Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Kesepakatan


__ADS_3

Gedung ZA group.


Zifran yang baru saja tiba mendudukkan tubuhnya di kursi kebesaran miliknya. Sejak dalam perjalanan tak henti-hentinya pria itu memikirkan keinginan sang Mama sang seenak hatinya ingin menikahkan dirinya.


"Baiklah, aku setuju. Tapi dengan satu syarat," ucap Zifran menyeringai, "Biarkan aku mengenalkan calon ku sendiri, bagaimana?"


"Mama pegang ucapan kamu. Tapi kalau dalam waktu dekat ini kamu belum mengenalkannya kepada kami, maka siap tidak siap, mau tidak mau kamu harus menikah dengan pilihan Mama, bagaimana?"


Jika ia teringat kata-kata itu kembali, ingin rasanya ia menolaknya namun dengan bodohnya ia malah menyetujui kesepakan yang diajukan oleh sang Mama.


Zifran mengeluarkan sebatang rokok dari tempatnya, kemudian ia membakar lalu menghisapnya perlahan, di saat pikirannya kacau seperti ini, tak jarang benda bernikotin itulah sebagai pelampiasannya.


Tok tok tok!


Suara ketukan pintu membuyarkan segala lamunan Zifran saat ini.


Ceklek!


Pintu ruangan Zifran terbuka, menampilkan seorang pria dengan postur tubuh tinggi dengan wajah yang tak kalah tampannya dari sang boss. siapa lagi jika bukan Arlan sang sekretaris.


Arlan berjalan mendekati meja dimana CEO nya berada. "Kenapa tuh muka kok kusut amat? Belum dapet jatah ya?" goda Arlan Sambil menyodorkan dokumen yang ia bawa.


"Ck. Diem lo! Nggak tau orang lagi puyeng apa?!" Sentak Zifran berdecak kesal.


"Wettsss, slow bro jangan ngegas gitu dong! Sini cerita sama babang tamvan."


Huekk!!


Zifran menatap kearah Arlan yang berada dihadapannya. Ingin rasanya ia muntah saat ini juga mendengar kata narsis dari sekretarisnya itu.


Ia mematikan sisa rokok yang masih menyala di tangannya, "Gue butuh bantuan lo," ucapnya dengan wajah serius.


****


Di pantai yang terletak tidak terlalu jauh dari ibukota, Maisya dan kedua sahabatnya menghabiskan waktunya bersama dengan segala canda tawa yang mereka ciptakan.

__ADS_1


Meskipun hanya dengan hal-hal kecil, tapi ketiganya selalu memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan suasana dalam persahabatan mereka. "Sya, kenapa sih lo nggak coba nerima si Leon? Kan lumayan loh buat manas-manasin kak Dion, lagian kalau di liat-liat leon tuh nggak buruk-buruk amat," ucap Alya berjalan disisi kiri Maisya.


"Bener tuh Sya, kasian tau tuh anak dari kelas sebelas sampai sekarang masih aja ngejar-ngejar lo," sambung Andin.


Maisya menatap kearah Andin yang berada di sisi kanannya. "Cinta itu nggak bisa di paksakan. Gue nggak mau ngejalani hubungan karena terpaksa yang ujung-ujungnya malah saling menyakiti. Untuk Leon, gue ngehargai usaha dia buat deketin gue, tapi kalau untuk menjalin hubungan gue belum bisa."


Maisya menghentikan langkahnya, ia menatap kedua sahabatnya secara bergantian. "Lo berdua tau nggak definisi cinta itu kayak gimana?" Alya dan Andin menggelengkan kepalanya secara bersamaan.


"Definisi cinta menurut gue itu adalah merelakan. Merelakan orang yang kita sayang untuk bahagia, meskipun itu bukan dengan kita. , karena tahta tertinggi dalam cinta adalah mengikhlaskan dan merelakan, walaupun itu bukanlah hal yang mudah untuk kita lalui. Dan untuk kak Dion, gue makasih banget sama dia, karena dia udah ngajarin gue cara untuk mengikhlaskan cinta gue." Maisya melangkah pergi meninggalkan kedua sahabatnya menuju bibir pantai.


Menyadari Maisya mulai menjauh, alya dan Andin bergegas berlari menyusul maisya. "Terus apa rencana lo kedepannya kalau semisalnya leon nembak lo lagi?" tanya Alya yang baru saja mensejajarkan langkahnya dengan Maisya. Begitupun dengan Andin.


