Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Pertemuan Leon dan Zifran


__ADS_3

Zifran mematikan mesin mobilnya saat mereka sudah sampai dihalaman depan rumah Maisya. Ia menarik tangan Maisya saat gadis itu hendak turun dari mobil.


Maisya menatap bingung pria itu dengan memicingkan matanya menatap wajah Zifran Karena posisi lampu didalam mobil sudah terlebih dahulu dimatikan kan oleh sang pemilik.


"Kak, tangan lo bisa geseran dikit nggak? Gue mau turun!"


"Buru-buru amat, tapi kakak masih kangen sama kamu." ucap Zifran dengan manjanya.


"Nggak usah lebay lo kak. Gue tabok pake sepatu mau lo? Heran gue, sejak kapan lo jadi kucing anggora yang kurang belaian gini?"


"Sejak sama kamu!" Zifran menyahut ucapan Maisya.


"Ih, geli gue. Dah ah gue mau masuk!" Maisya turun dari mobil Zifran.


"Nggak mau cium dulu?"


"Nggak ah, entah yang ada gue nggak masuk-masuk."


Pria itu membuka kaca mobilnya, "salam Sya buat Papa kamu!"


****


Di meja belajar sedari tadi Maisya tidak konsen dengan pelajaran yang sedang ia pelajari. Sedari tadi gadis itu selalu melamun memikirkan seseorang yang belakangan ini mengganggu pikirannya.


Perubahan darinya menjauhi Maisya begitu terasa ketika dia berhadapan dengan gadis tersebut. Mulai dari pandangannya, caranya berbicara, bahkan sampai gerak-geriknya begitu kentara.


Apa sebenarnya yang terjadi?


Di tempat lain.


Seorang pemuda dengan berpostur tinggi berkulit putih, dengan bibir tipis dan berhidung mancung sungguh menggoda bagi setiap wanita yang melihatnya.


Jangan lupakan seseorang yang bersamanya saat ini. Pria tampan dengan sejuta pesona yang mampu meluluhkan hati wanita, sang penjelajah surganya dunia. Sang pemberi harapan bagi kaum wanita.


"Ngapain kamu ngajak saya kesini malem-malem. Ada hal penting apa yang pengen kamu sampe'in sama saya?" tanya Zifran to the point.


"Santai dulu nama Mbang, buru-buru amat!" balas Leon.


"Buruan, nggak usah basa-basi!"


"Oke-oke. Sejak kapan lo pacaran sama dia?" tanya Leon langsung.


Zifran menyerngitkan dahinya, "dia. Dia siapa maksud kamu?"


"Maisya, cewek yang gue suka!"

__ADS_1


"Kenapa kamu pengen tau banget urusan pribadi saya sama dia. Kalau saya tidak mau menjawab apa kamu akan memaksa?"


Ada sedikit rasa kesal yang kini Zifran rasakan setelah ia mengetahui bahwa bocah SMA yang berada dihadapannya saat ini menyukai gadisnya. Ingat itu 'Gadisnya'.


"Berarti beneran Lo pacaran sama Maisya Mbang?" Zifran diam tanpa suara.


'Pantesan aja gue di tolak mulu sama dia, rang saingan gue si Bambang!'


"Oke. Kali ini gue ngomong serius sama lo," jedanya. "Gue tau siapa lo sebenernya. Disini gue minta sama lo jangan pernah lo sakiti Maisya. Apa pun itu, dan kalau sampai itu terjadi berarti lo harus berhadapan sama gue. Karena gue akan selalu ngelindungin orang yang gue sayang. Paham kan maksud gue?" Zifran terdiam mendengar ucapan Leon yang begitu panjang kali lebar.


"Terus kalau kamu cinta sama dia, kenapa nggak kamu perjuangin?"


"Karena cinta itu Nggak bisa di paksakan. Mau sebesar dan sekuat apa gue berjuang, kalau dia emang nggak cinta apa mau dikata! Lebih baik mengikhlaskan."


"Di minum dulu kopinya Mbang, kan sampai lupa gue nawarin Lo minum!" sambung Leon.


"Makasih," Zifran menyeruput kopinya setelah dipersilahkan olehnya. Lupakan ia yang belum sadar dengan panggilan dari pemuda yang berhadapan dengannya.


