Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Bonus chapter (Zevano part 2)


__ADS_3

Siang harinya...


Di kediaman Zifran begitu ramai, riuh dengan suara gelak tawa dari bocah-bocah yang sibuk dengan dunia mereka. Ada Zevano yang tengah sibuk mengobrak-abrik kamarnya yang ditemani oleh dua orang bocah laki-laki yang tidak lain adalah Arkan yang merupakan putra sulung dari pasangan Alya dan Arlan. Dan juga ada Zean yang kini berusia 9 tahun.


Ketiga bocah itu tampak senang dengan permainan yang tengah mereka lakukan. Zevano membawa keduanya untuk mencari mainan yang mereka inginkan di kamar yang cukup luas dan berukuran besan itu karena ini adalah hari libur dan mereka sering berkumpul bersama orang tua mereka di rumah Zifran.


Di ruang tamu, beberapa orang dewasa begitu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ya... maklumlah namanya juga orang dewasa, banyak pembicara yang mereka bahas meski itu tak faedah. Termasuk yang mereka bahas kali ini.


"Eh, Fran, kapan lu mau nambah momongan lagi? Masak kalah lu sama gue yang udah launching kedua kalinya," kata Arlan dengan senyum meledek Zifran yang sampai sekarang masih enggan untuk memiliki anak lagi. Sementara dirinya lebih unggul karena sudah mendapatkan anugerah sepasang buah hati dari pernikahan mereka beberapa tahun lalu.


Pria yang sudah bertobat dengan selang*kangan itu menatap sinis mantan sekretarisnya.


Tak hanya Arlan, Leon yang ada di sana pun ikut mengejek Zifran dengan mengelus perut buncit sang istri untuk meledeknya. Apalagi saat ini kedua pasangan baru itu tengah menanti putri pertama mereka lahir. Dan jangan tanyakan bagaimana ekspresi Zifran yang jadi bahan tertawaan bagi keempat orang tersebut. Bukan tanpa alasan Zifran menunda momongan, Zevano lah yang menjadi alasan utama mereka mengurungkannya.


Mendengar itu, rasanya ayah satu anak itu ingin mengusir mereka dari rumahnya saat itu juga. Namun, suara teriakan heboh dari arah tangga terlebih dulu mengalihkan atensinya.


Bukan hanya Zifran saja, tapi kelima orang dewasa itu juga menoleh ke arah sumber suara. Bocah kecil berambut ikal itu berteriak sambil mengacungkan benda yang ada di tangan kanannya ke udara, membuat para orang dewasa menahan tawa sekaligus malu dengan apa yang dibawanya.


"PAPA BROO!! Liat, Vano dapat apa coba!!"


Zevano menunjukkan sebuah benda berbahan silikon yang sudah menggelembung layaknya sebuah balon pada Papanya. Zifran dan Maisya hanya bisa meringis menahan malu dengan kelakuan putra mereka yang selalu menemukan benda tersebut walau sudah mereka simpan di tempat aman sekalipun.


Sumpah demi apapun, ingin rasanya Zifran mengutuk putranya menjadi kecebong lagi, sebab ini bukan yang pertama kalinya bocah itu bersikap.


Apalagi Maisya yang hanya tertawa menatap satu persatu orang si sampingnya dan berkata, "hehehehe ... anak gue tuh!"


Malu? Sudah pasti lah malu. Dan jangan ditanya lagi ekspresinya kali ini. Kalau boleh memilih, ingin rasanya wanita bertubuh mungil itu melelang putranya di pasar loak. Ada-ada saja tingkahnya yang membuat mereka geleng-geleng kepala.


"Nggak anak, nggak Bapak sama-sama gilanya!" celetuk Arlan pada Leon di sela-sela tawanya sambil memegangi perut.


Zifran langsung melayang tatapan tajamnya pada Arlan. "Diam Lo, bang*sat!" sentaknya, "eh, bocil, ngapain lu mainan itu. Dapet dari mana lu cil?" tanya Zifran merebut benda keramat itu dari tangan Zevano yang membuat bocah itu lompat-lompat bak kodok lompat untuk mengambil kembali mainannya yang diambil tiba-tiba oleh sang Papa.

__ADS_1


"Balikin mainan Vano, Papa bro. Itu kan Vano yang tiup. Kalau Papa bro mau, nih, Vano masih ada banyak, tapi belum Vano tiup. Papa tiup aja sendiri," pinta Vano dengan santai, lalu menyodorkan sekotak Kon*dom yang sudah terbuka segelnya itu pada Zifran. Pria itu hanya membulatkan matanya lebar tak percaya.


"Buuaaahahaha ..."


Tawa Arlan dan Leon semakin jadi saat membayangkan bagaimana mantan sang Casanova itu meniup benda yang selalu menemaninya sebelum bertempur di medan ranjang. Entahlah, kali ini keduanya tak habis pikir dengan kelakuan bocah yang mereka kenal absurd itu.


"Papa, Alkan juga mau itu, bial sama kayak bang pano."


