabut. Males gue lama-lama ada lo kak, bikin malu aja." Gadis itu pergi meninggalkan Zifran. Gadis itu memutar bola matanya jengah. Berjalan mengabaikan suara-suara yang membuatnya kesal.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara kalian. Kan tambah ngambek dia. Ishh!" Zifran menghentakkan kakinya, berlari menyusul Maisya.


***


"Muka Lo kenapa di tekuk sih Mae? Lo lagi ada masalah? Cerita sama kita!" ucap Alya. Ia melihat sahabatnya itu hanya mengaduk-aduk makanannya sedari tadi.


"Gue denger dari anak-anak soal hubungan lo sama Pak Zifran, lo bener udah jadian?!" saut Andin penasaran.


"Ya nggak lah! Gue sama dia tuh nggak ada apa-apa. Paham lo!" sewotnya.


Andin meletakkan sendok ke mangkuk mie ayam, "Santai dong, napa lo malah ngegas. PMS ya?"


"Lagian kalau emang bener gue setuju kok. Iya nggak Din?"


"Yo'i Al!" keduanya ber'tos'ria.


"Sia*lan lo!" Maisya menoyor kepala sahabatnya itu.


***


Tuk tuk tuk!


"Lagi galau pak?" Zifran menegakkan tubuhnya ketika seseorang masuk kedalam ruangannya.


"Elo! Ngapain lo disitu?" ucap Zifran lalu bangkit dari duduknya berjalan mendekati kearah sofa yang berada didalam ruangannya.


"Aelah, orang kalau lagi jatuh cinta bawaannya emosian mulu! nyantai dong....!" ledek Arlan sambil menyerahkan berkas kepada CEO-nya.


"Setan lo! Seneng lo ya kalau liat temennya menderita. Gue sumpah'in lo bakal lebih parah dari yaang gue alami."


"Tapi sayang itu nggak berlaku buat gue yang jomblo. Hahaha..." balas Arlan tertawa puas.


"Ar, lo pernah jatuh cinta nggak?" tanya Zifran mode serius.


Arlan menatap Zifran terheran-heran. Ada gerangan apa sang sahabat tumben-tumbenan tanya masalah se sensitif itu.


"Kenapa lo tanya masalah itu? Lo lagi jatuh cinta? Sama siapa?"

__ADS_1


"Udah lo nggak usah kepo! Jawab buruan!" desak sang atasan.


"Mmmm, pernah. Tapi udah lama banget!" jawabnya Arlan setelah menimbang jawabannya.


"Rasanya?"


"Sakit!"


"Sakit? Apanya?" tanya Zifran polos.


"Hati gue dodol!" sentaknya emosional dengan ucapan nyleneh CEO-nya


"Tapi kata orang jatuh cinta itu indah, dan menyenangkan. Kok lo bisa sakit?"


"Ini nih, kalau dari orok dapet otaknya second. Asal lo tau? Nggak semua kisah cinta itu bahagia. Bahagia cuma di awal, setelah itu hanya ada rasa sakit dan kekecewaan."


"Apa lo pernah ngalamin yang namanya patah hati?"


"Pernah! Bahkan rasa sakitnya sampai saat ini." Jelas Arlan. Ia memandang kosong. Pandangannya kembali menerawang ke masa lalunya. Dimana cintanya harus tersingkir oleh 'Tahta dan harta'. "Lo jatuh cinta ya sama Maisya?" sambungnya lagi.


Zifran menyandarkan di sofa, "entahlah! Tapi belakangan ini gue selalu kangen sama dia. Setiap gue liat senyumannya, rasanya hati gue itu damai. Disaat dia meluk pria lain hati gue rasanya sakit."


"Itu namanya lo suka sama tuh bocah."


"Hemmmm. Gue harap begitu."


"Terus apa yang bakal Lo lakuin buat dapetin dia?" tanya Arlan memainkan kedua alisnya naik-turun.


"Gue belum kepikiran sampai situ."


"Awas, jangan lama-lama, entar di sikat orang duluan nangis kejer lo."


'Itu nggak akan pernah terjadi. Dan gue nggak akan biarin siapapun buat dapetin apa yang udah jadi milik gue.' batin Zifran.


Zifran terdiam larut dalam pikirannya. Terdiam menganalisis hatinya yang mulai tertarik dan menginginkan gadis yang berstatus sebagai pelajar di sekolahnya miliknya.


Apakah ia mampu untuk mengenali cintanya? Apakah ini hanya sebuah rasa yang tak berarah?

__ADS_1


Entah mengapa hatinya seakan ragu akan diri dan cintanya. Jujur, ini merupakan perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Mencintai, ingin juga memiliki.


"Huuffffftt." Zifran mengelap nafasnya berat. Memandang kosong keluar jendela. Berharap rasa cintanya itu nyata untuk seseorang yang selalu membuatnya nyaman saat berada di dekatnya.


__ADS_2