Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Chef dadakan


__ADS_3

Setelah selesai dengan urusannya, Zifran dan Arlan kembali lagi ke kantor untuk menyelesaikan kembali tugas mereka yang sempat terbengkalai karena perintah mutlak dari sang sepuh untuk menghadiri rapat para Donatur, yaitu papa Arya.


Setibanya di kantor mereka berdua masuk kedalam ruangan mereka masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang remuk redam akibat kejadian yang menimpa diri mereka karena ulah kedua bocah SMA yang tanpa sengaja menabrak mereka.


Sementara di tempat lain.


"What!!" pekik Alya terkejut.


"Serius lo Sya! Nggak bohong kan? Oh my God, Al, tolongin gue, gue mau pingsan, Al."


Dengan sigap Alya memegang tangan Andin agar ia tak terjengkang kebelakang. Sungguh berita yang baru saja mereka dengar membuat aliran darah mereka seakan terhenti saat itu juga kala mengetahui fakta bahwa orang yang selama ini di bicarakan sahabatnya adalah anak dari pemilik SMA Bunga Darma. Tempat mereka menimba ilmu.


'Oh TIDAK!!!' batin keduanya


"Nggak usah lebay lo berdua, gue biasa aja tuh."


"Sarap kali nih anak!" ucap Andin.


"Mati rasa kali nih orang gara-gara belum bisa move on!" timpal Alya.


****


Langit yang indah kebiruan kini berubah menjadi berwarna oranye menandakan sang senja mulai menyapa dunia dengan keindahannya.


Di bawah langit senja Maisya menikmati waktu luangnya dari atas balkon kamarnya sambil memetik senar gitar kesayangannya dengan menyanyikan lagu band favoritnya Drive 'Bersama Bintang'.


...Senja kini berganti malam,...


...Menutup hati yang lelah....


...Dimanakah engkau berada...


...Aku tak tahu dimana....


...pernah kita lalui semua,...


...Jerit tangis canda tawa...


...Kini hanya untaian kata,...


...Hanya itulah yang aku punya....


...Tidurlah selamat malam...


...Lupakan sajalah aku...


...Mimpi lah dalam tidurmu...


...Bersama bintang....


...Sesungguhnya aku tak bisa...


...Jalani waktu tanpamu...

__ADS_1


...Perpisahan bukanlah duka...


...Meski harus menyisakan luka....


...🎶🎶🎶...


Lirik demi lirik Maisya menyanyikan lagu tersebut dengan sepenuh hati, sampai-sampai tanpa terasa air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata kini perlahan mulai luruh membasahi kedua pipinya.


Perlahan Maisya memejamkan mata mencoba meresapi setiap penggalan lagu yang ia bawakan terasa seperti kisah cintanya yang telah usai beberapa waktu lalu. Maisya membuka matanya lalu menghapus sisa jejak air mata yang masih membekas diwajahnya.


Apakah ini suatu kebetulan?


Tak lama kemudian terdengar suara dering ponsel yang tak jauh darinya. Melihat nama pemanggilnya Maisya langsung mengangkat telepon tersebut.


"Selamat malem om, ada yang bisa saya banting?" ucapnya sambil tersenyum tipis.


"Noh, lo banting aja noh pintu kamar lo, cil," balas Zifran.


"Besok lo ada rencana nggak?" sambungnya.


"Nggak. Emang kenapa?" tanya Maisya.


"Besok gue jemput lo jam delapan, nyokap gue pengen ketemu lo."


"Gitu ya, oke!"


Sementara di seberang sana.


"Bagaimana, dia mau?" tanya seorang wanita paruh baya sangat antusias.


****


Di kediaman keluarga Samudera.


"Om, ini gimana cara masaknya?" Maisya menyodorkan panci yang berisi beras didalamnya.


"Ya mana gue tau!" ucap Zifran ngegas.


"Ck, terus ini gimana dong gue nggak tau cara masak bubur kayak gimana?!"


"Apa lagi gue. Tapi, tunggu-tunggu, coba buka Mbak gogel kita liat caranya gimana," ucap Zifran memberikan solusi.


"Tumben otak lo bener, om."


Zifran yang berada tidak jauh dari Maisya menatap gadis itu dengan wajah kesalnya. "Ck, dasar bocil luknat."


Maisya yang menyadari itu tertawa puas, "Wleek!" kemudian ia menjulurkan lidahnya mengejek Zifran.


