
Pagi hari ketika Maisya baru saja membuka kedua matanya tiba-tiba saja ia sudah dikejutkan oleh dua makhluk tak berakhlak yang seenak jidat mereka berteriak di samping telinganya yang mana membuatnya terkejut dan langsung membulatkan kedua matanya.
Karena merasa kesal ia melayangkan beberapa bantal kearah kedua makhluk yang tak berotak dan minim akhlak tersebut dan meninggalkan mereka menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai membasuh wajahnya, Maisya berjalan melangkahkan kakinya menuju ke sofa yang berada di sudut kamarnya menyusul kedua sahabatnya.
Dengan rasa yang masih tersirat kekesalan Maisya menatap keduanya dengan tatapan tajam bak elang.
"Ngapain lo berdua ke rumah gue?!" tanya Maisya ketus.
"Gue mau minta tolong sama lo, lo maukan nolongin gue?" balas Alya.
Maisya menautkan kedua alisnya seraya melirik kearah Andin yang berada di samping Alya. Andin hanya mengangkat kedua bahunya 'Tak tahu'.
"Apa yang bisa gue bantu?"
"Bantuin gue minta nomor ponselnya sekretaris pak Zifran dong Sya?!"
"Bujubuset. Gila lo, gue mana berani! Sarap nih anak!" sontak Maisya meninggikan suaranya.
"tau nih anak! Otaknya abis kepentok jemuran makanya rada miring!" cecar Andin menimpali ucapan sang sahabat.
"Kalian jangan gitu dong sama gue, jahat banget sih! Pliss... bantuin gue kenapa Sya, ya ya ya?" pinta Alya dengan wajah puppy eyes.
"Aissshh, lo ya sekalinya jatuh cinta bikin gue pusing."
"Pliss Sya bantuin gue entar gue traktir lo Boba lima cup deh, plus sama bakso tempat mak Onah 2 porsi, gimana?" tawar Alya. Saat ini gadis cantik itu sedang bernegosiasi dengan sahabatnya.
"Emmmm, gimana ya?" Maisya sedang menimbang-nimbang ucapan dari Alya.
'Bakalan luluh kayaknya nih anak ' batin Andin.
"Gimana Sya, lima cup es Boba dan 2 porsi bakso spesial. Mau kan?" tawanya kembali.
"Oke! Tapi kasih gue waktu. Dan awas lo kalau sampai ingkar janji bakal gue gentayangin lo malem-malem!"
Setelah mendengar ucapan dari Maisya, Alya bangkit dari tempatnya langsung menubruk dan memeluk tubuh Maisya yang hampir terjengkang jika Alya tak segera meraihnya.
"Thank you very much my best friend, I'm very happy to hear that!" teriak Alya histeris sambil memeluk Maisya.
(Terimakasih banyak sahabat terbaik gue, gue seneng banget dengernya!)
"Woi, lepasin lo mau bunuh gue?!" ucap Maisya saat lehernya tercekat oleh pelukan dari Alya.
Sementara Andin yang melihat kedua sahabatnya menampilkan wajah muramnya. "Jadi cuma Maisya dianggap sahabat terbaik lo, gue enggak gitu?"
Melihat sahabatnya bersedih Maisya dan Alya berjalan menghampiri Andin. "Lo itu sahabat terbaik kita" ucap mereka berbarengan Sambil memeluk Andin.
__ADS_1
"Selamanya," sambung Andin. Dan ia membalas pelukan dari keduanya.
"Makasih ya Sya lo mau bantuin gue."
"Ya ya ya, asal lo seneng dan bahagia, gue ikut kenyang!" ucap Maisya menampilkan senyum termanisnya.
****
Sementara di negara yang sama namun di tempat yang berbeda, seorang pria tampan bermata sipit dan berkulit putih dengan hidung yang mancung membuatnya tampak begitu sempurna baru saja menyelesaikan rutinitasnya yang selau ia lakukan jika dihari Minggu, yaitu fitness.
Seorang pria mandiri yang kini harus hidup berjauhan dari keluarganya demi meraih cita-citanya untuk menjadi seseorang orang yang sukses demi membantu kedua orang tuanya.
Arlan, pria yang kini menjabat sebagai sekretaris CEO di perusahaan ZA group merupakan sekretaris kesayangannya dari sang pendiri ZA group, siapa lagi jika bukan Arya Samudera, alias papa Arya yang kini sudah pensiun dan di gantikan oleh sang putra yang selalu membuatnya pusing tujuh keliling, tujuh tanjakan, dan tujuh turunan melewati lembah, mengitari gunung.
Begitulah kira-kira perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan dirinya jika bersama sang CEO sablengnya itu.
