
Maisya berlari sepanjang koridor rumah sakit dengan nafas tersengal-sengal. Langkanya begitu kacau setelah mengetahui tentang keadaan seseorang yang telah membuat hatinya galau.
Semua tatapan mata pengunjung rumah sakit tertuju padanya. Tak ada satupun dari mereka Maisya hiraukan. Tanpa sengaja Maisya menabrak seseorang begitu kuat hingga orang itu terjatuh.
"Maaf, gue buru-buru." Maisya hanya melirik sekilas orang itu tanpa berniat membantunya.
Belum sempat orang tersebut menjawab, Maisya berlari tunggang-langgang meninggalkan orang itu sendirian.
Ceklek.
Brak!
Maisya membuka pintu ruangan yang bercat putih dengan kasar hingga pintu itu membentur dinding.
Langkah Maisya terasa berat ketika matanya menatap seseorang yang tertidur di ranjang rumah sakit dengan selang infus yang membalut di telapak tangannya. Rasanya baru kemarin pria itu berada dalam situasi seperti ini. Apa ini hanya fatamorgana yang tak nyata untuknya.
Namun semua itu seakan nyata ketika matanya menangkap sosok pria yang beberapa saat lalu memintanya untuk datang ke tempat ini.
"D-dia kenapa, kak?" tanya Maisya tergagap. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Gue nggak tau, Sya. Waktu gue ke apartemennya, dia udah kayak gini. Gue nggak tau apa yang udah terjadi sama dia," balas Arlan. Pria itu tampak kacau. Pakaian yang biasanya rapi kini tampak awut-awutan.
"Terus, keadaan kak Zi gimana sekarang?"
"Kamu tenang dulu, ya. Sebentar lagi Dokter bakal balik kok." Maisya mengangguk. Mendekati Zifran yang masih terpejam.
"Maaf, di sini siapa keluarga pasien?" tanya seseorang dari arah pintu. Seorang pria yang mengenakan jas putih khas Dokter menatap Maisya dan Arlan bergantian.
"Saya sahabatnya, Dok."
"Saya pacarnya," sambung Maisya menimpali ucapan Arlan barusan.
__ADS_1
"Begini, Mas, Dek. Setelah kami melakukan pengecekan di lab, ternyata kami menemukan adanya kandungan obat tidur berlebihan dalam tubuh pak Zifran. Dan itu dapat memperlambat aliran darah dari jantung ke otak." Dokter itu menjelaskan tentang apa yang terjadi pada Zifran saat ini.
Flashback.
Beberapa hari sebelumnya.
Setelah keluar dari hotel, Zifran melajukan mobilnya menuju apartemen. Mencoba mengingat kembali kejadian naas itu, tapi sayangnya yang ia uang hanya ketika ia meminum obat perangsang yang di belikan oleh bartender. Kemudian dirinya di bawa oleh seorang wanita yang tak begitu jelas wajahnya.
Selebihnya, ia hanya mampu menerka apa yang terjadi selanjutnya. Namun setelah wanita itu menjelaskan, seakan dirinya dilema. Mengiyakan perbuatan mereka malam itu, terlebih lagi dirinya dalam lam pengaruh alkohol dan obat luknut yang wanita itu berikan. Sudah dipastikan jika mereka melakukannya.
Ketika malam tiba, mata Zifran enggan untuk terpejam. Padahal rasa kantuk begitu bergelayut manja di pelupuk matanya. Namun pikirannya tak pernah teralih kepada wanita yang telah ia khianati cintanya. Seakan bayang-bayang kekecewaan Maisya begitu jelas terlihat dalam pikirannya.
Hingga pagi menjelang, Zifran masih setia terjaga. lingkaran matanya menghitam, tubuh terasa malas untuk melakukan aktifitas apapun saat itu. Termasuk berangkat ke kantor. Sekitar pukul sembilan pagi, Zifran memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk konsultasi tentang keadaan sulit tidur yang terjadi pada dirinya.
Setelah mendapat resep dari Dokter, Zifran berlalu menuju apotek untuk menebus obat.
Konsultasi udah. Menebus obatnya juga udah.
Zifran berlalu meninggalkan rumah sakit dan kembali ke apartemennya.
Satu detik, Zifran masih terjaga.
