
Di warung kaki lima, Zifran dan Arlan tengah menikmati semangkuk mie ayam yang terletak tidak jauh dari kantor ZA grup.
Sesekali Arlan memperhatikan Zifran yang begitu lahap menyantap mie dengan wajah memerah, berlinang air mata dan keringat yang membasahi wajah tampannya. Ia menggeleng tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang, sebab ini adalah pemandangan yang amat jarang yang pernah ia lihat.
Bagaimana bisa Zifran yang ia kenal bisa tahan dengan rasa pedas yang menurutnya itu amat sangat pedas. Dengan lima sendok makan cabai plus saus yang dituangkan kedalam mangkuk, Zifran sanggup menahan dan hampir menghabiskan mie ayam dengan dua porsi sekaligus?
Ck... ck... ck... apa nggak sakit perut tuh orang ya? Pikir Arlan.
Ternyata bukan hanya Arlan saja yang merasa ngeri dan takut jika terjadi sesuatu pada Zifran. Sang penjual dan beberapa orang yang ada di sana pun merasa khawatir jika tiba-tiba Zifran sakit perut karena sambal yang digunakan adalah cabai setan yang terkenal pedas dan bisa bikin perut mules.
"Mas, perutnya baik-baik aja 'kan? Itu sambelnya pedes banget loh? Entar kalau Mas-nya mules, saya nggak tanggung-jawab ya?"
"Tenang aja, Pak. Ini nggak terlalu pedes kok," jawab Zifran yang tetap mengabaikan peringatan dari si penjual dan terus memakannya.
"Ar, to...long ambilkan minum. hu...ha...hu...ha," perintah Zifran yang menahan pedas sampai iapun mengipas wajahnya menggunakan tangan.
"Katanya nggak pedes, tapi tuh muka kok merah? " cibir Arlan, namun tetap memberikan air minum pada Zifran dan langsung di tenggak hingga tandas.
"Lo aneh Fran. Sejak kapan Lo suka makan pedes? Setau gue Lo kalau makan beginian pasti langsung ke toilet?"
Arlan meletakkan sumpit ke mangkuk. Perutnya terasa kenyang sendiri melihat Zifran yang begitu lahap.
"Entahlah. Gue juga bingung," sahut Zifran sambil mengunyah. "Tiba-tiba aja gue pengen banget makan mie ayam di pinggir jalan. Udah buruan dihabisi setelah ini kita balik lagi ke kanto," lanjutnya menikmati mie ayam tersebut.
Belum lama Zifran selesai, tiba-tiba saja ponselnya berdering memperlihatkan nama sang Papa dalam mode panggilan.
"Siapa?" tanya Arlan ingin tahu.
"Tunggu bentar, Bokap nelpon."
Zifran pun menekan tombol ikon hijau.
"Halo, Pa."
"Kamu dimana? Cepet ke rumah sakit sekarang!" tegas Papa Arya di balik sambungan telepon.
"Aku... lagi... makan, Pa."
Beberapa kali Zifran meneguk air minum hingga tandas.
"Memangnya siapa yang sakit? Mama, Papa atau Zean?" tanyanya lagi.
"Udah cepetan datang sekarang. Istri kamu lagi di rumah sakit ini."
"Maisya! Maisya kena...."
Tut... Tut..
__ADS_1
"Ar, Lo bayarin dulu, gue mau ke rumah sakit. Istri gue masuk rumah sakit."
Zifran beranjak dari tempatnya setelah panggilan telepon di tutup sepihak oleh Papa Arya. Pria itu terlihat panik sampai meninggalkan Arlan di warung mie ayam sendirian dan harus membayar apa yang telah ia makan.
Saat ini pikirannya begitu panik mendengar Maisya masuk rumah sakit. Padahal tadi pagi dia terlihat baik-baik saja. Segala pemikiran buruk pun terlintas dalam benak Zifran sampai-sampai pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat beberapa pengendara lain mengumpat aksi gilanya yang berkendara di jalanan raya yang lumayan ramai.
Hanya butuh waktu 30 menit, mobil yang dikemudikan Zifran memasuki halaman parkir rumah sakit.
Pria itu langsung bergegas memasuki bangunan berlantai enam itu.
"Sus, pasien atas nama Maisya Indira ada di ruang mana ya?" tanya Zifran panik .
"Tunggu sebentar, pak, saya akan memeriksanya terlebih dulu," ucap perawat yang ada di meja resepsionis. Lalu memeriksa buku daftar pasien yang baru datang.
"Oh, ibu Maisya ya? Beliau ada di ruangan Dokter Agni. Bapak lurus aja, terus belok kiri. Nah, ruangannya paling ujung."
"Terimakasih, Sus."
Zifran langsung bergegas menyusuri koridor rumah sakit. Matanya melirik satu persatu ruangan yang ia lewati begitu saja.