"Bicara soal cinta, ternyata pemikiran kamu dewasa juga, saya salut sama kamu. Dan saya baru tahu, jika berjuang demi cinta itu tidak mudah, terlebih lagi jika kita berjuang sendirian."


"Maka dari itu Lo harus jaga Maisya baik-baik buat gue. Karena bisa jadi gue bakal berubah pikiran dan ngerebut Maisya dari tangan Lo!"


"Enak aja!" jawab Zifran spontan.


****


Maisya yang merasa terusik pun menggeliat saat jari kakinya serasa di gelitik oleh seseorang. Dengan tubuh yang remuk redam akibat pergulatan siang hari bersama.... pacar, bukan! Sahabat juga bukan! Temen... temen tapi nyaman.


Ah, seketika pipinya merona bak paprika di musim panas jika mengingat panggilan 'Sayang' untuknya.


Kedua sahabat Maisya merasa bingung melihat sahabatnya tersenyum sendirian dengan tatapan yang entah siapa yang ia pandang.


Keduanya menyerngitkan dahi saat melihat sesuatu yang berbeda dari gadis itu. Andin yang penasaran mendekatinya dan membuyarkan segala lamunan Maisya di padi hari.


"Sya, di kamar lo nyamuknya gede-gede ya, kok gigit badan lo sampai kayak gini sih! Emang nggak sakit ya?" tunjuk Andin ke arah leher dan bagian dada Maisya yang terbuka karena dirinya menggunakan piyama.


"Enggh!"


'Ah, sial! kenapa gue selalu seceroboh ini sih. mati gue!'


Entah sejak kapan dua kancingnya bisa terbuka. Dan alhasil terpampang jelas jejak kepemilikan dari seseorang.


Maisya yang baru menyadari akan hal itu dengan cepat ia mengancingkan kembali bajunya.


"Ah, iya udah jam berapa sekarang?" tanyanya mengelak. Namun Alya menyadari bahwa ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh sahabatnya yang satu ini.

__ADS_1


"Lo tenang aja ini masih jam tujuh kok," jawab Andin polos.


"Ya udah buruan sana lo mandi. Kita tunggu lo dibawah, tapi awas jangan lama-lama!" sambung Alya.


Dengan langkah gontai menahan kantuk Maisya berjalan menuju kamar mandi. Sesekali ia melakukan peregangan otot saat tubuhnya amat terasa redam.


"Sebenernya kita mau kemana sih, kok tumben banget lo berdua pagi-pagi udah nongol di rumah gue," Maisya menarik kursinya.


"Mau sarapan apa Non?" tanya Bi Nana.


"Roti Bi." Bi Nana menaruh roti di piring dan gelas susu di depannya.


"Berhubung ini tanggal merah kita jalan-jalan yuk! Kan mayan itung-itung buat refreshing. Boleh kan Om?" tanya yang kini menatap Papa Bram yang juga berada di meja makan.


"Tentu saja boleh. Tapi ingat, jangan pulang terlalu malam!" Papa Bram menjawabnya.


"Siiippp!!" ucap Alya dan Andin kompak.


"Udah buruan makan Lo Sya! Aelah lelet amat entar kita kesiangan berangkatnya."


"Iya-iya, sabar dikit kenapa sih!" Maisya kembali memakan rotinya. "Dah Papa Maisya perg dulu!" ia mencium pipi Papanya.


"Kami pergi dulu ya om," ucap Alya.


"Pamit ya Om!" ___Andin.


Ketiganya berjalan meninggalkan meja makan.


"Kita pake mobil masing-masing atau satu mobil. Soalnya gue lagi males nyetir," ucap Maisya.


"Kita satu mobil. Dan Lo tenang aja, udah ada yang jadi supirnya kok!" sambung Andin.


"Eh, mobil baru siapa tuh! Mobil baru lo ya Al?" tanya Maisya ke Alya.


"Bukan!"


"Wah! Punya lo ya Din!"


Andin menggeleng, "bukan juga!"


"Lah jadi punya siapa dong!" ucapnya bingung.


"Nih, orangnya nongol!" tunjuk Alya kearah seseorang yang menampakkan dirinya dari balik pintu mobil.


"Hai Sya! Selamat pagi!" dengan senyum yang menawan.

__ADS_1


__ADS_2