
Disekolah SMA Bunga Darma.
"Eh guys, entar sore kita jalan-jalan yuk! Ya itung-itung buat cuci mata, sekalian refresh otak biar nggak butek waktu ngadepin ulangan Minggu depan. Gimana, lo-lo pada mau kan?" Alaya melirik kearah Maisya yang berjalan di sisi kanannya.
Saat ini ketiganya berjalan menuju area parkir sekolah.
"Kalau gue sih yes." Saut Andin.
"Lo gimana Sya, mau nggak. Kalau Lo nggak mau tetep bakal gue paksa." Maisya yang semula tengah berfikir kini menatap sahabatnya itu.
"Ngapain Lo nanyak gue, kalau ujung-ujungnya gue nggak punya pilihan." Gadis itu berdecak kesal.
"Yau dah, sampek rumah Lo siap-siap menipedi, dandan yang cantik. Jangan lupa pake parfum yang banyak. Oke!"
Mendengar perkataan Alya barusan Maisya merasa bingung dengan apa yang direncanakan oleh sahabatnya itu. Namun terlepas dari semua itu ia tetap berpikiran positif.
"Dah lah, gue balik duluan. Bye!" Maisya duduk di jok motor sambil mengenakan helm. Ia menghidupkan motornya, lalu meninggalkan pekarangan sekolah.
Alya dan Andin pun memasuki mobil mereka masing-masing. Setalah itu mereka pergi menyusul sahabatnya.
Sambil menyetir mobil Alya menerima panggilan telepon dari seseorang yang berada jauh diseberang sana.
"Iya, halo," ucap Alya setelah menekan tombol ikon berwarna hijau.
"Bagaimana?" tanya orang itu.
"Beres. Anda tenang saja semua sudah saya kerjakan dengan baik."
"Bagus, saya suka pekerjaan kamu."
"Terimakasih untuk pujiannya. Dan terimakasih atas kerja samanya. Simbiosis mutualisme, saling menguntungkan." Alya tersenyum bahagia setelah pekerjaan pertamanya berjalan dengan lancar. Kini ia harus kembali memikirkan rencana yang kedua.
Setelah sambungan telepon sudah terputus Alya meletakkan kembali ponselnya dia atas dasboard dan sesekali ia tersenyum simpul menatap jalanan yang terlihat tidak terlalu padat namun iya menyerngitkan dahinya bingung dengan beberapa kendaraan yang berada didepannya berhenti secara tiba-tiba.
Mendengar suara klakson saling bersautan Alya membuka pintu kaca mobil, mengeluarkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi di sana. Matanya memicing menatap seseorang yang ia kenal tengah mengumpat lalu menendang ban mobil miliknya.
Sementara di tempat lain. Seorang pria sedang mengumpat kasar pada ban mobil miliknya yang tiba-tiba bocor. Ia mengacak rambutnya frustasi mengetahui dirinya tidak membawa ban serep yang biasa ia letakkan di bagasi mobilnya. Sial beribu sial ia alami.
Pria itu meminta maaf kepada para pengendara yang sejak tadi membunyikan klaksonnyap. pria bertubuh tinggi itu masuk kembali kedalam mobil dan menghidupkan mesinnya, lalu ia melajukan mobilnya untuk menepi, membiarkan mobil yang berada di belakangnya dapat melanjutkan kembali perjalan mereka.
Ia mengambil ponselnya didalam saku celana dan menghubungi seseorang yang untuk membantu dirinya. Di saat yang bersamaan tiba-tiba saja pintu kaca mobil yang berada tepat disampingnya di ketuk oleh seseorang.
Tok tok tok.
Pria itu menoleh kesamping kanannya melihat ketika mendengar suara ketukan, lalu menurunkan kaca mobilnya.
"Ada apa?" tanya kepada gadis berseragam anak sekolah.
"Butuh bantuan?" ucap gadis itu sembari tersenyum kearahnya. Pria itu menautkan kedua alisnya seakan bingung.
