
Bugh!
Maisya yang baru keluar langsung meninju wajah pria yang sudah memberi luka pada kekasihnya.
Tak segan-segan wanita itu melukai pria yang notabenenya memiliki tenaga cukup untuk melukai dirinya. Maisya berdiri melipat kedua tangannya di atas dadanya melihat lawannya sempoyongan.
Sementara itu, Zifran memperbaiki posisi, memandang sosok wanita yang berdiri memunggunginya.
"Apa yang kalian pengen dari gue?" tanya Maisya menatap tajam kedua pria yang tidak ia kenal.
"Serahin diri Lo dan ikut bareng kita," ucap pria berbadan kurus.
"Oke. Gue bakal ikut kalian, asal lo bisa ngalahin gue, tapi satu lawan satu. Ka-"
"Dua lawan satu. Maju kalian, lawan gue!" sambung Zifran cepat. Pria itu menghampiri Maisya dan menyembunyikan Maisya di belakang tubuhnya. "Kakak nggak akan biarin kamu kenapa-napa, apalagi sampai terluka. Mending kamu masuk mobil gih!"
"Tapi, kak-" ucapan Maisya kembali terpotong.
"Nggak ada bantahan, sayang."
"Tapi Lo yakin bisa ngadepin mereka semua," ucap gadis itu meragukan. Setau dia kekasihnya itu tidak memiliki kemampuan untuk bertarung. Justru ia yang takut kalau kekasihnya itu kenapa-napa.
Sedangkan salah satu pria yang kira-kira berumur 30 tahun itu mulai geram mendengar celotehan dari keduanya, ia langsung melayangkan tinju kearah Zifran sambil berkata, "alah banyak omong kalian. Ayo kita hajar, Kring!" ajaknya kepada pria kurus bernama Cungkring.
Tanpa ba bi bu keduanya kompak mengarahkan tangannya kearah Zifran.
Bugh!
Sebuah bogem mentah mendarat terlebih dahulu ke wajah pria yang berbadan gempal tersebut. Dengan kecepatan kilat Zifran mampu membaca pergerakan lawannya.
Dengan rasa sakit yang ia rasakan, pria itu mengusap darah darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Sementara pria yang berbadan kurus hanya bisa memukul angin tanpa melikai Zifran.
Sedangkan Maisya, gadis itu berdiri didepan mobil sembari menyaksikan pertarungan yang terjadi antara kekasihnya dengan dua pria yang tak mereka kenal sebelumnya.
Terjadilah aksi saling baku hantam antara Zifran dengan mereka yang tidak di kenal.
Bugh!
Krek!
Zifran menekuk kakinya, mengarahkannya tepat di perut pria bertubuh kurus dan Zifran pun tak segan-segan memelintir tangan pria itu kebelakang hingga terdengar bunyi seperti tulang yang retak.
Dengan gerakan cepat Zifran memutar tubuhnya, menendang pria yang satunya.
__ADS_1
Brak!
Tubuh pria itu terpental beberapa meter hingga menabrak body mobil miliknya sendiri. Zifran yang memang mempunyai basic bertarung tentu dengan mudah mengalahkan mereka.
"Si-sialan lo. Mending lo se-serahin tuh cewek biar kerjaan kamu cepet kelar." Bisa-bisanya pria itu berkata demikian di saat tubuhnya terasa remuk redam akibat tendangan yang pria yang kini menghampirinya.
Dengan mengabaikan rasa sakit di lututnya, Zifran berjalan tertatih. "Apa maksud lo? Apa yang nyuruh kalian?" Zifran mencengkram baju pria tersebut. "Cepet jawab!" bentaknya.
"Bu-bukan urusan lo." Pria itu menyeringai memberitahu Zifran untuk menoleh ke belakang.
"Sya," panggilannya saat melihat sang kekasih berada dalam dekapan pria yang memegang pisau dan di arahkan ke lehernya.
Zifran berjalan tertatih menuju tempat Maisya. "Diam di tempat! Atau mau gue bu*nuh cewek lo sekarang." Zifran semakin melangkah maju.
Berada dalam dekapan pria kurus, Maisya menggelengkan kepalanya berharap Zifran berhenti. Namun sayang, pria itu tak menghiraukan dan terus berjalan.
Sesaat kemudian,
Bugh!
Bruk!
