Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Dan Akhirnya


__ADS_3

"Gue mau..." ucap Leon sengaja menggantung.


"Gue mau Lo jadi saksi buat kita. Gimana? Lo mau 'kan?"


Gantian sekarang Zifran yang melongo seperti orang bodoh. Tanpa sadar Zifran menelan ludahnya begitu saja setelah mendengar keinginan konyol Leon yang memintanya menjadi saksi.


Ah... yang benar aja tuh anak. Itu sama aja nyiram garam di luka yang menganga.


"Yon..."


"Sssstt!!"


Leon mengedipkan matanya tersenyum saat Maisya memanggilnya lirih.


"Gimana? Lo mau 'kan?" tanya Leon lagi karena sebelumnya tak mendapat jawaban dari Zifran.


Zifran menghela nafasnya berat, lalu mengangguk. Toh dia sudah janji 'kan di awal? Sebagai pria sejati tentu tidak akan mengingkari janjinya.


Setelah mendapat persetujuan dari Zifran, Akhirnya Leon mengandeng Maisya berjalan terlebih dahulu baru diikuti Zifran yang berjalan di belakang mereka.


Leon tersenyum sambil memegangi tangan Maisya yang berada di atas tangannya


Semua para tamu undangan memperhatikan mereka dan saling berbisik satu sama lain yang membuat rasa tidak nyaman untuk Maisya. Sedangkan, Zifran hanya merasa masa bodo dan jengah dengan sekitar mereka.


Sesampainya di tempat yang mereka tuju, di hadapan seseorang yang akan menikah dia, Leon melepaskan tangan Maisya, lalu melirik Zifran yang tersenyum kecut ke arahnya.


Dengan raut wajah tak terbaca, Leon menarik tangan Zifran, agar mantan Casanova itu maju sedikit lebih dekat dengan Maisya.


"Apaan sih, pake tarik-tarik segala? Gue masih normal ya?" omel Zifran berdiri di samping Maisya yang tadi sempat hampir menabrak pot berisi bunga.


"Nggak usah banyak bacot!" sentak Leon.


Aksi Keduanya tak lepas dari tatapan para tamu undangan dan juga pria paruh baya yang ada di depan mereka. Pria berusia 50 tahun yang akan menikah Leon dan Maisya pun hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Zifran dan Leon yang saling adu argumen hingga suara Maisya menginterupsi keduanya untuk diam. Dan tentu keduanya langsung diam saat itu juga.


"Sudah bisa dimulai acaranya?" tanya Pak Yusman melirik Leon dan Zifran bergantian.


"Sudah Pak. Silahkan di lanjutkan," jawab Leon mantap sambil melirik Zifran yang tampak biasa-biasa saja.


Suasana di dalam ballroom hotel itupun seketika hening saat pria bernama Yusman menyampaikan kata wejangan untuk Leon dan Maisya sebelum membina kehidupan baru mereka. Dan setelah itu di lanjutkan dengan Papa Bram yang turut menyampaikan sesuatu pada putrinya hingga membuat Maisya menangis sesenggukan dan di akhiri dengan pengucapan ikrar suci pernikahan.


Namun sebelum itu, Leon melepaskan tangan Maisya dari pegangannya, kemudian menggeser tubuh beberapa senti menjauhi Maisya membuat semua orang yang ada di sana terbengong dan bingung dengan sikap yang ditunjukkan Leon pada saat itu, termasuk Maisya dan Zifran yang sama bingungnya kala Leon tersenyum menatap mereka berdua.


Sebuah senyum ketulusan yang terpancar dari wajahnya pria tersebut.


"Silahkan dilanjutkan, Pak. Tapi, bukan saya yang akan menikahi Maisya. Dia," ucap Leon saat Pak Yusman menyebutkan namanya sembari menunjuk ke arah Zifran.


"Dia yang akan menikah dengan sahabat saya," lanjutnya.


Zifran dan Maisya melongo tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Bagi keduanya itu terdengar seperti lelucon yang sering mereka lihat di televisi maupun media sosial.

__ADS_1


Seperti seseorang yang sedang ngeprank. Begitulah menurut Zifran dan Maisya.


"Lo apaan sih Yon?! Ini nggak lucu," sahut Zifran.


