
Setelah kejadian malam itu, dimana ia memberi lampu hijau atas hubungan Casandra dengan Papanya, Maisya semakin bersikap posesif pada Zifran. Meski ia sendiri telah melihat perubahan pada wanita yang sebentar lagi menjadi ibu tirinya. Tak ada lagi Casandra yang sexy dengan pakaian minim, hanya ada Casandra yang begitu anggun dengan pakaian sopan yang menutupi setiap lekuk tubuhnya.
Tangan Maisya pun tak lepas dari genggaman sang suami yang selalu berdiri siaga di sampingnya. Tak jauh dari mereka berdiri di sana ada Papa Bram dan Casandra. Ternyata mereka untuk serius sudah mendapat lampu hijau dari kedua orang tua Casa. Lalu Mama Sarah dan juga Papa Arya. Kemudian ada Leon dan....
"Andin!" pekik Maisya melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Tangan Leon memeluk pinggang Andin posesif. Bahkan pria itu begitu santai di hadapan kedua orang tuanya dan juga orang tua Andin.
"Apa mereka itu pacaran ya?" gumam Maisya, namun masih di dengar oleh Zifran.
"Siapa yang pacaran, Yang?"
"Itu!" Maisya menunjuk ke arah Leon dan Andin yang terhalang oleh orang-orang yang berlalu-lalang di sana.
Suasana malam ini tampak begitu berbeda di salah satu hotel milik perusahaan ternama di kotanya. Malam ini adalah malah yang begitu istimewa bagi sepasang pengantin baru yang tadi pagi melangsungkan pernikahan mereka. Yang dihadiri langsung oleh sang pemilik gedung dan beberapa pejabat yang di undang langsung olehnya.
Alya tampak begitu cantik dengan balutan gaun pengantin, berdiri di samping Arlan yang jiga terlihat tampan dengan tuxedo berwarna senada dengan yang di gunakan oleh Alya.
Keduanya tampak begitu bahagia menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Baik dari sesama rekan kerjanya maupun dari keluarga dan sanak saudara. Dan juga mahasiswa dari kampus tempat sang istri menimba ilmu.
Di sisi lain....
"Andin." Maisya menghampiri semua yang ada di sana "Mama, Papa. Hai, Om. Hai Tante." Maisya turut menyapa kedua mertuanya sekaligus orang tua Leon dan Andin secara bergantian.
"Hay, Sya. Loh... Tante kira kamu udah lahiran, ternyata belum ya?" Mana Andin mengusap perut Maisya berulangkali.
"Belum Tan."
"Memangnya sudah berapa bulan, sayang?" tanya Mamanya Leon yang turut bahagia melihat mantan calon menantunya itu sehat dan masih aktif meski kandungannya sudah semakin besar hingga membuatnya kesulitan untuk berjalan.
Wanita itupun melihat bahwa kaki Maisya terlihat membengkak karena efek kehamilan tersebut.
"Sebenernya sih udah bulannya sih, Jeng. Tapi HPL-nya masih lama. Ya kira-kira akhir bulan ini," jawab Mama Sarah begitu bersemangat. Ia melihat menantunya sambil tersenyum.
"Ya mudah-mudahan lancar sampai hari persalinan nanti ya. Dan ingat harus istirahat yang cukup agar nanti waktu mau lahiran kamu punya tenaga yang cukup."
Maisya mengangguk setelah mendengar apa yang baru saja di sampaikan oleh Mamanya Leon. Wanita itu melirik sekilas dengan ekor matanya melihat sang suami yang tengah berbincang dengan para Bapak-Bapak. Termasuk Leon juga ada di sana. Keduanya terlibat perbincangan serius hingga dirinya merasa penasaran, lalu mencoba untuk ikut bergabung bersama mereka.
"Ma, Tan, kami ke sana dulu ya? Ayo Din," ucap Maisya sambil menggandeng tangan sahabatnya itu secara paksa.
"Kita mau kemana sih, Mae?" Andin mulai was-was dengan situasi saat ini.
"Loh harus jelasin sama gue tentang hubungan Lo sama Leon."
'Kan.... sudah Andin duga jika si bumil itu kepo dan ingin mengintrogasi dirinya saat ini.
Mereka berjalan menjauhi dari mereka semua.
__ADS_1
"Cepetan jelasin sama gue!" tukas Maisya yang melipat kedua tangannya di dada.
"A...apa yang mau gu-gue jelasin, Sya. Gue bingung." Andin yang gelagapan dengan tatapan tajam Maisya, hanya bisa tersenyum canggung pada sahabatnya.
"Ya jelasin kenapa tadi Lo mesra banget sama si Leon? Gitu aja nggak ngerti!"
"Mmmm... gue..." Andin mengambil nafas dalam-dalam kemudian berkata, "gue pacaran sama Leon!" Sambil menutup mata rapat-rapat.
PLAK!!
