
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, Maisya yang baru saja tiba dirumahnya hendak membuka pintu mobil. Namun gerakan cepat Zifran yang mencekal tangganya membuat Maisya menghentikan niatnya.
Maisya memandang kearah tangannya yang di pegang oleh Zifran, "Makasih banget cil, lo mau bantuin gue."
Zifran melepaskan pegangannya saat melihat tatapan mata Maisya yang mengarah kearah tangan mereka. "Jangan ge'er lo, Om, gue ngelakuin itu karena lo udah baik sama gue."
"Tetep aja cil, kalau bukan karena lo, gue yakin pasti nyokap gue nggak akan pernah percaya! Oiya, Gue nggak nyangka ternyata lo punya bakat akting juga, sampai-sampai nyokap gue percaya sama lo ketimbang gue. Thanks banget ya cil!"
"Sama-sama. Udah cepet sana, Om pulang! Gue mau mandi. Udah gerah!" usir Maisya tanpa basa-basi. Maisya membuka pintu mobil Zifran dan melangkah keluar.
"Lo ngusir gue cil?!" serunya.
"Nggak sih, tapi kalau lo ngerasa bagus deh. Berarti gue nggak perlu ngusir lo lagi kan Om? Dah lah gue mau masuk. Bye!!" ucap Maisya menyindir Zifran.
Dugh!
Maisya menutup pintu mobil Zifran, ia berjalan menjauhi mobil yang baru saja mengantarkannya.
Zifran memandang kearah wanita yang baru saja menutup pintu mobilnya, ia merasa heran dengan sikap wanita itu yang tak seperti wanita-wanita yang sering bersamanya. Kebanyakan dari mereka sangat tergila-gila kepadanya, bahkan sampai ada yang rela menyerahkan tubuh mereka dengan sukarela. Tapi kali ini, lihatlah, berani-beraninya ia mengusir seorang Zifran Alanta yang notabenenya adalah seorang Casanova.
Sungguh di luar dugaan.
Zifran masih setia menatap kearah luar jendela mobilnya, menatap Maisya yang perlahan menghilang dari pandangannya. "Lo itu unik Sya," gumamnya lirih seraya tersenyum tipis.
Kemudian ia menghidupkan kembali mobilnya yang sebelumnya ia matikan. Zifran mengemudikan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Maisya.
****
Di sebuah apartemen mewah di jalan Xx, di pusat kota Jakarta.
Zifran baru saja keluar dari kamar seusai membersihkan tubuhnya. Ia berjalan menjauh saru persatu anak tangga sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil yang ia letakkan di bahu kanannya.
Ia melangkahkan kakinya ke arah dapur yang terletak tidak jauh dari ruang tamunya, dalam waktu yang bersama terdengar suara bel yang di tekan dari luar.
Ting...tong....
Ting...tong...
Mendengar suara bel berbunyi berulang kali, Zifran akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengambil air minum.
Sementara seseorang yang sedang berdiri di depan pintu apartemen sedang menggerutu dengan menghentak-hentakkan kakinya di lantai, ketika seseorang belum juga membukakan pintu untuknya. Ia pun menekan bel itu kembali.
Ting...tong...
Didalam apartemen, Zifran sedang memaki seseorang yang tidak sabaran untuk ia bukakan pintu untuknya.
"Tamu nggak ada akhlak, jadi tamu kok nggak sabaran. Emang dasar Arlan nggak ada adap."
Zifran melangkahkan kakinya kearah pintu. Ia memasukan beberapa angka untuk membuka pintu yang menggunakan kode password.
Ceklek!
Pintu apartemennya sudah terbuka, terlihat seseorang yang berdiri dengan wajah masamnya.
"Ngapain lo kesini, bukannya malam ini lo lembur?!" tanya Zifran ketus.
Dengan tidak sopannya Arlan langsung masuk kedalam apartemen Zifran, sebelum Zifran mempersilahkannya.