Kali ini giliran Arlan yang dibuat kicep oleh putranya. Ada-ada saja yang diminta oleh bocah itu. Namun, bukan Arlan namanya kalau tidak bisa memberikan pengertian pada anaknya tentang apa yang boleh dan tidak boleh dimainkan oleh bocah seusianya. Setelah semua aman terkendali, Arlan dan keluarganya langsung berpamitan pulang karena tak ingin putranya mendapat pengaruh lebih gila lagi. Begitu dengan Leon dan istrinya.


Sementara Zean, sebagai bocah tertua diantara kedua adiknya hanya berdiri di atas tangga sambil menyembunyikan benda yang sejak tadi menjadi mainan mereka.


Setelah kepergian para sahabat, kedua orang tua Zevano itu merebahkan diri mereka di sofa sambil memandangi kedua bocah yang sibuk bermain dengan mainan Tobot mereka.


"Kayaknya lain kali kalau kita mau proses lagi mending konsultasi dulu deh, kak ke dokter. Aku nggak mau kalau anak kedua kita sifatnya kayak kamu dan Vano, bisa stres aku nantinya," keluh Maisya sembari memijit pangkal hidungnya yang berdenyut.


*


*


*


"Van, diana Papa kamu?" tanya wanita bersanggul yang menentang paper bag di tangannya untuk diberikan kepada kedua cucu tersayang setelah pulang dari Bandung, dan ke sini untuk menjemput Zean.


Di samping wanita itu ada pria yang menampilkan raut wajah sumringah melihat kedua cucunya sibuk mengerjakan tugas mereka yang belum selesai. Padahal tugas itu sudah tiga hari yang lalu, tapi namanya Zevano, mau tugas sehari, dua hari atau tiga minggu sekalipun, tetap saja terlihat santai tanpa beban. Tapi jangan salah, di balik sikapnya yang bandelnya nauzubillah, dan susah mengerjakan tugas dari gurunya, Zevano itu termasuk murid yang cerdas di kelasnya. Dan sangking cerdasnya banyak guru yang di buat gelengan kepala karena jawaban absurd dari bocah itu.


"Van, ayo coba kamu jawab pertanyaan dari Ibuu ya? Satu di tambah satu berapa coba?" tanya guru matematika itu memberi soal pada Zevano.


"Satu, Bu," jawaban dengan pasti diiringi senyuman yang mengembang. Membuat siapapun yang melihat pasti akan terpanah oleh bocah kelas satu SD tersebut.


"Kok satu?"

__ADS_1


"Ya iya satu, Bu. Soalnya Vano enggak bisa mendua, Bu. Dan Vano ini calon laki-laki setia."


Huh! Jawaban seperti apa itu?


Dan wanita yang menjadi guru matematika itu hanya bisa tersenyum kecut dengan kelakuan murid ganjilnya tersebut. Ada-ada saja jawaban aneh yang ia dapet dari anak pemilik sekolah itu.


Zean dan Zevano langsung menoleh kearah pintu tengah yang membatasi ruang tamu dengan ruang keluarga tempat mereka saat ini.


"Di dalem Oma," jawab Zevano malas. Bukan tanpa sebab bocah itu bersikap.


"Kamu kenapa? Kok kayak ogah-ogahan jawab Oma."


"Abisnya Oma aneh. Kayak nggak tau kebiasaan Papa bro aja. Bang, jelasin sama Oma." Bocah itu menyenggol Zean yang fokus pada tugasnya. Zevano terlalu malas mengingat kejadian yang baru saja mereka lihat karena itu akan memperburuk kerja otaknya nanti.


Sebenarnya bukan di sengaja. Ketika mereka melewati kamar utama, keduanya tidak sengaja mendengar suara aneh yang membuat rasa ingin tahu mereka begitu tinggi. Dan kebetulan pintu itu tidak terkunci dengan rapat. Alhasil ... kalian tahu sendirilah bagaimana kelakuan orang dewasa jika berdua di dalam kamar.


Zean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "A-anu, Oma, Om Zifran ..."


"Kenapa sama Om kamu?" tanya Papa Arya yang menautkan alisnya.


"Itu ..."


"Ck! Papa lagi main kuda-kudaan! Gitu aja susah amat!" sahut Zevano dengan muka masam. Terlalu lama jika menunggu Abang-nya itu bersuara.


"ZIFRANNNN!!!"


Sejurus kemudian teriakan melengking dari Mama Sarah dan juga Papa Arya yang mengetahui kecerobohan putranya. Mereka tidak ikhlas jika kedua cucu polosnya harus ternodai di usia dini.


🌿🌿🌿


Hai para reader semua. Terima kasih ya karena kalian sudah mengikuti kisah Zifran dan Maisya sampai tamat. Setelah dua bonchap dari Zevano, apakah kalian penasaran dengan kelakuan bocah itu? Kalau iya, tinggalkan komentar kalian khusus untuk Zevano ya.

__ADS_1


Buat kak Janie fawzie, segera inbox FB Imer Merlin untuk mengklaim hadiahnya ya. Di tunggu.


__ADS_2