Sementara di tempat Maisya saat ini, Papa Arya yang sama paniknya belum mengerti tentang apa yang terjadi pada menantunya. Setelah kepulangan, belum juga masuk dirinya sudah dikejutkan oleh sang istri yang tiba-tiba memintanya untuk mengantar Maisya ke rumah sakit. Pria itu terus mondar-mandir di depan ruang Dokter Agni sambil menunggu Zifran yang belum datang juga.
Hingga suara derap langkah mengalihkan atensinya, melihat siapa yang datang.
"Kenapa lama sekali? Ayo masuk!"
"Di mana Maisya sekarang, Pa? Dia baik-baik aja 'kan?" tanya Zifran beruntun.
Ternyata kedua pria itu belum menyadari di mana mereka saat ini.
Dokter Agni muncul dari balik tirai, langsung meminta Zifran untuk masuk dan bergabung bersamanya di sana.
"Pak Zifran, silahkan masuk. Dari tadi ibu Maisya susah menunggu anda," ucap Dokter Agni.
Dengan gugup dan gemetar, Zifran berusaha kuat dan tenang jika sesuatu terjadi pada istrinya.
"Kak," panggil Maisya tersenyum.
"Maisya kenapa, Ma?" tanya Zifran.
Mama Sarah mengusap punggung putranya. "Dia baik-baik aja. Sekarang kamu temani dia, Mama mau menemui Papamu dulu. Kasihan dia, seperti dia syok."
"Kamu kenapa, hem? Perasaan tadi pagi baik-baik aja?" Zifran mengusap pucuk kepala Maisya berulang kali dan mendaratkan ciuman singkat di sana.
Maisya menggeleng. "Aku nggak sakit kok," jawabnya tersenyum yang membuat Zifran tampak bingung.
Zifran berbalik menghadap Dokter Agni dan meminta jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi pada istri, saya, Dok?"
Dokter Agni pun jadi ikut tersenyum. "Anda tidak perlu khawatir, Pak, istri anda baik-baik saja."
"Lalu kenapa istri, saya berada di sini?"
"Jadi begini... sebenernya ibu Maisya datang ke sini itu untuk memastikan sesuatu. Dan setelah saya memeriksanya, ternyata istri Bapak tengah mengandung. Dan menurut perkiraan saya, sekarang usia kandungan Ibu Maisya telah memasuki 5 minggu. Selamat, pak atas kehamilan istri pak Zifran."
Zifran terdiam sesaat sambil menatap Maisya yang tersenyum, mengangguk seakan membenarkan ucapan dari Dokter Agni.
Tanpa malu akan keberadaan Dokter Agni, Zifran mendaratkan bibirnya, menyapu seluruh wajah Maisya dengan air mata bahagia mengetahui bahwa istrinya sedang hamil. Karena inilah yang mereka tunggu selama dua bulan ini.
"Terimakasih, sayang."
*
*
*
Setelah selesai melakukan USG, Zifran dan Maisya langsung pulang ke rumah mereka. Begitupun dengan Mama Sarah dan juga Papa Arya yang harus kembali ke rumah utama untuk melihat Zean yang mereka tinggal dengan satpam karena tidak mungkin mereka bawa ke rumah sakit.
Zifran membawa Maisya kedalam kamar mereka, kemudian membaringkannya di atas tempat tidur.
Maisya mendengus kesal karena sikap Zifran yang terlalu berlebihan menurutnya. Padahal dirinya itu masih sehat dan bukan orang yang penyakitan yang harus berbaring di tempat tidur.
Maisya menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang melihat Zifran yang mulai merangkak menghampiri dirinya. Menjatuhkan di pangkuan sang istri. Tangannya terus bergerak mengusap, mengelus dan tak lupa ciuman kecil Zifran berikan di perut Maisya yang masih terlihat rata.
"Kakak masih nggak percaya tau kalau sebentar lagi kita bakal punya bayi, Sya? Kakak sampai speechless loh, waktu Dokter itu bilang kalau kamu lagi hamil."
"Tapi sekarang kakak percayakan setelah liat sendiri tadi?" Zifran mengangguk dengan senyum yang tertahan.
"Tapi anak kita kok kayaknya kecebong ya, Sya?" celetuk Zifran yang tadi melihat bagaimana bentuk anaknya yang masih berusia 5 minggu.
Mendengar cibiran dari suaminya, tak segan-segan Maisya menyentil mulut Zifran yang membuat pria itu meringis kesakitan.
Pletak!
"Rasain! Jadi orang mulutnya kok jahat banget. Masak anak sendiri kok dibilang kayak kecebong," omel Maisya.
"Sakit, Yang. Kamu tega bener ih." Mengusap bibirnya yang terasa panas akibat sentilan maut dari Maisya.
"Biarin! Bodo amat!"
Maisya menggeser kepala Zifran agar menjauh. Kemudian Maisya beranjak dari tempatnya meninggalkan Zifran yang melongo dengan sikap istrinya yang tiba-tiba berubah.
"Sadis amat. Untung cinta," ucap Zifran meraba bibirnya lagi.
__ADS_1