"Ah, gila lo, yang bener aja dong! Lo pikir gue robot yang ngerjain kerjaan dua sekaligus? Nih, gue kesini nganterin kerjaan yang lo tinggal, karena gue yakin pasti besok lo nggak bakalan sempat. Jadi, gue bawak kesini-" jeda "Fran, haus!" ucapnya kehausan.
__ADS_1
"Terus!" Zifran mendudukkan tubuhnya di sofa, berhadapan dengan Arlan.
"Aelah, ambilin minum napa, gue kan tamu," Perintah Arlan.
Zifran menaikkan satu alisnya. "Lo pikir gue pembantu lo? Berani bayar berapa lo? Huh!" sentak Zifran.
karena terkejut mendengar suara atasannya, Arlan mengangkat tangannya keatas, dengan jarinya membentuk huruf V.
"Hehehe, jangan marah gitu dong Fran, gue kan jadi takut," ujarnya
"Emang sia*lan lo!" Zifran melemparkan bantal sofa ke wajah sekretaris luknatnya itu.
****
Di SMA Bunga Darma.
Seperti biasanya, Maisya yang baru saja tiba di sekolah langsung di sambut oleh kedua sahabatnya.
mereka berjalan beriringan menuju ke kelas mereka yang berada di lantai dua.
Sesampainya didalam kelas ketiganya meletakkan tas mereka kedalam lacinya. Maisya dan Alya duduk bersebelahan, sementara Andin, ia duduk sendirian dibelakang kedua orang.
Mereka bertiga memilih tempat duduk yang berada dibarisan paling akhir, katanya sih itu adalah tempat paling strategis untuk menghindari para guru killer yang menargetkan mereka.
Tak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi.
Tetttt! tetttt! tetttt!
Seluruh siswa-siswi memasuki kelas mereka masing-masing.
"Eh, diam-diam. Pak Joe udah mau nyampe tuh!" seorang siswa baru saja masuk kedalam kelas XII IPA-2.
"Siap-siap aja air satu galon!" timpal cowok yang di sebelah Zaki.
"Buat apa air satu galon?" tanya Maisya dengan tampang polosnya.
"Buat mandiin elo Mae!" balas Zaki sedikit emosi.
Tap tap tap!
Seketika ruangan yang tadinya riuh kini berubah hening.
"Selamat pagi semua!" Sapa pak Joe, salah satu guru Matematika di SMA Bunga Darma.
"Pagi Pak!" balas mereka serentak.
Sementara di apartemen Zifran, kedua pria yang masih tertidur dengan posisi saling berpelukan di depan TV merasa terusik dengan suara ponsel salah satu dari mereka tengah berdering nyaring.
Zifran perlahan membuka matanya yang masih terpejam. Ia meraba-raba sekitarnya untuk menemukan dimana letak ponsel miliknya yang berdering.
Seketika ia langsung membulatkan matanya saat melihat nama pemanggil, setelah itu matanya tertuju kearah jam yang terpampang besar di layar ponselnya.
"Sh*itt" umpatnya.
"Ar, bangun Ar, kita kesiangan ini!" Zifran menggoyangkan tubuh Arlan.
"Hem, lima menit lagi." Arlan Masih memejamkan matanya.
"Sia*lan,Bang*sat lo!" Zifran mulai emosi saat yang dibangunkan tak merespon dirinya. Dengan langkah seribu ia berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
__ADS_1
Kembali ke SMA Bunga Darma.
Setelah selesai mengabsen satu persatu muridnya, pak Joe bangkit dari tempat duduknya.
"Baiklah anak-anak, sesuai janji kemarin hari ini kita melakukan ulangan secara tertulis, tapi bukan di buku melainkan langsung kalian kerjakan di papan tulis. Tutup semua buku yang berkaitan dengan materi saya. Paham semua!" serunya dengan tegas.
"Paham pak!"
"Baiklah kita mulai, yang pertama..." Pak Joe mulai memberikan satu persatu pertanyaan kepada masing-masing muridnya. Ada beberapa dari mereka yang bisa menjawab dan ada juga yang tidak bisa menjawabnya.
"Maisya Indira. Kerjakan soal subtitusi yang ada di papan tulis!" titah pak Joe kepada Maisya.