"Gue tau, mungkin tindakan gue ini semacam lelucon buat kalian. Tapi, gue ikhlas dan bener-bener rela ngelepasin Maisya buat Lo, Fran. Dari Lo, gue banyak belajar tentang mengikhlaskan orang yang kita sayangi untuk bahagia itu nggak mudah. Dan Lo lakuin itu untuk Maisya. Meskipun gue tau kalau Maisya nggak pernah bahagia sama gue. Lo tau..."


Leon berjalan menghampiri Zifran dan berdiri dihadapannya. "Selama tiga tahun ini gue berusaha untuk bikin Maisya bahagia sama gue, tapi apa? Kebahagiaan dan cintanya itu cuma Lo. Terus gue bisa apa? Gue nggak sanggup liat dia yang pura-pura bahagia sama gue."


Mendengar itu mata Maisya mulai berkaca-kaca dan ia menggelengkan kepala beberapa kali memberi isyarat pada Leon untuk menghentikan ucapannya.


Maisya akui ini adalah kesalahannya. Ia sadar bahwa dirinya tidak bisa melupakan pria itu meski sudah tiga tahun lamanya. Semakin ia coba untuk melupakan, cinta itu semakin kuat mengikatnya membuat Maisya hatinya dilema. Antara melupakan atau mempertahankan yang sudah berakhir.


"Lo mau 'kan gantiin posisi gue?" tanya Leon lirih.


"Sorry, gue nggak bisa. Walaupun gue cinta banget sama Maisya, gue nggak bisa terima permintaan konyol Lo ini. Dan Lo nggak bisa nyimpulin gitu aja tentang perasaan seseorang. Coba Lo pikir, kalau memang Maisya nggak bahagia sama lo ngapain dia ada di posisi sekarang. Lo punya otak 'kan? seharusnya Lo bisa mikir sampai situ dan nggak ngelakuin hal-hal konyol kayak gini."


"Justru karena gue kenal Maisya makanya gue tau. Enam tahun. Enam tahun gue barengan sama Maisya, jadi gue tau semua sikap dan tatapan dia waktu sama gue. Gue ini nggak lebih dianggap sebagai sahabatnya aja," ungkap Leon.


Setelah kejadian di rumah sakit, dirinya yang hendak masuk ke dalam ruangan Zifran, namun diurungkannya saat mendengar percakapan antara Arlan dengan Papa Arya. Di tambah lagi obrolan Mama Sarah dan Maisya yang membuat hatinya menghangat menyadari perasaan Maisya padanya hanya sebatas sahabat.


"Tapi gue nggak mau jadi orang ketiga diantara kalian. Maaf, gue nggak bisa."


Zifran hendak melangkah, namun dihentikan oleh Leon.


"Justru gue yang jadi orang ketiga dalam hubungan kalian. Maisya itu cinta banget sama Lo. Dan Lo juga 'kan? Jadi plisss... jangan bikin gue paling egois yang menginginkan Maisya. Dia berhak bahagia dan orang yang bisa bikin dia bahagia itu cuma elo, Fran. Jadi izinkan gue buat lepas dari belenggu ini dengan Lo menikah sama Maisya. Gue nggak pa-pa. Gue malah bahagia kalau Lo sama dia."


Ucapan Leon membuat semua orang yang ada di dalam ballroom mengusap sudut mata mereka yang berair karena terharu atas keputusan Leon yang menurut mereka adalah seorang pria gantle yang mau menerima kekalahan atas permainan cinta yang memang tak pernah berpihak padanya.


Maisya tak menyangka ternyata Leon benar-benar tidak main-main dengan ucapannya. Dan itu membuat Maisya menangis memeluk Leon hingga sesenggukan. Dengan tegar, Leon mengusap punggung Maisya, berusaha untuk menenangkan wanita itu agar tidak menangisi dirinya. Dan Leon pun meminta pada Maisya untuk kembali pada cintanya karena pernikahan ini memang sudah ia siapkan untuk mereka berdua tanpa sepengetahuan Zifran dan Maisya.


Satu lagi. Tanpa sepengetahuan Maisya, Leon lah yang mengundang Zifran untuk hadir ke pernikahan mereka. Karena sebelumnya mereka sepakat untuk tidak mengundang pria itu.


Masih dalam dekapan pria bertubuh jangkung itu, suara tangis Maisya berhenti dan di gantikan oleh suara lirih yang hanya bisa didengar oleh Leon saja.