*
*
"Si Andin sama Maisya kemana ya? Kok nggak keliatan," gumamnya. Mata Leon menelisik dimana tempat kedua wanita itu berada tadi.
"Ma, Maisya kemana?" tanya Zifran pada Mamanya yang tengah berbincang-bincang.
"Pergi ke sana tadi sama si Andin. Cepet susulin gih! Takutnya nanti dia kenapa-napa lagi."
Ucapan Mama Sarah langsung diangguki dan pria itu langsung berjalan kearah yang diberitahukan Mama Sarah tadi.
*
*
"Bu-bukan gitu, Mae. Gue belum siap aja kalau gue kasih tau elo, gue takut lo bully. Lo tau sendiri 'kan gimana dulunya gue sama Leon? Maafin gue ya? Dan satu lagi, bulan depan gue sama Leon bakal tunangan."
Maisya terbelalak mendengarnya sekaligus terkejut melihat cincin yang melingkar di tangan Andin.
"Alya tau soal ini?"
Srotttttt...
Maisya membuang ingusnnya, kemudian mengelapnya menggunakan ujung baju yang ia kenakan. Tak perduli jika dirinya menjadi pusat perhatian orang sekitar.
Belum sempat Andin menjawab, seseorang datang memanggil salah satu dari mereka.
"Sya!" panggil Zifran yang tak jauh dari sana.
"Ngapain kesini, kak?" tanya Maisya.
"Ya nyari kamu lah? Masa kakak nyariin Andin. Din, tuh di cariin sama Leon," ucap Zifran menunjuk dengan dagunya.
"Aku duluan ya, Mae." Maisya pun mengangguk. Setelah itu pergi meninggalkan sepasang suami istri itu.
"Kamu ngapain di sini? Kamu abis nangis ya? Kok mata kamu sembab gitu?"
__ADS_1
"Masa sih? Mungkin karena aku tadi makan ini makanya nangis. Cobain deh ini rasanya pedes banget, tapi enak. "
Maisya langsung memberikan Pring yang berisi sepotong ayam pedas itu kepada suaminya. Maisya pun bernapas lega karena terselamatkan oleh hidangan yang ada di samping tempatnya berdiri. Jadi, dia bisa menutupi kebohongannya pada Zifran dan tidak mau jika pria itu salah paham padanya.
Dengan lahap Zifran menyantap ayam pemberian istrinya dengan begitu lahap tanpa nasi sebagai pendampingnya. Meski terasa pedas, nama n Zifran sudah menghabiskan enam potong ayam.
*
*
*
Setelah para tamu undangan bergantian saling memberi dia dan ucapan selamat pada Arlan dan Alya turun dan sedikit berkurang, Zifran membawa Maisya untuk ikut dengannya naik keatas panggung dan di ikuti oleh Leon dan Andin yang berjalan di belakang mereka.
"Cie... cie.... Gimana tadi siang, Ar, enak nggak?" ucap Zifran yang langsung mendapat tatapan tajam dan sikutan pelan dari sang istri.
"Nggak usah didengerin, kak. Dia itu emang gitu yang ujung-ujungnya pasti mesum," ucapnya pada Arlan. Sebab ia tahu kemana arah pembicaraan suaminya saat ini.
Sedangkan Arlan tersenyum menanggapinya. Ia pun tahu bagaimana sifat pria itu. Apalagi pertanyaannya itu belum bisa ia jawab karena ia sendiri belum melakukannya.
"Selamat ya, kak. Semoga langgeng pernikahannya,." Leon mengulurkan tangannya memberi ucapan selamat.
"Terimakasih."
"Al, selamat ya?" lanjutnya pada Alya.
"Terimakasih. Kalian kapan nyusulnya?" tanya Alya tersenyum menggoda Andin."
"Masih lama-"
"Kalian bertiga emang tega sama gue. Bisa-bisanya kalian nggak ngasih tau soal ini. Lo lagi Yon. Awas Lo, gue ngambek!" sarkas Maisya memotong ucapan Andin.
"Fran, Lo kenapa?" bisik Arlan melihat gelagat aneh mantan bosnya itu.
"Jangan ngambek gitu dong, Mae. Maafin gue ya?" Leon berkata dengan nada memohon.
"Tau ahh, gue ngambek." Beberapa kali Maisya menghentakkan kakinya ke lantai.
Serrrr...
"Fran, Lo kenapa sih. Arlan mulai panik melihat Zifran blingsatan membungkuk memegangi pinggangnya yang tiba-tiba terasa panas dan perut bagian bawah terasa nyeri.
yang ada di sana juga ikutan panik termasuk Maisya. Wanita itu langsung mendekati Zifran yang tengah menahan sakit.
Namun perhatiannya teralihkan saat sesuatu mengalir dari kedua pahanya.
Mata Maisya melotot sempurna kala mengetahui ada cairan bening itu membasahi lantai.
__ADS_1
"Al, Din, kayaknya gue ngompol deh," ucap Maisya yang tak tau.