"Aaakh" Zifran jatuh bersimpuh sambil memegang tengkuknya yang panas dan berdenyut.
"Kak Ziiiiii...!" teriak Maisya lantangnya.
Bugh!
Bugh!
Maisya langsung menyikut perut pria itu. Memutar tubuhnya, mendaratkan tendangan keras ke arah perut lawannya. Dengan gerakan cepat dan tiba-tiba membuat lawannya tak dapat memprediksi gerakan Maisya.
Bruk!
Tubuh pria itu terhempas jatuh ke aspal. Banyak kendaraan yang berlalu lalang yang tiba-tiba berhenti sekedar untuk menyaksikan. Dan ada juga dari mereka yang sedari tadi hanya menonton dan enggan ikut campur.
Pria kurus itu bangkit di bantu oleh temannya yang bertubuh gempal untuk meninggalkan lokasi itu setelah menyadari akan situasi yang ada.
"Ayo kita cabut!" Pria gempal itu memapah temannya.
Sementara Maisya, gadis itu berlari menghampiri Zifran yang terus memegangi tengkuknya dan sesekali ia menggelengkan kepala untuk menormalkan pandangannya.
Maisya berlutut dihadapan Zifran dengan mata berkaca-kaca. "K-kak Zi. Lo nggak papa kan?"
__ADS_1
Zifran menggeleng. "Kamu nggak papa kan?"
"Gue baik-baik aja." Maisya membantu Zifran bangkit dari posisinya. "Kayaknya bibir lo robek deh, kak. Ini harus cepet-cepet diobati kalau nggak nanti bakal infeksi."
"Hem," jawab Zifran singkat.
Kini keduanya berjalan menuju mobil mereka. Namun tinggal beberapa langkah lagi Zifran dan Maisya kompak berhenti. Mereka menatap seseorang yang kini berdiri dihadapan mereka dengan raut wajah yang tampak merah padam seperti sedang menahan emosi.
Glek!
"Papa. Om" ucap mereka lirih.
Dengan susah payah keduanya menelan ludah mereka masing-masing karena tatapan tajam yang mampu mengubah suasana menjadi terasa lebih mencekam dari sebelumnya. Ditambah lagi pria itu semakin mendekat ke arah mereka.
Plakk!
Tanpa sepatah kata pria itu langsung menampar pipi Zifran hingga Zifran menoleh ke samping.
"Dasar baji*ngan. Berani-beraninya kamu membawa putri saya tanpa seizin saya. Huh!" marah Papa Bram, pria yang tadimenamparnya.
"Maaf." Hanya itu yang bisa ia ucapkan.
Kini pandangan Papa Bram beralih menatap putrinya yang menunduk. "Kecewa Papa sama kamu. Tega kamu bohong Papamu ini!" Maisya hanya terdiam tanpa suara. Mereka pun menjadi pusat perhatian orang sekitarnya.
"Saya minta ma-"
"Saya tidak butuh maaf kamu." Papa Bram menarik tangan Maisya yang berada dalam genggaman Zifran. "Ayo pulang!"
"Izinkan saya untuk mengantar Maisya," ucap Zifran memohon sambil berjalan mengikuti Papa Bram menuju mobilnya yang berada di seberang jalan.
Seakan menulikan telinga, pria paruh baya itu terus berjalan. Maisya menoleh kebelakang berharap Zifran tak mengejarnya, ia takut jika suatu waktu Papanya berbuat nekat. Namun dugaannya salah, pria itu terus berjalan dengan keadaan yang cukup memprihatinkan. Langkahnya tertatih dengan penampilan yang berantakan, luka memar di sudut bibirnya.
"Pa, kasian kak Zi," ucap Maisya menatap Papa Bram dan menoleh kembali ke Zifran. Memohon agar Papanya mau melepaskan tangannya.
"Diam! Papa kecewa sama kamu." Papa Bram menghentikan langkahnya. "Sekarang, Papa mau kamu jauhi dia. Apa bisa?" Maisya menggeleng sebagai jawabannya.
Dari arah yang tak terduga, sebuah mobil Pajero berwarna putih sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Orang yang melihat itu seketika berteriak histeris.
"AWASSSS!!!" Mereka semua berteriak.
"MAISYA, AWASSS!!" teriak Zifran bersamaan.
Brakk!
__ADS_1