Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Kenyataan pahit


__ADS_3

"Gu-gue...," ucap wanita itu terbata-bata.


"Cepetan!" bentak Zifran.


"Gu-gue... hamil, Fran."


Jederrr!!!


Bagai tersambar petir di siang hari, tubuh Zifran terpaku setelah mendengar perkataan yang dilontarkan oleh wanita itu pada dirinya. Suasana mall yang ramai seakan sepi, senyap bagai terbius ketegangan yang terjadi diantara mereka.


Kerja otak tidak mampu sejalan ketika napas mulai memburu seiring darah mengalir tanpa hambatan. Degup jantung pun seolah terhenti seiring hembusan napas yang terasa berat.


Mimpi? Tidak! Ini adalah Kenyataan bahwa wanita itu hadir di hadapannya. Berulang kali Zifran meyakinkan diri untuk mencerna baik-baik perkataan yang baru ia dengar, rasa itu hanya sebuah lelucon yang menggelikan untuk dirinya.


"Hahaha... Lo bohong 'kan? Semua itu nggak bener. Lo pasti ngejebak gue, Mel," tawa kecut Zifran terdengar begitu nyaring hingga membuat Amel sedikit tersentak.


"Gue nggak bohong, Fran. Gue serius," jawab Amel yakin membuat tawa Zifran mendadak berhenti.


Tak hanya sampai di situ, Zifran mendekati, kemudian menatap mata, Amel berusaha mencari kejujuran dari wanita yang ada di hadapannya. Cengkraman, Zifran membuat wanita itu kesulitan bernafas. "Bilang sama gue kalau semua itu nggak bener dan cuma akal-akalan Lo aja yang pengen bales dendam sama gue. Ngomong, Mel!" bentak pria itu.


Amel menggeleng menahan tangis saat kuku Zifran menancap di kulit lehernya. "Bener, Fran, gu-gue nggak bo... hong. Gu-gue hamil a-anak Lo. Ukhuk... ukhuk." Amel terbatuk-batuk saat Zifran melepas cengkraman tangannya.


Zifran mengacak rambutnya frustasi tak tahu apa yang harus dia lakukan dengan semua ini.


Menarik napas dalam-dalam, kemudian menatap Zifran lekat. "Gue berani sumpah kalau anak yang ada di dalam rahim gue ini anak Lo, Fran. Lo inget 'kan kejadian beberapa bulan lalu, makanya gue balik nyariin elo buat ngasih tau ini. Dan gue pengen lo tanggung-jawab."


"Tapi gue nggak ngerasa ngelakuin itu sama Lo, elak Zifran.


"Saat itu Lo mabuk dan dalam pengaruh obat perangsang. Gue nggak bisa nyembunyiin ini lebih lama lagi karena perut gue semakin hari bakal semakin gede, Fran."


Mata Zifran tertuju pada bagian tubuh Amel yang sedikit menonjol karena pergerakan tangan wanita itu terus-menerus mengelus perutnya yang terlihat membuncit.


Kemudian menghela napas berat, seberat kenyataan yang ada di hadapannya saat ini. Matanya melirik kesana-kemari berharap tak ada satu yang mengetahui kejadian itu.


"Kalau itu emang bener anak gue, gue minta sama lo gugurin dia. Gue nggak mau punya anak sama cewek ****** kayak elo. Gue punya kehidupan lain dan orang yang paling gue sayang. Lo butuh duit? Berapa? Gue bakal kasih Lo duit yang Lo mau. Tapi dengan syarat, Lo harus gugurin anak itu sekarang," ucap Zifran dengan menahan emosi, tak memperdulikan konsekuensi yang ia lakukan setelahnya.


Plak!


"Selain bajingan, Lo itu brengsek, Fran! Lo tega mau bunuh darah daging Lo sendiri?!" maki Amel menampar pipi Zifran sekuat yang ia mampu.


"Lo itu manusia nggak punya hati!"


"Iya, gue manusia yang nggak punya hati. Yang bakal ngelakuin apapun yang bikin hubungan gue sama Maisya hancur, termasuk Lo sekalipun!"

__ADS_1


"Tapi Lo nggak bisa buang gue gitu aja setelah apa yang Lo lakuin malam itu."


"Bukan gue, tapi elo yang ngejebak gue!" sahut Zifran dengan cepat. Tak perduli di mana posisi mereka saat ini.


"Sekarang lo gugurin anak itu dan pergi jauh-jauh dari


Denger ini baik-baik. Sampai kapanpun gue nggak bakal bunuh anak gue sendiri! Dan gue pastiin Lo akan menyesal setelah ini!" ancam Amel menunjuk wajah Zifran.


"Terserah, gue nggak peduli! Yang penting, Lo jangan ganggu kehidupan gue! Kalau sampai itu terjadi, gue nggak segan-segan buat ngebunuh Lo berdua. Camkan itu!"


Zifran langsung berlari meninggalkan Amel sendiri di lorong sepi tak ada satupun yang ada di sana. Dalam tangis, Amel mengusap perutnya yang semakin lama akan semakin membesar.


"Lo nggak bisa lari dari tanggung-jawab Lo, Fran. Dan gue bakal ngelakui apapun supaya Lo ngakuin dia sebagai anak Lo, darah daging Lo sendiri."


Sementara di tempat lain.


Sudah hampir setengah jam Maisya menunggu di tempatnya. Melirik kesana kemari mencari keberadaan Zifran yang tidak kunjung datang.


Padahal dia hanya berpamitan untuk ke toilet sebentar. Tapi kenapa lama sekali? Pikir Maisya yang bosan menunggu.