Maisya yang namanya disebut langsung bangkit dari duduknya, " Saya pak?" tunjuk Maisya kepada dirinya sendiri.
"Iya! Maju ke depan."
Maisya meneguk salivanya dengan kasar. Sumpah demi dedemit sekalipun, ingin rasanya ia mengutuk guru yang yang memberinya tugas diluar kemampuan otaknya yang terbilang pas-pasan ini.
Dengan langkah berat, Maisya berjalan maju ke depan demi tugas yang di embannya.
Sesampainya ia di depan, Pak Joe yang awalnya menampilkan wajah tampan nan menggoda, seketika berubah garang bagaikan singa menatap mangsanya.
"Sudah siap dengan soal yang akan saya berikan? tanya pak Joe.
"Siap! Sok silahkan kan, saya terima."
Dengan percaya diri level over, Maisya mengambil spidol yang berada dihadapan guru killer nya itu.
"Dua X ditambah Y sama dengan 5 , persamaan 1. Tiga X dikurang Dua Y sama dengan 4, persamaan 2. Kerjakan, cukup mudah bukan?" ucapnya melihat Maisya tengah sibuk menulis soal tersebut.
Maisya berdiri sambil menekuk salah satu tangannya di depan dada, dengan tangan yang satu memegang spidol sambil mengetuk pelipis mata bagian kanan. Seperti orang yang sedang berpikir keras.
****
Di ruangan CEO
Sejak kedatangannya kekantor, Zifran tak henti-hentinya mengumpat Arlan yang tengah duduk di sofa ruang kerja sambil membersihkan wajah tampannya dengan tissue basah. Begitupun dengan dirinya.
"Sia*lan lo! Gara-gara lo gue jadi bahan ghibah'an orang kantor, bang*sat!" omelnya.
"Mana tau kalau spidol yang gue ambil itu permanen. Lo sih nggak bilang!" ucap Arlan tak mau kalah.
"Setan lo, ya! Gara-gara lo ngajakk gue main PS Sampek pagi gue jadi kesiangan. Ditambah lagi lo coret muka gue pake spidol permanen pe'a! Heran gue sama Lo, sekolah tinggi-tinggi tamatan sarjana nggak bisa bedain mana yang permanen sama yang bukan. Lo tau rasanya di ketawain dari lobby Sampai masuk kantor? Astaga, mimpi apa gue semalem." omel Zifran panjang kali lebar. Ia menepuk jidatnya jika mengingat kejadian yang menimpa mereka berdua.
Saat keduanya baru saja tiba di area parkir. Zifran yang baru keluar dari mobilnya, begitupun dengan Arlan. Zifran yang berjalan lebih dulu melirik para karyawannya yang tengah berbisik satu sama lain, begitupun dengan Arlan. Mereka pikir itu sudah hal biasa, ternyata mereka salah, bukan senyuman karena wajah mereka yang tampan, tapi melainkan wajah mereka yang penuh dengan coretan spidol.
Wajah Zifran yang seperti kucing dengan kumis tebal di bawah hidung mancungnya. Sementara Arlan, pria itu seperti singa bermata panda.
Hingga mereka masuk kedalam lift, mereka terkejut saling berpelukan melihat wajah mereka masing-masing.
"Lo pikir lo aja yang malu? Gue juga! Enak aja lo salahin gue, yang ngajak main coret-coretan siapa? Elo kan? Jadi yang salah siapa? Ya elo!" ucap Arlan membela diri.
Zifran mengambil kembali tissue basahnya. " "Untung aja bokap gue ngakak ngamuk, lo bayangin aja kalau dia ngamuk, bisa mati adek gue."
Arlan menatap wajah Zifran yang sudah seperti semula. "Masalah itu bukan urusan gue."
Zifran melemparkan kotak tissue itu kearah Arlan. "Emang dasar Arlanjing."
Ya begitulah tingkah laku antara CEO dan sekretarisnya, bagai kucing dan an*jing yang selalu bertengkar jika bersama namun saling merindukan jika berjauhan.
__ADS_1