Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Hal tak terduga 2


__ADS_3

Siang ini Zifran dan Arlan bersiap-siap untuk berangkat menghadiri rapat para Donatur yang diadakan di SMA Bunga Darma.


Dalam rapat kali ini ia sengaja membawa sekretarisnya untuk membantunya bila ada sesuatu yang sulit ia mengerti. Sebab, jika dipikir-pikir Arlan lebih berpengalaman dibandingkan dengan dirinya karena selama ini ia sering menemani sang papa dalam acara tersebut.


Sesampainya mereka diparkiran kantor.


"Gue nebeng mobil lo ya? Soalnya gue lagi males bawa mobil." Zifran langsung masuk dan mendudukkan tubuhnya di samping Arlan yang duduk di bangku kemudi.


Arlan sekilas menatap boss yang minim akhlak itu. "Terserah lo," ucapnya sambil menghidupkan mesin mobilnya.


****


Dibawah terik matahari yang begitu membara, Maisya masih setia berdiri dihadapan tiang bendera bersama beberapa teman sekelasnya, termasuk kedua sahabatnya.


Mereka semua terkena hukuman karena mereka tidak dapat menjawab soal yang diberikan oleh pak Joe ketika ulangan Matematika.


Sungguh ironis bukan?


Maisya meletakkan satu tangannya didepan dahi agar wajahnya terhindar dari cahaya mentari. "Sial-sial, gini amat punya otak yang pas-pasan. Heran gue sama pak Joe, punya dendam apa coba dia sama gue sampai gue di hukum kayak gini. Padahal gue nih ya, gue udah belajar eliminasi, eh... malah dapet subtitusi yang gue nggak ngerti."


Andin mengibaskan-ngibaskan tangannya kearah wajahnya. "Udah kita terima aja, mungkin ini emang nasib kita yang nggak ditakdirkan pinter di bidang akademik. So... terima aja."


"Huuffffftt, panas banget lagi cuacanya. Zak, beliin minum napa?" ucap Alya kepada Zaki yang berada disampingnya.


"Oke! Tapi lo harus mau jadi pacar gue, mau kan?" saut Zaki cepat.


***


Mobil yang ditumpangi oleh Zifran dan Arlan sudah memasuki gerbang utama SMA Bunga Darma.


Arlan memarkirkan mobilnya diparkiran khusus yang telah disediakan oleh pihak sekolah seperti biasanya.


Zifran dan Arlan keluar dari mobil secara bersamaan hingga keduanya menjadi pusat perhatian bagi sebagian siswi yang berada diluar ruangan saat jam kosong mereka.


Keduanya berjalan beriringan menuju tempat yang sudah ditentukan sebelumnya. Banyak pasang, mata yang menatap keduanya dengan rasa kagum mereka terhadap dua makhluk nan tampan rupawan yang sedang berjalan berdampingan.


Tak jauh dari mereka, Zifran melihat kearah lapangan yang terdapat beberapa siswa-siswi yang tengah berdiri menghadap ke tiang bendera, sesaat pandangannya tertuju pada satu sosok yang amat ia kenal.


Namun sayangnya ia tidak memiliki waktu untuk menghampiri gadis itu. Akhirnya ia melanjutkan kembali langkahnya.


Sementara disisi lain.


"Wah... sadis bener pak Joe! Bisa-bisa kita jadi ikan dendeng kalo gini nih!" gerutu Zaki yang mulai kegerahan.


Tap tap tap.

__ADS_1


Semua serentak menoleh kearah seseorang yang berjalan menghampiri mereka.


"Beneran kamu mau saya jadiin ikan dendeng?" Pak Joe menatap wajah Zaki.


Glekk!


"E-nggak pak." Jawab Zaki gugup.


"Bagaimana, masih mau bermalas-malasan belajar? Hem?" tanya pak Joe menatap satu persatu muridnya. Semuanya menggeleng bersamaan.


"Ya sudah kalian boleh ke kelas, tapi ingat, jangan berisik soalnya saya dan guru-guru yang lain mau ada rapat. Mengerti!"


"Mengerti pak" jawab mereka kompak.


Setelah kepergian pak Joe, Maisya dan yang lain berjalan meninggalkan lapangan upacara.


Sesampainya mereka di dalam kelas, "Uhgghh, ademnya!!" seru Maisya yang merasakan dinginnya AC.


"Sya, ke kantin yuk gue laper nih!"


"Kuy lah! Yuk Al." Maisya menarik tangan Alya. Alya hanya bisa pasrah saat ia ditarik oleh sahabatnya.


Di kantin sekolah.


"Gimana acara kemarin, lancar nggak?!" tanya Alya disela-sela ia menikmati semangkuk baksonya.


