
Setelah kepergian Zifran ke kantor, Maisya pun pergi meninggalkan kediaman mereka menuju ke tempat mertuanya yang jaraknya hanya berselang satu blok saja dan itu hanya memakan waktu sekitar 10 menit jika mengendarai mobil.
Sesampainya di sana, ia sudah di sambut oleh Zean yang berdiri di pintu utama sambil berteriak memanggil namanya. Kedua tangan Zean langsung terbuka sepertinya bocah itu minta digendong oleh Maisya.
"Zean kangen nggak sama Aunty Maisya?" tanya Maisya yang diangguki Zean.
Maisya mencium pipi Zean dan langsung menggendongnya.
Mereka masuk kedalam rumah yang terlihat sepi seperti tak ada penghuni di sana. Maisya celingukan kesana-kemari mencari keberadaan Mama mertuanya. Selama mereka pindah rumah, ini ke tiga kalinya ia menginjakkan kaki di rumah itu setelah beberapa tahun tinggal di negeri orang.
"Oma dimana, Zean?"
Zean tak menjawab karena sedang asik dengan mainan miliknya.
Langka Maisya pun terhenti saat seseorang menyapa dirinya. Wanita paruh baya itu tersenyum menyambut kedatangan menantu keluarga Samudera.
"Eh... menantu Mama sudah datang?"
Dengan langkah anggun, Mama Sarah menghampiri Maisya yang masih berada dilantai bawah.
"Sudah dari tadi, Nak?"
"Belum, Ma. Baru aja nyampek," jawab Maisya. "Oiya, jam berapa Mama sama Papa pergi?" lanjutnya.
"Entah Papamu itu. Katanya pergi pagi, tapi malah keluar, udah jam segini belum juga balik. Entah kemana orang tua satu itu," omel Mama Sarah yang sejak tadi menunggu sang suaminya yang pergi tanpa pamit.
*
*
*
"Kamu kemana aja sih, jam segini baru datang? Apa kamu ingin membuat malu perusahaan kita dengan kelakuan kamu seperti ini, hem?"
Pertanyaan beruntun dari Papa Arya yang begitu pusing dengan kelakuan putranya yang tidak bisa diandalkan. Ia pikir setelah menikah putranya itu akan berubah, tapi perkiraannya itu salah. Malah justru bertambah parah karena setelah meeting selesai Zifran baru saja tiba di kantor ZA grup.
"Ya maaf, Pa. Namanya juga kena macet ya mau gimana lagi coba. Lagi pula kan ada Papa, jadi semuanya pasti aman dan terkendali. Bener 'kan? Pastinya iya dong. Hehehehe," sahut Zifran sambil cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aman, Aman. Aman endas mu itu! Kalau Arlan nggak cepat hubungi Papa, mungkin saat ini kita akan kehilangan uang milyaran karena ulah ceroboh kamu. Sudah tau ada meeting kok malah santai di rumah," sentak Papa Arya yang mendaratkan pukulan di kepala Zifran.
__ADS_1
Pria itu meringis kesakitan dan berulangkali mengusap tengkuknya yang terasa memanas.
"Sakit?" Zifran mengangguk. "Makanya jangan diulangi terus," omel Papa Arya.
"Papa mau kemana?" tanya Zifran yang melihat Papa Arya bangkit dari duduknya.
"Ya pulanglah. Gara-gara kamu, Papa pergi sampai nggak pamitan sama Mamamu. Kamu tau sendiri kan gimana Mamamu kalau nggak ada Papa? Bisa-bisa dia bakal ngomel terus 7 hari 7 tujuh malam nggak kelar-kelar dan itu berdampak buruk bagi kesejahteraan si Joni."
Papa Arya pun bangkit dan merapikan jas-nya kembali. Namun sebelum melangkah pergi, Papa Arya mengeluarkan selembar kertas dari saku jas, laku memberikannya pada Zifran.
"Sebaiknya kau cuti dan fokuslah membuat penerus keluarga Samudera. Papa yakin, selama ini kalian belum melalukan honeymoon karena pekerjaanmu yang menumpuk. Pergi dan ajaklah Maisya untuk menikmati waktu luang kalian bersama. Ambil ini, Papa sudah menyiapkannya jauh-jauh hari."
*
*
*
"Bagaimana hubungan kalian setelah menikah? Baik-baik aja 'kan?"
"Baik dong Ma. Tapi yang buat aku nggak abis pikir itu sama sifat kak Zifran yang kayak anak kecil. Manjanya itu loh, kok melebihi Zean. Ya ampun... kalau Mama liat, pasti Mama nggak percaya sama anak Mama satu itu. Ck... ck... ck... ," adu Maisya yang menceritakan kelakuan Zifran selama ini.