__ADS_1
"Lo butuh bantuan nggak. Kalau nggak gue balik nih!" ucap gadis itu dengan nada ancaman. "Kak Arlan. Kok Lo diem aja sih!" Alya berdecak saat tak ada tanggapan dari pria yang tak lain adalah Arlan.
Ia keluar dari dalam mobilnya, "ya udah, sekarang anterin saya ke apartemen."
"Oke. Itu di sana mobil gue!" tunjuk Alya kearah mobil berwarna merah yang terparkir di belakang mobil Arlan.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju mobil tersebut. Ada rasa bahagia dalam hatinya saat berada pada jarak yang cukup dekat dengan pria yang mengisi hatinya sejak dua tahun belakangan ini. Ingin rasanya saat ini juga Alya melompat, bergulung-gulung diaspal jika tidak ada orang yang mengamatinya. Dengan senyuman yang merekah Alya terus berjalan disisi Arlan.
Ah.... hari yang sangat menyayangkan pikirnya.
****
Maisya berdiri di depan cermin yang berada dikamarnya. Tak henti-hentinya sedari tadi ia menatap pantulan dirinya yang tampak begitu cantik memakai celana jeans berwarna navy yang ia padukan dengan blouse berwarna hitam. Yang ditutupi dengan menggunakan blazer berwarna hijau army yang membuatnya terkesan tomboi. Dengan makeup natural membuatnya tampak begitu imut dan cute sesuai dengan umurnya.
Tap tap tap tap.
Maisya menuruni tangga. Dan itu membuat sang papa dan kedua sahabatnya yang digunakan di ruang keluarga menoleh bersama kearahnya.
Ia menaikkan sebelah alisnya, "kok tumben Lo berdua rapi amat. Kayak orang mau kondangan," tanya Maisya bingung. Padahal jika dipikir-pikir mereka hanya ingin jalan-jalan, bukan menghadiri acara formal. Jika dilihat dengan mereka yang memakai mini dress
"Lah Lo ngapain dandan beginian, mau ngamen lo!" jawab Alya.
"Udah buruan sana, ganti baju Lo sekarang. Ogah gue bawa temen dandanannya begini." Papa Bram tersenyum sembari menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Andin barusan.
Ia tidak habis pikir dengan ketiganya yang selalu saja beradu mulut jika sudah bersama, namun itu tak mengurangi kasih sayang diantara mereka. Ia cukup bahagia dan bersyukur dengan kedua gadis cantik yang selalu bersama dengan putrinya.
"Alah males gue. Udah gini aja, udah mantep ini."
"Yes!"__Maisya.
"No!"
"Lo kenapa sih kok maksa banget."
Cukup lama mereka berdebat. Dan itu jadi tontonan bagi papa Bram dan juga Andin. Mereka hanya bisa menggeleng tanpa berniat untuk memisahkan keduanya.
"Ya udah deh, terserah Lo. Tapi nanti Lo bakal malu sendiri. Yuk Din kita cabut!" ucap Alya pasrah karena ke keras kepala'an sahabatnya itu. "Om, kita permisi dulu ya. Entar kalau udah selesai kita bakal balikin anak Om."
Papa Bram mengangguk pasti, "yang penting jangan pulang diatasnya jam sepuluh malam. Ingat, no ke club. Ngerti?"
"Asiapppp!" ucap keduanya kompak. Sementara Maisya, gadis itu menatap jengah kedua sahabatnya. Setelah berpamitan ketiga berjalan menuju pintu utama.
"Stop!" ucapan tiba-tiba dari Alya menghentikan langkah sahabatnya.
"Apaan lagi sih Al?!" dengus Maisya.
"Bentar, lo harus pake ini," Alya mengeluarkan saputangan dari dalam Sling bag-nya.
"Din, pegangin dia!" perintahnya Kepada Andin. Andin pun menurutinya.
__ADS_1
"Apa-apaan ini. Lepasin gue nggak! Lo mau gue tendang sampek Ancol, Huh!"
"Sorry, ini demi kesejahteraan bersama." Alya menutup mata Maisya menggunakan saputangannya. Tanpa memperdulikan teriakan dari Maisya yang terus memberontak.
