
POV (Author)
"OMAAAA!!!"
Mama Sarah melepaskan pelukannya setelah mendengar suara teriakan dari bocah yang kini berusia sekitar 3 tahun tersebut. Dengan tubuh mungil kulit kuning langsat serta rambut pendek berwarna hitam legam, bocah itu berlari menghampiri Mama Sarah yang duduk di salah satu meja yang berada di sudut kantin.
"Zean? Sama siapa kamu ke sini?" tanya Mama Sarah yang terkejut melihat kehadiran Zean yang tiba-tiba ada di rumah sakit. Padahal dirinya sudah mewanti-wanti bocah itu agar tak keluar rumah. Dan ternyata dia mengabaikannya.
"Jawab, Zean sama siapa ke sini? 'Kan Oma udah bilang sama Zean untuk nggak ikut Oma. Kenapa Zean malah nyusul Oma sih?!"
"Cama Bibi," jawab Zean. Bocah itu kini berada di gendongan Mama Sarah.
Maisya melihat interaksi antara Mama Sarah dan juga Zean terpaku ditempatnya. Dadanya seketika merasa sesak saat mengetahui bocah itu memanggil Mama Sarah dengan sebutan Oma.
'Zean? Apa ini ya anaknya kak Zifran?' gumam Maisya didalam hati.
"Maafin Jean, Oma. Jean bocen di lumah teyus," jawab Zean dengan nada cadelnya. "Oma tenang aja, Jean ke sini diantal Bibi kok, tapi cekayang Bibi ada di sana."
Zean menunjuk kearah toilet yang ada di sudut rumah sakit yang tidak jauh dari kantin.
"Jadi, Ini anaknya kak Zifran, Tante?" tanya Maisya memberanikan diri sambil mencubit gemas pipi Zean.
Mendengar itu, Mama Sarah tersenyum melihat Maisya dan langsung menggeleng cepat. "Bukan!" tegas Mama Sarah.
"Jadi? Terus kemana anak dan istri kak Zifran?" tanya Maisya yang bingung.
"Sepertinya Tante harus meluruskan kesalahpahaman diantara kalian. Jadi begini," Mama Sarah menjeda ucapannya sebentar dan mulai bercerita.
"sebenernya Zean ini anak Afandi dan Naima. Ayah Zean sudah meninggal akibat kecelakaan karena mobil yang dikendarai Zifran menabrak truk tangki yang dikemudikan Afandi, Ayah Zean. Saat itu Naima masih mengandung Zean yang berusia sembilan bulan. Mendengar kematian suaminya membuat Naima terpuruk, terlebih lagi dia tidak punya sanak saudara di sini. Sebagai rasa tanggungjawab, Tante dan Om meminta Naima untuk tinggal bersama kami. Tapi sayang, setelah kelahiran Zean, Naima meninggal karena pendarahan dan kami memutuskan untuk merawat Zean dan menganggap Zean seperti cucu kami sendiri."
Tiba-tiba hati Maisya terenyuh mendengar kisah Zean hingga tanpa sadar, Maisya mengusap sudut matanya yang berair. Pantas saja dari tadi diperhatikan wajah Zean tidak ada mirip-miripnya dengan Zifran.
"Terus, kemana anak dan istri kak Zifran? Dari tadi aku kok nggak liat mereka?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Maisya. Sedari tadi Maisya tidak melihat anak dan istri Zifran di rumah sakit ini.
Lagi-lagi, Mama Sarah tersenyum dan melanjutkan kembali ceritanya. "Dan saat di mana Zifran di nyatakan lumpuh, Tante mengetahui fakta bahwa bayi yang di kandung Amel bukanlah anak Zifran, melainkan anak dari kekasihnya..."
Flashback.
Setelah mengetahui kondisi Zifran, Mama Sarah berpamitan untuk pergi membeli susu Zean karena miliknya tertinggal di rumah.
