Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Iseng-iseng berhadiah


__ADS_3

Dua hari sudah Maisya menghabiskan waktunya berdiam diri di rumah, tidak ada kegiatan yang bisa ia lakukan dengan kondisinya saat ini.


Meskipun cidera kaki yang ia alami tidak separah sebelumnya, Maisya masih enggan untuk melakukan aktivitasnya dan lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di tempat tidur.


Tok tok tok


"Masuk Bi, kamar Sasa nggak di kunci!" seru Maisya.


Ceklek!


"Maaf Non, itu di luar ada tamu katanya mau ketemu sama Non Sasa." Bi Nana datang menghampiri Maisya.


Maisya duduk membenarkan posisinya. "Siapa Bi Na?"


" itu.... siapa ya namanya? lupa Bibi Non."


"Isshh, Bi Na kebiasaan deh! Ya udah suruh masuk aja. Oiya, Bi Na, apa Papa udah berangkat ke kantor?"


"Udah Non, pagi-pagi sekali Tuan berangkat. Tapi tadi Bibi liat sebelum berangkat Tuan sempat ke kamar Non Sasa dulu. Ya udah Non, Bibi mau ke depan dulu kasian Aden ganteng nungguin."


Maisya menyerngitkan dahinya mendengar ucapan Bi Nana barusan. Namun ketika ia hendak membuka suara ternyata Bisa Nana sudah pergi dari hadapannya.


Di sisi lain.


"Gimana Bi, apa saya bisa menemui Maisya?" tanya pemuda itu.


"Silahkan Den, Non Sasa ada di kamarnya di lantai atas sebelah kanan." Bi Nana mengarahkan tangan kelantai dua


"Terimakasih Bi!" pemuda itu melangkah menuju kelantai atas sesuai arahan dari Bi Nana.


Sesampainya ia di lantai dua.


Tok tok tok tok.


Pemuda itu mengetuk pintu kamar Maisya namun tak ada jawaban dari dalam sana.


Ceklek!


Zifran membuka pintunya. Pria itu berjalan mendekati seorang gadis yang tengah menatapnya tersenyum.


"Udah sarapan Sya?" tanyanya sembarangan mendudukkan dirinya di samping Maisya.


Maisya mengandung. "Kok kak Zi ada disini, bukan pagi ini lo ada meeting ya kak?" Karena seingatnya tadi malam Zifran memberitahunya.


"Meeting nya di undur, makanya kakak kesini mau ngajakin kamu jalan-jalan. Mau kan?"


"Tapi kaki gue masih sakit kak."


"Kita cuma ke taman kok. Nggak jalan-jalan."


"Kuy lah! Udah bosen gue di rumah terus!" ucap Maisya begitu semangatnya.


"Tapi gendong....." sambungnya manja. Maisya mengulurkan tangannya kearah Zifran.


Zifran membungkukkan tubuhnya. "Sejak kapan kamu jadi manja Sya? Cepetan naik."


Maisya mengambil ancang-ancang untuk melompat. "Satu...dua...ti..."


Hupp!


Maisya mendarat sempurna di punggung Zifran.


"Baru kali ini ada cewek yang berani naik di badan gue!" gumam Zifran lirih. Namun masih terdengar oleh gadis itu.


Plak!


Maisya memukul punggung Zifran. "Enak aja. Gue bukan yang pertama!" ucapnya tak terima.


Zifran membawa Maisya menuruni anak tangga menuju lantai bawah. "Ternyata kamu berat juga-" ucapan Zifran.


Pletak!


Zifran menurunkan Maisya, mengusap bibirnya yang terkena sentilan maut dari gadis itu. "Kamu kok jahat banget sih Sya sama kakak. KDRT ini namanya!"

__ADS_1


"Bodo amat. Sakit hati gue sama lo kak."


***


Selama di perjalanan Maisya hanya terdiam mendengarkan panggilan dari pria disampingnya itu. Ia masih cukup kesal dengan perkataan Zifran saat dirumahnya.


"Sya, ngomong dong! Jangan diem aja."


"Cil!" Maisya masih tetap pada modenya.


"Kakak cium nih?" ancam Zifran yang sudah kehabisan akal.


"Silahkan aja kalau berani!" tantang Maisya yang akhirnya mengeluarkan suaranya.


Cittttttt!


Zifran menghentikan mobilnya ditepian jalan, melepaskan seat belt nya memandang wajah gadis itu mendalam.


Cup


Secepat kilat Zifran mencium bibir Maisya tanpa luma*tan. Mendapat serangan mendadak Maisya hanya melongo tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh pria itu.


Zifran sejarah memasang seat belt nya kembali dan melajukan mobilnya dijalan raya.


Sesampainya mereka di tempat tujuannya, Zifran keluar dari mobilnya terlebih dahulu. Ia berjalan mengitari mobilnya.


Klek


Zifran membuka pintu mobil untuk Maisya. Ia membungkukkan kembali tubuhnya untuk Maisya.


"Pegangan yang kuat Sya, nanti kamu jatuh kakak nggak tanggung jawab."