Selama dalam perjalanan, sedari tadi tak henti-hentinya Maisya terus menggerutu dan mengumpat mereka yang berbuat keji kepadanya. Tangannya yang terikat dan matanya yang tertutup. Sungguh begitu menyiksanya.
"Lo bisa diem nggak!" bentak Alya.
"Sebenernya kalian mau ngapain gue sih. Ini nggak lucu ya."
"Sekali lagi Lo bersuara bakal gue lempar Lo dari dalam mobil mau!" Maisya langsung terdiam mendengar nada ancaman dari Alya.
Alya terus melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera tiba di lokasi yang sudah mereka sepakati.
Sementara Andin, gadis bertampang polos itu masa bodo dengan kedua sahabatnya. Ia terus bernyanyi mengikuti alunan musik yang baru saja ia putar.
Hanya membutuhkan waktu selama kurang lebih 40 menit, akhirnya mereka sampai ditempat yang mereka tuju.
Hutan yang gelap, sepi tak ada siapapun di sana. ketiganya berjalan beriringan menatap jengah kearah Maisya yang terus mengoceh. "Al, bukain penutup mata gue napa, gelap, gue nggak bisa jalan."
"Diem!" tegasnya.
"Al, itu suara apaan Al? Kok kaya suara hewan buas ya." Andin tertawa tanpa suara melihat ekspresi wajah Maisya saat mendengar suara sekor harimau yang mengaung.
Cukup lama mereka berjalan, tak jauh dari merak tampak seseorang dengan seragam khasnya sedang melambaikan tangan.
Melihat siapa itu, Alya bergegas menarik tangan Maisya agar berjalan sejajar dengannya.
"Mbak Alya, ya?" tanya pria itu. Alya tersenyum mengangguk. "Mari Mbak, ikut saya. Anda sudah ditunggu."
"Eh, tunggu! Ini gue mau di bawa kemana sih," tanya Maisya merasa was-was setelah mendengar suara pria asing. "Al, lo nggak mau jual gue kan? Din, tolongin gue dong!" Andin diam menahan tawanya.
"Gue mau jadiin Lo tumbal. Udah buruan jalan!" ia dan juga Andin semakin cekikikan. "Buruan masuk!" Alya mendorong tubuh Maisya masuk kedalam kendaraan yang sudah tersedia di sana. Itu merupakan kendaraan khusus.
Jantung Maisya berdetak begitu kencang. Rasa takut menghampiri dirinya. Mengapa kedua sahabatnya begitu tega kepada dirinya. Apa karena ia selalu berbuat semaunya hingga mereka akan menjualnya, atau.... apa benar mereka akan menumbalkan dirinya.
Tak terasa air mata Maisya tumpah membasahi pipinya. Tubuhnya semakin bergetar saat mendengar suara seekor binatang buas yang mengaum. Berbagai pikiran buruk pun tengah memenuhi pikirannya.
"Plisss, Al, Din, tolongin gue. Kalau gue ada salah sama lo berdua, gue minta maaf. Tapi nggak kayak gini caranya." Tak ada dari keduanya yang membuka suara. Hingga mereka sampai di tempat yang telah disepakati.
Ketiganya turun dari kendaraan itu menghampiri seseorang yang berdiri tidak jauh dari mereka. Dengan keadaan yang sama Maisya terus berjalan mengikuti kemana Alya dan Andin membawanya.
"Maaf Pak telat, tadi ada sedikit drama." ucap Alya. Orang itu hanya menampilkan senyuman penuh arti dan raut wajahnya yang tak terbaca.
Alya melepaskan ikatan ditangan Maisya, namun tidak dengan penutup matanya.
"Cepetan jalan, tuh Om-om udah nungguin Lo dari tadi."
Dihadapannya seseorang tengah menatao tajam kearahnya. Alya hanya menyengir kuda sembari mengangkat tangannya membentuk huruf V.
__ADS_1
Sementara itu, Maisya semakin menangis mengetahui dirinya diserahkan kepada seseorang yang dipanggil 'Om.'
Apa dia akan dijual dengan pria itu? begitulah pemikirannya saat ini.