"Awas loh, entar lama-lama deket dia lo ketularan sarap nya. Hahaha!" Alya tertawa terbahak-bahak setelah meledek sahabatnya.


"Sia*lan lo."


****


Zifran berdiri dari tempat yang ia duduki menatap seluruh para Donatur yang berada diruang rapat beserta para dewan guru dan kepala sekolah yang hadir didalamnya.


"Baiklah, jika semuanya sudah mengerti saya harap kita saling bekerja sama satu sama lain. Saya rasa cukup sampai disini pertemuan kita kali ini. Saya permisi dulu."


Tanpa basa-basi Zifran meninggalkan ruangan tersebut bersama sang sekretaris yang berjalan disampingnya.


Sambil berjalan pandangan Zifran tak henti-hentinya melirik kesana-kemari. "Kemana ya si bocil?" gumamnya lirih.


"Lo nyarik siapa sih Fran?" tanya Arlan penasaran. Iapun mengikuti kemana arah pandangan Zifran.


"Ck, siapa lagi kalo bukan si bocil."


"Ngapain lo nyarik dia, kangen lo,"

__ADS_1


"Ba*cot lo."


Zifran melangkahkan kakinya lebih cepat, Arlan yang menyadari itu bergegas untuk menyusul sahabatnya.


Namun naas, ketika ia hendak berbelok dari arah yang berlawanan seorang gadis remaja sedang berlari kencang kearahnya tanpa memperhatikan sekitarnya hingga membuat tubuh mereka bertabrakan.


Arlan yang tidak siap dengan gerakan tersebut langsung terhempas kelantai dengan posisi bok*ongnya yang mendarat terlebih dahulu.


Bugh!!


"Auwssh," ringis Arlan menyentuh bok*ongnya yang terasa amat sangat nyeri.


Sementara gadis yang baru saja menabrak Arlan, gadis itu menghampiri dirinya dengan menampilkan wajah bersalahnya.


"Maaf, gue nggak sengaja." ucapnya sambil mengulurkan tangannya kepada Arlan. Arlan menatapnya, lalu ia menerima uluran tangan itu.


Di sisi lain. Seseorang tengah berlari sekencang mungkin demi menghindari amukan sahabatnya yang mengejarnya sambil meneriaki namanya. "MAEMUNAAAHH!!! AWAS LO. GARA-GARA KALIAN GUE JADI DI SURUH CUCI PIRING SETAN!" maki Andin dengan suara teriakan yang begitu nyaring.k0


Sementara yang dipanggil namanya terus berlari dan sesekali menoleh kebelakang demi memastikan sang sahabat tidak mengejarnya.


"Sial, capek gue!" ucapnya sambil menoleh kebelakang.


Saat yang bersamaan Maisya tak menyadari jika ada seseorang dihadapannya.


Bugh!


Maisya yang tak mampu menyeimbangkan tubuhnya tiba-tiba saja terhuyung kedepan.


Begitupun dengan seseorang yang masih memfokuskan pandangannya pada ponsel yang ia genggam, sontak terkejut mendengar teriak dari seseorang. Ketika ia mengangkat wajahnya tiba-tiba saja dari arah berlawanan seseorang menabrak tubuhnya dengan sangat kencang sehingga ia reflek menarik orang itu sebagai penyeimbangnya.


Namun sayang, ternyata sesuatu tak seperti yang kita harapkan. "Aaaaa...." teriak Maisya.


Bruk!!


Keduanya terjatuh di lantai bersamaan dengan posisi Maisya yang berada di atas tubuh seorang pria yang tak lain adalah Zifran sang pewaris tunggal keluarga Samudera.


'Kok empuk ya?' batinnya.


Zifran yang mengetahui siapa seseorang yang berada diatasnya pun memanggilnya. "Cil, bangun, gue sesek tau nggak?!" ucap Zifran Sambil menggoyangkan tubuh Maisya.


Maisya yang mengenali suara itu langsung membuka matanya dan betapa terkejutnya ia saat menyadari posisinya kini, bukannya bangkit ia malah terdiam tanpa suara.


"Cil, bangun cepetan. Lo nggak malu apa diliatin banyak orang," bisik Zifran ditelinga Maisya.


Menyadari itu Maisya menatap ke depan dan kesamping kanannya melihat bahwa dirinya sudah menjadi pusat perhatian orang sekitarnya.

__ADS_1


"Hehehe, cuma insiden kecil kok!" ucapnya yang menutupi rasa malunya. Iapun segera bangkit dari posisinya saat ini.


Begitupun dengan Zifran, pria itu bangun dari tempatnya sambil mengibas-ngibaskan jasnya yang terkena partikel-partikel debu menggunakan telapak tangannya dan tak lupa ia memungut ponselnya yang tergeletak mengenaskan tak jauh dari tempatnya.


__ADS_2