"Hem." Ucap Maisya yang berada di gendongan Zifran.


"Kita duduk disini aja ya, nggak terlalu panas nantinya?" Zifran mendudukkan Maisya di bangku panjang yang ada di bawah pohon rindang. Pohon yang menjadi saksi kesedihan Maisya di waktu lalu. Dan menjadi awal mula hubungan keduanya.


"Sya!" Zifran mendudukkan dirinya.


"Kamu masih marah sama kakak soal tadi?" tanyanya.


"Dua-duanya."


"Gue nggak marah, cuma lebih kesel aja."


Di tempat berbeda.


"Gimana keadaan Maisya Al?" tanya Leon yang duduk bergabung dengan Alya dan Andin di kantin.


"Udah lumayan, cuma dia lagi manja aja."


"Kalian nanti masih di rumah Maisya kan? Soalnya gue nanti mau jenguk dia," ucap Leon sesekali meneguk minumannya.


"Kayaknya enggak deh Yon, soalnya bokap si Mae udah balik, jadi kita balik ke rumah masing-masing." Jelas Alya kepada Leon.


"Lo kalau mau kerumahnya pergi aja, nanti di sana ada Bisa Nana yang jagain Lo!" sindir Andin menatap sinis pemuda itu.


"Emang kenapa sama gue?" tunjuk Leon pada dirinya sendiri.


"Buat jagain Maisya dari cowok playboy kayak Lo! Ngomongnya aja cinta mati Ama sahabat gue, tapi dibelakangnya masih aja godain cewek lain" cibir Andin.


****


Guk!


Guk!


"Aaaaaaaaaaa.... Sya, tolongin kakak Sya!!!" teriak Zifran lantang.


Seekor an*jing herder jantan mengejar Zifran dan Maisya.


"SORRY KAK GUE NGGAK MAU AMBIL RESIKO!" teriak Maisya berlari meninggalkan Zifran di belakang.


Entah kekuatan dari mana ia bisa lari sekencang-kencangnya disaat kakinya dalam keadaan cidera.

__ADS_1


Guk!


Guk!


Guk!


An*jing itu masih terus mengejar mereka.


"Hosh...hosh...hosh...Sia*lan, capek banget gue!" Zifran terus berlari menjauh dari binatang bertaring tajam itu dan menyusul Maisya.


"Gi-gila Sya, tuh an*jing ke-kenapa nge-ngejer kita terus! Hosh..hosh.." sesekali ia menyeka keringatnya.


"Ini ga-gara lo yang ke-kepinteran tau nggak!"


Guk!


Guk!


"Kok ka-kak?" tanya Zifran dengan nafas tersengal-sengal.


Sesekali keduanya menoleh kebelakang.


"Sya, kayaknya kita harus naik pohon!"


"Ide bagus kak!"


Akhirnya Zifran dan Maisya berlari mencari pohon yang bisa mereka panjat. Hingga tatapan Zifran terarah kepohon yang tak jauh dari mereka.


"Lo gila kak, tuh an*jing lagi ka*win malah lo isengin, kan ngamuk jadinya!" omel Maisya.


Kini mereka sudah berada di atas pohon. sungguh Maisya tak habis pikir dengan lelaki disampingnya ini.


"Ya abisnya kayak nggak ada tempat yang lain aja. Masak mesti di depan kita, sya!"


'Sia*lan. Dendam banget kayaknya tuh herder sama gue!' batinnya.


Guk!


Guk!


Guk!


Anj*ing itu terus menggonggong sembari mengitari pohon tersebut. Dan terlihat ia tengah menge*ncingi pohon itu.


Drettt drettt drettt.


Zifran merogoh saku celananya mengambil ponselnya yang bergetar.


Ia melihat nama yang tertera di layar tersebut.


"Halo!" ucap Zifran.


"Kok nafas lo ngos-ngosan gitu Fran? Lo lagi ngapain? Jangan bilang Lo lagi..... wah, parah nih bocah! Anak orang masih SMA udah di garap aja!" cerocos Arlan di seberang sana.


"Ba*cot! Gue ngos-ngosan karena di kejar herder se*tan! Bukan karena nganu!" sangkal Zifran.


Maisya menyerngitkan dahinya ketika mendengar kata 'Nganu' dari Zifran


"Ngapain lo nelepon gue?"


"Ah, iya-iya gue lupa, jadi gini........"


Arlan menceritakan tentang masalah yang terjadi di kantor kepada Zifran.


"Lo urus semuanya, bilang sama yang lain sore ini kita bakal ngadain rapat."


"Oke! Gue tutup dulu teleponnya."


Setelah sambungan telepon tertutup Zifran memasukkan kembali ponsel itu kedalam saku celananya.


"kalau tau kayak gini mending gue di rumah aja kak, kaki gue sakit tau nggak?! Hiks..."


Maisya mengeluh ketika kakinya mulai terasa sakit kembali.

__ADS_1


Zifran merasa bersalah kepada gadis itu, sebab karena ulahnya, mereka jadi seperti saat ini. "Maafin kakak ya Sya!"


__ADS_2