"Hahaha... kalau itu Mama sudah tidak kaget lagi, Sya. Suamimu itu memang manja dari orok."
"Iya kah? Ah... pantas aja."
Sesekali Maisya melirik ke arah Zean dan memastikan bocah itu tidak mendekati kolam berenang, karena saat ini mereka sedang berada di samping rumah yang langsung disuguhkan dengan gazebo dan taman dan juga kolam renang.
"Sya," panggil Mama Sarah yang sejak tadi memperhatikan Maisya.
"Iya, Ma."
"Kamu sakit ya? Dari tadi Mama perhatiin kok muka kamu pucat? Kamu baik-baik aja 'kan?" Terlihat raut kekhawatiran dari wajah Mama Sarah.
Maisya mengangguk cepat. "Masa sih ma? Tapi aku sehat kok." Maisya meraba kening, dan wajahnya secara bergantian.
"Tapi wajah kamu pucat, Nak? Atau jangan-jangan..." Mama Sarah menggantungkan ucapannya karena masih belum yakin dengan dugaan yang ia miliki.
*
__ADS_1
*
*
"Aman boss?" tanya Arlan yang masuk keruangan Zifran setelah melihat Papa Arya keluar dari tempat itu. Ia tau pasti boss-nya itu diceramahi habis-habisan oleh Papanya.
"Aman endas mu!" hardik Zifran yang menirukan ucapan Papa tadi. "Sekretaris macam apa Lo yang nggak bisa nangani hal kecil kayak gitu. Malu-maluin gue aja sampai bawa-bawa bokap gue segala. Dasar sekretaris makan gaji buta Lo!" sarkas Zifran.
"Sorry, boss. Tapi ini keadaannya gawat dan tidak bisa seenaknya aja. Dari jauh-jauh hari gue udah bilang kalau ada klien kita dari Australia, dan itu sangat berpengaruh buat perusahaan. Dan gue juga udah ngingetin elo jangan sampai datang kayak biasanya, dan elo manggut-manggut aja, sialan! Sekarang udah jadwalnya, Lo malah keasikan gempur bini Lo. Dan sekarang Lo malah nyalahin gue? Lo bener-bener sarap, Fran. Kayaknya Lo harus cek ulang deh ke rumah sakit, siapa tau otak lo geser?"
Arlan meringis kesakitan mengusap juga meniup jari tangannya yang diketuk mug keramik yang ada di meja oleh Zifran.
"Yang ada Lo yang sarap, anjir! Awas Lo minggir!"
Zifran yang sudah berdiri menggeser paksa kaki Arlan yang menghalangi jalannya.
"Lo mau kemana? Kerjaan Lo belum siap, Fran,"
"Bodo amat! Perut gue tiba-tiba laper, gue mau cari makanan dulu! Lo kalau mau ikut ya ayo, kalau nggak yang nggak pa-pa."
Perkataan ketus Zifran diabaikan oleh Arlan, dan pria itu tak ingin menyia-nyiakan makan gratis yang pasti akan diabdapat dari sahabatnya itu.
"Ya ayolah. Hihihi... makan gratis." Arlan terkekeh dengan pemikirannya sendiri.
*
*
*
"Bagaimana hasilnya, Sya? Positif atau tidak?" tanya Mama Sarah penasaran dan langsung menanyakan hal itu setelah Maisya keluar dari kamar mandi.
"Em... a... anu, Ma. Em... itu," jawab Maisya gugup sambil memilih ujung baju yang ia kenakan. Terlihat jelas raut wajahnya yang tampak ragu untuk memperlihatkan hasilnya.
Melihat itu, Mama Sarah membawa Maisya duduk di tepi ranjang yang ada di kamar Zifran dan Maisya. Wanita itu memeluk menantunya, memberikan rasa nyaman yang saat ini Maisya butuhkan.
"Maafin, Mama ya? Karena Mama udah terlalu berharap banyak, jadi membuat kamu seperti ini. Tidak apa-apa jika hasilnya negatif. Toh usia pernikahan kamu dan Zifran baru 2 bulan. Kamu tau? Dulu Mama sama Papa itu jugasama kayak kamu gini. Bahkan setelah 3 tahun menikah, kami baru dikaruniai seorang putra yaitu Zifran. Jadi, kamu jangan bersedih ya? Masih ada hari esok, hem?"
Maisya mengangguk tersenyum mendengarnya. Ia kira Mama Sarah akan marah dan merasa kecewa padanya. Namun tidak, ia justru merengkuh, memberikan semangat kepadanya.
__ADS_1
Lalu Maisya mengeluarkan tangan kanan yang sedari tadi ia sembunyikan di dalam kaos yang ia kenakan, kemudian memperlihatkan sesuatu kepada Mama Sarah.