Tak berselang lama suara seseorang menyadarkannya dari lamunan sesaat. "Sya," sapa orang itu.


"Kak Arlan."


"Tadi katanya ke toilet sebentar, tapi udah hampir setengah jam dia nggak balik-balik. Apa dia ketiduran di sana ya?" jawab Maisya mulai berpikir.


"Udah Lo telepon?" tanya Alya yang juga ada di sana.


"Nggak. Lagian dia cuma pamit ke toilet, ngapain gue teleponin segala, kayak orang selingkuh aja kemana-mana harus di telepon terus-terusan."


"Ya nggak gitu juga, Maemunah," cibir Alya. "Eh, Lo liat si, Andin nggak?" tanyanya pada Maisya. Gadis itu menggeleng cepat.


"Udah siap Lo belanjanya?" tanya Maisya gantian.


"Udah. Tapi setelah itu gue sama Andin misah, gue nggak tau dia kemana."


"Oh... ," balas Maisya ber'oh'ria.


"Sebaiknya kalian tunggu di sini, aku jemput Zifran dulu takutnya tuh anak ketiduran di sana. Lagian nggak mungkin juga kalau Maisya masuk ke toilet cowok," ucap Arlan sebelum pergi.


"Kayaknya nggak usah deh, kak. Tuh kak, Zifran udah datang." Tanpa sengaja Maisya menangkap sosok yang sedari tadi ia tunggu. Menunjuk ke arah Zifran yang berjalan dengan raut wajah tak terbaca.


"Kak Zi, panggil Maisya menghampiri kekasihnya. "Kok lama banget ke toiletnya?" tanya Maisya yang tak tau apa-apa.

__ADS_1


"Ayo pulang," ucap Zifran membuat dahi Maisya berkerut.


"Lo kenapa kok tiba-tiba ngajakin balik? Bukannya Lo mau ngasih kejutan ke gue?"


'Justru kakak yang dapet kejutan, Sya. Maafin kakak,' batin Zifran meringis, memaki dirinya yang tidak bisa menjaga kepercayaan Maisya. Dan membuat gadis itu harus merasakan kembali kekecewaan yang telah dia perbuat.


Bahkan dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Maisya jika mengetahui kelakuannya di belakang gadis itu meski bukan atas kemauan darinya.


Sambil berjalan, Zifran meninggalkan Maisya yang menatap bingung tentang perubahan pria itu karena pikirannya sedang kacau saat ini. Dan panggilan Maisya pun tidak dihiraukannya.


"Dia kenapa, Sya? Kayak orang lagi tertekan. Atau... dia ke sambet setan toilet ya?" Sedari tadi Arlan memperhatikan gerak-gerik Zifran yang tampak berbeda. Bukan hanya dia saja yang merasakan, mungkin Maisya juga mengetahui.


"Entahlah. Gue susulin dia dulu, kak. Al, gue duluan ya."


"Aku titip dia, Sya. Kayaknya tuh orang lagi nggak baik-baik aja," ucap Arlan yang paham betul tentang Zifran.


*


*


*


"Kak, Zi. Lo kenapa sih dari tadi diem terus? Gue ada salah sama Lo?" tanya Maisya yang tidak ditanggapi oleh Zifran yang selalu fokus pada arah tujuannya.


,Selama dalam perjalanan, Zifran tidak banyak bicara. Pria itu diam seribu bahasa dengan segala pemikiran yang terus terlintas tentang kejadian tadi membuat Maisya selalu bertanya-tanya apa yang terjadi pada Zifran saat ini hingga pria itu mendiamkan dirinya begitu saja.


"Kak, lo denger gue ngomong nggak sih. Semenjak lo keluar abis dari toilet sikap Lo berubah aneh banget. Lo diemin gue tanpa sebab, apa gue ada sama lo?" Untuk kesekian kalinya Maisya berusaha membuka pembicaraan diantara mereka hingga Zifran melambatkan laju mobilnya setelah memasuki pekarangan rumah.


"Sudah sampai. Buruan masuk, abis itu istirahat. Maaf kakak nggak mampir karena mau balik ke kantor," perintah Zifran pada Maisya.


"Gue nggak mau turun sebelum Lo jawab pertanyaan gue, kak."


"Kamu nggak usah khawatir, kakak baik-baik aja. Sekarang masuk sana, mungkin Papa udah nungguin anak gadisnya."


"Kakak minta maaf kalau hari ini semuanya jago kacau. Next time, kita bakal jalan-jalan lagi. Udah sama masuk."


"Oke, gue bakal masuk. Tapi Lo bener-bener nggak kenapa-napa 'kan? Kalau ada apa-apa cerita sama gue," ujar Maisya sedikit khawatir.


Pria itu menggeleng dengan senyuman indah yang terpaksa, berharap Maisya tidak mengetahui tentang kebohongannya ini.


"Kalau gitu gue masuk dulu. Muach... ," ucap Maisya memberikan ciuman singkat di bibir Zifran tanpa balas apapun dari pria tersebut.


'Apa setelah kamu mengetahui semuanya sikap kamu akan tetap seperti ini, Sya. Maafin kakak yang nggak bisa jaga cinta kamu,' batin Zifran melihat kepergian Maisya dari mobilnya.

__ADS_1


Setelah itu Zifran meninggalkan rumah Maisya dengan seribu penyesalan dihatinya. Penyesalan yang tidak akan mungkin bisa mengubah keada yang telah terjadi untuk hari ini, esok dan selamanya.


__ADS_2