Maisya mengambil ponselnya, lalu mencari aplikasi yang ia butuhkan. Setelah itu ia mencari tutorial cara membuat bubur. Maisya pun mulai melakukan step by step sesuai dengan arahan yang tertera di layar ponselnya.


Terlihat jelas dapur yang awal bersih kini tampak seperti kapal pecah, semua peralatan yang ada di dapur sudah tidak lagi pada tempatnya.


Sedari tadi Maisya berusaha untuk membuat bubur tapi selalu saja gagal. Ternyata adanya mbak gogel tak bisa membantunya sama sekali.

__ADS_1


Disisi lain Zifran sedang tertawa cekikikan melihat wajah frustasi Maisya yang hampir menangis karena permintaan Mamanya.


Merasa tak tega Zifran mendekat ke arah Maisya, "Ambilkan panci yang lain, ini udah gosong nggak bisa dipake lagi." Gadis itu berjalan mengambil yang diminta oleh Zifran.


"Nih, emang om bisa masak?" Maisya memberikan pancinya.


"Gue bakal belajar, enggak kayak lo baru segitu aja udah nyerah."


Zifran mulai mencuci berasnya, kemungkinan ia meletakkan panci tersebut di atas kompor yang sudah menyala.


Selagi menunggu buburnya matang, Zifran menyiapkan beberapa bahan yang ia gunakan sebagai pendampingnya.


'Bubur aja punya pendamping, masak gue kalah sih.' celetuknya dalam hati.


Tak butuh waktu berjam-jam akhirnya bubur yang mereka tunggu sedari tadi sudah matang. Zifran menuangkan bubur itu perlahan kedalam mangkuknya. Kemudian ia menaburkan bawang goreng dan potongan daun bawang, tak lupa ia berikan potongan daging ayam dan telur sebagai pelengkap.


"Tadaaaa!! Hasil masakan dari chef Zifran sudah jadi!"


Maisya yang melihat itupun semakin mendekati Zifran, "Wahhhhh, sama persis sama yang di yuyutup! Hebat lo Om!" ucapnya sambil memberikan jempol kepada Zifran.


***


"Enak Ma?" tanya Zifran.


Mamah Sarah mengangguk. "Siapa yang membuatnya?"


"Tuh si bo-, Maisya!" Zifran meralat cepat perkataannya.


Selama Zifran dan Maisya berada dalam lingkungan Samudera, mau tak mau keduanya harus merubah panggilan mereka masing-masing agar tak ada orang yang curiga kepada mereka.


Mama Sarah bergantian memandang kearah Maisya, lalu tangannya terulur membelai Surai panjangnya. "Hanya saja kurang sedikit garam, tapi Tante makasih banyak lo udah mau buatin Tante bubur."


"Sama-sama Tan."


Setelah beberapa tahun semenjak kepergian sang Mama, kini hati Maisya kembali merasakan kehangatan seorang ibu melalui seorang wanita yang kini ada dihadapannya.


Setetes cairan bening jatuh menghiasi pipinya. Dengan gerakan cepat Maisya menghapus jejak air mata itu dari tempatnya.


Zifran dan Mama Sarah yang melihat yang dilakukan oleh Maisya saling bertanya dalam hati mereka.


"Kenapa menangis Nak?" tanya Mama Sarah penasaran.


"Nggak ada kok Tan, Maisya cuma keinget aja sama Mama." Maisya menampilkan senyum yang dipaksakan.


"Emang Mama kamu kemana?"


"Mamaku udah lama meninggal Tan, sekitar 7 tahun yang lalu."


Mendengarkan hal itu membuat jiwa keibuan Mama Sarah muncul kembali setelah beberapa tahun bermeditasi.


Wanita paruh baya itu mendekap tubuh Maisya, memberikan usapan lembut di punggungnya. "Kalau kamu tidak keberatan, kamu bisa menganggap Tante seperti Mama kamu sendiri," Terlihat ketulusan yang terpatri jelas diwajahnya.


Maisya tersenyum haru mendengarkan ucapan dari wanita yang ada dihadapannya. "Terimakasih Tante."

__ADS_1


Zifran yang melihat pemandangan yang ada dihadapannya tanpa sadar ia menarik garis bibirnya membentuk lengkungan indah bagi siapa saja yang menatap.


__ADS_2