
Sampai tengah malam Daddy tidak bisa tidur, dia terus saja membolak-balikan badannya sehingga mommy pun terganggu tidurnya.
Dengan mata terpejam mommy melengkungkan senyuman, dia tau kalau suaminya bingung memikirkan anaknya.
Daddy pun bangun dan menuju kamar Chelsea, dia melihat Chelsea tidur meringkuk dengan mata yang basah. Dia pun tidak tega melihat anaknya seperti ini.
"Maafkan Daddy yang telah egois sayang, tapi keyakinan adalah dasar kita. Mana mungkin Daddy membiarkanmu memeluk agama lain," kata Daddy
Chelsea yang hanya pura-pura semakin terisak lalu Daddy pun membangunkannya dan memeluknya.
"Tapi Chelsea mencintainya dad," ucap Chelsea lirih
Mommy yang melihat suaminya keluar pun menyusul di kamar Chelsea.
"Kenapa kamu menyiksa anakmu dad, pikirkanlah perasaan. Agama memang penting tapi dia ingin mengikuti lelakinya, sama seperti Chris yang mengikuti istrinya." Mommy mencoba memberi pengertian pada Daddy.
Daddy pun melepas pelukannya dan kembali lagi ke kamar.
"Sabar Chelsea, sekeras-kerasnya batu kalau sering dihantam ombak pasti akan berlubang," hibur mommy.
Chelsea mengangguk dan rebahan kembali, mommy pun kembali ke kamarnya. Dia geleng-geleng kepala dengan watak suaminya yang sekeras batu.
Di sisi lain Daniel pun galau kembali, pikirannya selalu ke Chelsea. Dia pun sangat merindukan kekasihnya tersebut.
"Sayang, apa yang kamu lakukan di sana?" Daniel bermonolog dengan dirinya sendiri
__ADS_1
Pikirannya kacau kembali, karena tidak mau terlarut dalam pikirannya dia mencoba tidur.
Daniel pun bermimpi bertemu Chelsea nampak Chelsea murung dan memandangnya seolah tak ingin berpisah dengannya.
Daniel pun terbangun, jam menunjukan pukul enam pagi. Dia segera mandi dan bersiap untuk menyusul Chelsea ke New York.
Jeff yang melihat Daniel bersiap pun bertanya, anda mau kemana pak?"
"New York," jawab Daniel singkat
"Ngapain boz?" tanyanya lagi
"Sarapan setelah itu aku kembali lagi kesini," jawab Daniel
"Sungguh aku ingin membunuhmu Jeff, sudah jangan bertanya apa pun padaku, kalau kamu mau ikut segera bersiap," kata Daniel dengan nada tinggi
Jeff pun segera bersiap namun Daniel malah meninggalkannya. Saat Jeff sudah keluar dia tidak mendapati Daniel.
"Brengsek, dia menipuku," umpatnya
Sedangkan art yang tidak sengaja melihat percakapan mereka pun tertawa.
"Apa tertawa, ingin aku pecat!" bentak Jeff
Art pun menunduk namun dalam hatinya dia tertawa terpingkal-pingkal.
__ADS_1
Tak selang lama Daniel sudah sampai di bandara, dia segera mengambil penerbangan pagi untuk ke New York.
Kali ini dia akan pasrah jika kembali tanpa Chelsea yang penting dia sudah berusaha semampunya untuk mendapatkan cintanya namun jika Chelsea bukan jodohnya dia pun akan pasrah.
Lima jam dalam burung besi, kini sampailah di bandara di kota New York. Daniel segera memesan Taxi dan segera menuju rumah Chelsea.
Pagi ini Chelsea duduk di ruang tamu dengan Daddy dan juga mommy, mereka pun membahas masalah Chelsea kembali.
"Chelsea sudahlah lupakan lelaki muslim itu, carilah lelaki yang memiliki keyakinan sama dengan kita." Daddy mencoba membujuk Chelsea
"Daddy bisa bilang seperti itu karena Daddy tidak merasakan apa yang Chelsea rasakan, cinta tidak bisa dipaksa dad, cintanya Chelsea hanya untuk Daniel." Chelsea mencoba meyakinkan daddy nya
"Baiklah jika Daniel bisa disini saat ini dan meyakinkan Daddy kalau dia mencintaimu akan Daddy pertimbangkan," kata Daddy dengan tersenyum
Chelsea pun membolakan matanya mana mungkin Daniel kesini saat ini juga, mungkin sekarang dia berada di Washington bekerja.
"Mana bisa seperti itu Dad," kata Chelsea tak percaya kalau daddy nya bisa selicik itu
Daniel yang sudah sampai pun tak sengaja mendengar kata-kata Daddy, dia pun menyahut
"Im in here Dad,"
Semua pun menoleh ke arah Daniel, Chelsea sungguh tidak menyangka kalau Daniel berada di depannya saat ini.
"Pak Daniel," teriak Chelsea
__ADS_1