Dua detik, masih sama.
Tiga detik, mata Zifran mulai sayup.
Empat detik, Zifran menguap
Dalam hitungan lima detik, Zifran sudah tepar menuju alam mimpi yang damai. Namun mimpi itu tak berlangsung lama ketika bayang-bayang Maisya kembali hadir. Dan membuatnya kembali terjaga hingga pagi menjelang.
Selama itu juga Zifran selalu minum obat tidur agar dirinya bisa beristirahat dan melupakan sejenak semua yang telah terlewati, namun sial, bukannya tertidur justru ia malah memikirkan yang tidak-tidak. Bahkan Zifran pun sampai menghitung domba, tetap saja matanya tak mau terpejam hingga timbullah sebuah pemikiran konyol tentang niatnya meminum obat beberapa butir dari yang dianjurkan mungkin itu dapat membuatnya cepat terlelap.
__ADS_1
Benar saja, ketika 6 butir obat masuk kedalam tenggorokannya, Zifran merasakan pusing teramat hebat. Dada nya terasa sesak. Keringat dingin menjalar ke seluruh tubuh. Matanya berkunang-kunang. Sebisa mungkin Zifran tetap tersadar meski tubuhnya luruh secara perlahan.
Flashback off
"Terus, bagaimana kondisi sahabat saya, Dok?" tanya Arlan khawatir. Sementara Maisya, gadis itu sudah menangis tergugu mendengar penuturan dari Dokter.
"Kalian tidak perlu khawatir Pak Zifran baik-baik saja. untungnya dosis yang ia minum tidak terlalu banyak. Dan saat ini pak Zifran hanya pingsan."
Arlan dan Maisya menghela nafas lega setelah mendengar penjelasan panjang dari Dokter itu. Maisya mengusap wajah pucat Zifran begitu lembut, berharap pria itu membuka matanya.
"Tunggu sebentar, Dok. Tadi Dokter bilang obat tidur? Untuk apa kak Zifran meminum obat itu." Maisya beralih menatap Dokter yang berdiri disampingnya.
"Mungkin saja beliau saat ini dalam kondisi stres yang menyebabkan kesulitan dalam mengatur pola tidurnya. Atau mungkin ada faktor lain yang jadi pemicunya."
"Tapi bukannya obat itu harus melalui resep Dokter, ya, Dok?"
"Benar. Dan tadi saya sudah mengonfirmasi dengan Dokter yang menangani pak Zifran kemarin dan Dokter itu sendiri yang memberikan resep pada beliau." Maisya hanya mengangguk paham.
Seketika rasa bersalah itu muncul dalam benaknya. Apa ini karena dirinya yang terlalu egois beberapa waktu lalu hingga menyebabkan keadaan kekasihnya seperti ini?
Disela-sela lamunannya, Maisya dikejutkan dengan suara Zifran yang memanggil namanya.
"Sya, maafin kakak. Jangan tinggalin kakak," gumamnya Zifran lirih dengan mata terpejam.
'Maafin gue kak. Gara-gara gue lo jadi kayak gini.' Maisya membelai wajah Zifran lembut.
"Pliss, jangan tinggalin kakak, Sya. Kakak tau Kakak salah," racau Zifran. Tak terasa air mata pria itu menetes membasahi pipi. Tangan pria itupun menggenggam erat tangan Maisya. Entah apa yang terjadi dalam tidurnya saat ini.
"Dok, ini gimana. Kok dia mengigau terus?" tanya Maisya ingin memastikan bahwa Zifran tidak kenapa-napa.
"Itu hal yang wajar, Dek. Bisa jadi itu adalah ungkapan alam bawah sadarnya yang tidak bisa dikendalikan oleh Pak Zifran. Mungkin ada rasa takut kehilangan, atau rasa penyesalan yang begitu dalam. Biasanya juga dipicu oleh stres dan juga depresi, atau apapun itu yang selalu mengganggu pikirannya."
__ADS_1
Sekarang Maisya mengerti kenapa Zifran seperti ini. Ini karena dirinya yang sempat cuek dan acuh padanya beberapa waktu lalu.
'Mengapa semua jadi seperti ini.' Pikir Maisya sambil meremas tangannya yang tak menggenggam tangan Zifran.