Hari Minggu, adalah hari yang sangat ia nantikan, sebab di hari itu ia akan menjalani hidupnya yang damai sejahtera tanpa terusik oleh pekerjaan yang berhubungan dengan kantor.
"Ahhh, damainya hidup gue..." ucap Arlan yang merebahkan tubuhnya di sofa di dalam apartemen miliknya.
Namun sepertinya kedamaian itu tak berlangsung lama karena suara ponsel yang menandakan adanya panggilan masuk dari seseorang.
Arlan meraih ponselnya di atas meja, tanpa menunggu lama ia segera mengangkat panggilan tersebut.
"Lo dimana?" tanya seseorang dari seberang sana.
"Nongkrong bareng yuk! Kan udah lama kita nggak jalan bareng?!"
"Kapan? Sekarang?"
"Entar, tunggu kucing bertanduk baru kita berangkat!"
"Sia*lan lo. Ya udah gue berangkat sekarang!" ucap Arlan menyambar kunci mobilnya.
"Nanti gue kirim alamatnya,"
"Hem-, emang dasar Zifran sia*lan!" gerutu Arlan ketika sambungan telepon ditutup oleh Zifran sepihak.
****
Arlan baru saja turun dari mobilnya, pria itu segera bergegas masuk kedalam sebuah cafe shop yang terletak tak terlalu jauh dari apartemen miliknya.
Ia melihat kearah meja yang berada disudut cafe ternyata di sana sudah ada Zifran yang menunggunya.
"Udah dari tadi?" tanyanya kepada Zifran.
"Barusan. Mau pesan apa biar sekalian?" tanya balik Zifran.
__ADS_1
" kayak biasa."
"Mas!" panggil Zifran kepada seorang waiters.
Waiters itu menoleh kearah seseorang yang memanggilnya. Kemudian ia berjalan menghampirinya. "Iya Mas, mau pesan apa?" tanya waiters itu ramah.
"Coffee latte nya dua, tapi yang satunya jangan terlalu banyak susunya karena saya tidak suka manis."
Setelah mencatat pesanannya, waiters itu pergi meninggalkan Zifran dan juga Arlan.
"Tumben amat lo hari libur ngajak gue nongkrong? Apa ada sesuatu yang pengen lo ceritain ke gue?" tanya Arlan beruntun kepada Zifran.
"Nggak ada, semua baik-baik aja. Thanks ya lo dan mau nolongin gue dari tuntutan nyokap gue yang kebelet pengen banget gue nikah," ucap Zifran.
Tak berselang lama seorang waiters datang dengan membawa nampan yang berisi pesan mereka.
"Terimakasih pak!" ucap Arlan ramah saat pria itu meletakkan pesanan mereka di atas meja.
Waiters itu mengangguk tersenyum. "Sama-sama Tuan!" setelah itu ia pergi.
Arlan menyeruput kopi miliknya, "Apa rencana lo selanjutnya? Apa lo bakal kayak gini terus selalu menghindari keinginan orang tua Lo?" tanyanya seraya meletakkan kembali cangkir yang ia pegang.
"Entahlah, gue juga nggak tau, tapi yang pasti gue berharap bisa ketemu sama cewek yang emang bener-bener cinta sama gue dan mau terima kekurangan gue dengan status gue yang breng*sek ini."
Arlan menatap Zifran yang sedang menikmati secangkir kopi kesukaannya. "Terus tentang Maisya, apa Lo nggak tertarik gitu sama dia?" pria itu menaik-turunkan alisnya.
"Apaan sih lo? Lo kan tau kalau gue itu profesional, nggak pernah ada yang namanya cinta sama partner gue, inget itu!" ucap Zifran mempertegas kalimatnya.
"Oke, gue pegang omongan lo!" ucap Arlan meyakinkan.
Sementara di luar cafe.
"Bener nggak sih ini tempatnya?" tanya Alya kepada kedua sahabatnya.
"Bener Al, nih Lo liat!" Maisya menunjukkan alamat yang dikirim oleh Zifran ke ponselnya.
"Yuk ah masuk, entar keburu out orangnya!" Kini ketiga memasuki cafe.
"Kita duduk dimana Sya?" tanya Andin.
"Di situ!" tungku Maisya kearah meja yang tak jauh dari tempat seseorang. Alya dan Andin mengangguk setuju.
Sebelum mereka menduduki kursinya, gerakan mereka terhenti saat seseorang memanggil nama salah satu dari mereka.
"Hai Sya!" sapa orang itu.
Maisya menoleh kearah sumber suara yang memanggil namanya.
__ADS_1
Deg!