__ADS_1
Namun, saat keluar dari ruangan Zifran, Mama Sarah melihat Amel yang berjalan keluar rumah sakit dengan langkah terburu-buru. Melihat itu, Mama Sarah bergegas menyusul Amel hingga wanita itu benar-benar keluar dari rumah sakit menuju parkiran. Dan betapa terkejutnya Mama Sarah mendengar percakapan antara Amel dan seseorang yang tidak dikenalnya. Niat awal ingin menghampiri, justru membuat Mama Sarah urung dan memilih sembunyi di samping mobil sebelah Amel.
'Lo gila ya, Tam? Lo nyuruh gue nikahin Zifran yang udah divonis lumpuh dan nggak bisa apa-apa itu? Emang bener-bener sarap tau nggak!' kesal Amel menatap pria yang ada di hadapannya. Pria yang baru saja datang setelah ditelepon oleh Amel.
Amel sempat mendengar pembicaraan antara Dokter Darmawan dan keluar Zifran tanpa sepengetahuan mereka. Setelah tau kondisi Zifran, Amel pun pergi dari depan ruang rawat Zifran.
'Tapi itu semua demi anak kita sayang. Dengan begitu, kita bisa mengalihkan seluruh perusahaan dan semua aset keluar Samudera. Emang kamu nggak pengen lihat Papa kamu sembuh? Huh? Ayolah Mel, kali ini kamu berkorban untuk kita. Demi anak kita nanti. Kamu tau 'kan selama ini perusahaan Zifran selalu jadi penghalang buat perusahaan ku? Seenggaknya sampai semua aset Zifran beralih ke anak kita," ucap Tama saat itu membujuk Amel sesuai dengan rencana awal mereka yang ingin menghancurkan keluarga Samudera. Terlebih Amel yang masih menyimpan rasa sakit hati karena perlakuan Zifran dulu padanya.
"Jadi kamu ngorbanin anak kita cuma buat keegoisan kamu aja?! Dan kamu lebih mentingin diri kamu sendiri ketimbang aku yang harus menghabiskan hidupku cuma untuk ngurusin orang lumpuh? Tega kamu, Tam!"
Mama Sarah menutup mulutnya tak percaya mendengarkan percakapan mereka. Jadi selama ini dia dan keluarganya telah ditipu mentah-mentah oleh kehamilan yang tidak pernah diperbuat oleh putranya.
Mama Sarah menyandar tubuhnya di mobil sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri. Dibela-belain sampai putranya kritis gara-gara di paksa untuk bertanggungjawab, namun apa yang didapat? Justru malah kenyataan pahit seperti ini.
Tak ingin mendengar lebih banyak lagi kebenaran, Mama Sarah langsung pergi dari sana membawa rasa penyesalan yang mendalam.
Flashback off
"Terus, dimana sekarang keberadaan Amel?" tanya Maisya penasaran?
"Sekarang dia mendekam di penjara. Setelah kejadian itu, Tante dan Om langsung melaporkan Amel kekantor polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik dan kasus penipuan. Dari situ kami
Maisya terdiam mengetahui semua. Ternyata bukan hanya keluarga Zifran saja yang menjadi korban, tapi dirinya juga turut menjadi korban dan harus mengorbankan cintanya demi keegoisan orang lain.
'Maafin aku, kak yang dulu nggak percaya sama kakak." Maisya berkata dalam hati dengan nada pilu menyayat hati.
Seketika lamunan Maisya tersadar kala Mama Sarah menggenggam tangannya. "Tante minta maaf karena udah bikin kalian kayak gini. Andai waktu bisa diputar, Tante akan mendengar semua penjelasan Zifran dan yang paling penting, Tante nggak akan meminta kamu untuk meninggalkan anak Tante. Maafin, Tante ya, Sya?" ucap Mama Sarah sungguh-sungguh.
"Semua yang berlalu, biarkan berlalu, Tan. Toh sekarang kami bisa menjalani kehidupan kami. Jadi, Tante nggak usah sedih, apalagi sampai ngerasa bersalah terus kayak gini. Mungkin emang kami ini nggak berjodoh," pungkas Maisya tersenyum hangat.