Maisya menoleh kearah sumber suara, "Kalau itu gue belum tau. Tapi kalau untuk saat ini gue belum bisa, gue masih berusaha untuk menata hati gue kembali. Udah ah, nggak usah bahas itu lagi bikin gue ke inget aja." Maisya menghentikan langkahnya tepat dipinggir bibir pantai. Namun yang membuatnya berhenti kala itu adalah sebuah panggilan masuk dari seseorang yang sangat menyebalkan menurutnya.


Derttt derttt derttt.


Maisya menyerngitkan dahinya melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponsel miliknya.


"Siapa Sya?" tanya andin penasaran.


"Papa lo?" timpal Andin.


"Selamat siang pak! Ada yang bisa saya ganggu?" ucap Maisya yang memplesetkan kata-katanya.


"Nggak usah becanda, becanda lo garing. Dimana lo cil?" tanya seseorang dari sebrang sana.


"Ck, nyebelin! Gue lagi di pantai, kenapa emangnya?" jawab Maisya sewot.


"Ada yang penting yang harus gue omongin sama lo," ucap pria itu.


****


Maisya baru saja tiba disebuah restoran yang cukup terbilang mewah itu sambil celingukan kesana-kemari mencari seseorang yang seenak hatinya memaksanya untuk bertemu.


"Cil, sini!" Teriak orang itu sambil melambaikan tangannya ke udara memanggil seseorang yang tidak lain adalah Maisya.

__ADS_1


Maisya yang merasa namanya di panggil melirik kearah sudut restoran yang letaknya tidak terlalu jauh dari pintu tempatnya berdiri. Dan lupakan jika ia di panggil 'Bocil'.


Maisya melangkahkan kakinya mendekati seseorang yang memanggilnya. "Ada spa sih Om kok tiba-tiba nyuruh saya dateng kesini?" tanyanya.


"Gue butuh bantuan lo cil, ini antara hidup dan mati gue, lo mau kan bantuin gue?" ucap Zifran dengan menampilkan wajah seriusnya.


"Nggak pesan minuman dulu Om, gue haus loh ini tega bener jadi orang!" sindir Maisya yang mengelus leher depannya beberapa kali.


Zifran menggelengkan kepalanya beberapa kali saat mendengar ucapan Maisya barusan. Zifran mengangkat tangannya ke udara memanggil seorang waiters, lalu memesan minuman sesuai dengan yang Maisya inginkan.


Kini pandangan Zifran kembali menatap Maisya yang berada berhadapan dengannya. "Gimana cil, lo mau bantuin gue kan?" tanya Zifran sekali lagi.


Maisya menautkan alisnya bingung, "Bantuin apaan Om?"


"Aissh, dasar bocil. Jadi gini nih ceritanya....."


Zifran mulai menceritakan semua yang sedang terjadi pada dirinya, mulai rencana perjodohannya, bahkan sampai rencana gila sang Mama yang mau menikahkannya hingga sampai terjadinya sebuah kesepakatan diantara ia dan Mamanya tersebut. Maisya yang mendengarkan hanya terdiam sesekali menganggukkan kepalanya saat mendengar cerita dari Zifran.


"Jadi, maksud lo, lo minta bantuan gue untuk jadi pacar bo'ongan lo, Om?" Zifran menganggukkan kepalanya, " Ah, yang bener aja lo, om. Ogah gue!" tolak Maisya.


"Pliss... cil, tolongin gue! Gue janji deh, apa lo minta bakal gue turutin, mau kan?"


"Emang cewek lo kemana?"


"Gue nggak punya cewek."


"Ah, masa sih tampang buaya kayak lo nggak punya pacar, nggak yakin gue!" ucap Maisya tak percaya.


"Cewek teman tidur gue banyak dan nyokap gue tau mereka. Jadi gimana lo mau bantuin gue nggak?"


Maisya meletakkan jari telunjuknya di samping pelipis bagian kanannya seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Lo tenang aja drama ini nggak akan selamanya kok. Sampek Mama gue percaya sama lo, dan berhenti untuk ganggu hidup gue, gimana?" Zifran menampilkan Majah menjelaskan kepada Maisya.


"Ok, gue pegang omongan lo."

__ADS_1


"Deal," Zifran mengulurkan tangannya.


"Deal." Maisya membalas uluran tangan Zifran.


__ADS_2