"Terimakasih banyak untuk semuanya. Terimakasih untuk cinta dan perhatian kamu selama ini. Dan aku minta maaf karena udah bikin kamu kecewa" ucap Maisya.


"It's okay baby. Aku bahagia asal kamu bahagia." Leon melepaskan pelukan mereka.


Ia mengambil saputangan di saku jas, kemudian menghapus air mata Maisya yang mengalir deras.


'Untung makeup-nya waterproof, jadi nggak khawatir kalau bakalan luntur," batin Maisya tersenyum membalas senyuman dari Leon.


Suara riuh tepuk tangan memenuhi ballroom hotel siang ini, karena Leon telah berhasil menyatukan kembali dua insan yang saling mencintai. Tak hanya para tamu saja yang dibuatnya takjub, tapi kedua orang tuan dan kakaknya pun turut bangga padanya. Meskipun di awal sempat tak terima, namun setelah mendengar penuturan Leon, kedua orang tua mengerti bagaimana perasaan putra mereka dan mereka tidak mau jika terjadi sesuatu dikemudian hari.


Suasana yang tadinya haru kini perlahan mulai menghangat saat Leon dan Zifran kembali terlihat drama pernikahan yang belum usai.


"Bangsatt! Rupanya Lo ngejebak gue sialan!" umpat Zifran setelah menyadari situasi yang terjadi. Ternya inilah sebabnya Leon mengundang dirinya.


"Hehehe... sorry. Tapi Lo suka 'kan sama surprise dari gue. Ya anggap aja ini sebagai permintaan maaf gue yang dulu-dulu," balas Leon sambil cengengesan. "Udah tuh. Udah ditunggu dari tadi juga," lanjutnya.

__ADS_1


"Iya-iya tapi-"di


"Tapi muka Lo nggak usah tegang juga kali kayak kanebo," ejek Leon melihat ketegangan dari Zifran.


"Sialan Lo! Ini semua gara-gara Lo. Ini pernikahan pertama gue, apalagi dadakan dan gue nggak punya persiapan apapun. Untung gue ganteng, jadi nggak perlu diapa-apain lagi!" sarkas Zifran.


Leon memutar, bola matanya jengah.


Maisya langsung terkekeh melihat tingkah keduanya.


*


*


*


Malam harinya, di hotel mewah yang sama. Dengan balutan gaun yang terbuka di bagian bahu (sabrina) berwarna krem, sedangkan Zifran mengenakan tuxedo berwarna hitam kemeja putih dengan dasi kupu-kupu membuatnya semakin terlihat tampan saat bersanding dengan Maisya yang tak kalah cantiknya malam ini tengah menyalami para tamu undangan yang hadir untuk memberi ucapan selamat pada mereka berdua.


Tak hanya para tamu, ternyata dalam barisan tamu yang mengantri terselip beberapa orang yang begitu berarti dalam kehidupan Keduanya.


Arlan yang menggandeng tangan Alya di susul Leon dan di belakang bersama Andin menghampiri sepasang pengantin yang tengah berbahagia. Mereka semua tampak begitu bahagia melihat sang Casanova akhirnya mampu ditaklukan oleh gadis SMA yang kini berusia 20 tahun. Cukup muda jika dibandingkan dengan umur Zifran yang sekarang berusia 28 tahun.


Raut kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya saat para sahabat meledek mereka dengan pertanyaan aneh dan nyeleneh yang langsung membuat Maisya tersipu malu. Dan itu sontak membuat mereka semua tertawa lepas.


Setelah dilanjutkan dengan sesi pemotretan. Kedua keluarga inti untuk foto bersama. Begitupula dengan para sahabatnya yang turut berfoto dengan tingkah kocak mereka.


Posisi tengah ada Zifran dan Maisya. Di sisi kiri Maisya ada Andin dan Leon yang mengulurkan tangan membentuk finger heart.


Dan si sebelah kanan Zifran ada Alya dan Arlan yang mengangkat salah satu tangan mereka, keduanya membentuk love.


Sementara Zifran, tanpa ragu dan mau langsung mencium bibir wanita yang kini menjadi istrinya.


Sontak saja itu mengundang sorak-sorai dan tepuk tangan yang meriah. Bahkan sampai ada yang berteriak histeris karena ulah keduanya.


End


*


*


*


*


*


Tapi bohong!


🤭🤭🤭🤭

__ADS_1


Nih author kasih cast Zifran dan Maisya yang lagi berbahagia.



__ADS_2