Setelah selesai berbincang, Maisya melirik jam yang ada di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 20:04 wib.
"Wah... sangking asiknya ngobrol, nggak terasa udah malem ya, Tan? Mana Zean sampai ketiduran gitu," ucapnya yang melihat Zean tidur di gendongan Mama Sarah.
Mama Sarah hanya mengangguk tersenyum menjawab ucapan Maisya.
"Rupanya kamu di sini, sayang? Aku dari dari nyariin kamu loh?" Leon baru saja datang langsung mendaratkan ciuman di pucuk kepala Maisya sambil menenteng sesuatu.
"Kamu yang dari mana aja? Aku tungguin sampai capek, tapi jamunya nggak muncul. Dari mana sih?" ketus Maisya jengkel.
__ADS_1
"Ya maaf. Selesai nelepon Onad, aku pergi buat cari makanan untuk kamu, soalnya kamu kan belum makan dari tadi siang. Nih makanannya!" Leon mengangkat bungkusan yang ia pegang.
"Telat! Yuk Tan, kasian Zean tidurnya di gendongan, pasti itu bikin badannya sakit," ucap Maisya menggandeng tangan Mama Sarah dan meninggalkan Leong yang berjalan di belakangnya.
"Dia pacar kamu?" tanya Mama Sarah yang melihat keakraban Maisya dengan Tan sekolahnya dulu. Ya, Mama Sarah masih ingat siapa Leon.
"Bukan, Tan." Jawaban Maisya membuat Mama Sarah menautkan alisnya. Sementara Leon, pria itu memutar bola matanya jengah seolah tau apa yang terjadi selanjutnya. "Hehehe... dia bukan bukan pacar aku, tapi calon suami aku, Tan. Nih!" Maisya menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Dan itu membuat Leon melebarkan senyumnya.
Mama Sarah hanya bisa tersenyum menatap Maisya, lalu berkata, "semoga kalian berbahagia. Dan kau sudah menemukan pria yang begitu menyayangimu," ucap Mama Sarah yabg memberikan doa terbaiknya.
*
*
*
Jam di dinding kamar rawat Zifran menunjukkan pukul 02:17 dini hari. Mama Sarah perlahan membuka matanya samar-samar mendengar suara lirih Zifran yang terus bergumam memanggil nama seseorang.
"Sya... Maisya," lirih Zifran terus menyebut nama Maisya.
Mana Sarah langsung bergegas bangun dan berjalan menuju ranjang rawat Zifran.
"Sya, tolong jangan tinggalkan kakak."
"Fran," panggil Mama Sarah mengusap pipi Zifran yang terus mengigau. Setelah ditangani Dokter Darmawan, rupanya Dokter itu memberikan obat tidur agar Zifran tidak merasakan sakit yang sempat menderanya.
"Tolong kasih kakak kesempatan untuk ngejelasin semuanya sama kamu, Sya. Kakak nggak mau kamu ninggalin Kakak gitu aja. Kakak sayang benget sama kamu," ucap Zifran terus meracau.
***
Nah... di episode kali ini udah jelas ya kemana si Amel dan kehidupan Zifran setelah kepergian Maisya.😊😊
Oh iya, pasti dari kalian ada yang bertanya-tanya soal cerita ini yang lama banget kalau update. Iya 'kan? Jadi gini, ini... kenapa lama banget author update, ya karena author nulisnya nyantai alias sesempetnya. Soalnya cerita ini bukan kontrak yang diharuskan update rutin.
Kalau kalian tanya kenapa nggak dikontrakkan? Jawabannya, author udah pernah ngajuin tapi nggak lolos karena ada beberapa bab yang harus direvisi. Dari pada pusing revisi dan harus mengubah alur, mending author urungkan dan berjalan tanpa kontrak. Jadi begitu alasannya 😊😊
Semoga dimaklumi ya...
Dan Author ucapkan terima kasih buat para reader yang masih mau menemani cerita si Zifran dan Maisya. Banyak-banyak deh lope buat kalian semua.🥰🥰🥰🥰
__ADS_1