
Setelah mendapat restu atas cintanya, kini hubungan Zifran dengan Maisya terlihat begitu bahagia. Begitupun hubungan pria itu dengan Papa Bram perlahan mulai membaik. Ya, meskipun sedikit drama diantara mereka berdua jika berhubungan dengan Maisya. Sifat keduanya tak pernah berubah, selalu ada perdebatan yang terjadi setelahnya.
Selama beberapa hari menemani sang kekasih di rumah sakit, akhirnya Maisya kembali ke Jakarta untuk mempersiapkan diri sebelum menghadapi ujian yang akan dimulai beberapa hari ke depan. Maka dari itu Maisya harus banyak berkutat dengan buku-buku nantinya.
Suasana SMA Bunga Darma beberapa hari terakhir menjadi riuh akibat berita yang beredar diluar sana yang memuat tentang kejadian yang Maisya alami beberapa hari lalu. Banyak dari mereka yang merasa iri akan posisi Maisya yang begitu dicintai oleh orang yang mereka idolakan.
Tak hanya itu, kini sebagian siswi SMA Bunga Darma menjadikan Maisya sebagai bahan ghibahan mereka yang tak menyukainya karena melihat idolanya di perlukan seperti itu oleh h Papanya Maisya. Mengetahui itu, Maisya bersikap masa bodo dengan mereka. Dari pada mengurus perkataan mereka, lebih baik ia fokus dalam menuntut ilmu. Mungkin itu lebih menguntungkan baginya.
Seperti saat ini, Maisya dan kedua sahabatnya duduk di taman belakang sekolah sejak jam istirahat dimulai. Ketiganya duduk hanya beralaskan rumput hijau yang telah dipotong pendek oleh orang yang bertugas sebagai pembersih sekolah.
Maisya memilih tempat itu sekedar menikmati suasana sunyi sekaligus menghindar dari interogasi teman-temannya yang penasaran tentang kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu.
Sambil memegang buku paket, ketiganya kompak mempelajari pelajaran yang selalu menjadi musuh mereka. Diselingi dengan tawa, canda antara mereka, tangan Alya dengan jahilnya merebut buku yang dipegang oleh Maisya. Maisya yang tak terima langsung memberikan tatapan tajam dan membunuh ke arah Alya, kemudian ia merebut kembali bukunya.
"Awas lo ya, gue nggak mau bantuin Lo buat ngedeketin kak Arlan lagi." Nada ancaman terdengar dari bibir Maisya yang kini bersungut-sungut saat meraih buku dari tangan Alya yang tidak bisa ia gapai.
"Gue nggak takut, kan ada Pak Zifran yang bantuin gue." Alya bangkit, lalu bersembunyi dibalik tubuh Andin.
"Udah kenapa sih, jangan pada kayak anak kecil malu tau diliatin sama yang lain. Sini'in bukunya." Andin merebut buku itu dari tangan Alya, kemudian ia kembalikan ke Maisya.
"Lo kapan balik ke Bandung untuk jenguk Pak Zifran?" tanya Andin membiarkan sahabatnya, Alya menggerutu akan dirinya yang selalu berpihak pada Maisya dan mengabaikannya.
"Lo bukan sahabat gue ya Din?" Gadis cantik berambut pendek sebahu itu memutar bola matanya jengah dengan ucapan lebay Alya.
"Mungkin lusa gue bakal ke sana. Kenapa, lo mau ikut?" tanya Maisya
"Gue ikut dong!" saut Alya.
__ADS_1
"Nggak ada yang ngajak Lo!" ucap Maisya dan Andin.
Alya mencebik kesal kepada kedua sahabatnya yang durhaka itu. Ingin rasanya ia mengutuk mereka menjadi batu seperti marlin kondang yang pernah ia tonton dulu.
Kini perhatian ketiganya teralihkan setelah mendengar suara derap langkah dari seseorang yang yang diyakini mengarah ke arah mereka.
Tap tap tap tap.
Seorang pemuda berwajah tampan menghampiri mereka bertiga. Tanpa basa-basi pemuda itu langsung duduk dan ikut bergabung. Pemuda itu tersenyum untuk menutupi hatinya yang rapuh, menganggap bahwa semuanya baik-baik saja dihadapan seseorang yang menjadi cintanya.
"Nggak ke kantin?" tanya Maisya sambil menggeser posisinya agar pemuda itu mendapatkan tempatnya. Kini mereka berempat duduk melingkar di bawah pohon rindang yang melindungi mereka dari sengatan sinar matahari di siang hari.
"Nggak. lagi males gue. Oiya, kalian besok ada waktu nggak?"
"Emangnya kenapa?" jawab Andin dengan pertanyaan.
Ketiganya tampak berpikir sejenak. "Oke!" jawab mereka kompak.
"Tapi lo siapin camilan yang banyak ya, soalnya gue nggak bisa kalau belajar nggak ada makanan otak gue kayak mati rasa gitu. Ya nggak Sya?" cerocos Alya sambil menyenggol lengan Maisya.
"Iya, kayak hati lo yang udah mati rasa hanya ada kak Arlan seorang." Maisya langsung menyahut ucapan Alya.
"Jadi Lo pacaran sama ajudannya si Bambang?"
****
"Gimana, apa polisi udah nemuin siapa yang mau nyelakain cewek gue? Karena gue yakin, pasti mobil itu emang sengaja mau nabrak dia."
__ADS_1
"Lo tenang aja, sekarang polisi lagi nyelidikin kasus ini. Soalnya mereka bilang mobil yang nabrak Lo bukan berasal dari kota ini dilihat dari plat mobil yang dipake," balas Arlan.
Setelah kejadian itu, Arlan langsung menyelidiki kecelakaan yang dialami sahabatnya. Iapun meyakini bahwa ini bukan murni kecelakaan, melainkan di sengaja oleh seseorang yang tidak diketahui.
Dan kecelakaan yang menimpa Zifran, putra tunggal sekaligus pewaris perusahaan ZA group menjadi trending topik di media massa. Baik cetak maupun elektronik.
Banyak dari mereka juga memberitakan tentang sosok wanita yang saat itu bersamanya. Wanita yang berhasil mengalihkan segala atensi mereka mengenai hubungan yang terjalin diantara keduanya.
Ya, mereka telah beranggapan bahwa wanita yang bersama dengan CEO dari ZA group itu adalah kekasihnya. Sebab mereka tau bagaimana seorang Zifran selalu memandang rendah dan mempermainkan wanita, namun semua itu seakan berubah kala berhadapan dengan wanita yang mereka lihat.
Terlebih lagi saat sebuah rekaman video yang tersebar dari akun media seseorang yang memperlihatkan Zifran begitu melindungi wanitanya. Maka dari itu kini media juga memburu berita yang memuat tentangmereka berdua.
"Gue mau sekarang lo bungkam semua media yang memuat berita gue soal kecelakaan kemaren. Apalagi soal Maisya, gue nggak mau kejadian kayak kemarin terulang lagi. Lo paham 'kan maksud gue?" ucap Zifran memperingatkan Arlan.
"Gue pastiin besok berita itu nggak akan muncul lagi di media manapun.Lo nggak usah khawatir." Arlan mengambil ponselnya, lalu mencari nomor seseorang untuk ia hubungi.
Zifran membenarkan posisinya agar lebih nyaman. "Thanks banget ya. Ternyata lo itu emang sahabat yang bisa di andelin."
"Ahh, baru sadar lo ternyata kalau gue emang yang terbaik. Dari dulu kemana aja Lo. Apa karena kepala lo abis kepentok makanya Lo baru sadar, ah sudah kuduga!" ucap Arlan dengan santainya. Sedangkan dihadapannya seseorang tengah menahan emosi karena ucapannya barusan.
"Emang sahabat luknat lo, Ar."
Pluk!
Zifran melempar anggur yang ada di atas nakas di samping brankar ke arah Arlan, namun lemparannya meleset setelah mendengar suara handle pintu yang diputar seseorang dari luar. Keduanya menatap bersamaan ke arah sepasang suami-istri yang menghampiri mereka.
"Sia*lan nih bocah, dalam keadaan sakit pun masih bisa nganiaya gue." Arlan bergumam lirih dan langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Zifran.
__ADS_1
Kemudian Zifran menatap orang tuanya kembali. "Bagaimana, apa aku boleh pulang sekarang?"